Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
116


__ADS_3

Pangeran Jun dan Putri Lie saling pandang lalu melihat Jie juga Jei yang menghampiri mareka.


"Siapa pemilik panah ini?" tanya Pangeran Jun.


"Kami sudah menangkap orangnya Yang Mulia" jawab Jie.


Tidak lama datanglah dua pengawal yang membekuk seseorang bertopeng. Orang itu dilemparkan kehadapan Pangeran Jun.


"Buka topengnya" ucap Pangeran Jun.


Saat Jie maju akan membuka topengnya tiba-tiba orang tersebut menyerang Putri L8e menggunakan pisau di tangannya.


Putri Lie yang sudah melihat gelagat dari orang itu dapat menangkis serangan yang ditujukan padanya. Pisau ditangan orang tersebut jatuh hingga hampir masuk kolam.


Sedangkan orangnya mendapatkan pukulan pada dadanya tepat jantung yang menyababkan dia batuk darah karena pukulan Putri Lie yang spontan tidak main-main.


Wajah sipelaku nampak jelas terlihat akibat tarikan dari Pangeran Jun sebelum dia jatuh tadi.


Orang itu berasal dari pulau pengasingan karena terdapat tanda silang pada pipinya yang membedakan bahwa dia bukan warga kerajaan manapun. Selama ini pulau pengasingan tidak pernah menyerang keistana tapi kali ini sangat mengejutkan.


"Bawa dia kepenjara bawah tanah" ucap Pangeran Jun.


"Kalau dia melawan pukul saja dadanya lagi supaya dia mati" ucap Putri Lie santai.


Orang itu ketakutan mendengarnya, tugasnya hanya menyampaikan surat tapi kenapa sampai harus kehilangan nyawanya.


"Tidak mau bicara ya!" tanya Putri Lie.


Karena tetap diam tanpa suara selain batuk juga ringisan kesakitan jadinya orang itu dibawa kepenjara untuk dikurung.


Setelah kepergian mereka, Pangeran Jun membawa Putri Lie kembali kepaviliun mereka.


"Ayo kita kembali hari semakin larut juga dingin" ucapnya.


"Gendong" kata Putri Lie.


Tanpa bicara lagi Pangeran Jun mengangkat istrinya untuk dibawa masuk, jika ia mengeluarkan suara lagi maka bisa dipastikan kalau Putri Lie tidak akan mau masuk.


Lagi pula Pangeran Jun merasa senang karena Putri Lie meminta digendong. Hal yang jarang terjadi sejak kehamilannya, di tambah kesibukannya yang lebih sering membuat mereka bertemu malam atau sore hari saja ketika sudah lelah beraktifitas.


Tiba dikamar keduanya lebih dulu berganti pakaian kemabali setelahnya baru rebahan diranjang.


"Kira-kira siapa ya orang tadi? siapa yang kirim dia keaini?" gumam Putri Lie dalam dekapan Pangeran Jun yang memeluknya.


"Orang dari pulau pengasingan" jawab Pangeran Jun menarik perhatian Putri Lie yang mendongak melihatnya.


"Tapi kenapa?" herannya.


"Entahlah tapi kalau dilihat dari isi suratnya tadi mereka pasti memiliki motif tertentu"


"Kalian semua akan mati, hem dia bilang gitukan tadi suratnya! apa dipulau pengansingan itu ada pemimpinnya?"

__ADS_1


"Ada, dia orang yang dulu menjajah kerajaan juga penjahat paling kejam di sini sampai ayah hampir membunuhnya kalau dia tidak memohon untuk dibebaskan trus berjanji mau mengabdi" ucap Pangeran Jun sembari menatap penutup tempat tidur mereka yang tembus pandang.


"Tapi nyatanya sekarang dia kirim ancaman untuk kita" kata Putri Lie.


"Itulah yang harus kita tanyakan sama dia besok, mungkin ada sesuatu hal yang terjadi karena dulu pulau itu di berikan ayah untuk dia rawat karena masih hutan belantara, sebagai janji setianya dia minta siapapun orang yang menjadi penghianat dibuang kesana untuk dia siksa"


"Kenapa gitu?"


"Karena menyiksa orang hobinya yang belum bisa hilang"


"Jadi penasaran" ucap Putri Lie.


"Nggak ada penasaran-penasaran, tidur" ucap Pangeran Jun mendekap erat tubuh Putri Lie.


"Ih jangan kenceng-kenceng nanti anaknya ketekan" kesal Putri Lie.


"Maaf swetyy, udah tidur ya" Pangeran Jun mengecium kening Putri Li sayang lalu mengelus perutnya juga.


"Tidur ya dek" ucapnya.


"Iya ayah" sahut Putri Lie mulai menutup matanya.


Pagi hari...


Pagi ini Pangeran Jun sudah dibuat pusing karena istrinya yang terus mengatakan jika dia ingin ikut ke aula istana bersamanya.


Tentu saja Pangeran Jun menolak keinginan tersebut karena di sana isinya pria semua dan sebagian dari mereka masih belum menikah. Pangeran Jun tidak mau istrinya menjadi pusat perhatian.


"Jangan kamu tetap disini saja atau pergi ketaman, aku sebentar kok" tolak Pangeran Jun halus.


"Pelit" gumam Putri Lie pelan tapi maish didengar suaminya.


"Kamu ketempat ibu saja sana sama Mei, ibu pasti senang kamu juga nggak kesepian" usul Pangeran Jun yang justru memberi ide tersendiri bagi Putri Lie.


"Ya sudah" ucapnya datar lalu pergi keluar kamar tanpa perduli dengan suaminya yang masih butuh bantuan.


"Sweetyy, aku belum selesai loh ini" ucap Pangeran Jun sedikit berteriak.


"Minta Jei bantu kamu" ketusnya datar.


"Istriku bantu suamimu dulu" ucapnya lagi tapi tidak didengar karena sudah keburu jauh istrinya.


"Huh gini nih kalau istri ngambek, ribet emang" gumamnya.


"Jei bantu saya" teriaknya.


Jei masuk bersama kedua temannya yang lain untuk membantu tuan mereka yang sedang galau.


Di tempat Raja dan Ratu Xiao yang sedang bersiap untuk memulai aktifitas, mereka dibuat senanh dengan kehadiran menantu kesayangan mereka.


"Sayang kamu datang" senang Ratu Xaio menyambut menantunya.

__ADS_1


"Iya bu" sahutnya singkat dengan wajah cemberut.


"Kenapa nih anak ayah cemberut pagi-pagi?" tanya Raja Xiao penasaran.


"Karena anak ayah tuh" jawabnya.


"Kenapa anak itu? dia apain kamu sayang" penasaran Ratu Xiao juga.


"Nggak di bolehin ikut ke aula yah, bu" adunya.


"Memangnya kenapa nggak boleh?"


"Nggak tahu"


"Ya udah kamu ikut sama ayah aja nanti duduknya juga dekat ayah jangan dekat suami kamu"


"Bener ya yah!"


"Iya"


Ratu Xiao tersenyum melihat senyum kecil diwajah menantunya, begitupun dengan Raja Xiao yang tahu juga keinginan itu. Memang kehamilan menantunya ini sama dengan dulu saat kehamilan istrinya.


"Sepertinya cucu kita laki-laki dan akan memiliki sifat sama seperti ayahnya" bisik Raja Xiao pada istrinya.


"Kamu sudah makan sayang?" tanya Ratu Xiao.


"Sudah bu, tapi aku mau itu boleh" tunjuknya pada makanan yang ada dimeja dekat ayah mertuanya.


"Ini untuk kamu semua" Raja Xiao memberikan makanan yang di inginkan menantunya.


Dengan senang hati Putri Lie menerima makanan itu yang memang sudah menarik perhatiannya sejak masuk ke tempat mertuanya.


Setelah selesai menghabiskan makanan yang di inginkan Putri Lie barulah Raja Xiao membawa menantunya ikut ke aula bersama. Sedangkan sang Ratu tinggal di paviliunnya karena masih memiliki pekerjaan lain yang harus di selesaikan.


"Ayah, tadi malam kami melihat bulan diluar" kata Putri Lie bercerita.


"Oh ya! lalu?" tanya Raja Xiao yang senang setiap mendengar cerita menantunya.


"Awalnya anak ayah nggak setuju tapi karen aku marh jadi dikasih"


"Tapi anak ayah itu ikutkan!"


"Ikut yah, tapi waktu lagi duduk ada yang panah kita yah"


Raja Xiao kaget mendengar ucapan Putri Lie langsung menghentikan langkah mereka.


"Lalu kamu baik-baik aja kan? ada yang luka? ada yang sakit?" khawatir Raja Xiao yang memang sudah menganggap menantunya seperti anak kandungnya sendiri.


"Tenang yah aku baik-baik saja, suamiku itu selalu melindungi walau ngeselin" kata Putri Lie mengubah nada suaranya dikata terakhirnya.


"Ayah akan tanyakan nanti apda sumimu" ucap Raja Xiao menglus kepala menantunya sayang.

__ADS_1


Merek melanjutkan langkah menuju aula tempat pertemua akan di laksanakan setiap paginya.


__ADS_2