Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
113


__ADS_3

Setibanya diperbatasan mereka semua sudah disambut oleh yang lainnya termasuk Panglima Min. Kakak Putri Lie itu sangat mengkhawatirkan adiknya, apa lagi saat melihat kedatangan Permaisuri Yun dengan yang lainnya.


Sementara adiknya kembali beraksi di tempat yang ia tidka ketahui dimana.


"Lie'er kamu baik-baik sajakan?" cemas Panglima Min memeriksa tubuh adiknya.


"Aku baik-baik saja kak, ada suamiku yang selalu menjagaku" ucap Putri Lie.


"Kalau begitu pergilah istirahat, tiga hari lagi kita kembali kekota karena masalah disini sudah teratasi, kita hanya perlu melakukan sedikit perbaikan saja lagi" ucap Panglima Min.


"Lakukan yang terbaik Panglima Min, untuk yang lain selesaikan pekerjaan kalian agar kita bisa cepat pulang" ucap Pangeran Jun lalu membawa istrinya masuk karena sudah terlihat sangat kelelahan..


Malam ini setelah makan Putri Lie memutuskan untuk istirahat.Sedangkan Pangeran Jun harus menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu baru menemui istrinya untuk ikut istirahat.


"Belum tidur?" tanya Pangeran Jun saat melihat istrinya masih terjaga.


"Menunggu kamu" jawab Putri Lie lalu menepuk sisi sebelahnya.


Pangeran Jun yang paham maksud istrinya langsung menempati tempatnya. Beberapa hari tinggal diluar tanpa bisa istirahat dengan tenang memang melelahkan. Apa lagi harus memikirkan istrinya yang selalu beraksi tanpa dapat diprediksi ini.


"Katakan bagaimana kamu bisa disana tepat waktu?" tanya Pangeran Jun penasaran.


"Karena aku memang berada disana sejak kalian pergi" jawab Putri Lie.


"Kenapa kamu akhirnya memilih untuk menyerahkan diri sendiri padanya? aku juga sempat mendengar kalau kalian melakukan hubungan badan, apa benar itu?" selidik Pangeran Jun.


"Aku memang masuk kedalam istana tapi tidka menyerahkan diri padanya, bahkan saat kalian pergipun aku tahu" ucap Putri Lie.


"Tapi kamukan dibawa masuk olehnya kedalam kamarnya, lalu saat aku menyamar jadi kepala pengawal dan mencari kamu, aku mendengar suara kalian saling berjanji untuk setia bersama lalu melakukannya" ketus Pangeran Jun. Keduanya tidak ingin menyebutkan nama Josep secara gamlang karena merasa kesal dengannya.


"Baiklah aku akan jelaskan semuanya" Putri Lie lebih dulu menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan.


"Kamu ingat waktu aku mengatakan akan meminum obat tidur agar penghianat itu tidak curiga bahwa aku hanya berpura-purakan" Pangeran Jun mengangguk.


"Aku tidak meminum obatnya, saat semua orang tidur aku memakaikan bajuku pada wanita itu lalu meminta Red untuk menyamarkan wajahnya sepertiku. Sebagai pembeda kami nantinya, Red mengatakan aku harus menyiram wajah wanita itu untuk membuka samarannya. Itu sebabnya aku menyiram wajahnya tadi"


"Selesai dengan wanita itu aku meminta Bru membawaku bersama mereka untuk mencari baju baru agar tidak ada yang mengenaliku. Menjelang pagi baru aku pergi keistana dan menemukan kalian sudah membawa manita itu. Aku melihat semua yang kalian lakukan bahkan saat kamu mendekati pintu kamar penghianat itu dengan wajah marahpun aku tahu"Putri Lie melirik tajam suaminya.


"Aku kan mengira jika wanita yang didalam itu benar-benar kamu, suami mana yang rela jika istrinya digagahi pria lain? tidak adakan? ya sudah" elak Pangeran Jun.


"Itu sebabnya aku melemparkan kertas kepadamu, untungnya kamu mau pergi melakukannya kalau tidak aku pasti akan mencekikmu" Putri Lie memperagakan cekikannya pada sang suami.


"Awalnya aku tidka yakin juga melakukan seperti apa yang kamu mau, karena saat itu prajurit sudah dapat tugas jadi aku tidak bisa menghubungi mereka dengan cepat. Tapi setelah aku pikirkan lagi, aku lakukan apa yang kamu tuliskan itu dengan yakin" ucap Pangeran Jun.


"Kenapa kamu bisa begitu yakin untuk melakukannya?" tanya Putri Lie.


"Entahlah, aku hanya punya firasat jika rencana itu akan berhasil" jawab Pangeran Jun.


"Kamu tidak sadar dengan kehadiranku bukan!, padahal waktu itu aku tidak jauh dibelakang kamu, Red memang hebat" kata Putri Lie.


"Oh aku tahu apa yang terjadi dengan kamu sampai tidak bisa terlihat dipersembunyian selama tidak bersuara" ucap Pangeran Jun.

__ADS_1


"Kalau tahu ya sudah, aku tidur saja" Putri Lie menarik selimutnya lalu memejamkan mata.


Pangeran Jun menarik istrinya kedalam pelukannya dan memeluknya dari belakang. Karena posisi Putri Lie yang memang memunggungi suaminya.


Tiga hari kemudian mereka semua pulang kekota sesuai rencana. Setibanya dikota, Pangeran Jun langsung menuju istana untuk melaporkan hasil kerja mereka.


Tentu saja Raja dan Ratu Xiao menyambut mereka semua dengan bahagia karena berkat peringatan dari mereka juga, pihak istana dapat mengatasi masalah yang terjadi lebih cepat dan menghindari konflik besar didalam istana.


Putri Lie dibawa oleh Ratu Xiao kepaviliun Saga untuk istirahat lebih dulu karena wajahnya yang terlihat sedikit pucat.


Pangeran Jun beserta Panglima Min pergi keaula menemui Raja dan semua pejabat yang sudah berada disana.


"Salam hormat Yang Mulia Raja" ucap mereka menunduk hormat.


"Salam kalian aku terima, bangunlah" sahut Raja Xiao.


Pangeran Jun dan yang lainnya bangkit lalu berdiri tegap kembali.


"Silahkan laporannya" ucap Raja Xiao.


"Semua masalah susah selesai Yang Mulia Raja, mata-mata yang sempat dikirim oleh Raja Josep sudah kami habisi semua begitupun dengan Jendral Ace ayahnya yang terang-terangan memasuki area kita untuk melakukan penyerangan" jelas Pangeran Jun.


"Siapa Raja Josep?" tanya Raja Xiao heran


"Raja yang bertahta di kerajaan Hun menamakan dirinya dengan Raja Josep, dia sudah menyiapkan banyak pasukan dan persediaan untuk melakukan penyerangan. Kami melakukan sesuatu untuk menyerangnya juga dari dalam seperti apa yang dia lakukan dan hasilnya sangat sempurna" lanjutnya.


"Bagus sekali, kalian juga sudah memberikan informasi yang sangat berharga untuk pihak istana, dengan informasi itu kami dapat menumpas semua penghianat yang berasal dari harem. Mulai saat ini harem akan dihapuskan, tidak ada lagi selir atau gundik diistana, jadi aku berharap pada siapapun yang memiliki selir harus bisa mendidik mereka dengan baik kalau sampai ada yang tidak becus mendidik mereka aku akan menghukum mati seluruh keluarganya" tegas Raja Xiao.


"Mulai saat ini Pangeran Jun dan Permaisurinya akan menetap juga diistana karena aku akan segera mengangkatnya menjadi Putra Mahkota kerajaan Xiao ini sebagai penerus" ucap Raja Xiao final.


Semua orang bersuka ria mendengar keputusan Raja mereka yang akan segera menganggkat Putra Mahkota untuk mereka. Apa lagi Pangeran Jun merupakan anak kandung raja satu-satunya yang selamat.


Kerajaan Xiao sebenarnya memiliki empat orang pangeran, tiga dari selir dan satu dari ratunya. Saat wabah penyakit menyerang mereka, ratu yang saat itu maaih seorang permaisuri sedang berkunjung kekerajaan orang tuanya di Barat yang subur dan makmur juga.


Penyakit itu hanya menyerang anak-anak saja sedangkan untuk orang dewasa hanya sekedar demam saja jika terkena penyakit itu. Penyakit memang tidak pernah memandang siapa yang dia inginkan untuk ditempati.


Ketiga putra Raja Xiao juga mengalami hal yang sama dengan anak lainnya. Banyak cara sudah mereka lakukan untuk menyembuhkan semua anak termasuk ketiga putra raja itu.


Namun sayang ketiganya yang sudah sempat sembuh tidak bertahan lama hingga meninggal tiga hari setelahnya. Pangeran Jun yang sedang bersama dengan ibunya ditempat sang kakek yang jauh tidak terkena penyakit itu.


Hingga akhirnya Raja Xaio mengirim surat agar permaisuri dan putranya menetap disana sampai wabah hilang. Hal itu pula yang menyebabkan para selir tidak terima dan memberontak diam-diam.


Helaan nafas nafas Raja Xiao terdengar pelan, sudah cukup ia mengenang semuanya biarlah yang sudah lalu berlalu batinnya.


Tiba-tiba datang Jei dengan wajah pucatnya dan keringat diwajahnya akibat berlari menuju keaula istana dari paviliun Saga.


"Ada apa Jei?" tanya Pangeran Jun langsung.


"Permaisuri, Yang Mulia Pangeran, Permaisuri" ucap Jei terputus-putus karena napasnya yang belum teratur.


"Ada apa dengan Permaisuri? cepat katakan!" ucap Pangeran Jun tidak sabar.

__ADS_1


"Pingsan, Permaisuri pingsan" ucapnya.


Pangeran Jun berlari cepat menuju tempat istrinya berada diikuti oleh Raja Xiao dan Panglima Min yang juga khawatir.


Setibanya dipaviliun Saga, Pangeran Jun masuk kekamar dan melihat ibunya yang justru sedang menangis sembari tersenyum senang.


"Apa yang terjadi ibu? kenapa istriku?" tanyanya panik.


"Selamat nak selamat" Ratu Xaio justru memeluk putranya dengan mengulang kata selamatnya.


"Selamat untuk apa ibu?" bingungnya.


"Kamu akan jadi ayah nak, istrimu sedang hamil" kata Ratu Xiao antusias.


Para pria itu sempat terdiam sebelum akhirnya ikut senang juga.


"Benarkah ibu!" Ucap Pangeran Jun meyakinkan dan mendapat anggukan dari ibunya.


"Syukurlah aku akhinya punya anak juga, istriku hamil" senangnya.


Digenggam Pangeran Jun tangan istrinya dengan lembut lalu dikecupnya tangan tersebut. Kemudian kecupannya pindah pada wajah Putri Lie hingga membuat siempunya terbangun.


"Honey, apa yang terjadi? kepalaku sedikit pusing" tanya Putri Lie.


"Tidak apa-apa sweetyy" tangan Pangeran Jun beralih pada perut istrinya lalu membelainya.


"Jangan nakal ya nak, kasihan ibu kalau kamu nakal didalam sana" lanjutnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Putri Lie masih belum mengerti.


"Kamu hamil sweetyy, kamu hamil" ucap Pangeran Jun antusias.


Mendengar itu membuat Putri Lie sangat terharu dan senang. Bahkan air matanya menetes bahagia, orang lain yang berada disana memilih pergi untuk memberi waktu pada suami istri itu.


"Kamu tidak berbohongkan!" ucap Putti Lie meyakinkan.


"Tidak" sahut Pangeran Jun.


"Akhirnya, dia hadir juga"


"Iya, jagalah kesehatan kamu dan jangan berkeliaran lagi mengerti Putri Mahkota Jun" ucap Pangeran Jun mendapat tatapan heran istrinya.


"Ayah akan mengangkatku jadi Putra Mahkota" lanjut Pangeran Jun tersenyum.


"Mungkin ini sudah menjadi rezeki kita dan sikecil ya honey" ucap Putri Lie.


"Iya, sekarang istirahat ya, aku akan menjagamu" Pangeran Jun mengecup kening Putri Lie lagi dan ikut berbaring bersama.


Kebahagiaan yang mereka raih setelah banyak rintangan yang mereka hadapi bersama. Juga harapan terbesar yang sudah terwujud yaitu memiliki buah hati mereka sendiri.


END

__ADS_1


__ADS_2