
Para pria yang sedang asik bersantai itu tidak menyadari jika tawanan mereka lepas dari kurungan. Jadi ketika Jie menyerbu dengan prajuritnya mereka sama sekali tidak ada persiapan bahkan banyak yang lari tidak tentu arah.
Mereka yang lari merupakan pemuda yang diculik oleh kelompok ini untuk dijadikan anggota. Selain itu kesempatan ini juga mereka gunakan untuk kabur dan kembali pada keluarga masing-masing.
Selain itu juga mereka tidak suka dengan tempat yang sepi ini, sudah jarang dikasih makan sering di siksa pula.
Karena lawan yang hanya menggunakan balok kayu juga senjata seadanya. Jie tidak menggunakan senjatanya untuk berkelahi begitupun prajuritnya yang kembali menyimpan pedang mereka.
Pertarungan itu hanya menggunakan tangan kosong tapi mampu di pukul mundur oleh Jie. Pangeran Jun dan Tei masuk semakin dalam saat keadaan didepan dapat di tangani oleh Jie.
Walau banyak anggota dari kelompok itu tapi menurut perkiraan Pangeran Jun mereka hanya tinggal berjumlah 40 orang saja. Karena yang lainnya sudah pergi entah kemana.
Dalam sekejab saja Pangeran Jun dan yang lainnya mampu melumpuhkan semua anggota kelompok itu hingga tidak berdaya. Pangeran Jun bahkan belum memanggil prajurit bayangannya tapi sudah berhasil mengatasi yang jumlahnya lebih besar ini.
Tibalah Pangeran Jun di depan sebuah rumah yang sangat besar. Rumah itu merupakan yang paling cantik di tempat kumuh seperti ini, juga sangat bersih.
Jie dan Tei masuk kedalam lebih dulu untuk memastikan isi didalamnya ada apa.
"Tuan ayo masuk" ucap Jie yang keluar memanggil Pangeran Jun.
"Kalian tetap di luar pantau keadaan sekitar, tinggal dua orang di sini sisanya periksa setiap sudut tempat ini siapa tahu masih ada orang yang di sekap atau anggota yang masih selamat" ucap Pangeran Jun.
"Baik tuan"
Pangeran Jun masuk bersama Jie di depannya
"Ada sesuatu didalam?" tanyanya.
"Ada tuan, disini" Jie mendorong sebuah pintu besar yang merupakan pintu kamar.
Di atas kasur terdapat sepasang pria dan wanita yang terikat menjadi satu, kaki juga tangan mereka diikat sedangkan mulut keduanya di tutup kain.
"Buka talinya ikat yang bagus" ucap Pangeran Jun.
Jie dan Tei membuka tali pengikat keduanya lalu kembali mengikat pasangan itu setelah di dudukkan.
"Jie buka penutup mulutnya, sepertinya ada yang mau dia sampaikan!" seru Tei.
"Kenapa kau menyuruhku? lakukan saja sendiri" tolak Jie.
"Aku kan mewakili tuan, lagi pula kau yang lebih dekat merela, cepat buka" perintah Tei layaknya bos.
"Cih, awas saja nanti aku pukul kau" kesal Jie tapi tetap melakukan apa yang dikatakan Tei.
Kedua orang itu menarik napas dalam-dalam saat pengikat mulut yang sedikit menutup hidung mereka terlepas.
__ADS_1
"Hah cepat lepaskan tali ini" ucap pria paruh baya itu.
"Kenapa kalian mengikat kami lagi? cepat lepaskan!" sambung si wanita.
Pangeran Jun menaikkan sebelah alisnya sedangkan Jie dan Tei mengerutkan kening mereka.
Apa kedua orang yang pernah mengabdi di istana itu tidak mengenali mereka bertiga yang selali bersama, bahkan yang satunya orang penting. Ah iya mereka dalam penyamaran bagaimana bisa dikenali pikir Jie dan Tei.
Pangeran Jun tersenyum mengejek pada kedua orang tua itu.
"Siapa kalian yang harus kami selamatkan?" tanyanya datar.
"Namaku Rie dan ini istriku, anak kami penguasa disini" ucap Rie sombong.
"Lalu?"
"Kalian harus melepaskan ikatan ini kalau tidak mau dihabisi oleh kekasih anakku"
"Siapa anakmu juga kekasihnya itu hingga aku harus takut?"
"Kekasih anakku adalah ketua penjahat juga perampok yang sangat ditakuti orang-orang"
"Kau pengemis tidak mungkin tahu apa-apa: ucap istri Rie dengan wajah songongnya.
Jie tidak senang dengan ucapan kedua orang itu yang merendahkan Pangerannya ingin maju tapi ditahan oleh Tei.
"Kami ini anggota istana bahkan nyawamu bisa kami beli" marah Rie.
"Benarkah? tapi yang aku lihat kalian berdua hanya tikus terikat yang mengharapkan kebebasan" ejeknya.
"Jaga ucapanmu atau aku akan meminta kekasih anakku untuk membunuhku" teriak Rie.
"Iya, lepaskan kami dan segera berlutut mohon ampun jika masih ingin hidup" ucap istri Rie.
"Galak sekali kucing tua ini" ucap Tei.
"Sudah tua tidak sadar diri malah marah-marah" lanjutnya.
"Tidak takut kulitnya lepas nek" ucap Jie.
"Kuranh ajar kalian bertiga pasti mati ditangan kekasih anakku" marah Rie.
"Tutup saja mulutmu ya kucing tua, kau sangat ribut" ucap Tei menutup mulut Rie dan istrinya kembali.
Pangeran Jun dan kedua pengawalnya keluar saei kamar itu menuju depan.
__ADS_1
Tiba-tiba datang seorang prajurit mereka berlari terburu-buru.
"Tuan" teriaknya
"Ada apa?" tanya Tei
"Ada yang datang, saya yakin mereka itu ketua kelompok ini" ucapnya.
"Berapa orang mereka?" tanya Pangeran Jun.
"Sekitar 12 orang yang berkuda dan didalam gerobak nampaknya ada seorang wanita tapi ada yang lebih gawat" ucapnya panik.
"Apa?"
"Dibepakang gerobak itu ada tiga orang yang diseret, saya juga yakin kalau mereka itu Wuse, Jei dan istri tuan" ucapnya.
Pangeran Jun kaget mendengar ucapan prajurtinya. Bagaimana mungkin bisa mereka tertangkap sedangkan ketiganya mampu berkelahi juga berperang.
Apa ini rencana istrinya yang sempat memaksa ingin pergi naik kuda bersama dua orang itu saja tanpa pengawal lagi. Jika memang ia maka Pangeran Jun harus lebih waspada agar istrinya tidak celaka.
"Kalian sembunyi tunggu aba-aba dariku untuk menyerang, kita tidak bisa menyerang langsung jika memang ada istriku keselamatannya sangat penting, jadi jangan gegabah.."
"Sembunyilah kami akan menyambut mereka disini" ucap Pangeran Jun.
"Iya tuan"
Semua prajurit Pangeran Jun bersembunyi sedangkan dia sendiri bersama Jie dan Tei masuk kedalam.
"Tuan kalau mereka menyakiti istri anda kita habisi saja kedua kucing tua itu" ucap Tei.
"Tenang dulu, mereka pasti sudah merencanakan sesuatu hingga bisa tertangkap begitu" kata Pangeran Jun.
"Ah lebih baik kita habiskan makanan itu supaya mereka lebih marah lagi" ucap Jie mendekati meja yang penuh buah-buahan.
"Kalau ada racunnya kau pasti mati" ucap Tei.
"Racun apa? racun lapar ini juga banyak bekas yang sudah dimakan bahkan beserakan"
"Tampat ini memang lebih cocok di sebut sarang tikus ya"
"Iya"
Kedua orang itu makan tanpa perduli dengan yang punya akan marah yang penting keyang dulu pikir mereka.
Sedangkan Pangeran Jun tetap di tempatnya memikirkan istri nakalnya. Jika memang benar isttinya di ikat lalu di seret dari jarak yang begitu jauhnya itu artinya iatrinya sudah sangat kelelahan.
__ADS_1
Aku akan mengahbisi kalian semua tanpa sisa batin Pangeran Jun geram.
BRAAAK