
Pangeran Jun dan rombongannya berjalan mendekati desa tempat buronan. 50 m dari sana datanglah prajurit bayangan yang sudah mengintai tempat itu lebih dulu.
"Lapor tuan" ucapnya memberi hormat.
"Katakan"
"Benar kalau desa itu di tempati oleh Yein juga keluarganya, mereka juga sudah mengirim orang untuk menangkap Permaisuri"
"Tuan apa yang harus kita lakukan?" ucap Jie.
"Tenanglah percaya saja pada mereka" ucap Pangeran Jun yang menenangkan dirinya sendiri untuk percaya pada istrinya.
"Berapa jumlah mereka semua?" lanjutnya.
"Semuanya ada 80 orang tuan, sebagian besarnya itu pria yang mereka culik untuk menambah kekuatan" jelasnya.
Pangeran Jun mengangguk mengerti akan penjelasan itu.
"Apa kita perlu memanggil prajurit lainnya tuan?" tanya Tei.
"Tidak perlu kita gunakan cara yang halus untuk mereka" ucap Pangeran Jun.
"Kau kembalilah kesana segera dan terus amati pergerakan mereka"
"Baik tuan"
Prajurit bayangan itu kembali melesat pergi, sekejab saja ia sudah tidak terlihat lagi. Pangeran Jun melanjutkan perjalanan mereka keperbatasan.
Ada sebuah rumah sederhana disana tapi sudah tertutu oleh rumputan merambat.
"Buat jalan untuk bisa masuk kedalam dan periksa" ucap Pangeran Jun.
Jie masuk dengan dua prajurit untuk membuka pintu masuk. Tidak lama mereka keluar lagi.
"Aman tuan"
Mereka masuk kedalam rumah sederhana itu, dalamnya lembab karena benar-benar sudah tertutup oleh rumput disekelilingnya.
Setelah di buat beberapa celah barulah tempat itu terasa hangat oleh cahaya matahari yang masuk kedalam.
"Kita istirahat di sini dulu"
Mereka duduk bersama dilantai yang sudah kering dengan beralaskan kayu yang sudah dibawa masuk dari luar.
Makanan sederhana yang mereka bawa cukup untuk mengisi perut. Selesai makan barulah Pangeran Jun kembali mengatakan idenya.
"Karena mereka suka menculik pria untuk dijadikan anak buah jadi kita juga harus bergabung" ucapnya.
"Maksud tuan kita bergabung bagaimana?" tanya Jie.
"Kita kesana dengan pura-pura jadi pengemis seperti ini, kita juga akan beralasan jika tersesat saat menuju kota kalau mereka setuju kita masuk dalam kelompok mereka hasut satu persatu orang disana agar mau melepaskan diri tapi pastikan lebih dulu siapa mereka dan kehidupan mereka sebelumnya baru bertindak.."
__ADS_1
"Jika ada aba-aba seperti biasa maka serang" jelas Pangeran Jun.
"Apa mereka akan mau menerima kita tuan?"
"Tentu saja mau karena kekuatan besar sangat mereka butuhkan untuk mencapai tujuan"
"Kami mengerti tuan"
"Buat wajah juga baju kalian seperti gembel sungguhan" ucap Pangeran Jun.
"Lalu tuan sendiri! tidakkah Yein akan mengenali anda?"
"Tananglah aku bisa menyamarkan wajahku seperti orang lain" seringai Pangeran Jun.
Mereka mulai mencoreti wajah dengan tanah kotor seadanya pada wajah juga pakaian yang sedikit dilumuri tanah basah agar terlihat seperti layaknya gembel jalanan yang tidak terurus.
Pangeran Jun sendiri menggunakan sesuatu yang dia ingat pernah dilakukan oleh istrinya ketika marah padanya. Tompel besar dipipi dan atas mata lalu bagian dagunya ia buat seakan-akan bekas luka dari goresan ranting.
Sempurna, mereka semua sudah mirip seperti gembel lemah yang sangat memprihatinkan. Tubuh tegap mereka juga tertutup oleh pakaian lusuh yang kebesaran dan kotor.
"Tuan saya punya firasat kalau mereka tidak akan menerima kita" ujar Jie.
"Benar tuan karena tidak mungkin kita muncul secara besar-besaran seperti ini bukan!" sambung Tei.
"Kalau mereka menolak atau menghina kita, serang langsung pada titik lemah" kata Pangeran Jun
"Siapa tituk lemahnya?"
"Kalau perlu langsung sekap Yein tuan"
"Kau saja aku lebih suka membunuhnya" ucap Pangeran Jun dingin.
Tei diam tanpa berkata lagi, ia tahu jika tuannya tidak suka jika dekat-dekat wanita lain selain istrinya yang cantik itu.
Mereka berangkat semakin masuk kedalam kedesa yang tidak luas itu. Hingga tiba-tiba mereka dikepung oleh orang-orang yang diyakini adalah kelompok penghuni desa ini.
"Siapa kalian?" tanya seorang dari mereka.
"Kami hanya pengemis yang akan menuju kota tuan" ucap Pangeran Jun.
"Dari mana asal kalian? sudah kotor bau lagi menjijikkan" ucapnya.
Jie berjanji kalau orang ini akan mati ditangannya nanti karena sudah menghina pangeran mereka. Begitupun dengan Tei yang sangat geram dengan orang itu hingga ingin mencabiknya kalau bukan karena misi.
"Kami tidak memiliki tempat pasti tuan, kemana langkah kaki membawa kami maka disanalah kami, dimana ada makanan disanalah kami tinggal" ucap Tei menahan geramnya.
"Beri kami makanan tuan" ucap Jie.
"kalian pikir siapa kalian ini meminta makan pada kami" ucapnya meremehkan.
"Benar kami saja harus mencuri dan membunuh baru bisa makan" timpal temannya.
__ADS_1
"Sedikit saja tuan agar kami bisa mengisi perut" ucap prajurit Pangeran Jun lainnya.
"Cih kami tidak punya makanan, kalian boleh makan kalau sidah menghasilkan uang seperti kami"
"Bawa saja mereka kegudang menunggu tuan putri dan ketua pulang"
"Ya sudah kurung digudang"
Pangeran Jun dan yang lainnya dibawa kegudang. Mereka dikurung didalam tempat gelap juga kotor disana bahkan banyak tikus yang bersarang disana.
Benar-benar tidak layak untuk ditinggali oleh seseorang.
"Tuan bagaimana? kita serang saja mereka" ucap Tei dengan wajah marahnya.
"Iya tuan mereka benar-benar keterlaluan memberi kita tempat seperti ini" ucap Jie marah juga.
"Iya tuan kita serang mereka saja, tidak masalah kita kalah jumlah yang penting menang tenaga juga kekuatan" ucap lainnya.
Karena semuanya sudah menyuarakan setuju untuk menyerang maka akhirnya merekapun menyerang.
"Kita beri mereka kejutan yang luar biasa" ucap Pangeran Jun.
"Buka jendela itu, kita keluar dari sana" tunjuknya pada jendela yang mengarah kebelakang.
Dua orang mendekati jendela itu lalu membukanya. Setelah terbuka satu persatu mereka melopat keluar dari ruangan yang lebih pantas disebut sebagai rumah tikus itu.
"Semua sudah keluar?" tanya Pangeran Jun
"Sudah tuan" jawab mereka.
"Bagus, Jie bawa sebagian keluar lebih dulu, Tei tahan disini sebagian tunggu kode baru keluar, aku akan mencari dimana Ri dan istrinya supaya mereka tidak kabur nanti" ucap Pangeran Jun.
"Baik tuan, tapi sebaiknya tanya pada.."
Muncullah dua orang prajurit bayangan yang berada disana juga menghentikan kalimat Tei yang belum selesai.
"Tuan" ucap keduanya.
"Jika bukan teman pasti sudah ku pukul kalian berdua" kesal Tei tapi tidak ada yang menanggapinya.
"Kalian berdua ikut aku ketempat Rie berada untuk menahan keduanya" ucap Pangeran Jun.
"Lebih baik kita habisi mereka saja tuan untuk Rie dan istrinya sudah kami bereskan saat mereka menahan tuan dan yang lainnya tadi"
"Bagus kalau begitu panggil teman kalian yang lain untuk bersiap" ucap Pangeran Jun.
"Baik tuan" keduanya kembali menghilang lagi dengan cepat.
"Datang tidak di undang pulang tidak di antar seperti hantu saja" gerutu Tei.
"Simpan gerutuanmu itu waktunya beraksi" ucap Jie membawa keluar sebagian prajurit yang sudah bersiap dengan tangan kosong lebih dulu karena senjata mereka diselipkan di balik pakaian.
__ADS_1