
Bukannya turun, Pangeran Jun malah memeluk erat tubuh Putri Lie yang sudah berbalik membelakangi dirinya. Putri Lie berontak dengan kuat tapi Pangeran Jun juga memeluknya dengan kuat agar tidak lepas sembari terus mengucapkan kata maaf.
"Maaf sweetyy, aku tidak akan mengulanginya lagi ini yang pertama dan terakhir" ucap Pangeran Jun
"Lepaskan Jun!" ucap Putri Lie dengan nada marah.
Pangeran Jun memiliki ide yang mungkin saja dapat meluruhkan marahnya sang istri. Ia memegang tangan istrinya yang terdapat cincin merah delima yang baru ia berikan tadi.
Dengan usaha yang cukup keras karena penolakan dari istrinya, akhirnya Pangeran Jun dapat menyentuh cincin itu juga lalu mengusapnya sembari berujar.
"Keluarlah Red!" ujar Pangeran Jun.
Tidak perlu menunggu lama, seekor naga merah keluar dari dalam cicin itu dan berputar sejenak lalu menghadap pada tuannya.
"Hormat hamba Yang Mulia, ada perintah!" ucap Red
"Aku hanya ingin memperkenalkan istriku" ucap pangeran Jun bankit dan menutupi seluruh tubuh istrinya yang masih kaget itu.
Bagaimana Putri Lie tidak kaget saat melihat bagaimana naga merah itu keluar dari cincinnya. Hingga ia langsung terduduk begitu saja, untungnya Putri Lie sudah memakai bajunya tadi.
Lalu Pangeran Jun kembali memegang bandul kalung berwarna biru dileher istrinya. Muncullah seekor kuda putih yang besar dengan tubuh yang terlihat kokoh berdiri dihadapan suami istri itu.
"Red, Bru, ini istriku" ucap Pangeran Jun merangkul istrinya.
"Mulai sekarang kalian berdua akan mengikutinya dan mematuhi apapun perintah dan permintaannya" lanjutnya.
"Baik tuan, kami akan mengikuti nyonya mulai sekarang" jawab keduanya.
Putri Lie semakin terkagum-kagum melihat kedua binatang yang bisa keluar dari kalung dan cincinnya itu. Apa suamiku punya kekuatan Harry Potter makany punya binatang yang bisa bicara gumamnya dalam hati.
"Sweetyy, mulai sekarang mereka akan menjagamu saat tidak bersamaku, mereka bisa keluar kalau kamu sentuh cincin dan bandul kalungmu atau panggil saja nama mereka agar lebih mudah" jelas Pangeran Jun namun sepertinya tidak digubris oleh istrinya yang masih memandangi kedua binatang itu.
Pangeran Jun hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala saja melihat istrinya yang tidak berkedip itu. Bagaimana kalau sampai melihat yang ada padaku? dia pasti akan lebih kaget lagi batin Pangeran Jun.
"Sweetyy!" panggilnya sembari menepuk pundak Putri Lie sedikit kuat untuk menyadarkan istrinya dari rasa kagumnya.
__ADS_1
"Ah iya, ada apa?" tanya Putri Lie kaget
"Bagaimana menurut kamu? mereka akan selalu menjagamu dan akan menjadi senjata rahasia terbesarmu nanti kalau ada kesulitan" ucap Pangeran Jun.
"Apa mereka ini binatang sungguham atau aku sedang bermimpi?" tanya Putri Lie meyakinkan dirinya.
"Kamu tidak bermimpi, sekarang ulurkan tanganmu pada mereka" Pangeran Jun menarik tangan istrinya untuk diarahkan pada kedua binatang itu.
"Untuk apa seperti ini?" tanyanya lagi
"Nanti kamu akan tahu" jawab Pangeran Jun singkat.
Setelah tangan Putri Lie terulur kedepan, tiba-tiba dari mata kedua binatang itu menembak sebuah cahaya yang langsung mengenai telapak tangan Putri Lie. Hingga muncullah dua tanda disana.
Satu berbentuk kepala kuda dan satu lagi berbentuk tubuh naga yang melingkar. Pangeran Jun sempat takut istrinya akan merasakan sakit karena diberi tanda ikatan antara tuan dengan binatang pengikutnya.
Karena bagi yang kurang cocok dengan bintang pengikutnya maka si tuan akan kesakitan yang luar biasa pada bagian yang terkena tanda dan binatangnya pun akan menghilang dengan sendirinya untuk kembali pada benda yang ia tempati semula.
Tapi melihat Putri Lie yang justru sangat senang memiliki tanda itu juga pengikutnya membuat Pangeran Jun juga senang. Karena mereka juga ternyata cocok dengan Putri Lie itu sebabnya ia tidak kesakitan tadi.
"Woah ini luar biasa, baiklah aku akan menerima mereka sebagai pengikutku" seru Putri Lie senang.
"Tapi ingat sweetyy, kamu memiliki mereka bukan untuk pamer atau menakuti orang, melainkan melindungi diri dari berbahaya yang sangat mengancam, apa lagi aura mereka yang sangat kuat jika rakyat merasakannya mereka akan sangat ketakutan dan dapat menyebabkan trauma" jelasnya lagi.
"Siap komadan" ucap Putri Lie memberi hormat pada Pangeran Jun.
"Baiklah, Red, Bru, kalian boleh kembali" ucap Pangeran Jun.
Sekejab saja kedua binatang itu sudah menghilang dari hadapan mereka dan kembali pada tempat masing-masing yang mengeluarkan cahaya saat mereka masuk dan keluat tadi.
"Apa mereka sangat kuat hingga dapat menakuti rakyat jika keluar?" tanya Putri Lie penaasaran.
"Tentu saja, karena tidak sembarangan orang bisa mendapatkan binatang spiritual seperti mereka" jawab Pangeran Jun santai.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan mereka?" tanyanya lagi
__ADS_1
"Tentu saja ketika berguru lalu berlatih keras dihutan belantara yang sangat lebat dan menyeramkan menurut orang awam" jawabnya.
"Benarkah! kapan kamu melakuka semua itu?" tanya Putri Lie benar-benar penasaran dengan binatang tadi.
"Dua tahun pertama berkelana, aku dan trio macan itu yang sudah bertemu hanya melakukan perjalan saja mengikuti langkah kaki hingga kami bertemu dengan seekor elang yang diserbu oleh sekelompok srigala lapar, karena elang itu hanya sendiri jadi kami menolongnya dengan melempari semua srigala itu dengan batu dan kayu hingga mereka pergi. Setelahnya berulah kami mengobatinya, tidak lama datanglah orang berbaju biru yang tiba-tiba muncul dihadapan kami dan mengatakan jika elang itu miliknya"
Pangeran Jun menatap Putri Lie yang serius mendengarkannya.
"Kami sempat tidak percaya tapi sewaktu elang itu dipanggil olehnya dan segera mendekatinya berulah kami percaya jika dia memang pemiliknya. Orang itu mengajak kami ketempatnya untuk istirahat sejenak karena memang tidak juh dari sana, kami dibawa masuk semakin dalam kehutan dan berhenti disebuah pondok yang cukup besar. Disana ada tiga pondok yang ditempati oleh para pria berbaju hitam, kami sempat takut akan dimakan oleh mereka karena kami fikir mereka pemakan manusia tapi ternyata mereka itu perguruan bayangan yang legendaris dan banyak diincar oleh semua kerajaan dan kelompok penjahat lainnya"
"Perguruan bayangan yang legendaris? maksudnya mereka itu sangat hebat?" tanya Putri Lie diangguki oleh Pangeran Jun.
"Iya mereka memang sangat hebat, kami sempat ditawari oleh guru mereka beberapa senjata yang tidak perlu diragukan lagi kekuatannya sebagai bentuk terimakasih karena sudah menolong elang kesayangan guru itu, tapi kami tidak mau dan lebih memilih untuk belajar ilmu padanya sebagai murid"
"Kalian diterima?" tanyanya.
"Diterima, kami mulai diajarkan jurus-jurus dasar hingga teknik-teknik beladiri mereka dan yang lebih menyenangkan itu teknik melompat dengan cepat hingga bisa menembus beberapa kilo saja dalam beberpa kali lompatan. Juga bagaimana cara menjaga keamana saat menyelinap atau mengawasi musuh yang kita incar, kami belajar hanya dua tahun lebih tiga bulan disana karena harus pergi kembali kekerajaan. Mereka sangat kaget saat tahu jika aku adalah seorang Pangeran tapi tidak bagi guru yang ternyata sudah tahu dari caraku bersikap dan berperilaku. Meski sudah bergaul dengan semua orang disana dengan baik dan menghilangkan kesan bangsawan dalam diriku, tetap saja beliau dapat melihatnya karena darah keturunan tidak bisa dihilangkan begitu saja" jelas Pangeran Jun.
"Lalu! apa tanggapan mereka saat tahu kamu seorang Pangeran?" tanya Putri Lie.
"Ternyata mereka tetap menerimaku dengan baik dan malah bersikap hormat padaku tapi aku menolak semua itu dan meminta mereka bersikap biasa saja seperti semula. Sebelum pulang guru meminta kami bertapa selama tiga bulan itu di dalam gua yang ada dibalik air terjun deras, didalamnya benar-benar dingin hingga kami hampir membeku tapi karena tekat kami untuk menyelesaikannya segera jadi kami menahannya. Hingga akhirnya kami berhasil melakukannya, ditelapak tangan kami ada tanda seperti ini juga" Pangeran Jun menunjuk telapak tangan Putri Lie.
Lalu Putri Lie memegang tangan suaminya dan melihat telapak tangannya yang memang terdapat dua tanda yang sama dengannya disana.
"Kenapa kamu berikan padaku keduanya kalau kamu lebih membutuhkannya?" tanyanya.
Tanpa menjawab Pangeran Jun menunjukkan telapak tangannya yang kanan. Disana terdapat gambar kepala burung elang.
"Kamu punya tiga? apa ini elang milik guru kamu itu?" cecar Putri Lie lagi.
"Iya punyaku ada tiga, dua dikiri dan satu dikanan tapi hanya dua ini yang mudah menurut jika diberikan pada orang lain sedang yang ini tidak mudah dijinakkan" jelasnya.
"Ah aku sangat penasaran seperti apa rupanya, coba panggil dia keluar!" pinta Putri Lie.
Pangeran Jun tersenyum manis pada istrinya karena sudah dapat menebak kemana arah tujuannya yang sangat penasaran itu.
__ADS_1