
Sudah dua hari berlalu kegiatan Putri Lie hanya berlatih dan mempelajari tentang pengobatan. Selama itu pula Putri Lie tidak pernah keluar dari paviliun bahkan tidak mengijinkan siapapun menemuinya termasuk Pangeran Jun.
Sedangkan Pangeran Jun yang sibuk juga belum menemui Putri Lie untuk meluruskan kesalah pahaman istrinya atas apa yang terkadi antara ia dan Selir Nan.
Semua pekerjaan di kerjakan hingga malam bahkan Pangeran Jun menggunakan waktu tidurnya untuk mengerjakan semuanya agar ia bisa memanfaatkan waktu yang tersisa bersama sang istri tercinta sebelum pergi ke Utara.
Hari ini Pangeran Jun sudah membulatkan niatnya untuk bertemu Putri Lie di paviliun Bulan. Biarlah ia di cap sebagai pria yang tidak memegang ucapannya yang terpenting bisa memeluk istri tercinta lagi.
Setibanya di paviliun Bulan, pengawal yang menjaga di pintu depan menghalangi Pangeran Jun yang akan masuk.
"Maaf Yang Mulia Pangeran, Permaisuri tidak ingin di ganggu siapapun dan tidak mengijinkan orang lain masuk kedalam" ucap penjaga pintu.
Raut wajah Pangeran Jun berubah semakin dingin dantar memdengar kata orang lain yang di tujukan padanya.
"Aku suaminya bukan orang lain, jika kau sayang nyawa menyingkirlah" ucapan tajam Pangeran Jun membekukan kedua penjaga itu.
Sejak awal mereka juga sudah menduga jika akan mendapatkan hal itu jika menghalangi Pangeran Jun yang akan masuk. Tapi ucapannya kali ini lebih mirip orang yang siap membunuh membuat kedua penjaga itu bergetar.
Suasana di sana sangat lenggang hanya beberapa pelayan yang sedang bekerja dan pengawal yang patroli keliling paviliun.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Putri Lie di sana dan sudah bisa di pastikan jika istri tercintanya sedang dikamar. Pangeran Jun menuju kamar utama paviliun Bulan tetapi tidak menemukan apapun.
Ingatan Pangeran Jun tertuju pada kegiatan Putri Lie yang menurutnya berbahaya bagi seorang wanita. Di tambah lagi dengan tempat dan rintangan yang ia buat sendiri, membuat Pangeran Jun tahu kemana arah kakinya harus pergi.
Tepat dugaan, Pangeran Jun melihat Jei dan Mei yang sedang duduk menunggu di depan pintu halaman belakang tempat latihan istrinya. Keduanya terlihat semakin mesra dan dekat padahal belum lama Jei melancarkan misinya menaklukan Mei.
Jei yang sedang menggoda Mei tidak sengaja melihat kedatangan Pangeran Jun yang berjalan mendekati mereka. Kedua orang itu berdiri dan memberi hormat.
__ADS_1
"Salam Yang Mulia Pangeran" ucap keduanya menunduk.
Pangeran Jun hanya mengangguk saja lalu melangkah masuk tapi di tahan oleh Jei.
"Jangan Yang Mulia, emosi Permaisuri sesang buruk bisa-bisa anda menjadi sasaran emosi itu nanti" kata Jei mencoba menahan karena yang ia tahu Putri Lie sedang menghancurkan semua yang ada di halaman itu untuk meluapkan emosinya.
Tanpa menjawab peringatan dari Jei, Pangeran Jun mendekati halaman yang sudah sangat berantakan itu. Semua berserakan dan hancur dengan bekas potongan pedang.
Tatapan Pangeran Jun jatuh pada Putri Lie yang sedang berdiri sembari mengatur napasnya. Pakaiannya sudah tidak seseksi saat pertama kali latihan dan itu membuat Pangeran Jun senang karena merasa di hargai sebagai suami karena pendapatnya selalu di dengarkan.
Perlahan ia mendekat pada wanita yang sangat di rindukannya itu dan berencana memeluknya, tapi belum sempat itu terjadi sesuatu yang tajam mengenai kulit lehernya hingga mengeluarkan darah.
Pandangan mereka bertemu, Putri Lie memandang datar pada suaminya lalu mengalihkan tatapannya dan pergi dari halaman itu. Bahkan ia tidak menyadari jika leher Pangeran Jun terkena goresan pedangnya yang sudah berwarna akibat batang pohon yang ia habisi sebagai pelampiasan.
Bukan sakit pada lehernya yang membuatnya terluka tapi sikap acuh istrinya sangat menyakitkan bagi Pangeran Jun. Ia tidak menghiraukan lukanya yang mulai berubah warna keunguan dan memilih mengejar aang istri.
"Dimana Permaisuri?" tanya Pangeran Jun pada Jei yang masih di depan pintu halaman itu.
"Yang Mulia leher anda harus segera di obati" ucap Jei tapi sudah keburu di tinggal pergi.
Pangeran Jun melihat banyaknya pelayan yang berdiri di depan pintu kamar utama dan menghadang di depan pintu.
"Menyingkirlah" ucap Pangeran Jun.
Semua pelayan itu menunduk takut tapi tetap di posisi mereka.
"Apa kalian tuli?" bentak Pangeran Jun yang tidak juga di indahkan oleh mereka.
__ADS_1
Karena sudah geram dan kesal sejak tadi di halangi jika ingin bertemu istrinya, Pangeran Jun akhirnya memaksa mereka agar menyingkir dengan menarik dan melemparkan ke sembarang arah.
Baru satu langkah ia maju, kepalanya sudah pusing dengan sangat sakitnya namun Pangeran Jun menahannya karena ingin segera bertemu dengan Putri Lie.
Di dalam Putri Lie sedang menyisir rambut panjangnya dengan di bantu Mei. Pangeran Jun menepuk punggung Mei dan mengisyaratkan agar pergi meninggalkan mereka.
Mei pergi dari kamar Putri Lie dengan perasaan tidak enak karena ia melihat luka yang sudah semakin membiru itu. Ia meyakini jika itu kena pedang Putri Lie yang sudah di beri racun pelunak kayu.
Putri Lie yang sedang melamun tidak menyadari jika yang bersamanya sudah bukan Mei lagi. Pangeran Jun menggunakan kesempatan itu untuk memeluknya dari belakang dan menghirup aroma tubuh istrinya hingga puas untuk menyalurkan rindunya.
Lamunan Putri Lie buyar karena rasa geli di ceruk lehernya, juga hembusan napas hangat dengan aroma yang sudah pasti ia kenali.
Dengan segera ia berdiri dan mendorongnya menjauh lalu memberi tatapan membunuh untuk suaminya itu.
"Keluar" suara dingin itu begitu menyakitkan untuk Pangeran Jun yang sedang menahan sakit di kepalanya yang semakin menjadi.
Bukannya keluar Pangeran Jun justru mendekati Putri Lie dan berusaha untuk memeluknya lagi. Tapi Putri Lie menggeser tubuhnya hingga Pangeran Jun jatuh tepat pada meja di ruangan itu.
Karena sudah tidak bisa menahan sakitnya lagi Pangeran Jun bangkit perlahan dari tempatnya jatuh dan pergi tanpa memandang istrinya yang masih berwajah dingin dan tidak memperdulikannya sama sekali.
Jei menangkap tubuh Pangeran Jun yang terhuyung akan jatuh. Di bantu Jie dan Tei mereka membawa kembali Pangeran Jun ke paviliun Matahari.
Awalnya Jie mengusulkan untuk tetap di tempat Putri Lie tapi karena gelengan dari Jei membuat mereka harus membopong Pangeran Jun kembali dan memanggil tabib.
Sementara keadaan Putri Lie setelah di tinggal Pangeran Jun yang tidak melihat atau mengatakan apapun padanya jadi merasa kehilangan. Matanya melihat sesuatu di atas meja yang berwarna merah sedikit hitam dan itu membuatnya kelabakan sendiri.
Dengan cepat Putri Lie keluar dari kediamannya dan berlari menuju paviliun Pangeran Jun. Bahkan ia tidak menggunakan alas kaki apapun juga tidak memperdulikan pelayan dan pengawal yang mengejarnya dna meminta berhenti.
__ADS_1
Keinginannya saat ini hanya satu yaitu segera menemui suaminya yang sedang berdarah dan itu karena ulahnya. Apa lagi tadi sempat ia lihat wajah Pangeran Jun yang pucat dan matanya sayu semakin memuncakkan kekhawatirannya.
Putri Lie menerobos semua penjaga di depan pintu hingga yang berada di dalampun ia pukul begitu saja karena mencoba menghalangi langkahnya.