Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
95


__ADS_3

Di taman belakang itu sudah ada Jei dan Wuse yang sudah menanti disana untuk dapat belajar cara menembak.


"Sedang apa kalian berdua disini? kalian akan pergi lagi?" tanya Pangeran Jun lalu menatap istrinyaa.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, entah kamu sudah tahu atau tidak tentang ini" Putri Lie menyentuh diding namun sedikit kesulitan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pangeran Jun heran


"Disini ada pintu rahasia" ucap Putri Lie.


"Kalian tahu pintu tentang pintu itu?" kagetnya.


"Kamu tahu! bagaimana cara membukanya?" tanya Putri Lie balik.


Pangeran Jun melihat sekelilingnya lebih dulu, setelah memastikan tempat aman barulah ia maju mendekati istrinya dan mengetuk dinding itu tiga kali.


Dindingnya bergerak kekiri dan kanan membuka jalan masuk, keempat orang itu masuk kedalam dan pintu langsung tertutup kembali. Lampu-lampu menyala menerangi ruangan yang cukup luas disana.


"Ada lampunya juga disini, tapi kenapa pintunya berbeda dengan yang kita lewati semalam ya!" bingung Jei.


"Iya, ternyata ruangan ini lebih luas dari yang kita lihat semalam" sambung Wuse.


"Jadi kalian semalam pergi kehutan larangan meenemui kakek Sao!" kaget Pangeran Jun melotot pada kedua pengawalnya itu.


"Bagaimana kalau Permaisuri dilukai oleh singa-singa itu? bagaimana kalian bisa selamat masuk kesana dan menemukan jalan ini?" lanjut Pangeran Jun.


"Kamu mengenal kakek Sao dan tahu tentang semua yang ada didalam sana?" tunjuk Putri Lie pada lorong panjang disebelah mereka.


"Jika aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa membuka pintunya dan yang kalian lewati semalam pintu itu juga hanya saja jika dibuka dengan menyentuhnya hanya dapat membuka satu pintu tapi kalau diketuk seperti tadi akan terbuka dua sisinya" ucap Pangeran Jun.


"Oh begitu, kenapa kita yang sudah lama disini tidak tahu kalau ada pintu rahasia disini" gumam Jei


"Kalau banyak orang yang tahu bukan rahasia namanya" ketus Pangeran Jun membungkam Jei.


Putri Lie mendekati kotak yang semalam mereka tinggalkan disana lalu mengambil pistol dan beberapa peluru. Pangeran Jun mendekati istrinya yang sedang sibuk dengan pistol yang akan diisi peluru olehnya.


"Apa yang kamu lakukan sweetyy?" tanya Pangeran Jun penasaran.

__ADS_1


"Masukkan peluru" jawabnya singkat.


"Kamu juga bisa menggunakannya?" tanyanya lagi.


"Tentu saja, ini adalah mainan kesukaanku" jawab Putri Lie lalu berdiri setelah selesai dengan pistol dan oelurunya.


Putri Lie melemparkan satu persatu pistol itu pada Jei dan Wuse yang langsung ditangkap oleh keduanya.


Pangeran Jun mendekati dinding lalu menggesernya dan mengambil satu pistol lagi yang lebih bagus miliknya. Pangeran Jun menembakkan satu peluru pada papan yang ada didepan mereka tanpa melihat namun tepat sasaran.


"Kamu bisa menggunakannya juga" heran Putri Lie


"Tentu, akukan suami yang paling diidamkan banyak wanita jadi harus serba bisa" ucapnya dengan bangga.


Putri Lie menatap tajam suaminya yang membanggakan diri tentang dia yang banyak digilai wanita.


"Coba saja ulangi lagi kalau mau seperti tadi malam lagi" sarkas Putri Lie melunturkan kebanggaan Pangeran Jun yang langsung berwajah datar agar lebih aman. Gawat kalau sampai tidur dikursi lagi batin Pangeran Jun.


"Kalian cobalah sendiri, benda ini sama seperti panah hanya saja tudak perlu dua tangan untuk menggunakannya" jelas Pangeran Jun mengalihkan pembahasan agar istrinya tidak marah lagi.


"Sepertinya kita juga harus memberitahukan yang lain bagaimana cara menggunakan pistom agar bisa jadi senjata paling cepat digunakan dari jarak jauh" usul Putri Lie.


"Bisa saja, tapi tidak semua akan mempelajari senjata ini, selain mereka berdua juga ada Jie dan Tei, lalu semua prajurit bayangan akan mempelajarinya, ini akan sangat berguna bagi mereka yang selalu pergi lebih dulu memeriksa keadaan dan menjaga diam-diam" ucap Pangeran Jun.


"Tapi sepertinya waktu kita tidak banyak karena kamu akan pergi beberapa hari lagi" ucap Putri Lie.


"Kamu lihat mereka bukan, dalam beberapa jam saja sudah bisa menguasainya karena orang-orangku sangat cepat dalam hal belajar jadi satu hari cukup bagi mereka mempelajari benda ini" kata Pangeran Jun.


Melihat Jei dan Wuse yang sudah bisa menggunakan pistol membuat Pangeran Jun yakin jika pengawalnya yang lai juga mampu melakukan hal yang sama dengan mereka secara cepat.


"Jei, panggillah dua temanmu yang lain, kau dan Wuse jaga kediaman selama kami disini dan pastikan tidak ada yang tahu posisi kami ini" ucap Pangeran Jun.


"Baik Yang Mulia, kami undur diri" Jei dan Wuse pergi sesuai perintah tuan mereka.


Tinggallah suami istri itu disana berdua saja, Pangeran Jun tidak ingin melewatkan saat seperti ini untuk bertanya pada istrinya.


"Kamu belajar dari mana menggunakan benda ini sweetyy?" tanyanya.

__ADS_1


Putri Lie terdiam sejenak memikirkan alasan apa yang akan dia berikan pada sang suami agar tidak curiga. Tidak mungkin baginya menceritakan hal yang sesungguhnya tentang dirinya yang ada suaminya tidak akan mempercayainya.


"Entahlah, aku baru melihatnya semalam lalu mengikuti gerakan tanganku saja yang tiba-tiba melakukan itu" jawab Putri Lie santai padahal dalam hatinya sudah berdoa agar suaminya ini percaya.


Alasan apa itu tidak masuk akal, semoga saja dia percaya gumam Putri Lie dalam hati.


"Baiklah, coba kamu yang tembakkan aku ingin lihat" ucap Pangeran Jun.


Putri Lie menghela napas lega karena pembahasan tentang kemampuannya menggunakan pistol tidak diperpanjang lagi.


Segera saja Putri Lie menembakkan pistol yang dia pegang dengan asal-asalan supaya suaminya yang jeli itu tidak curiga lagi.


"Woah itu luar biasa sweetyy, kamu lebih mahir dari pada mereka berdua tadi" puji Pangeran Jun.


"Terimakasih, padahal aku tidak yakin bisa melakukannya tadi" ucap Putri Lie dengan senyum kecut takut ada pertanyaan lainnya yang membingungkan.


Tidak lama masuklah Jie dan Tei kedalam dengan Jei yang langsung keluar setelah teman-temannya masuk dan bertemu dengan Pangeran Jun juga Putri Lie.


Barulah Putri Lie benar-benar bisa bernapas lega dengan kedatangan kedua orang itu. Karena suaminya pasti akan memberi instruksi pada kedua pengawalnya itu.


Benar saja jika Pangeran Jun sibuk dengan kedua pengawalnya yang sedang belajar menggunakan pistol dan setelah keduanya selesai lanjut pada pengawal bayangannya yang masuk sebagian.


Puluhan pistol dan peluru ia bagikan pada para pengawalnya untuk mereka jadikan senjata rahasia pengganti panah meski tetap saja mereka akan membawa senjata yang sudah ada sejak awal.


Meski terabaikan oleh Pangeran Jun yang sibuk mengurus pengawalnya tetap saja Putri Lie merasa itu lebih baik dari pada harus diberondong pertanyaan yang tidak mungkin ia jawab dengan jujur.


Setelah selesai dengan latihan menembak mereka, Pangeran Jun menghentikan latihan mereka karena sudah siang dan ia sudah lapar. Pangeran Jun ingin merasakan masakan dari istrinya yang sangat ia sukai itu.


"Sweetyy aku lapar, kamu mau buatkan aku makanan tidak! aku bantu deh ya!" bujuk Pangeran Jun agar keinginannya dipenuhi.


Putri Lie tersenyum manis mendengar permintaan sang suami yang lebih terkesan seperti anak kecil yang sedang minta makan pada ibunya.


"Baiklah suami tampanku, kita akan buat makanan enak untukmu dan pasti akan lebih spesial lagi karena kita akan membuatnya bersama" ucap Putri Lie mencubit gemas pipi Pangeran Jun.


"Apa itu spesial?" tanyanya.


"Spesial itu istimewa honey, ayo kita buat" Putri Lie menggandeng lengan Pangeran Jun keluar dari tempat itu dan menuju dapur untuk memasak bersama.

__ADS_1


__ADS_2