
Makan malam kali ini terasa berbeda bagi Putri Lie yang begitu mendapat perhatian penuh dari Ratu Xiao yang tidak hentinya memberikan makanan apa saja yang dia inginkan.
Bahkan tanpa dimintapun Ratu Xiao lebih dulu memberikan setiap lauk yang menurutnya enak pada piring menantunya itu. Hingga Raja Xiao harus mengambil sendiri lauk yang dia inginkan karena istrinya sibuk dengan menantu mereka.
Raja Xiao tidak mempermasalahkan hal tersebut karena apapun yang membuat istrinya bahagia akan ia berikan sebagai bentuk permintaan maafnya akibat kesalahannya dimasa lalu.
Pangeran Jun juga senang melihat kebahagiaan istri dan ibunya yang sangat dekat, ia dapat melihat bagaimana istrinya tersenyum senang karena perhatian dari ibunya. Walaupun sejujurnya Pangeran Jun merasa cemburu tidak diperhatika istrinya yang selalu melayaninya setiap makan.
Namun kini setelah ia diambilkan makanan dipiringnya oleh Putri Lie, selebihnya diambil sendiri karena ibunya yang langsung mengambil alih istrinya setelah melayaninya.
"Nanti selesai makan kita duduk ditaman ya sayang!" pinta Ratu Xiao pada Putri Lie dengan semangatnya.
"Iya bu, nanti kita langsung kesana ya" jawab Putri Lie semangat yang mendapat anggukan tidak kalah semangat dari ibu mertuanya.
Para pria hanya diam saja melanjutkan makan masing-masing.
Sesuai kesepakatan Ratu Xiao dengan Putri Lie yang ingin ketaman. Maka kini mereka sudah berada ditaman bunga yang dekat dengan paviliun Matahari.
Kedua wanita itu duduk berjadapan di kursi yang melingkari meja dengan teh hangat dan kue bunga persik menemani mereka ditengah malam yang sedikit dingin berangin ini.
"Bagaimana kehidupan rumah tangga kalian selama menikah sayang? apa anak nakal ibu pernah menyakitimu?" tanya Ratu Xiao.
"Kehidupan kami baik-baik saja ibu, kalau masalah menyakiti mungkin hanya karena sedikit kesalah pahaman saja tapi kami bisa menyelesaikan dengan hati tenang" jawab Putri Lie dengan senyum manisnya meyakinkan sang ibu mertua karena tidak mungkin ia menceritakan masalah mereka tempo hari.
"Baguslah kalau begitu, memang setiap rumah tangga itu tidak selamanya berjalan mulus, selalu ada masalah yang menyertai setiap perjalanan berumah tangga hanya tinggal bagaimana kita menanggapinya saja. Kalau kita selalu berpikiran terbuka dan mendengarkan awal masalahnya terlebih dahulu maka masalah akan dapat diselesaikan dengan baik, tapi sebaliknya kalau kita hanya menuruti apa yang kita lihat atau dengar dari satu pihak tanpa tahu dari pihak lain maka hanya akan menimbulkan masalah besar dalam rumah tangga yang bisa mengakibatkan keretakan rumah tangga" Ratu Xiao memegang tangan Putri Lie yang ada diatas meja.
"Tetaplah bersama putra ibu nak walau apapun yang terjadi, genggamlah erat tangannya disaat-saat terberatnya dan lalui bersama semua rintangan bersama, Jun adalah anak yang lembut dan penuh kasih sayang jika sudah mencintai seseorang. Dia juga akan melakukan segalanya untukmu dan menuruti semua keinginanmu selama masih bisa diawasi olehnya dan tidak merusak citramu sebagai wanita berstatus tinggi kedua di kerajaan ini setelah ibu, boleh ibu bertanya sesuatu" Ratu Xiao menatap menantunya yang termenung mengangguk.
__ADS_1
"Apa suamimu pernah marah besar padamu?" Putri Lie menngeleng
"Apa kamu pernah dipukul olehnya?" Putri Lie menggeleng lagi
"Apa dia pernah membentakmu dan mengasarimu?" lagi jawaban Putri Lie hanya gelengan kepala saja.
"Itu artinya suamimu sangat mencintaimu nak, ibu tidak pernah melihatnya menyentuh wanita menapun selain ibu dulu, juga tidak pernah mau disentuh atau didekati wanita manapun yang berusaha mendekatinya. Tapi bersamamu dia berani bersentuhan bahkan menciummu, apa lagi saat dia akan memeriksakan kamu hamil atau tidak" Senyum Ratu Xiao terlihat lebih senang dari sebelumnya.
"Itu artinya dia telah menyentuhmu dan mengambil haknya sebagai suami yang bahkan sampai menginginkan anak darimu, Jun tidak akan menyentuh wanita yang tidak dicintainya walau seujung kuku, ah ibu ingat jika kamu memang wanita pilihannya ketika masih kecil dulu, manisnya putraku" jelas Ratu Xiao tersenyum cerah.
Putri Lie seperti tersentil hatinya saat mendengar penuturan dari ibu mertuanya itu yang mengatakan bagaimana sikap putranya jika dengan seseorang yang dicintainya. Bahkan Putri Lie tidak pernah menyadari itu semua, baginya selama Pangeran Jun tidak kasar dan main tangan maka ia akan melakukan hal yang sama.
Walau sudah lebih dulu menyakiti sang suami dengan pedangnya yang beracun waktu itu, Putri Lie hanya mencintainya tapi tidak peka dengan perasaan lembut yang memang selalu di berikan padanya bahkan selalu mengkhawatirkan dirinya jika ada bahaya tanpa perduli keselamatannya.
"Ada apa Lie'er? apa yang kamu pikirkan?" tanya Ratu Xiao mengeratkan genggaman tangannya menyadarkan menantunya.
"Tidak sayang mungkin kamu memang sedang memikirkan sesuatu saja jadi begitu" sahut Ratu Xiao.
Putri Lie menyesap teh hijaunya yang hangat hingga sedikit merilekskan pikirannya yang kembali merasa beralah pada suaminya karena pernah membuatnya terluka.
"Oh iya sayang, kamu jangan menganggap cerita ibu tadi karena ingin mengagungkan Jun dengan kebaikannya tapi ibu mengatakannya agar kamu tahu bagaimana sifat asli pria dingin itu tapi untuk benar tidaknya ibu rasa kamu sudah bisa merasakannya sendiri bukan bagaimana perlakuannya padamu!" ucap Ratu Xiao dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Senyum Putri Lie mengembang manis tapi ia sembunyikan, mertuanya ini cerewet juga kalau sudah suka dengan orang lain yang cocok dengannya.
"Oh iya, bagaimana kekuatan putra ibu yang gagah itu saat diranjang? apa tenaganya segagah tububnya? apa dia bisa…" ucapan Ratu Xiao terhenti karena menantunya.
"Ibu nanti ada dengar bagaimana?" ucap Putri Lie menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu mendengar ucapan prontal dari ibu mertuanya.
__ADS_1
Tawa Ratu Xiao pecah melihat tingkah malu menantunya yang sangat lucu baginya, apa lagi wajahnya memerah, sungguh sangat imut dan menggemaskan.
Tangan Ratu Xiao terulur dan mencubit pipi Putri Lie sedikit kuat karena terlalu gemas sejak tadi dengan tingkah malu-malu dan wajah termenung menantunya yang minta dicubit.
Tiba-tiba ada tangan lain yang menarik tangan Ratu Xiao dengan lembut, tentunya si pemilik tangan yang ditarik melihat siapa pelakunya. Dia Raja Xiao suaminya yang datang dengan putranya yang langsung duduk disamping sang istri.
"Apa yang ibu lakukan? aku saja tidak pernah mencubitnya hingga memerah begini" protes Pangeran Jun mendapati wajah istrinya yang merah.
Penyabab sebenarnya karena Putri Lie masih malu di tambah cubitan yang sedikit meninggalkan bekas karena memang kulit Putri Lie putih bersih, bahkan goresan kecil akan meninggalkan bekas pada kulit putihnya.
"Ibu mencubitnya pelan, mungkin itu karena istrimu ini masih malu saja" ucap Ratu Xiao seraya dengan kekehan geli yang membuat kedua pria itu penasaran.
"Memangnya apa yang terjadi hingga membuat menantu kita itu malu sayang?" tanya Raja Xiao di angguki Pangeran Jun.
Ratu Xiao melirik sebentar pada Putri Lie yang menggeleng dengan samar. Namun buka Ratu Xiao jika tidak bisa membuat wajah menantunya semakin memerah.
"Tadi ibu hanya menanyakan tentang keperkasaan putra kita yah, apa putra kita yang gagah ini tenaganya segagah tubuhnya atau tidak! lalu saat ibu akan bertanya lagi sudah di hentikannya" ucap Ratu Xiao dengan sanatinya seakan tidak ada orang yang sedang dia maksud disana.
"Benarkah lalu bagaimana lagi? apa menantu kita puas dengan pelayanan suaminya?" tanya Raja Xiao antusias.
Putri Lie melongo mendengar ucapan yang sangat terbuka antara mertuanya yang tidak lihat situasi.
"Itu dia pertanyaan ibu yang terputus karena dihentika oleh menantu kita itu yah" ucap Ratu Xiao pura-pura sedih padahal ia ingin mencubit pipi menantunya lagi yang sudah lebih memerah dari sebelumnya.
"Sudah ibu, jangan bahas itu lagi, kasihan istriku yang sudah sangat malu ini" ucap Pangeran Jun seraya mengelus lembut punggung istrinya yang sudah memeluknya erat.
Putri Lie memeluk Pangeran Jun saat Ratu Xiao kembali membahas masalah itu dengan suminya bahkan lebih prontl lagi. Wajahnya ia sembunyikan di pelukan nyaman suaminya, dada bidangnya ia jadikan tempat untuk menyembunyika wajah merahnya.
__ADS_1
Perlakuan Pangeran Jun yang masih mengelus lembut punggungnya ditambah hangat tubuh suaminya itu membuatnya mengantuk dan memilih memejamkan mata dari pada harus menjadi bahan godaan mertuanya lagi.