
Sebuah paviliun di kediaman Jendral Han nampak sangat berantakan dan tidak layak di sebut hunian karena si pemilik yang sudah menghancurkan dan memecahkan segala yang ada di dalam paviliunnya.
Bahkan para pelayan tidak ada yang berani menghentikannya karena teman mereka sudah dua orang yang menjadi korban ke marahannya. Akhirnya mereka hanya bisa melihat saja dari halaman paviliun itu.
Jendral Han yang mendapat laporan kalau putri bungsunya menghancurkan tempat tinggalnya segera bergegas menghampirinya. Putri Lie, Pangeran Jun, dan Min juga ikut bergegas menuju paviliun Jingga tempat Putri Eun.
Setibanya di sana mereka sudah di suguhkan dengan keadaan paviliun yang kacau serta banyaknya barang-barang yang hancur. Putri Eun tiba-tiba marah besar setelah melihat kemesraan Putri Lie dengan Pangeran Jun yang benar-benar membuatnya selalu mengingat kejadian itu.
Setelah acara ulang tahunnya usai dan para tamu yang sudah bubar ia memang berniat untuk mencari keberadaan kakak iparnya itu untuk melancarkan rencana dari ibunya. Ia sangat senang ketika di beritahu ibunya tentang rencananya yang sudah dapat di pastikan bahwa ia akan langsung di nikahi oleh Pangeran Jun setelahnya.
Namun rencana itu sudah hancur karena Putri Eun yang sudah hilang kendali hanya karena melihat kemesraan mereka yang tidak pernah ia duga-duga. Semua kemarahannya ia lampiaskan pada barang-barang yang ada di paviliunnya dan pelayan pribadinya yang menenangkannya jadi terluka parah karena ia lempar menggunakan vas bunga.
"Hentikan Eun'er, apa kau sadar dengan yang telah kau lakukan?" kata Jendral Han dengan keras agar putrinya yang sedang kalap itu mendengarnya.
Benar saja Putri Eun mendengar ucapan ayahnya dan diam di tempatnya tanpa bergerak, balok yang ia gunakan untuk menghancurkan barang lainnya juga jatuh begitu saja dari tangannya. Air matanya jatuh tidak terbendung lagi tanpa di inginkan, Putri Eun berbalik menatap ayahnya yang sudah menatapnya dengan sangat khawatir dan cemas.
"Ayah, kakak" ucapnya ketika melihat Jendral Han dan Min yang perlahan mendekat padanya, Putri Eun juga perlahan mendekat pada kedua orang tersebut tetapi saat matanya menangkap keberadaan Putri Lie yang berada tidak jauh dari ayahnya ia berhenti dan memandang sengit kakaknya itu.
Tangan Putri Eun bergerak cepat meraih vas bunga yang berada di dekatnya dan langsung melemparkan benda tersebut pada objek incarannya. Namun bukan orang tersebut yang merasakan sakitnya vas bunga itu, melainkan Min yang memeluk adik iparnya yang juga sedang memeluk adiknya untuk melindungi kesayangan mereka.
Darah bercucuran dari pundak kiri Min yang terkena vas bunga bahkan ada pecahan yang menancap di pundak atasnya. Semua orang kaget dengan kejadian itu namun mereka langsung bergerak cepat menangkap Putri Eun yang maaih tercengang melihat pundak kakak laki-lakinya berdarah karena ulahnya.
Putri Lie yang sudah lepas dari pelukan suaminya langsung memeluk kakaknya dan menangis.
"Kak, bertahanlah kak" ucap Putri Lie sesegukan menahan tangisnya
__ADS_1
"Tenanglah kakak tidak apa, jangan menangis ya" kata Min menenangkan Putri Lie yang menangis.
Min segera di bawa keluar untuk di beri pengobatan karena lukanya yang cukup parah itu, bahkan darah tidak hentinya keluar dari bahunya yang terluka. Putri Lie sudah tidak dapat menahan tangisnya lagi, ia di papah oleh Pangeran Jun mengikuti orang-orang yang membawa kakak iparnya ke tempat pengobatan di kediaman itu.
Tabib Weshi segera menangani tuan mudanya dengan cepat agar tidak semakin banyak kehilangan darah. Jendral Han tidak dapat berkata apa-apa lagi untuk masalah ini, ia hanya berharap jika putranya baik-baik saja.
Pangeran Jun masih ingat dengan jelas bagaimana vas bunga itu terlempar ke arah istrinya dan secepat mungkin ia memeluk sang istri dengan memunggungi arah vas itu datang. Namun hal tidak terduga lainnya terjadi yang justru kakak iparnya tiba-tiba memeluknya erat dan menjadi tameng untuknya yang melindungi sang istri.
Bahkan ia sempat melihat Min yang tersenyum dan mengangguk padanya sebelum di bawa pergi. Begitu banyak orang yang mengincar sang istri tercinta, baik untuk niat jahat atau niatan lainnya yang pasti ia akan selalu melindungi kekasih hatinya itu.
Tabib Weshi keluar dari kamar perawatan miliknya dan segera menemui tuan besarnya untuk memberi tahukan keadaan putranya.
"Bagaimana keadaan kakak Min tabib?" tanya Putri Lie begitu ia melihat nya
"Tenanglah Permaisuri Jun, tuan muda baik-baik saja karena saya sudah mengatasi lukanya, tuan muda juga sedang istirahat dan tidak boleh banyak bergerak hingga lukanya benar-benar sembuh" jelas Tabib Weshi pada semua orang yang langsung merasa lega mendengarnya.
"Menurut saya sepertinya Putri Eun melakukannya karena ia sudah merasa depresi dengan semua tekanan yang di terimanya" jawab Tabib Weshi yang membuat semua orang bingung
"Tekanan apa maksudmu? jelas-jelas dia ingin melukai istriku" ucap Pangeran Jun tajam hingga suasana menjadi tegang.
Putri Lie mengelus lembut lengan Pangeran Jun dan tersenyum sambil menggeleng pertanda jika tidak boleh emosi. Seketika ekspresi Pangeran Jun berubah datar dan dingin namun itu lebih baik dari pada yang tadi batin yang lainnya.
"Lebih jelasnya begini, Putri Eun sudah banyak menerima kata-kata yang tidak seharusnya ia dengar sedari kecil, bahkan hingga ia dewasa kata-kata itu justru semakin tajam untuk di tancapkan pada hatinya yang sudah sangat terpengaruh itu. Kata-kata yang saya maksud di sini seperti kebencian, balas dendam, ketidak cocokan dan lainnya, itulah sebabnya mengapa ia sampai berani melakukan itu karena orang yang selalu menanamkan kebencian itu terus memprovokasi pikirannya hingga yang muncul dalam benaknya ketika melihat orang yang selama ini menjadi objek keburukan itu hanya kebencian dan cara menyakitinya saja tanpa memikirkan hal lainnya selain mendapatkan tujuan tertentu yang sudah menjadi keinginannya" jelas Tabib Weshi panjang lebar yang setelahnya langsung minum karena haus.
Jendral Han tentu tahu akar masalahnya dari mana dan siapa pelaku yang sudah meracuni pikiran putri bungsunya itu tentulah bukan orang lain. Sudah dapat di pastikan jika kemarahan Jendral Han akan meledak saat itu juga setelah mendengar penjelasan dari Tabib Weshi.
__ADS_1
Putri Lie melepas rangkulan Pangeran Jun dan beralih pada ayahnya yang sudah tersulut amarah memuncak. Cara yang sama namun orang yang berbeda tapi efeknya jangan di tanya lagi seberapa besar pengaruhnya. Jendral Han yamg sudah akan beranjak keluar langsung terhenti.
"Ayah" suara lembut itu mengalun indah di telinganya hingga ia melihat objek yang sedang tersenyum manis padanya. Senyuman yang sama seperti milik mendiang istrinya Lea, dialah sang putri kecil Lae yang datang memeluknya dan tersenyum menenangkan.
"Ayah jaga emosi, hadapi segalanya dengan kepala dingin dengan begitu masalah akan selesai dalam damai, ayah mengerti maksudku kan" ucap Putri Lie memeluk ayahnya dengan manja
"Ayah mengerti Lae kecil ayah yang manis" kata Jendral Han memeluk Putri Lie seraya mencubit ujung hidung putrinya itu
"Ayah memang yang terbaik" seru Putri Lie mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana dengan suamimu yang tampan ini sweetyy? siapa yang paling baik di antara kami berdua?" goda Pangeran Jun pada Putri Lie
"Ayah, kakak Min dan suamiku adalah tiga laki-laki terbaik yang sudah tuhan berikan padaku dan aku sangat berterima kasih pada tuhan untuk itu" jawab Putri Lie yang membuat kedua laki-laki itu tersenyum, bahkan laki-laki lain yang sedang sakit itu pun ikut tersenyum mendengar ucapan adik tersayangnya.
Saat ini Jedral Han mengumpulkan semua orang yang ada di kediamannya, terkecuali putranya dan juga pelayan yang terluka akibat ulah Putri Eun yang memukul mereka. Bahkan Selir Bai yang juga di sana, ia belum mendengar keributan yang di lakukan putrinya karena ia memang tinggal seorang diri di paviliunnya sesuai hukuman dari Jendral Han yang tidak mengijinkan siapa pun ada di sana.
Jendral Han menatap tajam pada Selir Bai yang berdiri tepat di sampingnya.
"Selir Bai kedepan" ucap Jendral Han dingin yang langsung di turuti oleh si empunya nama karena merasa ia akan di bebaskan dari hukumannya.
"Kau tahu apa yang sudah di lakukan oleh putrimu Eun!" seru Jendral Han mendapat gelengan dari Selir Bai
"Nam katakan" lanjutnya.
"Putri Eun sudah mengacaukan paviliunnya dan menghancurkan semua barang yang ada, selain itu Putri Eun juga sudah melukai dua orang pelayannya yang berniat menghentikan aksinya itu. Putri Eun melemparkan vas bunga pada Permaisuri Jun namun mengenai Panglima Min hingga terluka parah pada pundaknya" jelas Nam.
__ADS_1
Selir Bai awalnya senang mendengar jika putrinya melempar vas pada Putri Lie namun ketika yang terkena lemparan justru putra ke sayangan Jendral Han ia jadi muram dan tidak senang lagi, kenapa tidak kena sih dasar tidak berguna batinnya dengan wajah tidak suka yang amat kentara hingga dapat di sadari oleh Jendral Han dan Pangeran Jun meskipun ia menunduk.