Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
112


__ADS_3

Pangeran Jun yang mengejar istrinya sempat bingung harus kemana karena pikirannya sudah kalut. Takut sang istri akan disakiti oleh Josep.


Sejenak ia berpikir sembari melangkah tanpa tujuan. Hingga Esi membisikkan sesuatu padanya yang mengatakan sebuah tempat yang tentu sangat ia tahu dimana.


Karena jarak yang lumayan jauh membuat Pangeran Jun tiba sedikit lama. Coba saja dia mau meminta Esi mengantarkan pasti lebih cepat.


Namun pikitan dan logikanya sedang sedang tidak sejalan akibat terlalu mengkhawatirkan Putri Lie istrinya hingga kepintaran dan kemampuannya pun seakan lenyap.


Hingga akhirnya Pangeran Jun tiba digua tempat persembunyian mereka beberapa hari ini yang memang jauh dari pemukiman dan ditengah hutan itu sendiri.


Dari dalam gua terdengar suara perkelahian antara Putri Lie dan Josep yang semakin membuat Pangeran Jun kalut. Meski ia tahu istrinya itu mampu mengatasi Josep tapi ia tetap harus melihat sendiri.


Kedatangan Pangeran Jun yang terlambat hanya memberikan dia pemandangan yang sudah aka selesai karena setelah ia masuk Josep nampak sudah tersungkur dengan batuk darah.


Langkah Pangeran Jun yang sudah penuh amarah tiba-tiba terhenti saat mendengar semua percakapan antara istrinya dengan Josep.


Apa lagi ketika mendengar bagaimana Josep memanggil istrinya yang nampak sangat marah padanya. Tentang orang tua sang istri yang masih hidup dan merindukannya, juga kenapa sampai Josep menghianati keluarga istrinya itu.


Semuanya sangat membingungkan bagi Pangeran Jun hingga dia menangkap sebuah kalimat dari istrinya yang mengatakan jika bahwa jika bukan karena Josep dia tidak akan terperangkap dimasa lalu.


Apa maksudnya ini? apa istriku bukan dari masa ini? ah aku sangat bingung gumam Pangeran Jun dalam hati tapi masih tetap melihat aksi istrinya yang terus menembak Josep dengan pelurunya hingga terakhir oada bagian perut dan menyumpal mulut Josep dengan daun.


Semua apa yang dilakukan Putri Lie dilihat dengan jelas oleh Pangeran jun yang masih berdiri tidak jauh dari tempat kedua orang didepannya. Mungkin karena terlalu bersemangatnya Putri Lie dengan dendamnya hingga tidak menyadari keberadaan sang suami yang berada dibelakangnya.


Hingga akhirnya Putri Lie duduk diatas sebuah batu besar untuk melihat orang yang sudah dia siksa lalu menengadah keatas dengan air mata yang perlahan menetes seiring dengan ucapan yang memiluka siapa yang mendengarnya meski hanya beberapa kata saja.


Pangeran Jun hanya bisa menarik satu kesimpulan saat ini yaitu istrinya bukan berasal dari dunianya yang sekarang. Tapi diaemperdulikan semua itu selama mereka bisa bersama.


Saat mendengar istrinya mengatakan ingin pergi dengan cepat Pangeran Jun mendekatinya lalu menyentuh dan memeluk tubuh Putri Lie yang mulai bergetar.


"Kamu masih punya aku sweetyy, tidak perduli kamu siapa dan dari mana yang penting bagiku adalah kehadiranmu yang selalu disampingku" Pangeran Jun melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Putri Lie agar menghadap dengannya.


"Kita akan melewati semuanya bersama, seperti sekarang ini dan seterusnya, barjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku!" lanjutnya.


"Tapi kita berbeda, aku tidak pantas untukmu" Putri Lie menundukkan wajahnya sedih.


"Kamu selalu pantas untukku sweetyy, jadi ayo kita bersama melawan semua rintangan dengan selalu berpegangan tangan yang dilandasi kepercayaan dan jangan pernah lepaskan genggaman ini" Pangeran Jun mengangkat pegangan tangan mereka yang bertaut.


"Istriku yang tangguh dan kuat pantang menyerah sebelum maju bukan! jadi ikutlah denganku istriku, kita bersama akan saling melengkapi dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing" lanjut Pangeran Jun tersenyum manis untuk menyemangati istrinya yang sempat bersedih.

__ADS_1


"Baiklah kita akan bersama walau nyawa taruhannya" sahut Putri Lie yakin dan mantap menyungingkan senyum yang semakin lebar dari Pangeran Jun yang senang dengan semangat istrinya kembali berkobar.


"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan pada orang itu?" tunjuk Pangeran Jun pada Josep dengan menggunakan dagunya.


"Kamu mau nya kita apakan dia, supaya ada hiburan juga bukan!" ucap Putri Lie.


"Kan kamu yang tidak menyukainya" sahut Pangeran Jun lalu sedikit berpikir.


"Ah aku juga punya dendam dengannya yang sudah berani mengagumi istriku dan menyakiti kamu juga, jadi enaknya dia kita.." Pangeran Jun memegangi dagunya lalu.


"Esi! ikat dia dengan rantai" lanjut Pangeran Jun dengan senyum evilnya.


Esi menjalankan perintah tuannya dengan cepat. Setelah Josep terikat rantai didinding gua barulah Esi pergi lagi.


"Ya, tidak buruk juga seperti ini" ucap Putri Lie melihat Josep yang menatapnya dengan sayu seakan meminta dilepaskan.


"Akan lebih seru lagi kalau pakai ini" Pangeran Jun memegang tikus kecil dua ekor yang entah dia dapat dari mana.


"Ih, kamu kok pegang hewan kecil itu sih!" kata Putri Lie dengan geli melihat hewan kecil itu.


Tanpa merespon ucapan istrinya, Pangeran Jun langsung memasukkan kedua tikus kecil itu pada pakaian Josep, satu dibaju satu lagi dicelananya.


"Pertunjukan akan segera dimulai" ucap Pangeran Jun mendekati Putri Lie yang masih berdiri tidak jauh dari Josep yang terikat.


Sontak saja pasangan suami istri itu tertawa terbahak-bahak karena melihat pertunjukan yang benar-benar manakjubkan dihadapan mereka.


Gerakan tubuh Josep yang tidak karuan itu sungguh sangat lucu bagi suami istri yang sedang bersamanya itu. Bahkan keduanya terlihat mengelap sudut mata mereka karena tawa yang tidak terkendali.


"Astaga, aku tidak pernah sebahagia ini" ucap Putri Lie.


"Ini benar-benar lucu, pertunjukan paling menakjubkan yang pernah aku lihat" ucap Pangeran Jun.


Tiba-tiba terdengar juga tawa dari arah belakang mereka yang sangat mengejutkan keduanya. Di jarak satu meter dari tempat mereka ada para prajurit bayangan juga Wuse dan Jei yang sednag tertawa karena melihat kondisi Josep yang sedang bergoyang ria.


Dari belakang prajurit itu muncullah Putra Mahkota Yun yang sednag kebingungan melihat tawa yang lainnya karena dia yang sejak tadi mengikut tertinggal dibelakang.


Dan begitu pandangannya lurus menatap objek didepannya, membuat tawanya juga menguar, antara lucu dan ngeri melihat keadaan orang yang sudah menghancurkan keluarganya itu.


Banyak luka ditubuhnya yang masih mengeluarkan darah juga gerakan-gerakan anehnya sungguh kombinasi yang meenyeramkan pikirnya.

__ADS_1


Setelah mereka semua bisa menetralkan tawa dan napas barulah mulai percakapan.


"Kenapa dia jadi seperti ini Pangeran Jun?" tanya Putra Mahkota Yun.


"Apa anda tidak setuju Putra Mahkota Yun?" balik tanya Pangeran Jun.


"Sangat setuju, kalau begitu biarkan saja dia disini mati membusuk sebagai balasan atas semua kejahatannya yang sudah membuat banyak orang menderita" ucap Putra Mahkota Yun.


"Ya sudah, kita tinggalkan saja dia" ucap Putri Lie.


Semua orang pergi dari sana dan keluar dari gua, lalu menutup pintu gua itu dengan batu-batu besar agar tidak ada yang memasukinya lagi.


Setelah semuanya selesai barulah Pangeran Jun menatap tajam para prajuritnya yang sedang menatapnya.


"Kenapa kalian sampai disini? bukankah tadi aku meminta kalian untuk kembali keperbatasan?" tanya Pangeran Jun dingin dan datar.


"Eh! begini tuan, kami hanya mengkhawatirkan anda juga tuan putri" jawab Ry yang diangguki semua temannya.


"Apa kalian mulai mencoba mengabaikan perintah?" tanyanya lagi membuat semua prajuritnya menunduk takut.


"Kalian boleh mencari kami jika memang khawatir tapi cukup dua atau tiga orang saja, tidak perlu sebanyak ini, seperti ingin demo saja" ucap Putri Lie.


Bagaimana Pangeran Jun tidak kesal jika yang datang hampir 30 orang lebih ditambah lagi dengan Putra Mahkota.


"Sudah, ayo kita kembali ketempat kita" ajak Pangeran Jun.


"Putra Mahkota Yun, kami pamit undur diri, maaf tidak bisa mampir keistana" lanjutnya.


"Tidak masalah Pangeran Jun, kami juga mengucapkan banyak terima kasih kalian yang sudah membantu kami hingga selesai semuanya, saya mewakili seluruh rakyat dan pihak istana mengucapkan terima kasih dan selamat jalan" ucap Putra Mahkota Yun.


"Sampai bertemu lagi saat menjemput Daren nanti" Pangeran Jun menepuk pundak Putra Mahkota Yun.


Mereka bersip pergi dengan cara melesat dengan cepat seperti biasanya tapi ada yang sedikit aneh.


"Ada apa sweetyy? ayo kita pulang" ajak Pangeran Jun.


"Aku lelah, gendong aku atau kita naik Bru saja, Bru" muncullah bintang spiritual yang berupa kuda putih dengan sayapnya yang mengepak besar dan kuat.


"Bawa kami pulang keperbatasan" lanjutnya.

__ADS_1


"Baik tuan putri, silahkan" Bru merundukkan tubuhnya agar memudahkan kedua tuannya naik.


Setelah kedua tuannya naik barulah Bru mulai mengepakkan sayapnya untuk membawa keduanya yang langsung diikuti semua prajurit lainnya.


__ADS_2