
Pangeran Jun memperhatikan dengan seksama gambar bendungan yang di buat oleh pengawalnya yang sudah melihat bendungan itu.
Ternyata daun yang di gunakan mengandung banyak getah yang berbahaya bagi kesehatan, getah pohon tidak lengket dan mengendap namun jika di konsumsi menyebabkan keracunan bahkan diare berlebihan.
Putri Lie melihat ada pondasi yang mudah untuk di rubuhkan jika hanya di tahan dengan ranting dan batang pohon yang di ikat simpul satu dan yang lain.
"Aku tahu bagaimana cara menghancurkan bendungan ini" ucap Pangeran Jun
"Yah ini sangat mudah" sahut Putri Lie.
Pengawal mereka melihat pasangan serasi di hadapan mereka yang sedang diskusi tentang bensungan itu.
"Tapi daun-daun ini akan kita apakan supaya menyingkir dari air!" ucap Pangeran Jun bingung
"Air yang sudah di bendung sekian lama akan memiliki debit yang besar jika terbuka dan kemungkinan akan menyebar ke seluruh desa ini" ucap Putri Lie memandang sang suami
"Maksud kamu desa ini akan ke banjiran, lalu bagaimana dengan efek dari getah daun itu sendiri!" tanya Pangeran Jun
"Daunnya akan terbawa arus air yang deras, jadi tidak akan tertinggal kalau pun ada yang tertinggal, itu tidak bergetah lagi karena daun akan membusuk jika lama terendam air terkecuali kalau mereka selalu menambahkan daun baru lagi" jelas Putri Lie membuat Pangeran Jun kagum.
Pengawal mereka juga merasa kagum pada Permaisuri mereka yang ternyata pandai bertaktik dan teori.
"Lalu apa yang harus kita lakukan jika air datang, bukankah itu akan merusak desa!" seru Tei
"Buka perlahan tautan bendungannya, dengan begitu air tidak akan sampai merusak desa" ucap Pangeran Jun
"Itu lebih bagus, tetapi kita juga harus memindahkan warga desa lebih dulu" usul Putri Lie
"Bagaimana dengan tabib itu juga Mino, aku yakin Mino itu juga salah satu dari mereka" ucap Jei.
Pangeran Jun tersenyum miring menanggapi ucapan Jei itu.
"Kita akan buat tipuan untuk mereka berdua agar tidak curiga dengan semua yang kita lakukan" kata Pangeran Jun
"Caranya Yang Mulia?" tanya Jie
Pangeran Jun langsung mengatakan apa yang menjadi rencana kerja mereka untuk membuka kedok kedua orang itu dan juga memancing pria misterius keluar dari sangkarnya.
Putri Lie semakin kagum dengan suaminya yang memiliki banyak cara untuk menghancurkan musuh tanpa melibatkan banyak orang yang tidak bersalah. Sungguh taktik yang baik batinnya.
__ADS_1
Keesokan paginya…
Pengawal Pangeran Jun mulai beraksi sesuai dengan tugas masing-masing. Putri Lie pergi dengan Pangeran Jun yang hanya di kawal Jie dan dua pengawal lainnya.
Mino mengumpulkan semua warga desa di balai, sedangkan yang sakit memang sudah di kumpulkan di balai untuk pengobatan.
Tabib Ode di minta meracik obat sebanyak mungkin untuk warga yang sakit, awalnya tabib Ode berkilah jika tidak memiliki bahan membuat obat tapi setelah di berikan bahan-bahannya oleh pelayan Putri Lie, tabib Ode pun tidak punya alasan apa pun lagi untuk mengelak.
Pangeran Jun menatap semua warga yang berkumpul di balai desa, keadaan mereka kurus dan kumal bahkan pakaian mereka juga tampak kotor.
"Kita butuh daerah yang sejuk untuk pengobatan yang lebih baik, jadi apa kalian tahu di mana tempat yang lebih tinggi di desa?" tanya Pangeran Jun.
Semua warga saling pandang, kemudian salah satunya angkat bicara
"Yang Mulia balai desa ini adalah tempat yang tinggi, kalau pun ada banjir tidak akan berdampak buruk itu pun jika bankir besar tapi jika hanya banjir biasa kita aman" ucap pria paruh baya itu.
Jawaban yang sempurna sesuai yang di inginkan Pangeran Jun, Putri Lie menatap suaminya tersenyum memberi isyarat jika ia bisa mengatasi keadaan di balai.
"Baiklah kalau begitu semua tetap di sini karena kalian juga butuh pengobatan, baik yang sehat atau yang sakit untuk memulihkan keadaan kalian semua. Nanti juga ada makan dan minum untuk kalian jadi pastikan tetap di sini" ucap Pangeran Jun.
Semua warga mengangguk setuju karena memang itu yang mereka butuhkan, selain makan dan minum juga butuh obat agar tubuh terasa lebih baik lagi.
Jie segera meminta pengawal bayangan untuk pergi memberi isyarat pada yang lain untuk mulai beraksi.
Di waktu yang sama
Jei, Tei dan pengawal lainnya sudah tiba si air terjun Ruhai, sesuai rencana mereka membagi tugas dan mengambil posisi aman di atas pohon yang rindang agar tidak kelihatan.
Gubuk yang berada di tengah bendungan itu terlihat sepi dan kosong, jadi untuk memastikannya Jei meminta pengawal bayangan memeriksanya agar lebih aman.
"Wuse pergi lihat keadaan di dalam gubuk itu, pastikan semuanya aman" ucap Jei
"Baiklah" jawab Wuse langsung Pergi.
Tidak lama Wuse kembali dan mengatakan jika gubuk itu kosong tanpa penghuni seperti dugaan Jei. Tei mendekat pada Jei.
"Sudah ada kabar belum?" tanyanya
"Belum, kita tahan dulu mungkin sebentar lagi" ucap Jei.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian datanglah orang yang menyampaikan pesan dari Pangeran Jun untuk mulai beraksi. Wuse segera membebaskan pengawal yang terikat pada pohon dengan senjata rahasianya.
Pengawal lain mengambil posisi di tempat terdekat dari tali yang di ikat pada batu-batu besar untuk menahan simpulan pada bendungan itu.
Ada delapan simpul tali yang ada, karena tidak tahu urutan tali mana yang lebih dulu maka mereka memutuskan tali yang paling dekat dengan bendungan.
Air perlahan mulai keluar dari celah yang terbuka karena kayunya terlepas, kemudian tali pada batu berikutnya dan seterusnya hingga semua tali putus dari batu dan air pun keluar dengan deras.
Namun ada yang aneh dengan bendungan itu karena hanya setengah yang jebol sedangkan setengah lagi tetap utuh dengan daun-daun yang banyak.
Tei yang heran dengan bendungan itu memilih langsung turun, apa lagi rumah yang seharusnya rubuh terbawa arus itu tetap utuh di tempatnya.
"Aneh kenapa rumahnya tetap utuh ya?" gumam Tei.
Jei yang melihat Tei berdiri di atas atap itu menepuk keningnya lelah, temannya itu terkadang sangat ceroboh dan kurang hati-hati.
Sedangkan Tei melihat ada sesuatu di atap rumah itu, tongkat kayu yang berdiri itu tidak terlalu besar tetapi mencurigakan karena terdapat angka dan garis-garis yang tidak di ketahuinya.
Karena penasaran, Tei menyentuh kayu itu dan menariknya. Kayu itu tidak bisa di cabut dan tidak bergerak, akhirnya Tei memutarnya berharap itu berhasil.
Dan sesuai harapannya bahkan lebih menakjubkan lagi karena bendungannya perlahan runtuh sendiri seiring panjangnya kayu yang semakin naik. Gubuk itu juga goyah setelah kayunya terlepas.
Dengan segera Tei melompat ke pohon bersama Jei. Mereka melihat bagaimana air yang mengalir deras tumpah mengikuti arah sungai-sungai di sekitarnya.
Daun dan kayu yang di gunakan untuk menyangga pun ikut hanyut bersama gubuk yang sudah hancur itu.
Senyum puas nampak dari mereka yang sudah menyelesaikan tugas dengan baik, namun yang menjadi pertanyaannya kemana orang pemilik gubuk itu pergi? batin Jei.
Mereka segera kembali ke tempat tuan mereka untuk melapor dan menagawasi gerakan musuh yang masih bebas.
Di desa Ruhai
Air mengalir ke seluruh desa dan membasahi tanah-tanah kering, meskipun air yang datang cukup banyak dan deras, namun itu tidak berlangsung lama karena segera meresap pada tanah yang kering dan pecah itu.
Warga sempat kaget dengan apa yang mereka lihat dari dalam balai desa. Air datang tidak terhingga dan itu membuat mereka bahagia karena desa akan kembali subur lagi.
Pangeran Jun tersenyum miring saat mendapati ekspresi terkejut dari Mino dan tabib Ode yang berada tidak jauh darinya. Hal yang ada dalam benak Ode adalah keselamatan tuannya.
Sedangkan Mino memikirkan kemungkinan lain yang akan terjadi dengan adanya hal tersebut. Tidak lama masuklah Jei dan Tei sedang pengawal lain di luar menjaga balai untuk mengawasi musuh.
__ADS_1