Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
45


__ADS_3

Putri Lie meminta keterangan pada si wanita centil itu tentang air yang di konsumsi ibunya hingga sampai keracunan. Baru saja Putri Lie ingin bertanya, ia sudah mendapati wanita itu curi pandang pada Pangeran Jun yang tidak memperdulikannya.


Wajarkan kalau Putri Lie menyebutnya sebagai wanita centil karena tidak hanya curi pandang tetapi juga berani memberikan tatapan menggoda pada Pangeran Jun. Padahal ibunya sedang dalam bahaya anaknya malah tebar pesona batin Putri Lie.


"Hei centil, air apa yang di minum ibumu hingga keracunan?" tanya Putri Lie ketus.


Wanita itu menatap bertanya pada Putri Lie yang melihatnya dengan datar.


"Kamu tahu dari mana namaku?" tanyanya balik.


Sontak saja Putri Lie membulatkan matanya tidak percaya, benarkah itu namanya atau hanya akal-akalan saja.


"Siapa nama mu?" tanya Putri Lie lagi.


"Centilani di panggil Centil" jawabnya percaya diri.


Hampir saja Putri Lie menyemburkan tawanya saat itu juga, namun karena menghargai ada yang sedang sakit jadi ia menahannya.


"Ceritakan air apa yang di minum ibumu?" tanya Pangeran Jun dingim dan datar.


Wanita yang bernama Centil itu langsung menolehkan kepalanya pada Pangeran Jun dan menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga.


"Ibu tadi haus, jadi saya ambilkan air yang di dapat dari balai desa" jawabnya dengan salah tingkah.


Pangeran Jun sudah gatal ingin segera pergi dari tempat itu karena merasa sangat tidak nyaman dengan wanita centil itu.


Putri Lie menyadari ketidak nyamanan sang suami dan memilih mendekati dan merangkul lengannya posesive.


"Ayo kita kembali besok lanjut lagi kelilingnya, hari sudah mulai sore" ajak Putri Lie.


Pangeran Jun mengangguk mengiyakan ajakan Putri Lie, selain tidak nyaman dengan si Centil ia juga merasa lelah karena belum beristirahat sejak tiba di desa itu.


Sebelum pergi keluar dari rumah si Centil, Putri Lie kembali bertanya padanya.


"Kenapa kau mau di beri nama itu?"


"Karena aku cantik dan menarik jadi aku di minta semua orang memanggilku Centilani atau Centil yang artinya gadis manja dan seksi" jawabnya sombong dan mengibaskan rambutnya dengan melirik Pangeran Jun.


Putri Lie mengangguk dan keluar dari rumah itu dengan wajah yang ia letakkan di lengan Pangeran Jun. Centilani berpikir jika Putri Lie merasa kalah cantik dengannya, itu sebabnya menyembunyikan wajah di lengan Pangeran Jun.


Kenyataan yang sebenarnya adalah Putri Lie sedang berusaha menahan tawanya yang sudah tidak tertahan lagi karena jawaban yang teramat pede dari Centilani.

__ADS_1


Pangeran Jun merasa sedikit geli pada lengannya karena terus di endus oleh Putri Lie yang menahan tawanya.


"Sweetyy jika ingin tertawa ya tertawa saja jangan di tahan nanti jadi bisul" ucap Pangeran Jun mengulang ucapan Putri Lie yang pernah mengatakan hal demikian padanya.


Tidak dapat lagi Putri Lie menahannya dan keluarlah tawa yang sejak tadi di tahan-tahannya. Sungguh menggelitik sekali jawaban dari si Centil itu bagi Putri Lie.


Pangeran Jun sebenarnya bingung pada istrinya karena tertawa lepas seperti itu, entah apa yang ia tertawakan hingga sebahagia itu.


"Apa yang lucu sweetyy hingga kamu tertawa bahagia begitu?" tanyanya.


"Kamu tahu apa arti centil itu?" tanya Putri Lie balik.


Pangeran Jun hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu karena baginya tidak penting juga, tetapi karena istrinya yang tertawa hanya karena nama ia pun jadi penasaran.


"Centil itu artinya genit atau kebanyakan gaya" kata Putri Lie


"Aku tidak paham sweetyy" ucap Pangeran Jun


"Kamu lihatkan tadi, bagaimana dia bertingakah di hadapan kamu dan bagaimana dia menatap kamu? itu namanya centil atau genit" jelasnya.


Pangeran Jun kembali hanya mengangguk saja menanggapinya yang terpenting baginya bisa pergi dari tempat itu.


Di kerajaan tetangga…


Raja Hun sangat marah pada pengawalnya yang gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.


Dua hari menunggu namun tidak membuahkan hasil apa pun selain kegagalan, bahkan pengawalnya banyak yang tewas karena perang yang terjadi.


Pengawalnya yang pulang hanya tinggal lima orang dengan luka-luka yang belum mengering sedangkan dua puluh orang lainnya ada yang tewas di tempat perang ada pula yang tewas karena kehabisan darah dari luka yang parah.


"Kalian tidak berguna, seharusnya kalian gunakan bubuk mata agar mereka kesulitan melihat dengan jelas meski semetara, kesempayan itu bisa kalian gunakan untuk membawanya"


Marah Raja Hun dengan menghancurkan apa yang ada di sampingnya. Ia menggerakkan tangannya agar pengawalnya itu pergi.


Selir Rene yang melihat kemarahan Raja Hun merasa tidak senang karena akan ada selir baru lagi di kerajaannya dan kemungkinan akan menjadi Permaisuri di kerajaan itu.


Ia tentu tidak akan rela dengan hal tersebut, biar bagaiman pun ia merasa lebih pantas menjadi permaisuri atau ratu sekali pun karena ia selir utama dan kesayangan.


"Yang Mulia, kenapa marah-marah? tenanglah semua ada solusinya" ucapnya


"Aku harus mendapatkan wanita itu bagaimana pun caranya"

__ADS_1


Sungguh muak rasanya Selir Rene mendengar hal tersebut, setiap saat yang di sebutkan Raja Hun hanya wanita itu saja hingga tidak ada satu pun dari para selir yang ia datangi dan sentuh.


"Yang Mulia bagaimana rupanya wanita itu hingga membuat anda sangat menginginkannya" ucap Selir Rene


"Tidak ada satu pun dari kalian yang dapat menyainginya" ucap Raja Hun lalu pergi.


Selir Rene sangat ingin menanyakan hal lebih banyak lagi tentang wanita itu agar ia dapat melakukan sesuatu yang membatalkan niat Raja Hun.


Raja Hun merasa pusing karena terus memikirkan obsesinya yang tidak terwujud itu, ia harus mengorbankan hal besar jika harus menjalankan rencana keduanya.


Karena status wanita itu yang tidak sederhana memungkinkan ia harus mengorbankan kerajaannya, perang antara kerajaan bisa saja terjadi karena yang dia inginkan adalah seorang Permaisuri juga calon ratu.


"Tunggu saatnya tiba baru aku akan melakukan sesuatu, biarlah sekarang mereka lengah dulu karena rencana ini akan jauh lebih menyenangkan" gumam Raja Hun memandang langit malam yang gelap.


Kembali pada desa Ruhai di paviliun


Pangeran Jun berkumpul lagi dengan bawahannya untuk mendengarkan laporan dari mereka. Jei adalah yang paling semangat ingin menyampaikan berita yang ia bawa


Alih-alih dapat mengatakan lebih dulu, ia justru tidak kunjung di tanya hingga semua selesai.


"Wuse bagaiman?" tanya Pangeran Jun


"Yang Mulia, di hutan barat tidak ada sumber air selain sungai yang tidak terlalu besar, sungai itu juga berada di pinggir hutan yang cukup jauh dari desa. Kalau untuk kelompok perampok itu memang ada meski banyak tetapi mereka tidak ada yang menjaga air di sungai, yang benar mereka bekerja untuk seseorang yang ada di desa ini" jelasnya.


"Yang lain!"


"Yang Mulia, air terjun Ruhai tidak kering malah sangat berlimpah dengan air tetapi ada sesuatu yang aneh di sana Yang Mulia"


Pangeran Jun menatap pengawalnya itu meminta lanjut.


"Begini Yang Mulia, air yang ada di sana di alirkan menjauh dari desa menuju tempat lain di Hulu yang sepertinya kamp pemberontak. Sedangkan di sekitarnya ada bendungan besar dari kayu dan daun untuk menahan air agar tidak banyak mengalir ke sungai desa" jelas lainnya.


Sekarang Pangeran Jun paham mengapa air sungai tidak banyak bahkan menebabkan keracunan, pasti ada yang salah dengan bendungan itu.


"Jei"


Mendengar namanya di sebut membuat Jei senang karena itu yang ia tunggu-tunggu.


"Yang Mulia, tabib itu terlibat konspirasi dengan para pemberontak yang di ketuai seseorang yang…


Jei membisikkan sesuatu pada Pangeran Jun apa yang ia tahu. Betapa terkejutnya Pangeran Jun mendengar apa yang Jei sampaikan padanya, mengapa ia masih hidup batinnya marah.

__ADS_1


__ADS_2