Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
99


__ADS_3

Seperti rencana Pangeran Jun semalam yang membagi pasukannya menjadi dua tim. Maka sebelum matahari terbit menyinari bumi, Jie dan prajurit lainnya sudah pergi lebih dulu dengan membawa beberapa keperluan.


Sementara Pangeran Jun akan pergi siang ini juga dengan Tei. Semua persiapan sudah selesai hanya tinggal berangkat saja, tetapi sepertinya masih ada yang menempel pada Pangeran Jun.


Siapa lagi kalau bukan istri cantiknya, Putri Lie seakan tidak rela ditinggalkan sendiri untuk waktu yang belum bisa dipastikan kapan. Ratu dan Raja sudah menawarinya untuk tinggal diistana sementara ketika mereka datang menjemput Daren tadi pagi. Yang ada aku tidak bisa keluar karena ditahan ibu gumam Putri Lie dalam hati.


Tapi Putri Lie tidak mau dan tetap memaksa untuk tinggal dijediaman sembari menunggu suaminya pulang.


"Bagaimana kalau kamu ikut dengan Selir Nan saja kekuil!" ucap Pangeran Jun memberi solusi sekaligus memancing sang istri untuk mengatakan rencananya yang sebenarnya.


"Aku disini saja" tolak Putri Lie dengan manja.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ya, kamu jaga diri baik-baik" Pangeran Jun mengecup kening Putri Lie lembut dan mesra.


Putri Lie memejamkan matanya menikmati kecupan yang diberikan sang suami untuknya. Ia bahkan memeluk erat tubuh kekar yang akan dia rindukan itu.


"Aku akan merindukanmu, siapa yang akan memelukku nanti jika tidur? aku tidak akan bisa tidur tanpamu!" Putri Lie benar-benar memasang wajah sedihnya.


"Aku akan segera kembali setelah semuanya selesai, aku janji" lagi Pangeran Jun mengecup kening istrinya namun kali ini tidak hanya itu saja, pipi, hidung, kedua matanya, ujung hidung dan terakhir bibir kesukaannya.


"Aku pergi" pamit Pangeran Jun lalu melepaskan pelukan mereka dan menuju kudanya yang sudah menunggu.


"Obatnya jangan sampai hilang" ucap Putri Lie mengingatkan dan diangguki Pangeran Jun yang tersenyum padanya.


Setelah naik keatas kuda Pangeran Jun melihat istrinya dan tersenyum, tentu Putri Lie membalas senyuman itu dengan manis. Perlahan rombongan itu bergerak pergi meninggalkan kediaman dan semakin menjauh.


Putri Lie yang melihat rombongan suaminya sudah menjauh memilih masuk kedalam dan melihat Selir Nan yang sedang tersenyum miring padanya.


"Sekarang saatnya bukan!" ujar Selir Nan diangguki oleh Putri Lie.


"Ya, waktunya kita bergerak" ucap Putri Lie.


Kedua wanita itu masuk kepaviliun masing-masing untuk bersiap, Putri Lie kepaviliun Bulan untuk bersiap dna menunggu Selir Nan. Dari sana juga mereka akan memulai perjalanan misi pentingnya.

__ADS_1


Jei dan Wuse sudah pasti ikut dengan Putri Lie, hal itu juga akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Putri Lie yang bisa menjadikan keduanya sebagai pengintai. Apa lagi Wuse yang notabennya pengawal bayangan, sudah pasti dia akan mampu menjadi mata-mata paling dibutuhkan.


Putri Lie sedang memberi arahan pada para pelayannya yang akan ditinggalkan.


"Aku akan mempercayakan kediaman pada Mei dan kepala pelayan, jika terjadi sesuatu maka kalian berdualah yang akan menanggungnya dan bagi siapa yang tidak mematuhi mereka berdua dan membuat ulah, maka aku sendiri yang akan memenggal orang itu" kata Putri Lie dengan nada dingin dan tajam agar pelayannya tidak berani macam-macam saat ia pergi.


"Aku akan pergi dengan Selir Nan kekuil, jadi siapapun yang mencari kami katakan saja jika kediaman sedang tidak menerima tamu dalam bentuk dan urusan apapun, mengerti!" lanjutnya.


"Mengertu Permaisuri kami akan melaksanakan semua perintah anda" jawab mereka bersamaan.


"Permaisuri, bagaimana jika Ratu yang datang berkunjung? apa kami juga harus menolaknya?" tanya Mei.


"Aku sudah mengirim surat pada ibu Ratu jadi beliau tidak akan datang kesini jadi kalau ada seseorang yang mengatakan ingin masuk dengan alasan Raja atau Ratu yang memerintahkan kalian jangan percaya. Pengawal! perketat penjagaan kediaman, aku tidak mau kecolongan walau sedikitpun" ucap Putri Lie.


Yang dimaksud kecolongan oleh Putri Lie adalah masuknya penyusup yang akan melakukan sesuatu dengan menggunakan apapun yang ada dikediaman untuk melakukan kejahatan. Hingga nama baik kediaman dan Pangeran Jun sendiri yang akan hancur nantinya.


"Utamakan pengawasan di paviliun Matahari, Bulan dan ruang belajar juga tempat penyimpanan perhiasan kediaman ini, mengerti!" seru Putri Lie lagi.


"Mengerti Permaisuri, siap laksanakan" jawab mereka semua.


"Kita mulai perjalanan dari mana Permaisuri?" tanya Selir Nan.


"Jika kita sudah keluar dari sini nanti jangan panggil aku Permaisuri lagi Selir Nan, panggil aku Lili saja kalau Jei panggil Jeje dan Wuse panggil Wuwu, itu adalah nama samaran kami jika diluar" kata Putri Lie.


"Baiklah aku mengerti, kalau negitu kalian juga harus memanggilku Yuyu nanti" sahut Selir Nan.


Mereka berjalan kehalaman belakang paviliun Bulan. Selir Nan bingung untuk apa mereka datang kesana, sedang dia tadi bertanya akan memulai dari mana perjalanannya lalu ini.


"Jangan bingung begitu Selir Nan, kamu hanya perlu mengikuti kami agar lebih cepat lagi" ucap Putri Lie yang tahu kebingungan Selir Nan.


"Baiklah aku ikut saja" pasrah Selir Nan.


Putri Lie mendekati tembok dan mengetuknya tiga kali seperti yang pernah dilakukan oleh Pangeran Jun ketika membukanya. Ada beberapa barang yang harus ia bawa untuk persediaan dan cadangan kalau yang mereka punya habis.

__ADS_1


Betapa herannya Selir Nan saat melihat Putri Lie mengetuk tembok dan lebih kaget lagi ketika temboknya terbelah dua hingga membuka jalan masuk. Selir Nan tercengang melihat apa yang terjadi didepannya ini, belum pernah dia tahu jika pintu rahasia akan ada ditembok.


Bahkan dengan sendirinya bisa terbuka hanya karena diketuk saja.Sungguh luar biasa pikir Selir Nan.


"Ayo masuk Selir Nan!" ucap Putri Lie mengagetkan Selir Nan.


Dengan cepat mereka masuk kedalam, didalam Selir Nan masih berdiri didakam ruangan yang gelap dengan Wuse. Sedangkan Putri Lie dan Jei pergi sebentar meninggalkan keduanya untuk mengambil persediaan.


Selir Nan mengamati setiap sudut ruangan itu dengan takjub dan tidak percaya jika ia akan melihat jalan rahasia seperti ini. Milik suaminya saja yang pernah ia lewati ketika melarikan diri dulu hanyalah jalan setapak yang tertutup dengan tumbuhan merambat yang lebat.


Tidak lama Putri Lie dan Jei kembali dengan tiga kantong kecil yang tebuat dari kain. Satu dipinggang Putri Lie, satu dibawa Jei dan satu lagi untuk Wuse.


"Maaf Selir Nan, aku tidak punya yang lain lagi untukmu, semuanya sudah pas untuk kami jadi maaf ya" ucap Putri Lie dengan wajah penuh sesal.


"Tidak apa Permaisuri, aku juga sudah punya ini" Selir Nan memegang pedang kecil yang ia selipkan dibelakang pinggangnya.


"Baiklah, mulai dari sini nama kita sudah ganti dan apapun yang terjadi kita harus saling membantu sesama" ucap Putri Lie.


Ketiga orang itu mengangguk setuju dan mulai bergerak semakin masuk kedalam lorong yang gelap. Hanya lampu yang seperti obor saja yang menjadi penerang mereka berjalan.


Jika hanya menggunakan penerangan seadanya maka akan sulit menemuka jalan keluarnya bagi yang baru masuk. Bahkan Jei dan Wuse saja tidak tahu sudah sampai dimana mereka berjalan, apa lagi Selir Nan yang tidak tahu menahu selain mengikuti.


Putri Lie tidak ingin mengambil resiko orang lain tahu jalan itu akan seperti apa dan kemana saja arahnya. Jadi dia sendirilah yang memegang lampunya dan memandu ketiga orang dibelakangnya yang terlihat kebingungan.


Untung Putri Lie pernah meminta pada Pangeran Jun untuk menunjukkan kemana saja lorong itu bisa membawa orang yang melaluinya. Hingga ia tidak perlu repot-repot lagi jika harus keluar, kalau semua lampunya tidak menyala maka akan sulit mengenali atau menandai jalan yang akan dilewati dan hanya akan berputar-putar saja.


Pangeran Jun pernah membawa Putri Lie menyusuri setiap lorong yang ada disana ketika sedang berlatih menembak berdua saja. Bahkan mereka sudah saling berbagi ilmu bela diri, Putri Lie dengan keahlian moderen dan Pangeran Jun dengan keahlian jaman dulu mampuengimbanginya dan menerapkan apa yang diberitahu oleh Putri Lie.


Tidak heran jika Pangeran Jun membiarkan Putri Lie keluar saat ini, Jei dan Wuse hanya sebagai pembantu jika ia mengalami kesulitan nantinya. Dan itu tidak masalah bagi keduanya yang justru bisa belajar banyak hal baru dengan Permaisuri mereka yang tangguh itu.


Wuse yang tadi sempat ditinggalkan oleh Putri Lie dan Jei sempat memberi kabar pada Pangeran Jun jika mereka sudah bergerak melalui binatang pengikutnya yang berupa burung gagak hitam yang sangat menyeramkan.


Walaupun tanpa diberitahu oleh Wuse, Pangeran Jun sudah tahu jika mereka sudah mulai meninggalkan kediaman melalui lorong rahasia. Karena bintang spiritualnya yang terus membisikkan semua informasi tentang keadaan sang istri.

__ADS_1


Akhrinya Pangeran Jun kembali merubah rencananya lagi dan meneruskan perjalanannya menuju Utara dengan Tei melalui jalan pintas yang mereka buat sendiri agar penjahat tidak mudah menemukan dan menggempur mereka dijalan.


__ADS_2