
Putri Lie menatap pakaiannya yang di pakai Centilani, bukannya ia ingin meminta kembali pakaiannya tetapi justru ia merasa pakaian itu lebih cocok untuk wanita yang sedang menatapnya sinis.
Pangeran Jun membawa Putri Lie keluar dari balai desa karena tidak ingin marah pada wanita yang menatap sinis istrinya. Apa lagi dia juga merasa kurang nyaman berlama-lama di ruangan itu.
"Honey, kapan utusan kerajaan akan datang?" tanya Putri Lie
"Mungkin lusa, kenapa kamu ingin pulang?" tanya Pangeran Jun balik
"Tidak, aku hanya berharap jika pemberontak itu bisa segera di adili" jawab Putri Lie
"Dia sudah mengadili dirinya sendiri sweetyy dan sekarang hanya rasa sakit yang akan di rasakannya seperti yang di rasakan warga selama ini" ucap Pangeran Jun.
Puntri Lie hanya menganggukkan kepalanya saja dan mulai membantu warga lagi membersihkan desa satelah mengganti pakaiannya. Pangeran Jun memandangi istrinya yang tanpa rasa jijik memegang dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan.
Tidak ingin sang istri bekerja sendiri membantu warga, Pangeran Jun juga turun membantu juga agar segera selesai pekerjaan. Bahkan semua pengawal dan pelayan ia minta untuk membantu juga.
Warga desa merasa sangat takjub dengan pasangan tersebut yang mau membantu mereka langsung tanpa hanya menyuruh saja. Bahkan keduanya tampak sangat kotor karena memang semuanya keadaannya sangat kotor.
Pangeran Jun yang sedang asik membersihkan ranting-ranting pohon tidak melihat jika di depannya ada genangan lumpur jadi dengan santai ia berjalan kedepan.
Namun naas sang pangeran pujaan para wanita itu terjatuh ke dalam lumpur, alhasil sebagian tubuhnya terkena lumpur bahkan ia masih dalam posisi yang terduduk diam di genangan lumpur itu.
Jei, Jie dan Tei yang melihat hal tersebut langsung berlari mendekat untuk menolong tuan mereka yang tampak kesulitan untuk bangkit. Tetapi langkah mereka terhenti karena tawa seseorang yang sangat nyring terdengar, lantas ketiganya mengarahkan pandangan pada sumber suara.
Ternyata yang tertawa adalah Putri Lie yang berdiri tidak jauh dari Pangeran Jun, ketiganya saling pandang dengan heran melihat Permaisuri yang tertawa. Apa yang lucu batin mereka.
Ketika sudah di dekat Pangeran Jun dan melihatnya mereka juga ikut tertawa. Sedang orang yang ditertawakan menjadi bingung, tadi istrinya sekarang pengawalnya ikut menertawakannya juga ada yang lucu pikirnya.
Putri Lie mendekati Pangeran Jun yang mesih duduk di kelilingi tiga pengawalnya, sang putri ikut masuk kedalam lumpur dan mengulurkan tangannya pada sang suami yang masih menatapnya.
Pangeran Jun menerima uluran tangan dari Putri Lie dan mencoba untuk berdiri, tetapi baru setengah berdiri ia sudah terpeleset lagi dan Putri Lie yang sudah ia pegang tangannya ikut jatuh ke lumpur juga.
Jadilah Pangeran Jun dan Putri Lie terkena lumpur bersama walau sang pangeran lebih kotor darinya. Karena tidak terima, Putri Lie mengambil lumpur dengan tangannya dan mengoleskannya pada Pangeran Jun seperti masker wajah.
__ADS_1
Tawa tiga pengawalnya semakin pecah melihat tuan mereka yang berlumpur dan tidak terlihat tampan itu, bahkan warga dan pelayan yang menyaksikan sejak awal hanya mampu menahan tawa mereka karena tidak ingin mendapat masalah.
Pangeran Jun ingin membalas perbuatan Putri Lie tetapi sudah di cegah lebih dulu oleh orangnya.
"Berhenti, kita sudah jadi tontonan honey" ucap Putri Lie.
Mendengat hal tersebut Pangeran Jun langsung melihat sekelilingnya, benar saja jika mereka berdua sudah di lihat oleh semua orang. Bukannya merasa malu, Pangeran Jun malah terus membalas perbuatan sang istri.
Karena sudah malu dirinya menjadi tontonan akibat bermain lumpur seperti anak-anak, Putri Lie mengalah dan memilih pergi menjauh dari suaminya yang justru terlihat sangat senang bermain.
"Mei siapkan air dan pakaian" ucapnya, namun Pangeran Jun malah mencegahnya.
"Jangan! cukup siapkan pakaian dan tiga selendang panjang, ikut kami pergi" kata Pangeran Jun.
Mata Putri Lie melotot mendengar hal tersebut, ia tidak habis pikir dengan suami tampannya itu yang malah mengajaknya pergi dengan kondisi kotor.
"Apa! kotor begini kamu mau bawa aku pergi kemana? tidak mau" tolak Putri Lie.
Bukan jawaban yang di dapatkan tetapi tubuhnya yang melayang dan tersangkut di bahu suaminya. Jadilah ia berteriak dan berontak sepanjang jalan mereka.
"Kamu ingin aku tuli sweetyy, tenang dan diamlah kamu akan tahu nanti" ucap Pangeran Jun.
Putri Lie dengan perasaan yang kesal akhirnya diam tanpa komentar lagi. Terserahlah suaminya akan membawanya kemana yang penting tidak di buang sembarangan pikirnya.
Setibanya di tempat tujuannya, Pangeran Jun menurunkan Putri Lie dari pundaknya. Meski masih sakit di lengan kirinya tetapi itu tidak masalah buatnya.
Putri Lie terperangah melihat pemandangan di hadapannya yang sangat menakjubkan, udara yang sejuk, air yang jernih dan tempat yang indah meski sedikit berantakan. Namun keindahan tempat itu tetap terlihat sempurna bagi Putri Lie.
Pangeran Jun tersenyum melihat istrinya yang takjub dengan pemandangan di hadapannya itu.
"Bagaimana? mau mandi di sini atau di paviliun!" tanya Pangeran Jun.
Putri Lie melihat suaminya dengan antusias tinggi dan mengangguk cepat.
__ADS_1
"Ayo" seru Putri Lie semangat
"Jangan buru-buru sweetyy nanti jatuh" tegur Pangeran Jun karena istrinya sudah berlari ke air.
Putri Lie tidak menghiraukan ucapan Pangeran Jun lagi, keantusiasannya telah mengalahkan segala kesal yang tadi sempat ia rasakan. Hanya kebahagiaan yang ia rasakan saat bermain di air itu karena sudah lama ia tidak bermain air seperti ini.
Pangeran Jun membuka bajunya dan menyisakan celana pendek saja, ia masuk kedalam air bersama Putri Lie yang hanya mengenakan pakaian putih polosnya.
Mereka mandi dan bermain air bersama melupakan kepenatan yang ada, hingga Putri Lie menyadari sesuatu ketika tidak sengaja ia melihat pelayannya yang menatap Pangeran Jun tanpa berkedip.
Pandangannya jatuh pada tubuh sang suami yang memperlihatkan perut berototnya yang kekar itu. Pantas saja semua pelayannya seperti itu, ternyata memang ada pemandangan yang lebih indah di hadapaannya.
Namun Putri Lie tidak terima dengan hal tersebut, ia tidak ingin miliknya di pandang orang lain. Tatapan matanya menajam pada Pangeran Jun yang terlihat sedang asik bersantai dengan bersandar di salah satu batu besar.
"Jun Xiao, turun atau aku marah" ucap Putri Lie dengan nada marah.
Pangeran Jun yang mendengar itu langsung turun, meski tidak tahu apa salahnya hingga sang istri begitu.
"Ada apa sweetyy?" tanya Pangeran Jun bingung.
Putri Lie bertolak pinggang dengan wajah galaknya pada Pangeran Jun.
"Kenapa tidak pakai baju sih? lihat tuh mata mereka sudah hampir menggelinding keluar" ucapnya ketus.
Pangeran Jun hanya tersenyum menanggapinya.
"Biar saja mata mereka menggelinding, aku hanya ingin menunjukkan dan memberikannya pada istriku tercinta ini saja" goda Pangeran Jun
"Tapi lihat situasinya juga dong!" kesal Putri Lie
"Sudahlah sweetyy, aku hanya ingin bermesraan denganmu di sini. Besok banyak pekerjaan yang menunggu jadi kita bersantai dulu disini" ucap Pangeran Jun memeluk istrinya.
Meski masih kesal namun ia tahan karena apa yang di katakan suaminya itu benar jika besok banyak pekerjaan yang harus di selesaikan hingga desa Ruhai pulih kembali. Putri Lie melihat para pelayannya yang masih menatap penuh minat pada suaminya.
__ADS_1
Putri Lie melotot tajam memberi peringatan pada mereka jika ia tidak akan mengampuni siapa pun yang masih menatap sang suami. Para pelayan menundukkan kepala mereka dan berbalik membelakangi kedua tuannya karena takut di hukum Putri Lie yang terlihat sedang marah.