
Putri Lie sangat tenang dalam pelukan Pangeran Jun yang nyaman dan hangat menurutnya. Tubuhnya yang kecil terbalut tubuh besar dan pelukable sang suami membuatnya betah berlama-lama di peluk.
Perutnya tiba-tiba saja lapar padaham baru saja ia memakan kue yang selalu di siapkan Mei untuknya setiap kali perjalanan kemanapun.
Rasa malas untuk melepaskan pelukan nyaman suaminya membuatnya enggan bergerak tetapi perutnya sudah sangat kelaparan. Akhirnya ia bergerak dan melepaskan pelukannya pada Pangeran Jun.
Pangeran Jun bingung sendiri melihat istrinya yang tiba-tiba melepas pelukannya dengan wajah muram.
"Kenapa?" tanyanya
"Lapar" jawab Putri Li cemberut
"Bukankah tadi baru makan kue?" herannya dengan nafsu makan sang istri yang wah
"Lapar lagi" rengek Putri Lie manja
Pangetan Jun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah makan lagi, masih ada jugakan yang tadi kuenya!" seru Pangeran Jun yang malah mendapatkan wajah yang semakin cemberut di hadapannya.
"Kenapa sweetyy hm?" lanjut Pangeran Jun bertanya dengan tangan mengelus lembut pipi istrinya.
"Lapar tapi mau peluk kamu juga" jawabnya manja dan kembali memeluk Pangeran Jun erat.
Pangeran Jun tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang sulit di tebak itu terkadang sangat manja, terkadang juga galak dan mengerikan dan terkadang mudah menangis dan yang paling menyenangkan bagi Pangeran Jun selalu minta di peluk olehnya.
Tetapi itu tetap membuatnya bahagia bagaimanapun sikap istrinya meski terkadang ia kualahan dengan perubahan mood istrinya yang drastis itu.
"Ya sudah sini aku suapin kamu ya" ucap Pangeran Jun mendapat anggukan semangat dari Putri Lie yang masih memeluknya.
Pangeran Jun mengambil kue yang tadi sempat di makan oleh istrinya dan masih tersisa banyak karena memang sangat banyak di buat oleh Mei.
"Buka mulutnya Sweetyy" kata Pangeran Jun menyodorkan kue bunga persik kesukaannya.
Putri Lie membuka mulutnya menerima suapan kue dari sang suami yang sangat manis dan romantis itu. Pelukan tidak lepas dan perutnya terisi, suaminya itu sangat pengertian dan peka akan keinginannya yang aneh-aneh.
"Terima kasih Honey" ucap Putri Lie membingungkan orang yang ia peluk.
"Untuk apa Sweetyy?" tanyanya
"Karena sudah menerimaku menjadi istri dan mencintaiku" jawab Putri Lie tersenyum manis.
__ADS_1
Tangan Pangeran Jun terulur membersihkan sisa makanan di bibir sang istri kemudian mengecupnya lembut setelahnya.
"Apapun untukmu istriku, cintaku, hartaku, tahtaku bahka nyawaku akan aku berikan untuk kebahagiaanmu. Sama halnya seperti ayah mertua dan kakak ipar aku juga akan memberikan segalanya demi bersama kamu Sweetyy, jadi rakyat biasa juga ayo asal dengan kamu" ucap Pangeran Jun tulus.
Air mata Putri Lie jatuh mendengar ucapan suaminya, ia sangat terharu dengan apa yang di katakan sang suami.
"Kamu, ayah dan kakak adalah tiga priaku yang sangat hebat dan luar biasa" ucapnya penuh haru dan semakin memeluk Pangeran Jun.
"Sweetyy jangan kuat-kuat susah nafasnya nih" kata Pangeran Jun yang kesulitan bernafas karena pelukan erat Putri Lie.
Sedangkan si pelaku hanya terkekeh lalu mengendurkan pelukannya dan menyamankan posisinya lagi.
Pangeran Jun tersenyum membelai rambut istrinya dan tangannya yang lain mengelus lembut punggungnya. Nafas teratur Putri Lie mengalihkan perhatian Pangeran Jun yang membelainya.
Di lihatnya Putri Lie yang tertidur nyenyak di pelukannya, loh kok tidur cepat sekali batinnya dengan menggelengkan kepala namun tetap dengan senyumannya.
Karena merasakan kantuk juga maka Pangeran Jun memejamkan matanya dan tertidur dengan memeluk Putri Lie dengan nyamannya.
Hari semakin gelap saat rombongan Pangeran Jun tiba di desa Banda, mereka memutuskan untuk menyewa penginapan yangbada di desa itu. Setelah mencari-cari tidak juga ada penginapan di desa, akhirnya kepala desa itu menawarkan tempat tunggalnya yang besar untuk mereka.
"Mari Yang Mulia Pangeran, Permaisuri Jun, Jendral dan Panglima. Rumah saya tidak besar tetapi ada beberapa kamar yang masih kosong bisa di tempati" tawar kepala desa bernama Hino.
Mereka mengikuti kepala desa itu masuk dan duduk di ruang tamu sementara pemilik rumah meminta pelayannya menyiapkan dua kamar untuk tamu mereka itu.
"Silahkan dimakan Yang Mulia dan lainnya, hanya ini yang kami punya untuk menjamu kalian" ucapnya.
"Tidak perlu menyiapkan semua ini Hino, kami hanya bermalam untuk malam ini saja karena kebetulan lewat dan tidak menemukan penginapan lagi" sahut Jendral Han.
Hino tersenyum ramah, ia sudah mengenal baik Jendral Han dan keluarganya karena kebaikan mereka.
"Ini bukan masalah besar Jendral Han dan saya harap anda sekeluarga jangan sungkan-sungkan di sini" katanya lagi.
"Baiklah terima kasih ya Hino" ucap Jendral Han
"Sama-sama Jendral Han, oh iya kamarnya sebelah sana yang bersebelahan itu" Hino menunjuk dua kamar di ujung ruangan
"Terimakasih sekali lagi Hino" kata Jendral Han
"Sama-sama Jendral Han" Hino tersenyum senang karena kedatangan anggota kerajaan.
Setelah sedikit bercerita mengenai kehidupan desa Banda itu, Pangeran Jun pergi berkeliling desa dengan Jendral Han dan Hino sedangkan Putri Lie dan Panglima Min sudah tertidur di kamar karena lelah.
__ADS_1
Tidak lama berselang setelah perginya mereka masuklah seorang pemuda dengan keadaan setengah mabuk dan berjalan sempoyongan.
Ia menghentika langkahnya karena mendengar suara beberapa pelayan mereka yang mengatakan tentang seorang wanita cantik yang ada di kamar tamu rumah.
"Wanita itu sangat cantik ya"
"Iya ramah dan baik pula, aku sangat suka sikapnya"
"Dia lebih cantik dari seorang dewi".
Seringai muncul di bibirnya saat mendengar ucapan pelayan itu, ada mangsa baru batinnya dan langsung menuju tempat di mana wanita itu berada.
Tetapi saat di depan pintu kamar terdapat tiga orang pria yang sedang bersama beberapa wanita cantik lainnya. Bahkan di depan rumahnya pun ada banyak sekali pasukan yang berjaga dan berkeliling rumahnya.
Tanpa memperdulikan mereka yang sedang menatapnya heran, pemuda itu maju menuju pintu kamar yang ada di depannya. Segera saja ketiga pria tadi menhadangnya dan menutup pintu dengan tubuh mereka.
"Siapa kalian? minggir jangan halangi jalanku" ucapnya, aroma minuman keras menyeruak keluar saat dia berucap menandakan bahwa ia mabuk-mabukan.
"Maaf, kau siapa dan perlu apa kemari?" tanya Jie
"Aku pemilik rumah ini, kalian siapa dan jangan halangi jalanku bersenang-senang saja dengan mereka aku ingin wanita yang ada di dalam!" serunya mencoba menerobos Jie, Jei dan Tei.
"Wanita itu tuan kami dan kamu tidak boleh masuk sekalipun pemilik rumah ini" ucap Tei tegas.
Pemuda itu tertawa kencang lalu menunjuk ketiga pengawal Pangeran Jun.
"Kalian minggir cepat!" marahnya.
Mereka tetap pada posisinya dan tidak bergerak sedikitpun dari pintu.
Putri Lie yang mendengar keributan di depan jadi terbangun dan hendak keluar untuk melihat namun di tahan Mei yang bersamanya.
"Jangan keluar Permaisuri, disana ada orang mabuk yang sedang di hadang ketiga pengawal itu" ucap Mei
"Mungkin ini kamarnya itu sebabnya dia kemari, aku harus keluar" Putri Lie turun tapi di tahan lagi
"Jangan Permaisuri, ingat pesan Yang Mulia Pangeran" ucap Mei mengingatkan.
Putri Lie diam dan mengalah kerena tidak ingin melanggar perintah suaminya yang tidak mengijinkannya keluar kamar jika ia tidak ada.
"Baiklah tapi mereka sangat ribut aku tidak bisa tidur lagi" kata Putri Lie
__ADS_1
"Saya akan meminta mereka menjauhkan pemuda itu tunggulah Permaisuri" Mei pergi keluar dan menemui mereka.