Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
94


__ADS_3

"Esi" panggil Pangeran Jun lalu muncullah cahaya dari cincinnya yang ada di jari tengah tangan kanannya. Seekor binatang dengan kepala dan sayap elang, sedangkan tubuhnya seperti singa dengan ekor panjangnya.


Warna emasnya mamancar cerah dan terang membuat Putri Lie sangat terpesona. Bentuk tubuhnya yang unik semakin membuatnya tidak mampu mengalihkan perhatiannya.


"Woah, ini luar biasa" gumam Putri Lie kagum.


"Ini perpaduan antara elang dan singa ya!" lanjutnya lagi sembari menggerakkan tangan suaminya yang sejak tadi menggenggam tangannya.


"Iya, inilah yang cukup sulit untuk ditaklukkan bahkan aku harus melawannya lebih dulu untuk menariknya" sahut Pangeran Jun.


"Hormat tuan, ada tugas apa?" ucap Esi dengan suara yang tegas dan menyeramkan.


"Esi, ini istriku, aku ingin kamu memberikan tandamu padanya agar aku juga dapat merasakan apa yang terjadi padanya" ucap Pangeran Jun.


"Baik tuan" Esi turun dan menapak pada lantai lalu mendekati tuannya yang bersama sang istri lalu menyentuhkan paruhnya pada telapak tangan Putri Lie.


Tidak seperti sebelumnya yang tidak berefek apapun pada Putri Lie. Kali ini tubuhnya terasa seperti tersengat listrik bahkan hampir saja ia tumbang jika Pangeran Jun tidak memegangnya dari belakang.


"Terimakasih Esi, kembalilah" ucap Pangeran Jun.


Esi memberi hormat lalu pergi masuk kembali kedalam cincin Pangeran Jun yang memang berwarna emas. Putri Lie mengatur napasnya sejenak agar tubuhnya juga tenang.


"Kekuatannya sangat besar, dia bahkan lebih kuat dari Red dan Bru" ucap Putri Lie


"Esi adalah rajanya tentu saja dia lebih kuat dari yang lainnya, apa lagi Esi sudah terikat kontrak darah denganku jadi dia tidak bisa diberikan pada orang lain begitu saja" kata Pangeran Jun.


"Maksud kamu dia raja dari Red dan Bru? lalu kenapa dia mau terikat darah dengan kamu?" cecar Putri Lie.


"Tidak hanya mereka berdua tapi masih banyak lagi, hanya saja tidak mudah mendapatkan mereka semua, jika kemampuan kita tidak bisa mengimbangi mereka yang ada tubuh kita akan sangat lemah dan kehilangan kekuatan, kalau soal kontrak darah itu karena ini" Pangeran Jun menunjuk bekas luka di lengan kanannya.

__ADS_1


"Ini kenapa?" tanyanya bingung.


"Saat kami bertapa didalam gua itu tepat ditiga bulan kami akan menyelasaikannya, Esi datang padaku dalam tapa itu seperti Red dan Bru hanya saja auranya jauh lebih kuat dan mengerikan. Esi menyerangku tiba-tiba hingga aku tidak sempat mengelak lagi selain merelakan lengan kanan ini robek karena paruhnya yang justru malah ia menelan darahku karena lukanya cukup dalam. Dia meronta-ronta dan langsung muncul dihadapanku ketika aku membuka mata, guru sangat kaget karena melihat kami sudah terikat kontrak darah lalu memintaku membawanya juga sebagai pengikut, tapi aku belum pernah menggunakan mereka semua selain waktu itu" ucap Pangeran Jun.


"Waktu kapan?" Putri Lie menajamkan pendangannya pada sang suami yang menggantung ucapannya.


"Jadi istriku yang cantik, wanita yang dulu mendekatiku itu tidak suka ketika aku menolaknya jadi dia meminta bantuan pada seorang pria pemujanya untuk membunuhku. Sedang dia sendiri masih saja menggodaku dengan berbagai cara, yang ternyata itu merupakan trik darinya untuk semakin memancing amarah pemujanya padaku yang langsung menyerangku. Saat kami melawan mereka semua, diam-diam wanita itu menyerangku dari belakang dengan melemparkan racun pelemah otot bersamaan dengan pisau kecil, untung saja Esi, Red dan Bru langsung bergerak dengan membawaku pergi dari sana tanpa mereka sadari, begitupun dengan Jie, Jei dan Tei"


"Siapa nama wanita itu?" tanya Putri Lie kesal


"Namanya Sara, sejak saat itu aku tidak mau lagi didekati oleh wanita manapun bahkan ibupun aku jauhi juga karena tidak ingin mengalami hal yang sama lagi, ketika pernikahanku dengan selir-selir itu juga aku tidak mendekati mereka. Tapi yang membuatku heran, kenapa kamu mampu membuatku mendekat padamu bahkan aku sendiri tidak bisa mengendalikan diri ketika didekatmu, ingin selalu menyentuhmu" tangan Pangeran Jun membelai pipi Putri Lie lembut.


Tapi yang terjadi adalah tangan itu ditepiskan oleh siempunya pipi karena masih kesal.


"Meskipun begitu hukuman tetap hukuman, turun dan tidur dibawah atau tidak ada jatah dua bulan kedepan" ancam Putri Lie galak lalu merebahkan tubuhnya memunggungi sang suami yang terlihat shock.


"Tapi sweetyy, aku belum mendengar ceritamu tentang perjalanan kamu hari inikan! jadi ayo ceritakan" Pangeran Jun mencoba untuk membujuk istrinya lagi.


Dengan terpaksa Pangeran Jun turun dari ranjangnya dan melihat lantai yang hanya beralaskan permadani berbulu halus. Pandangan Pangeran Jun beralih pada kursi panjang yang ada di sudut ruangan itu dan memilih untuk tidur disana saja dari pada di lantai.


Bisa saja Pangeran Jun tetap memaksa tidur di ranjang dengan istrinya tapi karena sudah diancam tidak akan mendapatkan jatah membuatnya bergidik tidak sanggup.


Lebih baik mengalah dulu dari pada tidak dilayani nantinya bisa gawat adikku ini gumam Pangeran Jun dalam hati. Lalu merebahkan tubuhnya dikursi dan memejamkan mata karena sudah sangat mengantuk.


Tidak lama Putri Lie membuka matanya karena memang belum tidur sepenuhnya. Ia duduk dan melihat kebawah tapi tidak menemukan sang suami, lalu pandangannya jatuh pada kursi panjang yang terdapat tubuh kekar suaminya yang meringkuk berselimut jubahnya.


Meski tidak tega tapi Putri Lie tidak ingin memanggilnya, ia kembali berbaring dan tertidur lelap tanpa menghiraukan suaminya itu. Biar saja dia disana siap suruh membuatku kesal gumamnya dalam hati.


Pagi ini Pangeran Jun benar-benar merasa seluruh tubuhnya sangat sakit dan pegal akibat tidur di kursi bahkan ia bangun karena terjatuh dari sana. Setelah kejadian itu Pangeran Jun meminta pelayan menyiapkan air hangat dengan aroma terapi untuknya.

__ADS_1


Jadilah Pangeran Jun masih berendam sisana untuk merelakskan otot-ototnya kembali. Cukup alam ia berendam tanpa mau sudah karena merasa nikmat dengan sensasi menenangkan aroma terapi milik istrinya yang benar-benar menenangkan.


"Lama sekali sih! tidak bisa gantian mandinya, mau jadi ikan kamu tidak keluar-keluar dari air!" ucap Putri Lie yang sudah bersiap masuk juga kedalam pemandian.


"Kalau mau mandi ya masuk saja, seperti siapa saja yang didalam" sahut Pangeran Jun santai sembari memejamkan matanya.


Karena diabaikan suaminya, Putri Lie yang sudah berada didalam air langsung menyiram suaminya tepat mengenai wajah tampannya.


Pangeran Jun kaget dengan hal itu segera membuka mata dan mendapati istrinya yang pura-pura menggosok tangannya lembut. Ide jahil Pangeran Jun datang, ia langsung menerjang tubuh istrinya hingga mereka berdua tenggelam lalu muncul kembali dengan keadaan sama-sama basah.


Putri Lie yang tidak berniat membasahi rambutnya merasa kesal dengan tingkah suaminya yang menyebabkan rambutnya basah begini.


"Kamu apa-apaan sih? basah nih rambut aku!" protes Putri Lie manyun.


"Maaf sweetyy tadi ada serangga yang membuatku kaget jadi aku tanpa sengaja menerjangmu" ucap Pangeran Jun dengan wajah memohon maaf.


"Bilang saja sengaja balas dendam, iyakan!" kata Putri Lie.


"Itu kamu tahu" sahut Pangeran Jun lalu tertawa penuh kemanangan.


Karena tidak terima, Putri Lie kembali menyiram suaminya lagi dan mendapat balasan darinya. Mereka jadi bermain air bersama layaknya pasangan yang sedang pacaran.


Setelah selesai mandi dan sarapan, Pangeran Jun berniat kembali ke paviliun Matahari tapi dicegah oleh Putri Lie.


"Kamu mau kemana?" tanya Putri Lie memegang tangan suaminya yang akan pergi.


"Keruang baca, aku ingin menyelesaikan laporan sedikit lagi" jawab Pangeran Jun.


"Bisa ikut denganku sebentar?" tawarnya

__ADS_1


"Kemana?" tanya Pangeran Jun


"Nanti kamu akan tahu juga, ayo" Putri Lie menarik suaminya yang masih ia pegang tangannya dan membawanya ke taman belakang tempatnya berlatih.


__ADS_2