
Putri Lie dan Pangeran Jun yang sedang dalam perjalanan menuju paviliun tidak sengaja bertemu dengan tabib yang tadi memberi obat pada Putri Lie.
Tabib itu terlihat berjalan dengan sangat tergesa-gesa sembari melihat sekitarnya.
"Sedang apa dia kenapa begitu tergesa-gesa?" tanya Putri Lie.
"Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu, Jei!" panggil Pangeran Jun.
Jei yang sudah tahu maksud tuannya segera pergi mengejar tabib itu untuk mencari tahu sesuatu yang mungkin di sembunyikannya.
Setibanya di paviliun
Pangeran Jun mengumpulkan semua bawahannya untuk di beri arahan agar memulai pekerjaan mereka.
"Tei kau dan beberapa anak buahmu menjaga paviliun dan Permaisuri, Jie kau akan ikut denganku keliling desa melihat keadaan seluruhnya, Wuse dan pengawal bayangan lainnya bagi dua kelompok. Pertama awasi Permaisuri diam-diam dan yang kedua pantau hutan Barat, sisanya pergi cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di air terjun Ruhai, itu adalah sumber mata air terbesar di desa ini tidak mungkin iar sebanyak itu kering bukan. Segera pergi dan laporkan semuanya paling lama nanti malam" ucap Pangeran Jun.
Semua pengawal pergi sesuai arahan dan perintah Pangeran Jun. Namun Putri Lie yang tidak suka berdiam diri akhirnya angkat bicara juga.
"Honey ijinkan aku membantu juga ya, aku tidak ingin diam saja di saat banyak orang yang butuh bantuan" bujuk Putri Lie.
"Tapi itu berbahaya sweetyy, kamu bisa lihat sendiri bukan bagaiman keadaannya" ucap Pangeran Jun.
"Jika tidak boleh pergi sendiri setidaknya biarkan aku ikut denganmu, aku tidak akan menyusahkan kamu janji deh" kata Putri Lie.
Pangeran Jun menatap sang istri yang sedang merayunya dengan wajah imutnya hingga Pangeran Jun tidak dapat menolak keinginannya.
"Baiklah kamu boleh ikut denganku, tetapi jangan jauh-jauh dariku ya" ucap Pangeran Jun membelai rambut Putri Lie.
Putri Lie mengangguk dengan semangat mananggapi ucapan Pangeran Jun hingga sang suami gemas sendiri melihat tingkahnya itu.
Di tempat lain…
Jei yang mendapat tugas dari tuannya untuk mengikuti tabib desa itu di buat terkejut dengan apa yang di lihatnya.
Sebuah gubuk kecil di tepi bendungan air yang sangat besar, juga banyaknya orang-orang yang di ikat pada setiap tiang. Bisa di pastikan jika orang-orang itu adalah penjaga yang bertugas di daerah dari kerajaan Xiao.
"Sulit di percaya, ternyata banyak konspirasi di desa ini" gumam Jei sangat pelan.
Dengan perlahan Jei mendekat pada gubuk itu dan lompat pada atapnya dengan perlahan tanpa suara untuk mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana.
__ADS_1
Di dalam gubuk itu
Tabib desa itu menemui seorang pria dengan perawakan tinggi dan tampan tetapi wajahnya sangat buruk.
"Lapor tuan, orang-orang dari kerajaan sudah tiba" ucap Ode.
Orang yang di panggil tuan oleh tabib Ode itu membalikkan badannya melihat pada orang yang memanggilnya.
"Siapa yang datang kali ini? apa Raja sialan itu datang sendiri ke sini?" tanya orang itu.
"Tidak tuan, yang datang adalah Pangeran Jun dengan Permaisurinya" ucap Ode
"Jadi Pangeran kita sudah memiliki Permaisuri ya, sungguh mengejutkan. Bukankah dia tidak suka di dekati oleh wanita mana pun!" seru orang itu.
"Permaisuri Pangeran Jun sangat cantik bahkan dia bisa tahu kalau obat yang aku berikan pada warga mengandung racun".
Mendengar ucapan Ode membuat orang itu marah padanya.
"Bagaiman dia bisa tahu apa kau ceroboh hingga dapat di ketahui olehnya" bentaknya.
Ode sudah ketakutan mendengarnya namun tidak berani melawan atau menatapnya, ia hanya dapat menunduk saja.
Pria itu mengibaskan tangannya menyuruh Ode pergi dari hadapannya, segera saja Ode pergi agar tidak menjadi pelampiasan amarah tuannya.
Pria misterius itu mengepalkan tangannya kuat, lalu menyambar gelas di meja dan melemparkannya pada pintu di hadapannya.
"Xiao, mayat putramu akan segera datang padamu tunggu saja" kata pria tersebut yang langsung memasuki sebuah ruangan di dalam gubuk itu.
Jei yang mendengar semua percakapan dari dalam gubuk itu tidak menyangka sama sekali jika akan mendapatkan berita besar disini.
Secara perlahan Jei bergerak meninggalkan tempat itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar tidak di ketahui orang yang ada di dalamnya.
"Aku harus memberitahukan Yang Mulia Pangeran tentang hal ini" ucap Jei.
Sementara di desa
Pangeran Jun menyusuri seluruh desa bersama Putri Lie dengan di temani Mino sebagai kepala desa Ruhai.
Mereka mendatangi setiap tempat yang terdapat banyak warga sakit. Sakit yang mereka derita semuanya sama hanya saja hal yang janggal adalah penyakit yang semakin parah setelah di beri obat.
__ADS_1
Putri Lie yang sudah sangat penasaran akhirnya bertanya pada Mino.
"Siapa nama tabib di desa ini?".
"Namanya Ode Permaisuri, apa ada yang salah dengannya?" tanya Mino balik.
Putri Lie hanya menggelengkan kepalanya dan memilih diam karena ia merasa jika ada sesuatu antara Mino dengan tabib Ode itu.
Pangeran Jun menangkap gelagat aneh pada Mino setelah istrinya bertanya tentang tabib itu. Sepertinya Pangeran Jun dan putri Lie memiliki pemikiran yang sama tentang kedua orang itu karena Pangeran Jun juga memilih diam dan terus berjalan setelah melihat ada kegelisahan di wajah Mino.
Dari kejauhan datang seorang wanita yang sedang berlari dan berteriak minta tolong, ketika melihat ada orang-orang dengan pakaian bagus dan mewah tudak jauh darinya, wanita itu segera menghampiri.
Setelah dekat dengan orang-orang itu, si wanita yang menyadari jika pemuda tampan di hadapannya adalah seorang Pangeran ia langsung membenahi pakaiannya yang berantakan dan merapikan penampilannya.
Putri Lie yang awalnya terkejut dengan kedatangannya yang berantakan dan berteriak minta tolong merasa iba. Namun ketika melihat bagaimana wanita itu berdandan di hadapannya sembari melirik sang suami membuatnya jadi muak dan kesal.
Sempat-sempatnya dia berdandan di saat genting, apa sebenarnya yang di inginkannya batin Putri Lie dan menatap tidak suka wanita itu.
"Yang Mulia tolong ibu saya, ibu tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri" ucapnya dengan nada yang di buat manja.
Ingin sekali rasanya Putri Lie menendang wanita centil di depannya itu, tetapi ia tidak mungkin melakukannya karena keadaan.
Pangeran Jun yang tahu kekesalan Putri Lie segera merangkul pinggang istrinya, meski ia sendiri juga merasa risih dengan wanita itu.
"Bawa kami pada ibumu sekarang" ucap Pangeran jun dingin dan datar.
Wanita itu sempat kaget dan takut dengan sikap Pangeran Jun yang tersebut, namun ia tetap membawa mereka pada ibunya.
Tibalah mereka pada sebuah rumah sederhana yang kelihatan sedikit kumuh itu, tidak terlihat seperti memiliki penghuni tetapi ketika di lihat kedalamnya memang ada seorang wanita paruh baya yang terkapar di lantai dengan tubuh kurus dan wajah pucatnya.
Pangeran Jun meminta pengawalnya untuk memindahkan ibu itu oada tempat yang lebih layak lagi. Putri Lie memegang pergelangan tangan si ibu lalu menatap wanita yanv menemui mereka tadi.
"Apa yang terjadi sebenarnya pada ibumu?" tanya Putri Lie
"Aku tidak tahu pasti yang jelas setelah ibu minum langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri" jawabnya.
"Mei ambilkan penawar racunnya" pinta Putri Lie.
Mei segera memberikan apa yang di minta Putri Lie, obat penawar racun itu di berikan Putri Lie pada wanita paruh baya dengan mereskannya ke dalam mulut sebanyak tiga tetesan.
__ADS_1
Obat pemberian tabib Weshi itu cukup berguna untuk keadaan mendesak seperti ini. Tidak hanya penawar racun saja, ada beberapa jenis obat lainnya yang mereka bawa dari kediaman mereka sendiri dan juga dari kediaman Jendral Han.