Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
53


__ADS_3

Putri Lie memandang indahnya air yang jatuh dari atas tanpa bosan, bahkan ia sudah bertahan dengan posisi itu cukup lama hingga Pangeran Jun yang menjadi sandarannya merasa bosan karena tidak melakukan apa pun selain melihat air itu saja.


"Honey, apa air terjun ini punya nama?" tanya Putri Lie yang di jaham gumaman oleh suaminya


"Siapa namanya?" ulangnya lagi.


Pangeran Jun memeluk Putri Lie erat dengan tangan yang mulai beraksi menyentuh tubuh Putri Lie.


"Ruhai" jawabnya singkat dan melanjutkan aksinya dengan mengecup leher jenjang istrinya.


Putri Lie sedikit merasa geli akibat ulah nakal suaminya itu, tetapi karena penasaran dengan air terjun cantik itu dia tetap bertanya.


"Kenapa Ruhai?" tanyanya


"Karena bukan Lie Han" jawab Pangeran Jun.


Kesal dengan jawaban singkat suaminya, Putri Lie memukul tangan nakal Pangeran Jun yang semakin tidak terkendali.


"Jawab yang benar Jun, jangan buat kesal" ucap Putri Lie datar.


Pangeran Jun yang sudah tahu kekesalan sang istri terpaksa menghentikan kegiatan menyenangkannya dan menjawab pertanyaan itu dari pada di abaikan.


"Baiklah Permaisuriku yang cantik, suamimu yang sangat tampan ini akan menjawabnya" ucap Pangeran Jun yang membuat Putri Lie senang namun tidak lama.


"Di namakan air terjun Ruhai karena berada di desa Ruhai dan merupakan tempat paling indah di desa ini apa lagi air terjun ini berada di tengah-tengah desa, air terjun ini juga salah satu sumber air utama bagi kehidupan desa karena banyak sungai kecil yang sumber airnya dari sini. Sawah dan perkebunan juga mendapat aliran air dari sini, itu sebabnya aktifitas warga mati ketika tempat ini di bendung" jelas Pangeran Jun.


Putri Lie mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jika sumber air utama desa adalah tempat ini mengapa kita mandi di sini? kan kotor airnya, kalau untuk minum juga tidak mungkin!" ucap Putri Lie.

__ADS_1


Kecupan manis mendarat pada pipi kanan Putri Lie dari sang suami yang di belakangnya .


"Kamu lihat yang di tengah situ" Pangeran Jun menunjuk pada bagian tengah air terjun yang terdapat lekukan pertama air jatuh, Putri Lie hanya mengangguk.


"Di atas sana ada aliran air lagi, bahkan ada yang di buat warga menuju sumur-sumur mereka dan juga sungai yang mengaliri air itu yang mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari. Dan daun bergetah yang kamu sebut waktu itu berada di aliran itu, itulah yang membuat warga banyak yang menderita sakit setelah memakai dan meminumnya, utamanya dari sana" jelasnya.


"Lalu di mana bendungan yang di buat Keimu itu?" tanya Putri Lie penasaran.


"Di bawah sana bendungannya dan tali tautannya di ikat pada batu-batu besar itu lalu airnya banyak yang di alirkan ke hutan dan desa kecil di sana yang sebenarnya adalah tempat anak buah Keimu" ucap Pangeran Jun sembari menunjuk apa yang ia ucapkan.


"Wah dia benar-benar jahat, memang pantas jima racun itu dia nikmati juga karena itu ide darinyakan" tutur Putri Lie memutar tubuhnya menghadap sang suami.


"Iya dia memang pantas mendapatkannya dan juga sisa anak buahnya sudah lumpuh semua" ucapn Pangeran Jun sedikit menyentak Putri Lie yang memeluknya.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Putri Lie heran karena dia hanya memberi obat gatal bukan lumpuh.


"Ode yang memberikannya sebagai bentuk kesetiannya padaku karena menyelamatkan adik perempuannya" jawab Pangeran Jun.


"Kenapa?" tanyanya


"Benarkah sebagai tanda kesetiaan atau tanda awal untuk memberikan adiknya padamu! adiknya cantik loh" seru Putri Lie dengan ketus.


Pangeran Jun mengangkat Putri Lie dari air dan membawanya naik karena sudah cukup lama mereka di sana.


"Sudah jangan membahas sesuatu yang akan membuat kamu kesal aku tidak akan tertarik pada gadis manapun selain kamu sweetyy, percayalah" ucap Pangeran Jun tegas.


Putri Lie melingkarkan tangannya pada leher Pangeran Jun yang menggendongnya, entah mengapa ia merasa jadi semakin berlebihan pada suaminya itu padahal sebelumnya tidak begitu, mungkin si bulan mau datang batinnya.


Pelayan langsung membentangkan selendang yang mereka bawa untuk jadi tempat ganti tuan mereka dengan tonggak kayu sebagai penyangganya. Setelah selesai mereka kembali ke paviliun untuk istirahat karena sudah lelah dengan aktifitas yang cukup menguras tenaga.

__ADS_1


Setibanya di paviliun


Pengawal Pangeran Jun yang mendapat tugas mengantar surat pada raja sudah kembali dan sedang menghadap pada tuannya yang baru datang.


"Kapan mereka akan tiba?" tanya Pangeran Jun


"Perkiraan saya besok malam Yang Mulia karena saya tiba di istana malam hari dan langsung menghadap Yang Mulia Raja. Beliau menurunkan perintah langsung pada Jendral Han untuk datang kemari memberi bantuan, Jendral Han berangkat malam itu juga bersama pasukannya menuju kesini bersama Panglima Min yang mengkhawatirkan Permaisuri" jawab pengawalnya.


"Bukankah mereka pergi keperbatasan beberapa hari yang lalu?" tanyanya lagi dengan bingung


"Keberangkatan di tunda karena masalah pengadilan yang di jatuhkan pada Selir Bai dan Putri Eun yang baru selesai kemarin" terangnya.


Putri Lie yang sedang mencari Pangeran Jun tidak sengaja mendengar ucapan pengawal itu mengenai kedua wanita jahat di kediaman ayahnya yang sudah di adili. Putri Lie langsung menghampiri mereka dan bertanya.


"Apa hukuman yang mereka dapatkan?" tanya Putri Lie dingin.


Orang yang ada di ruangan itu kaget dengan kemunculan Putriie di sana apa lagi dengan suara dinginnya yang mengintimidasi itu sedikit menakutkan.


"Selir Bai mendapat hukuman mati dan akan di kenal sebagai penghianat karena tidak setia sedangkan Putri Eun mendapat hukum kurung di kuil seumur hidup dan menghapal semua isi kitab juga di haruskan menjadi pengabdi selamanya di sana selain itu gelar bangsawan pada keduanya juga di cabut" jawab pengawal itu.


Putri Lie merasa cukup puas dengan apa yang ia dengar karena wanita yang sudah menyebabkan ia kehilangan ibunya sudah mendapat ganjarannya dan orang yang selalu menyakitinya sudah di pastikan tidak akan kembali lagi.


Senyum sinis Putri Lie keluar begitu saja dari bibirnya, dendammu sudah terbalas putri keadilan sudah menghukum mereka dengan berat batinnya dengan aura yang semakin menyeramkan.


Pangeran Jun mendekati Putri Lie yang masih berdiri dan memeluknya setelah memberi ciuman di keningnya untuk menenangkan. Pangeran Jun berpikir jika mungkin istrinya kurang puas akan hukuman yang di dapat kedua wanita itu.


Ia ingin menenangkan Permaisurinya agar aura membunuhnya pun mereda, karena ia melihat pengawal dan pelayan sudah ketakutan bahkan Jei, Jie dan Tei yang tidak kenal takut sampai menunduk dan terlihat merinding.


"Sweetyy kamu di sini ya, apa sudah ada makanan? aku lapar" ucap Pangeran Jun lembut untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


Pandangan Putri Lie kembali normal dan keadaan kembali seperti semula lagi, Pangeran Jun membawa istrinya ke ruang makan karena ia sudah sangat lapar.


"Pelayan siapkan makanannya" ucap Putri Lie dan mendudukkan sang suami di dekatnya.


__ADS_2