
Kakek bernama Sao itu mengobati Putri Lie untuk mengeluarkan sisa racun dalam tubuhnya. Ramuan yang baru saja di racik oleh kakek Sao di berikan pada Putri Lie dan segera di minum olehnya.
Setelah meminum obat itu Putri Lie meringis akibat rasanya yang pahit bercampur asam. Tidak lama ia pun memuntahkan darah yang nampak pekat dan sangat kental.
Mei dan Jei langsung panik saat melihat hal tersebut, mereka berdua ketakutan sendiri dengan apa yang terjadi pada tuan putrinya itu.
Jika saja Pangeran Jun tahu akan hal ini maka bisa di pastikan jika mereka tidak akan selamat. Apa lagi Jei yang mengajak Putri Lie datang ke tempat ini.
"Permaisuri! anda baik-baik saja!" teriak keduanya.
Putri Lie membersihkan mulutnya dengan kain yang di berikan Mei padanya. Lalu ia memperbaiki posisi duduknya lagi menjadi tegak dari sebelumnya sedikit merunduk.
"Tidak apa-apa, hah tubuhku terasa lebih ringan sekarang" ucap Putri Lie merenggangkan tubuhnya.
"Sisa racunnya sudah tidak ada lagi Permaisuri, sekarang tinggal memulihkan tenaga saja" ujar kakek Sao.
Putri Lie tersenyum tipis menanggapinya.
"Terima kasih kakek, tubuhku akan cepat pulih lagi karena racunnya sudah tidak ada" ucap Putri Lie senang.
Kakek Sao memberikan sekotak obat dengan berbagai macam jenis yang sudah siap seduh. Juga sebuah buku yang lumayan tebal ia berikan juga sebagai pelengkapnya.
"Permaisuri, terimalah obat dan buku ini, ini akan sangat berguna untuk anda kedepannya" kakek Sao menyerahkan kotak dan buku ketangan Putri Lie dan segera di terima olehnya.
"Terima kasih banyak kakek atas pemberiannya tapi tolong terima ini untuk kakek ya" Putri Lie menyerahkan beberapa uang untuk kakek Sao.
Tapi kakek Sao tidak menerimanya.
"Tidak usah Permaisuri, saya iklas memberikannya pada anda karena saya sendiri tidak memiliki murid untuk menerima semua itu" ucap kakek Sao.
"Anggap saja ini sebagai upah karena kakek sudah mengobati saya dan untuk yang kakek berikan ini akan saya terima sebagai pemberian seorang guru pada muridnya" kata Putri Lie tersenyum sopan.
__ADS_1
Kakek Sao menerima pemberian dari Putri Lie itu dengan senyum tipisnya, ia tidak salah memilih orang untuk mewarisi ilmu pengobatannya. Selain cantik dan santun, aura yang di miliki oleh Putri Lie juga sangat kuat hingga kakek Sao yang awalnya sedang berada di belakang rumahnya itu dapat merasakan kehadiran seseorang yang sangat kuat.
"Ingatlah Permaisuri, obat ini hanya anda yang boleh meraciknya sendiri atau orang yang anda percayai yang sudah tahu cara membuatnya, jika sembarangan meracik obat ini maka ia akan menjadi racun yang berbahaya" jelas si kakek.
Jei menatap horor pada obat yang ia pegang itu, kenapa harus aku yang di suruh membawanya batinnya.
"Baik kek akan saya ingat baik-baik pesan kakek" ucap Putri Lie.
Karena sudah cukup lama mereka pergi dari kediaman, Putri Lie memutuskan untuk pulang segera. Apa lagi hari yang sudah hampir sore ini bisa saja suaminya marah dan tidak mengijinkannya pergi lagi.
Bisa-bisa semua rencananya akan berantakan atau paling tidak ia harus menggunakan cara melarikan diri agar bisa keluar diam-diam. Meski nantinya akan menimbulkan masalah tapi hanya itu cara lainnya jika tidak di beri ijin keluar.
Mei sangat penasaran pada pemuda di sampingnya yang mengenal kakek Sao sedangkan dia saja tidak tahu tentang obat sama sekali sewaktu mereka di desa Ruhai yang banyak orang terkena racun.
"Jei boleh aku bertanya sesuatu padamu?" akhirnya Mei mengeluarkan apa yang ia tahan sejak tadi mengenai hubungan Jei dengan kakek itu.
Jei mengalihkan tatapannya pada Mei yang memanggilnya, ia sangat senang setiap kali mendengar Mei menyebutkan namanya.
"Apa yang membuat kemu penasaran hingga gelisah begitu?" tanya Jei.
"Kakek Sao bukan siapa-siapaku Mei" jawab Jei memandang gadis itu lembut.
"Lalu bagaimana kalian bisa saling kenal? bukankah tadi kakek itu juga menyebutkan namamu?" cecar Mei yang semakin membuat Jei tersenyum lebar.
"Sebelum Yang Mulia Pangeran dan Permaisuri menikah, aku tidak sengaja melihat kakek Sao kesulitan membawa bahan obatnya ketika akan pulang ke kediaman. Karena tidak tega jadi aku membantunya dan mengantarkan kakek hingga kerumahnya itu" jelas Jei.
"Gubuk kecil itu rumahnya! astaga kemana keluarganya hingga membiarkan kakek setua itu tinggal di sana seorang diri" kaget Mei.
"Tidak tahu juga aku di mana keluarganya, tapi dari yang aku ingat kakek Sao pernah bilang kalau ia sebatang kara" ucap Jei.
"Kamu tahu begitu banyak ya tentang kakek itu, kenapa tidak kamu bawa pulang kekediaman untuk di tempatkan jadi tabib di sana dari pada harus tinggal di gubuk yang akan rubub itu" kesal Mei.
__ADS_1
"Aku pernah menawarka hal itu pada kakek Sao tapi di tolak, katanya lebih enak kalau jadi orang biasa dari pada tinggal di rumah pejabat itu akan membuat kita memiliki banyak musuh yang mengincar nyawa" kata Jei.
"Untung saja kakek itu tidak bertemu denganku, jika bertemu denganku lebih dulu pasti s-udah aku paksa ikut agar mendapat tempat yang lebih layak" gerutu Mei.
Jei menggelengkan kepalanya mendengar apa yang di ucapkan Mei itu.
"Kita tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain Mei, kalau kebahagiaan kakek Sao seperti itu kita bisa apa. Memaksanya hanya akan melukai hatinya secara tidak langsung dan itu akan membunuhnya perlahan karena terkurung dalam penjara keindahan yang tidak di kehendakinya" ucap Jei.
"Tapi jika seperti itu juga akan…"
"Kita harus menghargai keputusan kakek Sao, aku pernah menawarkan perbaikan rumah padanya dan akan mengatakan kondisinya pada Yang Mulia Pangeran tapi kakek Sao tidak mengijinkanku mengatakan apapun tentangnya. Jadi ya aku tidak dapat berkata apa-apa lagi selain diam" ucap Jei.
Mei diam tanpa menjawab lagi, benar apa yang di katakan Jei kalau tidak boleh memaksakan kehendak pada orang lain dan harus menghargai keputusan orang itu untuk menjalani hidupnya seperti apa.
Bolehkah Mei merasa bahagia karena sikap dewasa dan bijak sana Jei yang menasehatinya dengan lembut juga sabar agar ia mengerti apa yang ia maksud.
Wajahnya memerah saat ia mengingat jika pemuda itu menyukainya dan akan mendekatinya dengan caranya sendiri. Apa ini salah satunya? benar-benar pemuda yang pengertian gumam Mei dalam hati.
Sedangkan Jei yang tahu wajah merah Mei sangat menikmati pemandangan itu. Ia menatap wajah yang memerah itu dengan tersenyum manis yang malah membuat wajah itu jadi semakin merah saja.
Sesekali Jei melihat jalan dan Putri Lie yang berjarak selangkah dari mereka, entah tuan putrinya itu mendengarkan percakapan mereka atau tidak yang jelas tuan putrinya terlihat santai.
Saat tidak mendengar suara orang dibelakangnya lagi barulah Putri Lie berucap.
"Banyak nyamuk ya disini! mana kakinya dua lagi kalau gigit sakit mana ya sama yang bisa terbang?" gumam Putri Lie sedikit kuat agar yang di belakangnya mendengar.
Mei dan Jei memang mendengarnya tapi mereka tidak mengerti kemana arah ucapan Putri Lie.
"Kalau begitu kita harus lebih cepat lagi Perm…" Mei membekap mulut Jei yang hampir saja kelepasan memanggil permaisuri di tempat umum itu. Sedangkan yang di bekap hanya meringis saja semabari menggaruk kepalanya.
"Kita memang harus segera pulang karena aku sudah rindu dengan suamiku, sejak tadi hanya melihat sepasang kekasih saling pandang dengan mesra saja, membuatku rindu tidak tertahan dengan suamiku tercinta" ucapnya tersenyum menggoda pada Mei.
__ADS_1
Tentu Mei tahu apa yang di maksud Putri Lie sepasang kekasih saling pandang itu. Sudah pasti itu ia dengan Jei yang memang sejak tadi saling pandang meski ia malu-malu tapi mau.
Semoga kamu yang tuhan berikan untuk menjagaku Jei batinnya berharap pada pemuda di sampingnya yang masih tersenyum.