Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
77


__ADS_3

Pagi ini Putri Lie sudah di sibukkan dengan berbagai macam bahan untuk membuat bubur karena Pangeran Jun yang ingin bubur seperti kemarin. Awalnya Pangeran Jun tidak mengijinkan istrinya memasak tapi karena hanya Putri Lie yang tahu cara pembuatannya jadilah harus di kerjakan sendiri.


Tidak ingin sang istri bekerja sendiri di dapur maka Mei dan Tei ikut menemani Putri Lie memasak. Jei sempat protes tidak terima jika harus Tei yang menemani karena tidak ingin pujaan hatinya di dekati oleh laki-laki lain.


Dengan alasan pekerjaan tidak akan selesai jika Jei ikut karena dia pasti akan menggoda Mei terus jadilah ia tidak di ijinkan kedapur juga.


Akhirnya Jei pasrah melihat Tei pergi bersama kedua wanita itu pergi kedapur. Tei sempat mengejeknya dengan pura-pura ingin memeluk punggung Mei namun Jei tidak bisa apa-apa selain mengutuk Tei dengan kata-kata tidak berguna.


"Tei jika kau menyentuhnya aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia, kau tidak akan dapat pasangan seumur hidupmu, kau akan terus sendiri tanpa istri, kau akan sendiri selama hidupmu jika menyentuhnya" teriakan Jei begitu menggema di depan kamar Pangeran Jun hingga beberapa lorong lainnya.


Pangeran Jun dan Jie tidak bisa menyembunyikan tawa mereka saat melihat wajah kesal Jei yang sangat sayang jika tidak ditertawakan.


Dan itu membuat tingkat kekesalan Jei semakin meningkat, Pangeran Jun memintanya untuk memanggil tabib Yuan agar datang segera.


"Jei pergilah ketempat Yuan, panggil dia kemari secepatnya" ucap Pangeran Jun mencoba mengalihkan kekesalan Jei.


Jei mengangguk lalu pergi begitu saja setelah mendengar perintah dari tuannya. Jie yang sempat diam kembali tertawa lagi melihat tingkah temannya.


"Astaga kenapa aku bisa punya teman seperti itu ya? dia kan bukan gadis yang harus merajuk jika tidak di turuti kemauannya!" gumam Jie menghapus sedikit air matanya yang keluar karena terus tertawa.


"Tanyakan saja pada dirimu sendiri" ucap Pangeran Jun lalu pergi.


Jie langsung mengejar tuannya yang menjauh menuju gazebo di kolam ikan yang lebar.


Sedangkan di dapur...


Putri Lie meminta Mei menyiapkan alat-alat masaknya sementara dirinya menyiapkan bahan yang diambil Tei sesuai yang ia katakan.


Setelah semua siap mereka memulai masakan dengan Mei yang membuat kue, Tei di minta untuk memanggang danging sedangkan Putri Lie membuat buburnya. Kali ini ia ingin mencoba memberikan daging untuk buburnya karena akan bosan jika tidak ada variasi toping pikirnya.


Meski harus bergulat dengan asap juga api bakaran tapi Tei lumayan ahli dalam mengolahnya. Tei penasaran dari mana tuan putrinya itu mempelajari cara membuat bubur yang enak hingga tuannya sangat menyukai makanan itu.

__ADS_1


"Permaisuri! dari mana anda mempelajari semua masakan itu bukankah di kediaman Jendral Han banyak pelayan! apa mereka memerintahkan Permaisuri untuk memasak?" tanya Tei penasaran.


"Mau tahu saja atau mau tahu banget!" ucap Putri Lie


"Mau tahu banget lah Permaisuri" jawab Tei semangat.


Putri Lie tersenyum tipis melihat keantusiasan Tei yang ingin tahu itu. Padahal dia sendiri sedang kepanasan juga terlihat kesulitan bernapas karena asap yang sering menuju wajahnya.


"Seorang wanita memang harus bisa memasak terlepas dari apapun statusnya, lagi pula memasak itu memberi kita banyak pandangan tentang rasa juga kolaborasi sempurna untuk menciptakan masakan lezat" jelas Putri Lie.


Tei hanya mengangguk saja entah dia paham atau tidak dengan apa yang di katakan Putri Lie yang penting mengangguk.


"Kolaborasi itu apa Permaisuri?" tanya Mei bingung.


"Campuran atau gabungan" jawab Putri Lie lalu melanjutkan masaknya, padahal dia hanya mengarangnya saja yang penting masuk akal jawabannya batinnya dengan tersenyum geli karena wajah percaya keduanya.


Maaf ya aku hanya mengarang saja tadi, di kehidupan sebelumnya saja aku tidak pernah memasak hanya melihat mama melakukannya saja gumamnya dalam hati.


Namun Tei diam saja tanpa karena tidak mau mengganggu yang lain. Tei mengambil kain yang ada di dekatnya lalu merobeknya untuk dibalutkan pada lukanya.


Tei melanjutkan pekerjaannya setelah lukanya selesai di atasi. Masakan mereka dengan cepat karena saling bekerja sama bahkan Tei yang paling senang saat malihat hidangan di hadapannya siap di santap.


Kalau saja tidak ada Putri Lie di sana, sudah bisa di pastikan kalau bubur dan kue itu akan habis di buat Tei yang suka makan.


Putri Lie melihat kepala pelaya Hasim yang datang dengan lima pelayan lainnya kedapur dan menundukkan kepala hormat padanya.


"Permaisuri, mereka yang akan memasak mulai sekarang jadi jika anda butuh sesuatu untuk di makan katakan saja pada mereka" ucap kepala pelayan Hasim sopan.


Pandangan Putri Lie jatuh pada lima wanita di belakang kepala pelayan Hasim yang masih menunduk.


"Tambah lima orang lagi untuk memasak makanan bagi pelayan juga pengawal yang bekerja disini, setiap waktu istirahat bergilirlah kalian semua, separuh makan separuh tetap bekerja waktu istirahat setelah makan 15 menit saja karena yang belum makan pasti sudah lapar juga dan untuk yang sudah makan kembali bekerja lagi" ucap Putri Lie pada kepala pelayan Hasim.

__ADS_1


Meski dengan nada datar tapi itu sangat menyentuh bagi pelayan yang mendengarnya bahkan kepala pelayan Hasim juga sangat bahagia mendengarnya karena mendapat nyonya sebijak sana Putri Lie yang memperhatikan mereka juga.


"Baik Permaisuri, saya akan menambah pelayan dapur lagi dan melaksanakan apa yang anda perintahkan. Tapi pengeluaran kita akan semakin besar jika seperti Permaisuri! saya takut jika Yang Mulia Pangeran akan marah" ucap kepala oelayan Hasim.


Kedua tangan Putri Lie ia lipat di dadanya karena penuturan tidak masuk akal itu terlontar.


"Bagaimana mungkin Yang Mulia akan marah hanya karena pelayan dan pengawal yang bekerja seharian di sini memakan makanan yang ada di sini, mereka juga lapar jika kau tidak tahu itu dan tenaga dari mana yang mereka gunakan untuk bekerja seharian jika tidak makan. Kau pikir mereka sanggup bekerja jika tidak makan atau kau saja yang tidak usah makan atau selama ini kau mereka tidak kau beri makan!" marah Putri Lie pada kepala pelayan itu.


Kepala pelayan Hasim menunduk takut, ia tidak menyangka jika akan mendapat siraman kalbu seperti itu dari nyonya kediaman. Kepala pelayan Hasim juga jadi waspada karena pertanyaan terakhir Putri Lie.


"Maaf Permaisuri, mereka selalu makan hanya saja baru bisa makan jika pekerjaan sudah selesai di sore hari , itupun sisa makanan dari dalam kediaman" ucapan kapala pelayan Hasim yang membuat Putri Lie semakin marah padanya.


"Apa kau tidak waras baru memberi orang makan setelah bekerja seharian! oh sungguh aku tidak mengerti jalan pikiranmu, siapa yang memilihmu jadi kepala pelayan kau sangat tidak berguna" hardik Putri Lie.


"Saya di pilih langsung oleh ibu ratu saat Yang Mulia Pangeran mulai tinggal di sini, saya yang mengatur semuanya, tapi setelah Selir Yein masuk kekediaman ini semua di ambil alih olehnya dan peraturan itu beliau yang buat. Bahkan kami tidak dapat makan jika perkerjan kami tidak beres" kata kepala pelayan Hasim menjelaskan apa asanya.


"Jangan melempar kesalahan pada orang lain apa lagi orang yang sudah tidak ada disini lagi, harusnya kau lapor padaku saat aku datang bukan terus menjalankan peraturan itu. Kau memang sudah harus pensiun rupanya karena sudah semakin tua jadi tidak bisa bekerja lagi" kata Putri Lie santai tapi bagi kepala pelayan Hasim itu sangat menegangkan.


"Saya mohon jangan Permaisuri, saya masih harus mengobati anak saya yang sakit, amouni saya Permaisuri jangan pecat saya" kepala pelayan Hasim sujud di hadapan Putri Lie.


Segera saja Putri Lie menghindar dari hadapannya karena ia tidak suka ada sujud di hadapannya. Memangnya aku tuhan harus di sujudtin batinnya.


"Pengawal bawa dia pergi dari sini kurung dikamarnya nanti kembalikan dia pada ibu ratu setelah aku memberi kalian surat untuk beliau" kata Putri Lie.


Kepala pelayan Hasim di bawa pergi sesuai perintah Putri Lie. Karena dia pilihan sang ratu sendiri jadi Putri Lie hanya akan mengembalikannya saja, ia tidak ingin menyinggung perasaan ibu mertuanya itu dengan membuang pilihannya yang sudah lama bekerja untuk Pangeran Jun.


Surat itu akan menjelaskan semua pada Ratu sebagai perantara dirinya yang tidak bisa menghadap langsung pada Ratu Xiao mertuanya.


"Kalian masuklah dan siapkan makanan untuk kalian, pastika cukup untuk kalian semua" ucap Putri Lie lagi pada kelima pelayan tadi.


Kelima pelayan itu segera masuk dan melakukan pekerjaan mereka. Jei datang dengan senangnya mendekati mereka yang sudah akan pergi dari dapur.

__ADS_1


__ADS_2