Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
126


__ADS_3

Sesuai jadwal yang sudah ditentukan hari ini merupakan pengangkatan Pangeran Jun menjadi Putra Mahkota.


Banyak pula rakyat yang sangat antusias dengan penobatan ini hingga mereka juga hadir di istana untuk menghadiri acara penobatan Pangeran Jun meski tidak bisa masuk semuanya.


Mereka sudah merasa cukup puas denga bisa hadir dan ikut memeriahkan acara tersebut.


Penjagaan sangat ketat di buat oleh Raja Xiao yang tidak ingin ada masalah dengan acara ini.


Setiap orang diperiksa seluruh tubuhnya untuk memastikan tidak ada benda tajam atau senjata yang mereka bawa. Pengamanan sendiri di kawal langsung oleh Jendral Han dan Hakim Zhang.


Bahkan beberapa panglima juga nampak memimpin pasukannya untuk berkeliling istana dan sekitarnya untuk memastikan keamanan.


Pangeran Jun sendiri sedang berduaan dengan Putri Lie sembari bersiap dengan pakaian mereka yang berwarna keemasan seragam. Putri Lie duduk di kursi sambil melihat suaminya yang masih mengambil beberapa barang miliknya.


"Honey" panggilanya.


"Ya, butuh sesuatu sweetyy" sahut Pangeran Jun mengalihkan perhatiannya pada sang istri sembari membawa sesuatu di tangannya.


"Apa itu?" tanya Putri Lie


"Tidak tahu, ibu yang berikan ini semalam katanya untuk kamu diikatkan di sini" Pangeran Jun memasangkan selendang berwarna merah muda pada perut Putri Lie yang nampak membuncit.


"Sulamannya cantik"


"Iya ini buatan ibu"


"Benarkah?" kaget Putri Lie.


Pangeran Jun mengangguk seraya berdehem menjawab istrinya dengan tangan yang masih sibuk memasang selendang itu sesuai arahan Ratu Xiao.


"Kapan ibu kasih ini? kok aku tidak tahu!"


"Tadi pagi waktu kamu belum bangun, ibu datang kasih ini"


"Selesai" seru Pangeran Jun setelah selendang pemberian ibunya terpasang indah membalut perut sang istri yang terdapat buah cinta mereka.


"Coba berdiri" Pangeran Jun memegangi tangan Putri Lie membantunya berdiri.


Mereka berdiri berhadapan lalu Pangeran Jun sedikit mundur dari tempatnya dua langkah untuk menilai penampilan istrinya.


Senyum Pangeran Jun merekah melihat istrinya yang luar biasa cantiknya meski perutnya sedikit membuncit tapi tidak dapat menutupi pesonanya yang sangat kuat.


"Kamu luar biasa istriku" pujinya menatap memuja pada Putri Lie.


"Kamu juga sangat luar biasa suamiku" sahut Putri Lie mendekati suaminya lalu memeluknya mesra.


Tangan Pangeran Jun merengkuh pinggang Putri Lie untuk merapatkan tubub mereka.

__ADS_1


"Siapa dulu istrinya? kalau suaminya tidak luar biasa nanti tidak sebandingkan" kata Pangeran Jun mengedipkan sebelah matanya.


"Kaya kelilipan aja matanya di gituin" ucap Putri Lie.


"Kalau kelilipan kamu aku pasti rela dan ikhlas"


Senyum keduanya saling bersambut manis dan indah. Pangeran Jun mengecup mesra pebuh kasih sayang kening istrinya.


"Maaf Yang Mulia Pangeran, sudah waktunya kita ketempat penobatan" ucap Jie dari depan.


Pangeran Jun menatap istrinya yang masih dalam dekapannya yang tengah menatapnya juga.


"Ayo kita pergi Putri Mahkotaku alias Ratu Hatiku" ucap Pangeran Jun berbisik di kata terakhirnya.


Putri Lie tersenyum malu mendengar godaan dari suaminya tapi tidak bisa di pungkiri jika dia merasa sangat senang akan hal tersebut.


Pangeran Jun dan Putri Lie di iring menuju aula istana yang lebih luas untuk tempat penobatannya yang di hadiri tidak hanya dari kerajaan tetangga tapi juga rakyat biasa mereka yang sangat antusias menyambut penerus kerajaan mereka yang baru.


Sejak tiba di sana bahkan masih di luar pun para rakyat banyak yang memuji suami istri tersebut. Mereka sangat terpesona dengan pasangan yang akan melanjutkan kekuasaan menjadi pemimpin mereka nanti.


Di dalam aula tidak kalah antusiasnya sambutan mereka semua. Para pria juga tidak segan-segan memuji kecantikan Putri Lie yang sangat menonjol dari yang lainnya hingga memancing sisi kecemburuan Pangeran Jun muncul.


Sang Pangeran semakin mengeratkan pegangan tangannya pada tangan istrinya yang memeluk lengannya.


Penobatan lansung di lakukan oleh Raja Xiao untuk meminimalisir jika ada sesuatu yang akan terjadi. Pangeran Jun di minta naik mendekati ayahnya yang berada di atas singgasananya.


Putri Lie sendiri mendekati ibu mertuanya dan duduk disana. Dengan usia kandungan yang sudah memasuki bulan ke 4 ia memang sudah tidak tahan jika harus berdiri terlalu lama.


Anak Perdana Mentri Haki yang sangat menggilai Pangeran Jun tidak terima karena ada wanita lain yang begitu dekat dengan sang pangeran.


Ia menyerang Putri Lie dengan berbagai cara yang halus namun masih dapat dihindari oleh Putri Lie sendiri. Hingga akhirnya ketika Putri Lie sedang bersantai dengan Ratu Xiao ia menggunakan kesempatan itu untuk menyerang kandungan sang putri yang dia anggap sebagai penghalang jalannya mendekati Pangeran Jun.


Seorang pelayan Ratu Xiao ia bayar mahal untuk melakukan kejahatan itu. Anak Perdana Mentri Haki dengan beraninya memberikan obat penggugur kandungan pada Putri Lie melalui palayan ratu.


Putri Lie yang sangat mudah haus juga lapar tidak pernah memikirkan akan bahaya yang mengintainya. Apa lagi dia yang berada di tempat sang ratu.


Saat minum dengan ratu tiba-tiba seorang pelayan menghentikan Putri Lie dengan cara merebut minuman yang baru tertelan sedikit itu.


Pelayan itu meminta sang putri memuntahkan air yang sudah ia minum dengan wajah sangat khawatir juga ketakutan. Karena sudah tertelan bagaimana air itu bisa di muntahkan lagi.


Akhirnya perut Putri Lie merasakan sakit hingga tubuhnya lemah akibat menahan rasa sakitnya.


Ratu Xiao meminta pelayan membantunya membawa menantunya kedalam dan memanggil suami dan anaknya.


Tabib yang memeriksa sang putri mengatakan jika salah satu anak yang dikandung Putri Lie telah tiada dan harus dikeluarkan.


Semua orang yang mendengarnya tentu sangat terkejut mendengar hal tersebut hingga Ratu sendiri pingsan mendengarnya.

__ADS_1


Putri Lie yang ternyata hamil anak kembar harus kehilangan seorang bayi yang bahkan belum lahir itu.


Bayi yang sudah tiada dikeluarkan dari perut sang putri dengan bantuan tabib wanita itu yang menekannya keluar dan dorongan dari Putri Lie sendiri yang langsung pingsan setelah bayinya keluar.


Pangeran Jun dan Raja sangat marah saat seorang pelayan yang melarang Putri Lie minum memberi tahukan jika ia menemukan sesuatu yang menurut tabib itu obat penggugir kandungan dosis tinggi.


Dari sanalah semua pelayan yang melayani ratu juga putri di introgasi langsung oleh pangeran dan raja.


Hingga akhirnya ketahuan pula siapa yang memberikan obat tersebut. Pelayan itu mengalu jika ia di suruh oleh anak Perdana Mentri Haki yang tidak menyukai snag putri yang hamil anak Pangeran Jun.


Keluarga Perdana Mentri Haki dipanggil raja dan dikumpulkan di depan paviliun raja langsung.


Awalnya anak Perdana Mentri Haki tidak mengakui hingga pelayan suruhannya menunjukkan kantong uang yang dia terima. Kantong uang setiap paviliun dan kediaman yang berbeda dan ada tandanya membuat siapa saja percaya.


Pangeran Jun yang sudah murka langsung menyeret wanita yang menyebabkan ia kehilangan anaknya ketempat eksekusi yang di ikuti oleh semua pejabat yang di kumpulkan.


Bahkan Pangeran Jun sendiri yang menebas leher anak Perdana Mentri itu didepan semua orang. Tentu ayahnya tidka terima dan melakukan penyerangan pada Pangeran Jun yang membunuh anaknya.


Jadilah Perdana Mentri Haki juga terbunuh oleh Pangeran Jun di tempat eksekusi itu, sedangkan istrinya bunuh diri karena tinggal dia seorang diri saja.


Sejak saat itu kehamilan Putri Lie jadi lemah dan harus banyak istirahat total. Putri Lie juga sempat tidka mau makan dan melakukan apapun karena sangat sedih kehilangan satu bayinya.


Hingga Pangeran Jun mampu meyakinkan istrinya agar kembali semangat demi bayi mereka satu lagi yang masih dalam kandungannya.


Selendang yang diberikan ratu untuk di ikatkan pada perut Putri Lie di maksudkan agar sang bayi terjaga dan baik-abik saja karena terbungkus selendang itu. Walaupun Pangeran Jun heran dengan pemikiran ibunya yang tidak masuk akal tapi dia tetap melakukan apa yang di katakan ibunya demi anak dan istrinya.


Setelah selesai acara pengukuhan sebagai putra mahkota, Pangeran Jun menghampiri istrinya yang duduk di dekat ibunya lalu membawanya kedepan untuk di lakukan proses sebagai peresmian ia sebagai calon ratu pula.


Setelah semuanya selesai mereka melakukan perayaan besar-besaran menyambut penerus mereka. Apa lagi dengan kehamilan sang Putri Mahkota semakin menambah kebahagiaan semua rakyat yang menyaksikan langsung acara ini.


Pangeran Jun memeluk Putri Lie disamping dengan senyuman kebahagiaan.


"Tetaplah sehat demi anak kita ini" ucapnya menyentuh perut Putri Lie.


"Dia akan menjadi kebahagiaan tidak terhingga untuk kita" lanjutnya.


"Iya, semoga anak kita uang sudah tiada bisa melihat kebahagiaan kita di sini"


"Dia sudah bahagia di sana, jadi teruslah tersenyum karena aku tidak akan rela membiarkan air matamu jatuh lagi"


Kecupan kasih sayang di berikan Pangeran Jun pada Putri Lie yang menyalurkan kehangatan pada sang istri.


Mereka berharap tidak akan ada lagi masalah yang dapat mencelakakan anak mereka kedepannya. Meski akan selalu ada musibah tapi mereka akan selalu siap menghadapinya.


----------------


End s2

__ADS_1


Maaf ya author gak pandai buat end cerita yang mengesankan hanya begini saja.


Terima kasih ya yang udah baca.


__ADS_2