
Setelah kepulangan Raja dan Ratu pagi tadi, kali ini Putri Lie sudah pergi berkelana bersama Jei dan Wuse atas permintaannya pada sang suami.
Putri Lie tidak membawa Mei karena ingin lebih leluasa lagi dalam bergerak tanpa hambatan.
"Kita mau kemana Permaisuri?" tanya Wuse.
"Jangan panggil aku Permaisuri Wuse! panggil Lili saja supaya tidak ada yang curiga" ucap Putri Lie mengingatkan.
"Maaf Permaisuri, eh Lili" ralat Wuse.
"Kita akan kemana Lili?" tanya Jei gantian karena Wuse terlihat agak canggung dekat Putri Lie karena ia selalu dapat tugas penyelidikan kini dapat tugas menemani dari dekat.
"Apa kalian tahu dimana biasa orang-orang menjual bubuk yang dapat dijadikan peledak?" tanya Putri Lie balik.
Kedua pria itu saling tatap tidak mengerti mengapa tuan putri mereka itu menjari bahan berbahaya itu.
"Kami tahu dimana tempatnya, tapi tempat itu sudah disegel oleh kerajaan agar tidak digunakan sembarangan" ucap Jei.
"Benarkah dimana tempatnya?" Putri Lie melihat keduanya.
"Ada dihutan larangan yang jauh dari kota, hutan disana sangat lebat juga tidak ada orang berani masuk, itu sebabnya dulu Yang Mulia Raja menyimpan semuanya disana dan dibuat larangan memasuki hutan itu dengan alasan berbahaya" jelas Wuse.
"Apa benar-benar berbahaya hingga tidak ada yang berani masuk?" Putri Lie penasaran dengan hutan itu.
"Ya, dulu pernah ada seorang kesatria memasuku hutan itu untuk mencari semua harta karun yang tersimpan disana tapi ia tidak kembali dengan utuh karena tubuhnya ditemukan dialiran sungai dengan tangan dan kepala yang tidak ada" kata Jei dengan tubuh yang sudah merinding.
"Apa penyababnya hingga sampai begitu dan harta karun apa yang dicarinya?" cecar Putri Lie.
"Semua bahan peledak dan bahan-bahan berbahaya lainnya yang disimpan disana, disebut orang-orang dengan harta karun karena siapapun yang memilikinya akan dapat melumpuhkan negara manapun dengan mudah" jelas Wuse lagi.
Rasa penasaran Putri Lie semakin membuncah dan tidak bisa ditahannya lagi. Jadi ia mengajak keduanya pergi kesana.
"Berapa lama perjalanan hingga bisa tiba disana?" tanya Putri Lie
"Jika perjalanan biasa akan membutuhkan waktu sehari tapi jika menggunakan ilmu kecepatan bayangan kita akan tiba dalam waktu satu jam saja" kata Wuse membuat mata Jei melotot.
"Kenapa kau mengatakannya!" protes Jei memukul lengan Wuse membuat si empunya tangan dan Putri Lie menatapnya heran.
__ADS_1
"Kenapa? kau takut!" ejek Wuse
"Tidak! aku tidak takut, ayo pergi kesana kalau begitu" ujar Jei semangat padahal dalam hati sedang berdoa dan mengumpulkan keberanian.
Selamatkan aku tuhan, aku belum menikahi Mei batin Jei.
"Lili, kau harus menggunakan penutup wajah agar tidak mudah menarik perhatian orang lain" usul Wuse menyadari kecantikan wajah tuan putrinya bisa memancing perhatian.
"Baiklah kalian juga harus menutup wajah kalian, kita akan menjelajah hari ini" ucap Putri Lie di angguki kedua pria itu.
Putri Lie yang memang bisa menggunakan kecepatan berlari dan melompatnya langsung melesat bersama dengan Jei dan Wuse yang sudah handal. Di pinggir kota mereka mulai pergi dengan menggunakan pohon dan batu sebagai loncatan agar memudahkan dan memperjauh lompatan mereka.
Berasa jadi Naruto kalau gini mah, bahkan Naruto aja kalah sama kita bertiga pikir Putri Lie. Mendekati pinggir hutan larangan, Putri Lie berhenti disalah satu pohon di ikuti kedua temannya.
"Kalain harus menyamarkan nama kalian juga dan jika kita sedang misi begini jangan ada kecanggungan, kita teman dan hatus bekerja sama, ok!" ucap Putri Lie.
Meski tidak tahu apa itu ok, tapi keduannya tetap menjawab hal yang sama.
"Ok" jawab keduanya.
"Kalau begitu aku akan jadi Sese" kata Wuse
"Kalau begitu Wuwu sajalah dari pada terus direcoki pria cerewet yang lebih ribut dari wanita" ketus Wuse mengejek Jei balik.
"Apa maksudmu? kau tahu aku ini sudah punya kekasih yang…" ucapan Jei terputus oleh Putri Lie.
"Sudah Jei! jika kau tidak diam aku akan melarang Mei dekat denganmu" ancam Putri Lie membungkam Jei.
"Siapa panggilanmu?" tanya Wuse
"Jeje saja" ucap Jei singkat tidak ingin banyak omong sementara.
"Baiklah, kalau begitu kita sepakat jika panggilan kita itu Lili untukku, Wuwu untuk Wuse, dan Jeje untuk Jei" Putri Lie diam setelah mengatakannya.
Putri Lie teringat suaminya ketika menyebut Jeje, panggilan suaminya ketika mengembara dulu adalah Juju dan ia bertemu dengan ketiga pengawalnya saat itu.
Mungkin mereka akan menyamarkan nama dengan Juju, Jeje, Jiji, dan ****, ucap Putri Lie dalam hati seraya tersenyum dibalik penutup wajahnya.
__ADS_1
"Lili, didepan sana itu hutan larangan yang tadi kita bahas" tunjuk Wuwu pada hutan lebat didepan mereka.
"Ya, kalian siap bukan! kita akan langsung masuk" ujar Lili.
"Lebih baik kita dari arah Timur saja agar lebih aman, dari sana ada aliran air yang mengarah masuk kedalam hutan dan lebih dekat dengan tempat tujuan kita" kata Jeje.
Kedua temannya mengangguk setuju dan mereja segera menuju Timur sesuai arahan dari Jeje.
Benar saja jika disana ada sebuah sungai yang cukup besar membawa aliran air masuk hutan. Ketiganya terus melaju mengikuti aliran air sungai, hingga mereka berbelok di kekiri.
Hutan itu sangat lebat hingga memudahkan mereka melompati setiap pohon. Dibawah sana ada sebuah gua yang terlihat menyeramkan dan menakutkan bahkan Wuwu yang tadi mengejek Jeje jadi ikut merasa takut tapi di tutupinya.
Saat Lili akan melompat turun, ia melihat ada rombongan orang-orang berbaju merah mendekati gua. Lili mengurungkan niatnya untuk turun dan memilih memperhatikan orang-orang itu lebih dulu.
"Siapa mereka?" tanya Jeje
"Mungkin perampok atau kumpulan penjahat yang mencoba peruntungan" jawab Wuwu
"Bukankah mereka kelompok setan merah yang suka membunuh dan membantai setiap desa di kerajaan berbeda!" kata Jeje saat mengingat tentang kelompok berbaju merah menyala itu.
"Kau benar, bagaimana mereka bisa masuk ya?" tanya Wuwu
"Jika kau bertanya pada kami lalu kami tanya pada siapa?" tanya Jeje balik.
"Diamlah nanti ketahuan!" seru Lili.
Keduanya diam dan ikut mengamati apa yang dilakuka orang-orang dibawah sana.
"Seperti api saja mereka, merah menyala" gumam Lili pelan hingga tidak ada yang mendengar.
Dibawah sana, orang-orang berbaju merah itu akan memasuki gua namun dihadang oleh dua ekor singa jantan yang besar. Mereka bertarung melawan kedua singa itu dengan kesulitan karena meski banyak mereka kalah cepat dengan singa yang cukup gesit itu.
Perrarungan itu menyebabkan semua orang mati dan tinggal tubuh tanpa tangan dan kepala, ada juga yang kehilangan kaki dan lainnya. Pemandangan indah bagi Lili yang sudah lama tidak melihat aksi seru seperri itu.
Singa-singa itu menyeret semua mayat itu kearah sungai dan melemparkannya hingga terbawa arus yang membawa tubuh itu keluar dari hutan larangan.
Wuwu dan Jeje merinding dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka langsung, pemandangan yang sangat mengerikan lebih baik berperang dimedan perang dan mati karena pedang membela negara dari pada mati dicabik-cabik singa batin keduanya.
__ADS_1
Lili sudah sangat bersemangat ingin turun dan mencoba menaklukkan kedua singa itu dengan tangan kosong. Jadi ia menunggu sampai singa-singa itu selesai dengan urusan mereka dana masuk kedalam gua baru ia muncul untuk kejutan.
"Kita turun setelah kedua singa itu masuk, ringankan langkah kalian agar mereka tidak menyadari jika kita mengikuti mereka masuk, dan jangan ribut!" ucap Lili sedikit menekan kata terakhirnya mengingatkan kedua pria yang bisa berdebat tiba-tiba itu.