Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
39


__ADS_3

Pangeran Jun membawa Putri Lie kembali ke paviliun Bulan untuk beristirahat, karena kejadian yang sangat mengejutkan itu telah banyak menumpahkan air mata sang istri yang baru saja mengetahui penyebab ke matian ibunya.


Putri Lie terlihat banyak melamun setelah tiba di paviliunnya bahkan air matanya ikut menetes manandakan bahwa ia sedang bersedih. Pangeran Jun yang tidak tega melihat keadaan sang istri tercinta pun akhirnya mendekatinya untuk menenangkan.


"Sweetyy, ayo tidur kamu harus istirahat" ucap Pangeran Jun memeluk tubuh Putri Lie dari belakang


"Aku merindukan ibu, kenapa mereka begitu tega memisahkan aku dengan ibu yang bahkan baru lahir dan tidak tahu apa-apa" seru Putri Lie dengan air mata yang semakin menetes.


Pangeran Jun membalikkan tubuh Putri Lie menghadapnya dan menghapus air mata yang tidak mau berhenti itu.


"Jika kami terus menangis, aku yakin ibu mertua akan sangat sedih di atas sana, jadi jangan menangis lagi ya" bujuk Pangeran Jun


"Tapi peluk aku ya honey, aku ingin tidur di pelukanmu" jawab Putri Lie


"Tentu sweetyy, aku akan selalu memelukmu bukankah biasanya juga begitu" goda Pangeran Jun yang langsung mendapat cubitan manja dari sang istri.


Pangeran Jun dan Putri Lie berbaring di ranjang bersiap untuk tidur, namun masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Pangeran Jun yang harus segera di selesaikan.


"Sweetyy, apa kamu ingin tinggal di sini lebih lama lagi?" tanya Pangeran Jun


"Bukankah kita akan pergi ke Selatan! tidak jadi ya?" tanya Putri Lie balik dengan wajah bingung


"Tentu jadi sweetyy, besok pagi berangkatnya" jawab Pangeran Jun


"Lalu kenapa aku harus tinggal di sini?" tanyanya lagi


"Mungkin kamu masih ingin tinggal karena kakak ipar yang masih sakit, ayah mertua juga sedang terguncang hatinya dengan semua kenyataan itu" ucap Pangeran Jun.

__ADS_1


"Honey aku ikut ya, jika tetap di sini yang ada aku akan terus bersedih apa lagi kalau nanti melihat wajah Bai yang akan di bawa ke pengadilan, bisa-bisa aku mencabik-cabik dia sebelum di adili" kata Putri Lie dengan nada suara yang lucu


"Baiklah jika begitu keinginanmu, kita akan pergi besok pagi le Selatan tetapi kita tetap harus pamit pada ayah mertua dan kakak ipar" ucapan Pangeran Jun menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Putri Lie yang selalu di beri pengertian akan keinginannya.


Pelukan hangat mereka semakin erat karena Putri Lie yang memeluk sang suami dengan posesive padahal hanya ada mereka berdua saja tetapi ia tetap tidak mau jauh-jauh dari suami tampannya itu. Dengan senang hati Pangeran Jun menerima pelukan itu karena sangat menguntungkan baginya yang akan terus merasakan kenyaman dari pelukan mereka apa lagi aroma tubuh sang istri yang menenangkan baginya.


Pagi ini Jendral Han di kejutkan dengan robongan Pangeran Jun yang sudah bersiap untuk pergi ke Selatan. Hanya saja yang membingungkan baginya apa Putrinya akan ikut atau tinggal masih menjadi pertanyaan baginya, jadi ia memutuskan untuk menemui keduanya.


"Di mana putri dan menantuku?" tanyanya pada Jei yang sedang bersiap


"Yang Mulia Pangeran dan Permaisuri sedang berada di kamar perawatan Panglima Min Jendral" jawab Jei


"Baiklah terima kasih ya" kata Jendral Han yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Jei.


Sedangkan Jei hanya mengangguk saja karena sudah di tinggal pergi oleh Jendral Han yang bahkan berjalan dengan begitu cepatnya.


"Selalu aku di tinggal sendiri, malangnya nasibku" gumam Jei yang dapat di dengar beberapa pelayan wanita yang langsung menertawakan kesendiriannya. Bahkan mereka menertawakanku batinnya saat tahu dia di tertawakan pelayan.


"Ayah, kebetulan sekali ayah datang ada yang ingin kami sampaikan" kata Putri Lie ketika melihat sang ayah masuk dan masih berdiri di pintu. Jendral Ham mendekat karena mendengar putri dan menantunya ingin bicara dengannya, ia sudah menebak jika putrinya pasti akan ikut dengan sang menantu.


Jendral Han duduk di dekat Putri Lie dan memeluknya karena akan di tinggalkan pergi lagi.


"Kamu akan ikut pergi juga nak!" suara Jedral Han terdengar sendu


"Iya ayah, aku akan ikut suamiku ke Selatan" jawaban Putri Lie cukup mengejutkan bagi Jendral Han yang tahu bagaimana kondisi di sana


"Kami yakin akan ikut suamimu ke sana!" seru Jendral Han meyakinkan

__ADS_1


"Tentu ayah aku tidak ingin dia sendirian di sana" kata Putri Lie.


"Tidak ingin dia sendirian atau karena tidak ingin ada yang menggoda suamimu itu hm" goda Jendral Han yang membuat pipi Putri Lie merona


"Lihat yah, pipi Lie'er merona berarti benar jika dia tidak ingin suaminya ada yang menggoda karena di sana terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik" mendengar ucapan kakaknya tentu saja ia kaget, wah bahaya nih harus ekstra jaganya batin Putri Lie.


"Meskipun mereka cantik-cantik, tapi tidak akan ada yang dapat mengalahkan bidadari hatiku ini" kata Pangeran Jun memeluk Putri Lie dari samping.


Wajah Putri Lie jadi memerah karena ucapaan suaminya, sungguh wanita mana yang tidak akan senang jika mendapatkan pujian dari suami tercinta.


"Wah wajahnya jadi semakin merah liha-lihat" heboh Min ketika melihat wajah adiknya yang merah sepenuhnya


"Jangan menggodaku lagi kak" seru Putri Lie malu dan menyembunyikan wajahnya di pelukan sang suami


"Hei lihatlah betapa manjanya dirimu ini, kau memang Lae kcil kami yang lucu" ucap Min yang semakin membuat adiknya malu dan semakin memeluk erat sang suami


"Sudah Min kasihan adikmu" lerai Jendral Han.


Min dan Jendral Han melihat bagaimana kebahagiaan pasangan muda di hadapan mereka itu saling menyayangi, bahkan tanpa rasa malu Pangeran Jun mengecup puncak kepala istrinya di depan ayah mertua dan kakak iparnya


Setelah berpamitan rombongan Pangeran Jun mulai bergerak meninggalkan kediaman Jendral Han. Putri Lie melihat keluar dan menatap ayah serta kakaknya yang masih dalam kondisi hati yang sama dengannya, namun mereka mencoba mengiklaskan semua yang sudah terjadi dan menjalankan kehidupan yang terus berjalan kedepan ini.


Putri Lie meletakkan kepalanya di bahu Pangeran Jun untuk bersandar, ia sangat lelah dengan semua yang terjadi dengaannya. Namun ia tetap bersyukur karena masih memiliki orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.


"Kamu tahu sweetyy hal apa yang paling indah di dunia ini?" tanya Pangeran Jun


"Tidak tahu, memangnya apa?" tanyanya balik

__ADS_1


"Hal paling indah di dunia ini adalah ketika aku melihat kamu tersenyum manis, karena senyumanmu itu bagaikan obat semangat yang sangat ampuh bagiku, kamu adalah permata yang tuhan berikan padaku sebagai pelengkap hidupku dan yang akan selalu menemaniku hingga akhir nanti, dan hal lainnya adalah ketika aku menatap mata kamu yang sangat indah itu bahkan ribuan taman dan pemandangan kalah indahnya dengan keindahan matamu yang selalu berbinar ketika sedang bahagia bersamaku, jadi jangan pernah jatuhkan air mata kamu lagi jika bukan karena kebahagiaan karena aku merasa sakit ketika melihat kamu menangis" ucap Pangeran Jun menatap wajah Putri Lie intens.


Putri Lie benar-benar merasa melayang mendengar ucapan manis sang suami. Ia sangat tidak menyangka jika suaminya yang terkenal dingin dan datar bisa berbicara seromantis ini. Putri Lie mengecup mesra bibir suaminya sebagai ungkapan kebahagiaan hatinya yang sambut baik oleh sang suami tentunya.


__ADS_2