
Namun masih ada yang mengganjal bagi mereka tapi tidak berani mengatakannya karena sudah takut dengan aura menyeramkan pasangan di hadapan mereka.
"Yang Mulia Pnageran, bagaimana dengan uang milik kami?" tanya pelayan paruh baya memberanikan diri.
"Kami akan membayar semuanya dengan uang itu" tunjuk Putri Lie pada kotak uang yang diambil dari Hasim.
Semua merasa senang dan bersyukur karena hak mereka akan segera didapatkan.
"Jei, Tei, Jie bagi semua uang itu pada mereka masing-masing satu tael perak jika kurang ambil uangku" ucap Pangeran Jun semakin membuat semua orang senang mendengarnya.
"Terimakasih Yang Mulia Pangeran, terimakasih Permaisuri, semoga panjang umur" ucap mereka bersamaan.
Uang yang di dalam kotak milik Hasim dibagi-bagikan kepada pelayan dan pengawal karena itu memang hak mereka yang telah diambil oleh Hasim yang menipu. Barang-barang berharga sisanya dijual dan uangnya dibagikan lagi.
Sementara Rou, Ming dan Hasim masih dibawa kepenjara untuk dieksekusi sore nanti setelah hakim Zhang datang bersama anggotanya yang biasa menghukum mati penjahat.
Pangeran Jun dan Putri Lie kembali ke paviliun untuk makan labih dulu, kepala pelayan pengganti juga sudah ditunjuk Putri Lie. Wanita paruh baya bernama Sui yang selama ini selalu mengikuti Pangeran Jun, juga sangat pandai memasak yang tidak perlu diragukan lagi.
Barang-barang Putri Lie juga sudah dipindahkan kepaviliun Matahari karena ia akan tinggal disana mulai saat ini juga, sedangkan tempat latihannya tetap dipaviliun Bulan miliknya yang akan sering ia datangi setiap latihan.
"Honey, aku ingin keluar jalan-jalan seperti waktu itu lagi" ucap Putri Lie membuka suara lebih dulu setelah makan.
"Jangan hari ini ya!, kamu ingatkan sebentar lagi kita akan mengeksekusi ketiga orang itu" kata Pangeran Jun.
"Iya aku ingat, besok setelah sarapan bersama aku baru pergi bersama sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu" Putri Lie tertawa kecil saat mengingat bagaimana cara Jei menaklukan hati Mei hingga akhirnya dapat kesempatan juga.
Pangeran Jun ikut tersenyum melihat tawa istrinya yang bahagia, ia harap selamanya kehidupan mereka akan bahagia.
"Apa yang kalian lakuka selama diluar kediaman?" tanya Pangeran Jun membuat tawa Putri Lie berhenti.
"Tidak ada, kami hanya berkeliling pasar lalu mencari obat-obatan setelahnya pulang" jawab Putri Lie sembari memeluk suaminya manja.
"Kenapa harus cari obat diluar sedangkan disini ada tabib Yuan yang bisa mengobati?" tanyanya lagi.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana cara mereka berinteraksi dengan warga buasa jika sedang berobat" jawab Putri Lie santai.
"Kamu sakit! sakit apa? mana yang sakit bilang padaku? Sweetyy ayo mana yang sakit?" cecar Pangeran Jun panik.
"Tenanglah itu hanya percobaan saja untuk mengetahui sikap mereka" ucap Putri Lie.
__ADS_1
Pangeran Jun menghela napas sejenak dan memeluk istrinya juga yang sudah menempel sejak tadi.
"Jika ada apa-apa langsung beritahu aku agar cepat aku bergerak menolong ya!" pinta Pangeran Jun.
Putri Lie mendongakkan kepalanya melihat wajah tampan kesayangannya.
"Aku akan selalu memberitahu jika ada hal buruk terjadi" ucapnya sembari membelai wajah Pangeran Jun.
"Sebenarnya apa ingin kamu cari dari penyamaran itu?" tanya Pangeran Jun menghentikan kegiatan istrinya yang sedang membelai wajahnya.
"Kamu tahu aku sedang mencari sesuatu!" heran Putri Lie, apa Jei memberitahukan semua pada suaminya pikir Putri Lie.
"Dulu aku juga pernah melakukan hal seperti apa yang kamu lakukan ketika remaja dari situ pula aku bertemu Jei, Jie dan Tei yang baru keluar dari perguruan mereka untuk mencari tempat tinggal" jelas Pangeran Jun.
Dengan cepat Putri Lie duduk tegak dan menatap suaminya lekat.
"Bisa kamu ceritakan padaku?" kata Putri Lie meminta suaminya berbagi kisah dengannya.
"Ketika remaja aku pergi dari istana untuk pengalaman juga mengetahui dunia luar yang sesungguhnya seperti apa selain istana, jadi aku minta pada ayah dan ibu untuk bisa pergi tapi ibu tidak mengijinkan hingga aku jadi pendiam dan dingin sejak saat itu, barulah ibu menuruti keinginanku dan membiarkan aku pergi sendiri. Tidak ada yang mengenaliku sebagai Pangeran karena aku menyebutkan diri sebagai Juju" ucapan Pangeran Jun terhenti karena tawa istrinya.
"Kenapa tertawa?" tanyanya heran
"Ya tertawalah terus hingga gigi kamu kering" kata Pangeran Jun lalu melangkah keluar dari paviliun.
Putri Lie yang tidak terima ditinggal dengan cerita tanggung dari suaminya langsung memanggil Pangeran Jun.
"Honey mau kemana? cerita kamu belum selesai!" kata Putri Lie sedikit berteriak.
"Ke tempat eksekusi, kamu tidak ikut! ceritanya nanti saja lagi setelah urusan selesai semua" ucap Pangeran Jun santai sambil menatap istrinya dari depan pintu.
"Ikut, aku ingin melihat pertunjukan seru juga" dengan cepat Putri Lie berdiri dan mendekati suaminya namun saat tangannya akan meraih lengan Pangeran Jun, pria itu berjalan begitu saja meninggalkannya.
Kesal dengan tingkah suaminya yang mengabaikannya ia pun menghentak-hentakkan kakinya kelantai dengan keras hingga memenuhi setiap lorong dan ruangan yang mereka lewati.
Sedangkan Pangeran Jun hanya tersenyum manis melihat tingkah istrinya yang seperti anak-anak itu.
"Sweetyy jangan seperti itu jalannya, kasihan lantai itu karena kamu injak dengan kuat-kuat nanti dia terluka loh" ucap Pangeran Jun menggoda istrinya yang berbalik menghadap dirinya dengan wajah cemberut.
"Kamu lebih sayang lantai ya sekarang! ya sudah aku injak-injak saja lantainya sampai dapat suami baru" langkah Putri Lie semakin kecil dan hentakan kakinya semakin kuat.
__ADS_1
Gemas dengan tingkah istrinya itu, Pangeran Jun sedikit mempercepat langkahnya lalu setelah dekat ia menyambar tubuh Putri Lie kedalam gendongannya dan mengecup keningnya lembut, setelahnya melanjutkan langkah dengan Putri Lie di gendongan Pangeran Jun.
Setibanya si tempat eksekusi...
Disana sudah ramai dengan orang-orang yang ingin melihat eksekusi mati untuk ketiga orang yang sudah merugikan kediaman Pangeran Jun, bahkan warga yang datang banyak mengelilingi tempat itu.
Belum pernah ada hukum mati yang diberikan kediaman Pangeran Jun pada seseorang, bahkan Selir Yein dulu hanya dibuang kepulau pengasingan, meskipun hukum mati lebih baik dari pada dikirim kepulau yang lebih kejam dari neraka gumam semua orang hampir sama.
Rou, Ming dan Hasim sudah di tempat yang sedikit lebih tinggi dari lainnya untuk mendapat hukuman penggal.
Hakim Zhang meminta algojonya naik ketempat dimana tersangka berada. Pangeran Jun dan Putri Lie duduk ditempat yang sudah disiapkan untuk mereka .
"Sebelum dihukum, ada yang ingin kalian samapaikan?" tanya hakim Zhang pada ketiga orang di hadapannya.
Rou dan Ming meronta agar dilepas namun cekalan algojo berbadan besar itu sangat kuat hingga mereka sulit bergerak sedikitpun.
"Kami ingin banding kekerajaan! kami ingin keadilan untuk kami" teriak Rou
"Kami tidak bersalah, semua itu hanya kesalahan Hasim sendiri" teriak Ming menyalahkan Hasim.
Tentu Hasim tidak terima disalahkan seorang diri saja oleh Ming.
"Kau juga bersalah bahkan semua ide itu kau yang punya dan mengajak kami lebih dulu" sangkal Hasim.
Pangeran Jun dan Putri Lie hanya menjadi penonton saja malihat perdebatan di atas sana yang menampilkan keributan antara mereka yang tidak mau disalahkan.
"Jika tidak ada yang mau mengaku salah lalu siapa yang akan disalahkan!" ucap Putri Lie berbisik pada suaminya
"Tetap saja mereka salah meski tidak mau disalahkan, semua bukti sudah ada ditangan hakim Zhang" bisik Pangeran Jun juga.
Putri Lie mengangguk mengerti lalu kembali berucap yang membuat suaminya kaget.
"Suamiku tercinta bolehkah aku yang menghukum salah satunya!" pinta Putri Lie memasang wajah imut.
Pangeran Jun melihat istrinya yang sangat ingin ikut memenggal kepala mereka. Tangan Pangeran Jun merangkul pinggang istrinya erat agar tidak lari dari sampingnya.
"Tidak, tidak, tidak, jika tetap pergi aku akan mengurungmu dikamar seminggu penuh" ancam Pangeran Jun.
Putri Lie cemberut mendengar penolakan dari suaminya kali ini, padahal seru bisa memenggal kepala orang seperti itu, aku hanya sering menggunakan tembak saja sebelumnya gumam Putri Lie dalam hati.
__ADS_1