
Tidak ada kado seistimewa kehadiran keluarga yang kita sayangi, bahkan barang termahal sekalipun tidak mampu mengalahkan keistimewahan dan kebahagiaan yang kita rasakan.
Hal itu pula yang di rasakan oleh Putri Lie yang tidak menyangka jika ayah dan kakaknya akan datang di tempat tersebut. Bahkan kehadiran mereka di luar prediksi Pangeran Jun yang mengira akan tiba malam hari.
Nyatanya mereka tiba menjelang sore dan itu membuat mereka yang sedang sibuk tidak sempat menunggu kedatangan mendadak mereka.
Jendral Han dan Min juga senang karena kesayangan mereka baik-baik saja bahkan sangat baik. Tubuh Putri Lie juga terlihat sedikit berisi, apa lagi pipinya yang bulat semakin terlihat chuby dan menggemaskan.
"Adik ipar, dimana adik kecilku? apa dia bersembunyi?" tanya Min pada Pangeran Jun.
Putri Lie yang mendengar ucapan kakaknya langsung cemberut, pasalnya dia yang sudah sebesar itu dan berada di samping sang kakak masih tidak terlihat.
"Kak! aku di sampingmu, kakak bagaimana sih sebesar ini saja tidak terlihat" gerutu Putri Lie kesal.
Pangliman Min menolehkan kepalanya ke samping menatap pada wanita di sampingnya dengan asebelah alis di naikkan.
"Benarkah? tapi adikku itu cantik dan lansing tidak gemuk sepertimu" ucapnya cuek.
Putri Lie yang mendengar kata gemuk keluar dari mulut kakaknya langsung cemberut dan tidak lama ia menangis di pelukan sang ayah.
"Ayah kakak bilang aku gemuk, kakak jahat" adunya pada Jendral Han yang hanya tersenyum. Ia juga merasa putrunya semakin gemuk setelah seminggu tidak bertemu, kamu pasti sangat bahagia bersama suamimu nak pikirnya.
"Kamu memang gemuk putri kecil ayah yang manja" ucap Jendral Han.
Tangis Putri Lie semakin pecah karena ayahnya juga mengatakan hal yang sama dengan kakanya.
"Ayah sama saja dengan kakak, jahat" kata Putri Lie dan beralih pada suaminya.
Pangeran Jun bahkan sudah sangat heran dengan sikap istrinya yang sering berubah dengan cepat. Jika saja ia tidak mampu membujuknya maka akan berakibat mogok bicara.
"Honey, ayah dan kakak bilang aku gemuk, apa iya aku gemuk?" Putri Lie meminta pendapat pada suaminya.
Pangeran Jun tersenyum dan memeluk tubuh Putri Lie dengan satu tangannya menghapus air mata sang istri yang masih mengalir.
"Kamu justru semakin cantik seperti ini sweetyy, dan untuk gemuk! ya kamu memang lebih berisi dari sebelumnya sih" ucap Pangeran Jun.
Putri Lie akan menangis lebih kencang lagi karena ucapan Pangeran Jun tetapi pelukannya meredam suara tangisnya.
__ADS_1
"Sweetyy, walau begitu aku lebih suka karena kamu terlihat lebih seksi juga lebih…" bisik Pangeran Jun tepat di telinga sang istri.
Kalimat terakhir yang di ucapkan Pangeran Jun membuat tangisnya mereda, berganti dengan pipinya yang memerah. Tangannya bergerak turun pada perut sang suami lalu mencubitnya manja.
Tidak ada rasa sakit sedikitpun dari cubitan itu karena perutnya yang keras berotot, namun Pangeran Jun tetaplah si jahil jika sudah bersama istrinya apa lagi jika melihat rona merah yang membuatnya gemas.
"Jangan di cubit sweetyy, lebih enak di elus atau di pegang" bisiknya lagi.
Merah sudah wajah Putri Lie hingga ia merasa malu untuk melepas pelukannya pada Pangeran Jun. Suaminya itu memang sangat senang membuatnya malu dengan kalimat-kalimat godaannya.
Pangeran Jun semakin tersenyum lebar mendapat pelukan erat dari Putri Lie yang takut ia melihat wajahnya yang malu. Pasti sangat menggemaskan apa lagi pipinya yang bulat dan merah itu batinnya dengan membalas pelukan erat istrinya.
Jendral Han dan Panglima Min pergi keluar dari ruang tengah paviliun itu karena tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
Entah apa yang mereka bicara hingga membuat kebahagian tampak sangat terpancar dari wajah Pangeran Jun yang tampak sedang Putri Lie sudah menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
Jei, Jie dan Tei yang melihat Jendral Han dan Panglima Min keluar segera berdiri karena di hampiri oleh keduanya.
"Dimana mereka berada sekarang?" tanya Jendral Han.
"Pemberontaknya dimana JJT?" jelas Panglima Min yang semakin membuat ketiganya bingung. Siapa JJT? batin mereka.
Jendral Han menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan menantunya yang tahan menghadapi tingkah ketiga pengawal pribadinya yang ajaib itu.
Bahkan ucapan mereka yang sudah di perjelaspun tidak bisa di pahami oleh mereka. Hingga suara dari dalam mengintrupsi mereka.
"Mereka ada di gudang ayah mertua, ingin melihatnya!" tawar Pangeran Jun
"Tentu" jawab Jendral Han singkat.
Pangeran Jun membawa mertua dan kakak iparnya menuju gudang tempat Keimu dan Suhi berada.
Ketika pintu gudang di buka aroma bau busuk sungguh menyengat hidung mereka bahkan Jei dan Tei menyingkir karena tidak tahan. Jendral Han dan Panglima Min di buat ternganga dengan apa yang mereka lihat.
Keimu dan Suhi sudah sangat mengenaskan dengan mata yang melotot dan tubuh yang penuh nanah dan darah. Sangat mengenaskan keadaannya yang bahkan tidak di kenali lagi jika bukan karena bekas luka di dadanya yang semakin parah.
Panglima Min keluar dari gudang dan muntah-muntah tidak tahan. Ia yakin jika adiknya melihat itu pasti akan menangis lagi atau bahkan muntah dengan parahnya akibat bau yang tidak tertahankan.
__ADS_1
Semua orang juga ikut keluar dari dalam dan menutupnya pintunya lagi, meski tidak menghilangkan baunya tetapi lebih baik dari pada di buka.
"Apa yang terjadi pada mereka hingga begitu mengerikan?" tanya Jendral Han
"Mereka meminum racun yang sering di konsumsi warga dengan dosis tinggi hingga seperti itu" jawab Pangeran Jun bohong karena tidak ingin istrinya terkena masalah dari mertuanya juga yang lain.
"Bagaimana bisa begitu? itu sangat menjijikkan" ucap Panglima Min
"Setiap kejahatan pasti ada ganjaran yang sesuai untuk itu" kata Pangeran Jun mengakhiri.
Pangeran Jun meminta pengawalnya menggali lubang untuk kedua orang yang sudah meninggal itu. Tidak jika di bawa kembali kekerajaan dengan keadaan seperti itu jadi Pangeran Jun memutuskan untuk menguburkan keduanya di desa Ruhai dan memberi tanda bahwa mereka adalah penghianat negara.
"Lalu dimana yang lainnya?" tanya Jendral Han
"Di hutan Barat desa, tidak jauh dari sana juga ada desa kecil yang merupakan tempat anak buah Keimu tinggal" jawab Pangeran Jun.
Panglima Min yang sudah geram dengan pemberontak itu meminta ijin pada ayah dan adik iparnya selaku Pangeran kerajaan untuk menyerang markas musuh.
Pangeran Jun mengijinkan hanya saja karena keadaan sudah malam penyerangan di tunda hingga esok hari. Jika mereka nekat menyerang yang ada mereka semua yang akan di serang ceramah oleh Putri Lie yang mudah bed mood.
"Sebaiknya besok saja kita kesana, sudah malam juga nanti adikmu itu marah" ucap Jendral Han.
Panglima Min dan Pangeran Jun mengengguk setuju dengan itu.
"Lae kecil itu sangat mengerikan jika marah yah" sahut Panglima Min
"Kita pulang saja sebelum ia mencari suaminya yang kita bawa ini" lanjut Jendral Han menepuk pundak menantunya dan
"Kau hebat menantuku" tambahnya dan pergi.
Pangeran Jun tersenyum mendengarnya akan tetapi setelah mendengar ucapan kakak iparnya ia jadi bingung.
"Dengan pengawal pribadimu yang luar biasa aneh" bisik Panglima Min.
Beberapa saat berpikir barulah sang pangeran mengerti maksud keduanya. Pantas mereka masih di depan pintu dengan di hadapkan wajah aneh ketiga pengawalnya ketika dia keluar tadi, ternyata trio macannya mengalami kelambatan berpikir.
Penyakit lama kambuh lagi harus di segera di perbaiki batin Pangeran Jun dengan melangkah mengikuti yang lainnya kembali ke paviliun.
__ADS_1