Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
51


__ADS_3

Wanita itu melepaskan pelukan Pangeran Jun dan menatapnya dingin.


Pangeran Jun bingung melihat tatapan dingin dari istrinya itu, apa aku melakukan kesalahan? batin Pangetan Jun.


..."Siapa yang mengijinkanmu memelukku? jika suamiku tahu kamu akan di habisinya" ucapnya ketus...


"Dan aku suamimu sweetyy" kata Pangeran Jun dengan membuka penutup wajah wanita di depannya.


Tampaklah olehnya wajah cemberut sang istri yang sangat menggemaskan baginya, namun tidak lama kemudian air mata Putri Lie berjatuhan dan itu membuat Pangeran Jun gelagapan.


"Kenapa menangis sweetyy? ada yang sakit yang mana" tanya Pangeran Jun khawatir.


Bukannya menjawab Putri Lie justru memeluknya erat dengan tangis yang semakin terdengar. Tanpa sengaja tangan Putri Lie menyentuh luka di lengan Pangeran Jun yang sudah basah dengan darah.


"Ayo kita obati lukanya dulu" ucap Putri Lie masih dengan tangisnya hingga suaranya tersendat-sendat. Karena gemas Pangeran Jun mencubit pipi istrinya namun langsung di tepis sebelum mengenai sasarannya.


"Cepatlah sebelum infeksi" lanjutnya.


Sebelum melangkah jauh Putri Lie menatap orang yang sudah mencelakai Pangeran Jun masih terkapar, ia melepas tautan tangan mereka dan mendekati Keimu yang sudah di dekat Suhi.


Putri Lie memberikan racun yang mereka gunakan untuk menyakiti warga desa Ruhai.


"Kau tahu ini apakan, racun ini di gunakan untuk menyiksa warga desa dan itu perintahmu, sekarang nikmatilah hasil racikan ku yang enak ini" kata Putri Lie memberikan obatnya pengawal yang langsung memberikan pada Keimu dan Suhi dengan paksa.


Setelah menyaksikan sendiri racunnya di minum keduanya barulah Putri Lie membawa Pangeran Jun ke balai desa untuk mengobati lukanya.


Putri Lie sendirilah yang menobati luka sang suami karena tidak ingin ada yang menyentuh Pangeran Jun selain dia. Namun hal yang sangat membingungkan bagi Pangeran Jun adalah istrinya yang terus menangis.


Dia sendiri yang ingin mengobati tetapi dia juga yang menangis sendiri dengan alasan kasihan dan tidak tega.


Pengobatan yang penuh drama itu akhirnya selesai tetapi belum selesai dengan mood Putri Lie yang belum juga membaik.

__ADS_1


"Kamu ingin apa sweetyy? katakan saja" ucap Pangeran Jun bingung


"Mau di peluk sama di sayang-sayang" sahut Putri Lie cemberut


"Kemarilah istri cantikku, suamimu ini sudah siap" goda Pangeran Jun, tanpa menunggu lama Putri Lie langsung memeluk Pangeran Jun erat.


Centilani sadar dari pingsannya dan mendapati sang ibu yang sudah menangis di sampingnya. Kepalanya sakit setelah mencoba bangun, ingatannya kembali pada kejadian sebelumnya.


Karena merasa dirinya yang paling pantas untuk Pangeran Jun, Centilani memberanikan diri mengambil pakaian Putri Lie yang di letakkan di balai desa oleh pelayan. Ia sempat mendengar jika sang putri ingin memakai pakaian biasa seperti warga agar tidak terlihat mencolok.


Centilani yang mendengar hal tersebut langsung memiliki ide untuk mengambil pakaiannya yang paling lusuh dan di letakkan balai desa. Pelayan yang di minta Putri Lie mencari pakaian lusuh kembali kebalai dan menemukan pakaian itu.


Putri Lie memakai pakaian lusuh itu namun masih melapisinya dengan pakaian putih polos miliknya di dalam. Sedangkan Jei, Tei dan Mei, ia minta melakukan hal yang sama untuk penyamaran mereka.


Dua orang pelayan di minta kembali ke balai desa untuk menyiapakan makanan dan melayani seseorang yang memakai bajunya. Meski sempat bingung tetapi mereka tetap melakukannya dan benar saja jika ada orang yang mengenakan pakaian tuan mereka.


Centilani yang sudah memakai pakaian milik Putri Lie itu langsung memanggil pelayan yang baru masuk dan memerintahkan mereka menyiapkan makanan untuknya sedang dia sendiri bersantai dan berdandan untuk menunggu kedatangan Pangeran Jun.


Saat banyak makanan sudah tersedia di hadapannya, Centilani menyantap makanan itu dengan cepatnya tapi mengingat dia yang menjadi Permaisuri cara makannya berubah jadi pelan dan lembut.


Namun siapa yang sangka jika ia akan di datangi oleh dua orang pria berbaju hitam yang lansung menyeretn dan mencekiknya. Kemudian membawanya ke hadapan semua warga desa.


Bahkan ketika ibunya menangis karena melihatnya di sakiti oleh kedua orang itu pun dia tidak bisa mengakui diri sebagai Centilani jika masih ingin hidup. Apa lagi sang Pangeran juga tidak mengakuinya sebagai Permaisuri meski jarak mereka cukup jauh.


Lengkap sudah kemalangannya karena pakaian yang ia pakai, niat hati ingin menjadi seorang permasuri malah menjadi sasaran pukulan penjahat.


Centilani yang sedang melamun sembari menatap Pangeran Jun dan Putri Lie tersentak kaget karena ibunya menepuk tangannya.


"Apa yang kamu pikirkah? jangan macam-macam lagi nak, sudah cukup kamu membahayakan diri kamu sendiri demi khayalanmu itu" tegur sang ibu


"Itu bukan khayalan ibu tapi kenyataan yang harus aku dapatkan" bantahnya

__ADS_1


"Jangan membantah, jika kamu tetap melakukan sesuatu berdasarkan kehendakmu maka ibu tidak akan membantumu jika terjadi sesuatu yang mengancammu nyawamu lagi karena sudah ibu peringatkan" tegas ibunya.


Centilani mendengus tidak suka dengan apa yang di katakan oleh ibunya, baginya apa yang ia inginkan harus di dapatkan. Jika tidak bisa menjadi permaisuri maka selir pun aku terima batinnya sembari menatap Pangeran Jun yang sedang memanjakan Putri Lie


Pangeran Jun membelai lembut kepala sang istri agar tenang dari rasa khawatirnya, akan tetapi rasa penasarannya dengan apa yang terjadi membuatnya langsung bertanya.


"Sweetyy, apa yang terjadi sebenarnya? mengapa kamu memakai pakaian lusuh ini dan wanita itu memakai pakaianmu?" tanya Pangeran Jun.


Putri Lie tertawa mendengar pertanyaan suaminya yang sudah sangat penasaran bin kepo itu.


"Aku memiliki perasaan tidak nyaman saat kamu pergi dan juga aku merasa seperti akan terjadi sesuatu di desa, jadi aku mengimpulkan semua pelayan dan pengawal untuk merencanakan ini. Aku juga melihat si Centil itu mendengarkan pembicaraan kami jadi aku meminta pelayan meletakkan pakaianku di balai desa dan dia memakainya, itu sebabnya dia yang di tahan oleh Keimu dan Suhi. Perangkapnya manjur bukan!" ucap Putri Lie.


Pangeran Jun sampai di buat tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh istrinya yang sudah berpikiran sejauh itu dan menggunakan cara bersih untuk menjebak musuh tanpa celah dan tanpa di curigai oleh musuh itu sendiri.


Senyum Pangeran Jun mengembang sempurna mendengar ucapan Putri Lie, istrinya itu penuh dengan misteri dan juga pemikiran yang mengejutkan bagi Pangeran Jun. Ia semakin yakin jika Putri Lie mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa di lakukan wanita lainnya dan itu membuatnya bangga.


Keimu dan Suhi berada di gudang sedang meronta-ronta karena kesakitan akibat reaksi dari obat yang di berikan pada mereka. Racun itu sudah di campur dengan obat mati oleh Putri Lie, namun tidak lansung membunuh tetapi akan menyiksa lebih dulu.


Perlahan kulit Keimu dan Suhi membiru lalu muncullah benjolan-benjolan besar bernanah pada tubuh. Rasa panas dan sakit yang mereka sarakan benar-benar menyiksa hingga mereka berteriak minta langsung di bunuh dari pada di siksa hidup-hidup.


Pangeran Jun mendekati mereka dan melihat hal yang mengerikan itu, warga yang melihatnya pun ada yang muntah karena tidak tahan menyaksikan bagaimana mengerikannya tubuh mereka.


"Bagaimana rasanya di siksa?" tanya Pangeran Jun remeh


"Kau kejam, lebih baik bunuh kami saja" pinta Suhi


"Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah kalian lakukan pada warga desa ini, berbulan-bulan lalu kalian menyiksa mereka dengan kekeringan juga racun yang kalian berikan melalui obat dari tabib Ode. Bahkan kalian memaksa Mino dan Ode untuk melakukan semua yang kalian perintahkan dengan jaminan keluarga mereka yang kalian sekap, hanya menusia tidak berperasaan yang mampu malakukan itu semua" ucap Pangeran Jun dingin dan tajam.


Keimu tersenyum sinis mendengarnya.


"Kau hanya anak kecil yang tidak tahu apa pun, dendamku pada ayahmulah yang menyebabkan aku melakukan itu semua" ucap Keimu

__ADS_1


"Pemberontak sepertimu memang pantas mendapatkannya bahkan kematianpun tidak dapat menebus kesalahanmu yang bahkan sudah menyakiti dan membunuh banyak orang demi ambisimu, jadi nikmatilah rasa sikit itu sebagai balasan untuk semua perbuatanmu" sahut Pangeran Jun lalu pergi.


Keimu dan Suhi di kurung dalam gudang itu sembari menunggu utusan kerajaan datang membawa pemberontak itu untuk di adili pengadilan kerajaan. Tapi sepertinya mereka akan tiada sebelum utusan kerajaan tiba karena sudah sangat mengenaskan.


__ADS_2