Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
121


__ADS_3

Pagi ini Putri Lie bersama dua pengawal yang diberikan Pangeran Jun akan berangkat menuju kediaman Jendral Han.


Awalnya Raja juga Ratu tidak setuju jika menantu mereka pergi hanya dikawal dua orang saja. Terlebih lagi ia naik kuda sendiri, bukan naik kereta kuda.


Tapi apalah daya kalau wanita hamil itu sudah merajuk maka apa pun akan dilakukan oleh kedua mertuanya meski mereka khawatir. Pangeran Jun sendiri sudah sangat kualahan menghadapi keinginan istrinya yang sangat luar biasa itu.


Namun Pangeran Jun tidak pernah mengeluh atau merasa bosan. Ia sangat menikmati semua tingkah istrinya yang aneh-aneh itu.


"Kamu yakin tidak mau naik kereta kuda saja sayang! tambah pengawalnya ya!" bujuk Ratu Xiao.


"Tidak ibu, aku ingin pulang naik kuda dan mereka sudah cukup mengawalku" tolak Putri Lie dengan sopan agar tidak menyinggung mertuanya.


"Kamu yakin nak!" ucap Raja Xiao meyakinkan lagi.


"Iya ayah" sahut Putri Lie mantap.


"Ya sudah hati-hatilah dijalan, nanti kalau pekerjaanku sudah selesai, aku menyusul kamu kesana" ucap Pangeran Jun mengecup kening Putri Lie.


"Aku tunggu kamu" kata Putri Lie tersenyum senang namun penuh makna.


"Jei, Wuse jaga Permaisuri" ucap Pangeran Jin.


"Baik Yang Mulia Pangeran" sahut keduanya.


"Aku pergi ayah, ibu" Putri Lie pamit pada kedua mertuanya dengan menyalami tangan mereka, tapi Ratu Xiao memberi pelukan dan ciuman juga untuk menantunya.


"Segeralah kembali ya" Putri Lie mengangguk menangapi ucapan ibu mertuanya seraya tersenyum.


Pangeran Jun membantu Putri Lie naik keatas kuda dengan hati-hati.


"Jangan memacu kuda terlalu cepat ya, ingat anak kita" Pangeran Jun menyentuh perut istrinya.


"Kamu jangan nakal ya nak, jangan buat ibu ingin yang aneh-aneh kalau tidak ada ayah" lanjutnya.


Setelah selesai berpamitan Putri Lie memacu kudanya meninggalkan istana dan menuju kearah kediaman ayahnya.


Jei didepan dan Wuse dibelakang, sedangkan Putri Lie ditengah mereka sesuai perintah Pangeran Jun.


Ketiganya terus melaju hingga melewati batas kota. Ditengah hutan tiba-tiba mereka dihadang oleh beberapa orang yang menggunakan topeng.

__ADS_1


Entah siap dan apa mau mereka menghadang. Putri Lie sendiri tidak membawa banyak uang, hanya beberapa saja yang ia selipkan untuk berjaga-jaga sebagai persediaan mereka dijalan.


"Berhenti" teriak seorang dari mereka.


Putri Lie dan kedua pengawalnya berhenti dan langsung dikepung oleh mereka yang berjumlah sepuluh orang.


"Serahkan diri kalian atau mati" gertaknya.


"Apa mau kalian?" tanya Putri Lie santai.


"Kau" tunjuknya pada Putri Lie yang berada di tengah.


"Kenapa denganku?" tanyanya menantang.


"Kau harus ikut dengan kami"


"Untuk apa harus ikut kalian? kenal saja tidak"


"Ikut atau mati" bentak seorang yang terlihat lebih besar dari yang lainnya.


Putri Lie dan kedua pengawalnya saling tatap lalu menyeringai licik kearah musuh yang mengahdang mereka. Meski kalah jumlah tapi ketiganya yakin kalau mereka pasti akan menang jika bertarung.


Bahkan Jei dan Wuse sudah lebih dari cukup untuk menghadapi mereka semua tanpa sisa.


Setelah Putri Lie pergi, Pangeran Jun kembali ke paviliun Saga untuk bersiap pergi.


"Bagaimana semua persiapan?" tanya Pangeran Jun pada Jie dan Tei yang tinggal.


"Semua sesuai arahan adan Yang Mulia" sahut Jie.


"Menurut pria itu, kelompok mereka memiliki kurang lebih 50 orang jadi total semua hanya 51 dengan ketuanya" ucap Tei.


"Bawa prajurit setengah dari mereka sisanya prajurit bayangan akan mengikuti dan mengamati situasinya, apa mata-mata kita sudha pergi?"


"Sudah Yang Mulia, dua prajurit sudah pergi"


Ayo kita pergi juga"


Mereka keluar dari paviliun Saga menuju gerbang depan untuk berangkat. Bedanya kali ini Raja dan Ratu Xiao tidak mengantarkan kepergian Pangeran Jun dan rombongannya karena Pangeran Jun hanya akan berangkat dengan Tei.

__ADS_1


Sedangkan Jie membawa pasukan dari jalan lainnya agar tidak mengundang kegaduhan rakyat jika melihat banyak pasukan keluar dari istana meski hanya 25 orang.


Akan tetapi jika Pangeran Jun dan rombongannya yang sudah keluar, orang-orang akan menganggap bahwa ada masalah besar hingga mengharuskan sang pangeran keluar dengan pasukannya.


Pangeran Jun sudah mengatakan pada kedua orang tuanya agar tidak mengantarkannya kepintu gerbang sama halnya dengan Putri Lie tadi yang hanya diantarkan sampai jarak 2 meter dari gerbang utama istana.


Ratu Xiao sempat protes dengan permintaan anaknya itu tapi saat tahu alasannya ia jadi mengerti akan tujuan anaknya ini yang tidak ingin menimbulkan perbincangan mengusik.


Dengan pakaian yang lebih mirip seperti seorang prajurit patroli. Pangeran Jun keluar istana dengan tenang bersama Tei naik kuda.


Suasana ramainya kota sangat nampak menyenangkam. Banyak para pedangang yang memanggil pembeli juga anak-anak yang bermain dan banyak lagi.


Di perbatasan kota mereka bertemu dengan Jie yang membawa rombongan prajurit yang juga menyamar sebagai rakyat biasa saja. Pangeran Jun juga akhirnya mengganti pakaiannya jadi seperti rakyat biasa bahkan lebih terkesan seperti gembel.


"Anda yakin dengan pakaian itu Yang Mulia?" tanya Jie.


"Iya dan jangan panggil aku seperti itu, karena kita ramai kalian cukup panggil ketua saja karena kita akan jadi kelompok pengemis yang akan menumpas kejahatan" ucap Pangeran Jun.


"Baik ketua, kami mengerti" sahut semua prajurit.


"Ayo"


Mereka pergi menuju arah yang sudah pasti menuju Barat Daya tempat dimana ada desa yang menjadi sarang Yein menghimpun kekuatannya.


Karena jarak yang sangat jauh dari istana, daerah itu memang sering banyak kejahatan. Meski sudah diberi penjagaan yang sangat ketat tetap saja ada yang kecolongan.


Dan desa yang menjadi tujuan Pangeran Jun kali ini sudah lama tidak ditempati oleh penduduknya akibat dilanda kekeringan yang sangat berkepanjangan bahkan sangat sulit ditangani.


Jarak perairan juga jauh dari sana jadi sangat mustahil jika disana akan ada penghuninya. Raja juga sudah menetapkan tempat itu sebagai tempat yang gersang dan mengeluarkan perintah untuk tidak menempatinya.


Agar tidak ada yang jadi korban karena kekeringan atau kelaparan disana. Desas desus yang terdengar disana juga banyak hantunya menurut orang-orang yang pernah tidak sengaja lewat.


Sudah banyak pemuda yang hilang di sekitar sana dan tidak lembali lagi. Itulah sebabnya desa itu semakin ditinggalkan jaub oleh warga disekitarnya.


Di hutan yang cukup lebat Pangeran Jun mengumpulkan semua anak buahnya. Setelah memastikan tidak ada orang lain selain mereka, Pangeran Jun meminta agar prajuritnya menutup mata.


Jarak Barat Daya yang dapat memakan waktu hingga 5 hari perjalanan membuat Pangeran Jun tidak sabar untuk segera tiba dan memastikan sendiri tempat itu.


Jadi ia memanggil Eso agar membawa mereka semua dengan kekuatan spiritualnya. Untuk mempersingkat waktu dan tenaga mereka.

__ADS_1


Pangeran Jun dan rombongannya tiba di Barat Daya dengan cepat. Tapi jarak mereka dari desa itu masih cukup jauh.


Sekitar 100 m didepan desa tertinggal itu berada. Esi mangatakan pada Pangeran Jun jika desa itu mereka jaga ketat jadi iya tidak ingin mengambil resiko selama tuannya masih ingin bertarung langsung walau dia sendiri mampu menghabisi semua orang itu dalam sekejap.


__ADS_2