
Karena keadaan yang tidak terkendali dari marahnya pria yang di tipu Yein. Hingga mengakibatkan istri Rie meninggal tiba-tiba juga Rie sendiri yang ditendangi oleh pria yang ditipu.
Jei mengangkat pedangnya untuk membunuh pria itu yang ternyata mengenai Rie sendiri yang juga ingin mati bersama keluarganya.
"Jie sekalian saja mereka semua di satukan sama Yein didalam" ucap Pangeran Jun saat keadaan sudah tenang.
Prajurit mengangkat mayat ketiga orang itu yang sudah tidak bernyawa lagi untuk dimasukkan kedalam rumah yang akan dibakar.
Api nampak bekobar besar melahap bangunan yang memang mudah terbakar itu. Beberapa bangunan tua juga mereka bakar karena menjadi sarang tikus yang dapat menyebar kemanapun.
Untuk mencegah hal itu maka Pangeran Jun meminta prajuritnya untuk membakar sekalian bangunan yang ada disana.
Setelah api padam barulah mereka meninggalkan tempat itu.
Pangeran Jun menuntun Putri Lie berjalan dengan merangkul bahunya. Takut terjadi sesuatu dengan anak juga istrinya.
Beberapa saat berjalan mereka memutuskan untuk beristirahat di tempat yang terlihat teduh. Pangeran Jun dan prajurit lainnya langsung membersihkan diri mereka di sungai yang tidak jauh dari tempat istirahat sekaligus mencari ikan untuk makan malam mereka nanti.
Putri Lie sendiri sudah ingin muntah mencium bau tubuh suaminya yang tadi mendekapnya. Entah apa yang ia rasakan dari bau suaminya itu hingga membuatnya mual.
Itulah sebabnya Pangeran Jun membersihkan dirinya lebih dulu baru yang lainnya.
Mereka bergantian membersihkan diri dari tanah kotor yang mereka gunakan tadi dan mengganti pakaian dengan yang semula dipakai dari istana.
Yang sudah selesai membersihkan diri kembali berpencar mencari kayu bakar untuk ikan yang di tangkap.
Saat malam tiba semua ikan sudah selesai bakar dan langsung mereka santap bersama-sama. Pangeran Jun memberikan Putri Lie kain yang mereka gunakan untuk membawa pakaian mereka.
Api tetap menyala sebagai penerangan agar tidak terlalu gelap. Mereka juga bergantian jaga saat yang lainnya istirahat, ada yang mengawasi sekitar, ada juga yang tetap memastikan api terus hidup.
Keesokan paginya mereka kembali melanjutkan perjalanan dari jalan pintas yang digunakan Yein ketika membawa Putri Lie dan dua pengawalnya.
Jalan itu memang sengaja dibuat oleh kelompok itu sejak lama sebagai akses mereka mencapai kota lebih cepat. Gerobak juga kuda milik kelompok itu juga mereka bawa agar tidak terlalu lelah dengan bergantian yang menunggangi kuda.
Sedangkan Putri Lie dan Pangeran Jun duduk di atas gerobak yang di kendalikan oleh Jie.
Pangeran Jun menatap penuh selidik pada istrinya yang terlihat santai menikmati perjalanan tanpa merasa bersalah sesikitpun apa lagi menjelaskan apa yang terjadi hingga mereka bisa sampai di tempat itu juga bersama Yein.
"Tidak ingin menjelaskan sesuatu?" pancing Pangeran Jun menatap lekat istrinya yang duduk disampingnya.
Jei dan Wuse yang berjalan disisi mereka saling lirik takut.
__ADS_1
"Apa?" tanya Putri Lie tanpa melihat Pangeran Jun.
"Tidak merasa bersalah akan sesuatu?"
"Tidak tuh" ucapnya santai.
"Kamu pasti sudah merencanakan semua ini bukan! dan pergi kerumah ayah hanya alasan supaya bisa datang ketempat itu!"
"Tidak tuh"
"Jangan mengelak lagi! aku tahu kalau kamu sudah merencanakannya itu pula yang jadi alasan kamu tidak ingin dikawal banyak prajurit, iyakan!"
Putri Lie tersenyum manis pada Pangeran Jun disampingnya tanpa perduli dengan raut wajah kesal suaminya.
"Tahu tidak kalau itu bahaya bagi kamu juga anak kita ini?" Pangeran Jun menyentuh perut istrinya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kalian bagaimana? aku bisa gila jika terjadi sesuatu pada kalian berdua" lanjutnya dengan wajah yang nampak sangat khawatir.
"Maaf soalnya ini juga keinginan anak kamu ini" ucap Putri Lie berkaca-kaca.
"Aku juga sempat berpikir begitu tapi keinginan untuk datang ketempat itu sangat besar, aku terlalu penasaran" air mata Putri Lie menetes di pipinya.
"Kali ini aku maafin tapi tetap harus di hukum ngerti" kata Pangeran Jun menekan kata terakhirnya.
Seketika Putri Lie cemberut mendengar hal tersebut. Jika sudah menyangkut hukuman itu ia paling tidak tahan.
Bagaimana bisa tahan kalau dikurung tanpa bisa melakukan apapun. Meski hanya 6 hari atau kurang tapi tetap saja Putri Lie merasa tidak bebas.
Ia yang biasanya bebas kesana kemari dan melakukan apa saja yang disenanginya harus terkurung sementara waktu.
Sepanjang perjalanan pulang Putri Lie hanya diam saja setelah mendengar kata hukuman keluar dari suaminya tadi.
Benar saja jika mereka bisa tiba di perbatasan kota hanya dengan waktu 2 hari 2 malam saja. Setengah hari kemudian Pangeran Jun dan rombongannya sudah tiba diistana.
Raja dan Ratu Xiao yang mendengar kabar kepulangan anak dan menantu mereka langsung menyambut kedatangan mereka di depan.
"Kemana Pangeran dan Permaisuri?" tanya Ratu Xiao saat tidak mendapati yang dicarinya.
"Yang Mulia Pangeran dan Permaisuri Jun sudah menuju paviliun Saga Yang Mulia Ratu"
Ratu dan Raja Xiao pergi menuju ke paviliun Saga tempat anak mereka berada karena Ratu Xiao yang sudah sangat merindukan anaknya.
__ADS_1
Sedangkan Pangeran Jun dan Putri Lie masih membersihkan diri mereka setelah perjalan jauh. Selesai mandi dan makan Pangeran Jun membawa istrinya kekamar hukuman yang biasa ditempati oleh Putri Lie jika dihukum.
Putri Lie tentu memberontak dengan cara merayu suaminya. Berharap jika cara itu mampu meluluhkan hukumannya.
"Honey jangan hukum aku ya, janji deh tidak nakal lagi" ucapnya manja.
"Suamiku tercinta di sana dingin loh nanti kalau aku sakit gimana?"
"Suamiku jangan ya, aku.."
Putri Lie menghentikan ucapannya saat matanya melihat mertuanya datang. Ide muncul dikepalanya untuk bebas dari hukuman.
Tangis Putri Lie membuat langkah Pangeran Jun terhenti dan menatap istrinya yang menangis itu.
"Kenapa menangis?" tanya Pangeran Jun dingin.
Putri Lie menunduk tapi air matanya tetap mengalir, bahkan tangannya terus mengusap air matanya bagaikan anak kecil yang kena marah.
"Lie'er ada apa?" tanya Ratu Xiao yang masuk tergesa-gesa.
Putri Lie mengangkat kepalanya melihat kedua mertuanya yang mendekat dengan wajah penuh rindu.
Dengan cepat Putri Lie memeluk mertuanya itu dan melanjutkan tangisnya membuat Ratu Xiao heran.
"Kenapa sayang?" tanyanya.
"Kangen ibu" ucap Putri Lie manja.
Senyum kedua orang tua itu merekah mendengar suara manja menantu mereka. Lain halnya dengan Pangeran Jun yang hanya menggelengkan kepalanya.
Tentu saja Pangeran Jun tahu jika itu hanya akal-akalan istrinya agar lepas dari hukumannya.
"Aku ikut ibu ya! tidur disana" ucap Putri Lie melihat mertuanya dengan wajah sendu.
"Baiklah kamu ikut ibu aja" Ratu Xiao membawa menantunya keluar dari dari pavilun itu menuju paviliunnya sendiri.
Raja Xiao melihat anaknya dan menepuk punggungnya.
"Sabar ya" ucapnya yang tidak ingin bertanya apa yang terjadi karena sudah sering seperti ini jika menantunya mengatakan rindu pada mereka paati akan mendapat hukuman dari suaminya.
Terpaksa Pangeran Jun mengikuti ayahnya ke paviliun Naga milik orang tuanya.
__ADS_1