Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
47


__ADS_3

Air yang mengalir ke desa sudah mengering lagi dan tanah basah kembali, walaupun tidak bisa langsung mengembalikan keadaan tetapi itu lebih baik dari pada kering kerontang.


Pangeran Jun menatap Jei dan Tei yang mengangguk padanya lalu Jei mendekat dan membisikkan sesuatu. Pangeran Jun segera melihat Putri Lie yang baru saja memberi obat pada anak-anak.


"Hari ini kita semua akan tinggal di balai desa dulu, besok setelah keadaan kalian lebih baik baru kita kembali ke rumah dan bersih-bersih" ucap Pangeran Jun.


Putri Lie mendekati suaminya dan di sambut pelukan pada pinggangnya posesive. Namun matanya mengisyaratkan kewaspadaan.


"Kita akan mulai membangun desa lagi seperti semula, air sudah banyak dan kalian tidak perlu takut kekurangan air lagi. Kita juga akan membangun irigasi untuk persawahan dan perkebunan kalian, jadi mohon kerja samanya" ucap Pangeran Ju lagi.


Warga desa Ruhai sangat senang tentunya dengan kabar itu, sudah lama mereka menantikan keadaan normal seperti dulu lagi dan sekarang saatnya mereka kembali mengolah dan membangun ulang desa mereka.


Perhatian Pangeran Jun kembali pada tabib Ode dan Mino yang masih terlihat sendu, apa yang terjadi pada mereka batin Pangeran Jun lalu melirik Jie dan mengkodenya untuk melakukan sesuatu.


Jie mengangguk dan meminta pengawal bayangan untuk menyelidiki Mino dan tabib Ode itu.


Sementara itu di hutan Barat desa


"Apa kalian sudah siap berperang?" tanya seorang pria


"Sudah bos, tinggal menunggu perintah" jawab ketua kelompok itu


"Bagus, dia sudah mengirimkan putranya ke tempat ini dan kita harus menghabisinya segera" ucap pria itu.


Dia lah Keimu, orang yang berencana memberontak pada kerajaan Xiao untuk mengambil alih kerajaan dan balas dendam atas apa yang pernah di terimanya.


Keimu sendiri merupakan kakak dari raja Xiao yang berarti paman dari Pangeran Jun. Keimu tidak terpilih menjadi raja karena sikapnya yang semena-mena pada orang lain.


Selain itu ia juga terbukti akan melakukan pemberontakan pada ayahnya sendiri untuk mendapatkan kursi raja dengan cara cepat.


Namun belum sempat niatnya terlaksana Ji adiknya sudah lebih dulu menemukan bukti penghianatannya dan menyebabkan ia harus mendapat hukuman mati.

__ADS_1


Tetapi ia melarikan diri dari penjara sebelum di eksekusi mati oleh kerajaan. Sejak saat itu Keimu menjadi orang yang di buron pihak pengadilan kerajaan.


Akan tetapi nasib baik masih saja memihak padanya yang melarikan diri ke arah Selatan dan bertemu dengan kelompok hutan Barat di dekat desa Ruhai yang terkenal dengan kemakmurannya.


Awalnya Keimu bertarung pada kelompok itu karena akan di rampok namun siapa sangka ia dapat mengalahkan ketua kelompok hutan Barat dan menjadi bos bagi kelompok itu. Dari mereka juga Keimu dapat menguasai desa Ruhai secara perlahan karena tidak ingin terlalu mencolok.


Keimu banyak menangkap keluarga penting di desa itu seperti anak dan istri dari Mino serta adik dari Ode. Ia memanfaatkan hal tersebut untuk menekan kedua orang itu agar membantunya menghancurkan desa dan membendung sumber air utama desa Ruhai untuk melancarkan aksinya.


Pengawal penjaga desa juga ia tangkap dan ikat di dekat air terjun Ruhai. Setelah keadaan desa kering dan banyak yang sakit, Keimu memerintahkan Mino untuk mengirim surat kekerajaan dengan dalih kemarau agar raja mengutus seseorang datang yang akan di jadikan sandera untuk menekan raja.


"Tunggulah pembalasanku Ji, tahta itu milikku dan dendamku padamu karena sudah menghancurkan harapanku akan segera terlaksana" gumam Keimu tersenyum miring.


Malam hari di balai desa


Para pelayan yang sudah menyelesaikan masakan mereka langsung membagi-bagikan makanan tersebut pada semua warga. Semua warga yang mendapatkan perhatian dari Pangeran Jun sangat berterima kasih.


"Terima kasih banyak Yang Mulia Pangeran, kami akan semangat membangun desa kami lagi" ucap salah satu pria tua


"Tidak masalah kakek ini juga tugas saya membantu warga desa ini" sahut Pangeran Jun.


"Wah Yang Mulia, aku akan mendekatinya tidak ada wanita yang kemarin itu juga" gumamnya.


Dengan percaya dirinya Centilani mendekati Pangeran Jun, ia juga merapikan penampilannya agar terlihat lebih cantik dan sempurna.


Putri Lie yang menyadari gelagat dari Centilani sudah tahu kemana arah gadis itu berjalan. Namun Putri Lie memilih diam di dekat Mei karena ia ingin tahu bagaimana reaksi sang suami jika di dekati wanita lain tanda ada dirinya.


Centilani berdiri di belakang Pangeran Jun dengan gaya centilnya, ia pura-pura batuk untuk menarik perhatian dari Pangeran Jun.


Uhuk uhuk


Mendengar suara dari belakangnya, Pangeran Jun langsung memutar badan dan melihat gadis yang membuatnya merasa tidak nyaman jika melihatnya.

__ADS_1


"Tei, beri dia beri obat batuk" ucap Pangeran Jun dan berlalu.


Sebelum benar-benar pergi tangan Pangeran Jun sudah di pegang oleh seseorang.


"Yang Mulia Pangeran saya sangat sakit, tolong saya" ucap Centilani.


Pangeran Jun yang di sentuh wanita lain merasa sangat marah dan tidak suka, wajahnya langsung terlihat semakin dingin dan datar seakan siap menikam.


"Lepas" ucapnya dengan tajam.


Centilani ketakutan dan melepaskan pegangan tangannya pada Pangeran Jun lalu menjauh, sedangkan Putri Lie mendekati Pangeran Jun karena tidak ingin keadaan semakin menakutkan bagi mereka yang sedang sakit.


"Honey, ayo kita kesana" ucap Putri Lie manja.


Suara manja dari Putri Lie mampu meredakan amarah Pangeran Jun yang langsung mengalihkan pandangannya pada Putri Lie. Senyum Pangeran Jun sedikit mengembang lalu mengangguk.


Putri Lie membawa suaminya menjauh dari Centilani agar tidak terjadi masalah pada banyak orang karena amarah sang suami.


Mei menyiapkan makanan untuk kedua tuannya yang memang belum makan apa pun sejak siang karena terus membantu mengobati warga yang sakit.


"Honey kamu makan dulu ya, sejak siang tadi kamu belum makankan" ucap Putri Lie menyuapkan makanan.


Pangeran Jun tersenyum senang mendapat perlakuan manis dari istrinya, ia menerima suapan dari Putri Lie dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Kamu juga belum makan bukan, jadi harus makan juga" ucap Pangeran Jun menyuapkan makanan juga pada istrinya.


Mereka makan berdua dalam satu piring makanan dan saling menyuapi satu sama lain.


Centilani sangat tidak suka dengan pemandangan yang membuatnya sakit mata itu, ia merasa lebih pantas bersanding dengan Pangeran Jun di bandingkan dengan Putri Lie.


Warga sebagai penonton jadi tersenyum-senyum sendiri melihat keromantisan antara suami istri itu, mereka awalnya mengira jika Pangeran Jun adalah seorang pangeran yang sombong dan arogan.

__ADS_1


Namun apa yang mereka lihat dan rasakan langsung dengan perhatian dan sikap Pangeran Jun pada mereka, mengubah pandangan buruk mereka semua pada sang pangeran.


Itulah sebabnya kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari apa yang kita dengar dan lihat sekilas saja, kenali lebih dahulu baru menilai jangan menilai dahulu baru mengenali karena itu hanya akan memberi kesyirikan hati saja.


__ADS_2