Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
Extra part


__ADS_3

Tiga tahun kemudian ...


Putri Lie sedang duduk mengamati sang buah hati bermain bersama pelayannya. Mereka saat ini berada di taman kediaman Putra Mahkota. Senyum Putri Lie mengembang saat sang putra menghampirinya membawa setangkai bunga.


"Ini untuk, Ibu." Suara yang menggemaskan dari bocah yang akan berusia tiga tahun itu membuat siapa saja ingin sekali mencubitnya.


Tapi siapa yang berani melakukan itu pada kesayangan mereka semua. Anak yang bertahan dari obat keguguran yang pernah di minum Putri Lie dulu. Kini sudah besar dan memiliki sikap yang baik dan rendah hati.


Namun jangan sampai ada yang mendekati ibunya. Bahkan ayahnya sendiri terkadang tidak di ijinkan mendekat apa lagi menyentuh sang ibu. Sikapnya juga akan sangat tegas dan galak pada siapa saja yang melakukan kesalahan.


Meski masih kecil dan polos, nyatanya Pangeran kecil itu memiliki kecerdasan yang luar biasa. Bahkan ia sudah sangat lancar berbicara dan sering ikut bersama sang ayah untuk duduk di ruang baca.


Entah apa yang di lakukan bocah itu, hanya meminta satu buku dan akan diam saja. Pangeran Jun pernah bertanya pada anaknya tentang apa yang di lihatnya dalam buku yang ada di hadapannya itu.


Dengan pasih sang anak menjawab kalau ia sedang mengamati setiap tulisan di dalamnya. Balik bertanya tentang apa yang di maksud oleh buku yang di bacanya. Pangeran Jun juga selalu memberitahu sang anak yang memang sudah mengerti huruf dan angka.


Meski dalam hal membaca masih perlahan, tapi itu merupakan sebuah kebanggaan bagi keluarga kerajaan. Di saat anak seusianya masih baru mulai belajar memahami tentang asal usul keluarganya. Pangeran kecil itu malah sudah jauh di depan pengetahuannya.


"Terimakasih, sayangnya Ibu." Putri Mahkota Lie mengelus kepala Pangeran Ken lembut.


Tentu saja Pangeran kecil itu senang dan tersenyum lebar menatap sang ibu.


"Bunganya cantik seperti Ibu, hanya Ibu yang boleh dapat bunga," ucap Pangeran Ken.


"Setiap perempuan itu cantik anakku, hanya saja cara mereka menunjukkannya berbeda-beda. Dan cara pandangan orang yag berbeda akan memberikan penilaian yang berbeda pula," kata Putri Mahkota Lie.


Pangeran Ken terdiam menatap ibunya serius lalu bertanya. "Memangnya cara seperti apa yang sering di pakai untuk terlihat cantik, Bu?"


"Banyak caranya, nanti kalau kamu sudah dewasa pasti akan memahaminya." Putri Mahkota Lie kembali mengelus kepala sang anak lembut.


Pangeran Ken duduk di samping Putri Mahkota Lie. Keduanya menikmati sore hari yang cerah itu sembari menunggu kepulangan Putra Mahkota Jun dari istana.

__ADS_1


"Wah, sedang membahas apa ini? Ayah, boleh ikut bergabung tidak ya?" Suara yang terdengar sangat familiar itu membuat pasangan ibu dan anak yang sedang asik bercanda itu menoleh.


"Ayah ..." Dengan senyum lebarnya Pangeran Ken turun dari tempat duduknya.


Putri Mahkota Lie sampai takut sendiri melihat cara anaknya turun dari kursi. Pangeran kecil itu melompat dan langsung menerjang tubuh sang ayah yang sudah dekat.


Putra Mahkota Jun dengan cepat pula menangkap tubuh anaknya.


"Hap, jagoan Ayah sedang apa?" Tanya Putra Mahkota Jun setelah sang anak nyaman di gendongannya.


"Lagi cerita sama, Ibu. Tadi aku juga kasih bungam yang cantik untuk Ibu, Yah." Putra Mahkota Jun melihat ke arah meja di mana setangkai bungan tergeletak.


"Bunga yang cantik, sangat cocok untuk Ibu." Putra Mahkota Jun mengedipkan satu matanya menggoda sang istri.


Tentu saja Putri Mahkita Lie melotot melihat tingkah genit suaminya yang terkadang tidak tahu tempat.


"Iya, bunganya cantik seperti Ibu, makanya aku ambil kasih buat Ibu." Pangeran Ken tersenyum menatap Putri Mahkota Lie.


"Iya, Ibu. Maaf," ucap Pangeran Ken dari pada kena hukum.


Sebab Putri Mahkota Lie akan bersikap tegas juga pada sang anak kalau nakal atau melakukan sesuatu yang dapat membahayakan diri sendiri.


Sejak kehilangan kembaran Ken, Putri Mahkota Lie jadi lebih protektif dan posesif pada anaknya. Sehingga saat kelahiran Pangeran Ken, hanya orang-orang yang memang terpilih saja yang bisa mendekat.


"Ayah, turun.aku mau main lagi," pinta Pangeran Ken yang langsung di turuti ayahnya.


Pangeran Ken berlari menuju tempatnya bermain tadi bersama pelayan dan pengawal. Pangeran kecil itu tidak pernah membedakan setiap pengawal dan pelayannya.


Selama mereka baik dan tidak kasar padanya, maka anak kecil itu akan bersikap murah hati. Itulah yang membuatnya di sukai dan di cintai banyak orang termasuk para pelayan dan pengawal di kediaman itu.


Putra Mahkota Jun duduk di samping sang istri yang mengawasi anaknya bermain. Meski banyak orang mengawasi dan menemani anaknya bermain. Putri Mahkota Lie tetap mengawasi sendiri setiap pergerakan anaknya.

__ADS_1


Mengurus sendiri semua keperluan anaknya kecuali membuatkan makanan. Hanya pelayan setianya yang sudah lama bersamanya yang membuatkan khusus.


Karena Putri Mahkota Lie tidak ingin meninggalkan anaknya. Sedangkan untuk di bawa ke dapur juga tidak mungkin.


"Sepertinya Ken sudah bisa di beri adik, apa lagi usianya yang sudah hampir 3 tahun. Aku rasa tidak masalahkan?" Putra Mahkota Jun menatap istrinya menggoda.


"Jangan dulu deh, nanti saja kalau usia Ken sudah 4 tahun. Rasanya belum puas bermain bersamanya, aku takut tidak mampu bersikap adil kepadanya dan adiknya nanti."


"Kamu pasti bisa, istriku. Kita harus mencobanya lebih dulu baru tahu, bisa tidaknya kita bersikap adil kepada mereka nantinya," ucap Putra Mahkota Jun menyemangati Putri Mahkota Lie.


"Hah, rasanya aku masih belum bisa melupakan anak kita yang sudah tidak ada itu. Bahkan saat Ken lahir dulu, suara tangisannya terdengar saling bersahutan. Seakan ia dan kembarannya menangis bersamaan," jelas Putri Mahkota Lie.


Tanpa terasa air mata ibu satu anak itu menetes kala mengingat kejadian saat ia melahirkan. Nalurinya sebagai ibu tentu tidak dapat membohongi perasaannya.


Meski terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Tapi kehilangan anak tetap membekas di ingatannya. Hatinya terluka parah saat mendengar kalau anaknya tiada, rasa sakit saat mengeluarkan anak yang sudah tiada itu masih terasa.


"Tenanglah sayang, anak kita itu sudah bahagia di atas sana. Yang sekarang harus kita lakukan adalah membesarkan Ken dengan baik, semoga di masa depan ia menjadi kebanggan kita. Dan yang paling pentingnya lagi ..."


Putra Mahkota Jun semakin menatap istrinya menggoda. Putri Mahkota Lie yang melihat tatapan suaminya langsung berdiri untuk menghindar.


"Jangan harap ..." Putri Mahkota Lie berlari meninggalkan suaminya dan mendatangi sang anak.


"Mau kemana istriku?" Tanya Putra Mahkota Jun sembari ikut berdiri dan berjalan santai mendekati anak dan istrinya yang sudah bersama.


Mereka berdua akhirnya bermain bersama menemani sang anak. Hingga hari semakin gelap dan mengharuskan mereka untuk mengakhiri keseruan itu.


"Tumbuhlah menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan negri ini, Nak. Karena suatu saat nanti kamu juga akan menjadi seorang pemimpin. Maka jadilah pemimpin yang bertanggung jawab dan adil pada semua orang," ucap Putri Mahkota Lie.


Putra Mahkota Jun memeluk bahu istrinya yang masih duduk di tepi ranjang anak mereka yang sudah tertidur.


"Dia pasti akan sangat luar biasa nantinya." Putra Mahkota Jun mengecup kening sang istri penuh kasih.

__ADS_1


Putri Mahkota Lie yang sebenarnya hanya tinggal raga dengan jiwa yang berbeda. Kini mendapatkan hidup yang lebih baik setelah semau kesengsaraan di laluinya di masa lalu.


__ADS_2