Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
90


__ADS_3

Pangeran Jun membawa Putri Lie berkeliling kediaman semabri menunggu makanan disiapkan oleh pelayan.


Ia ingin tahu kenapa istrinya pulang tanpa sepengetahuannya sedang Pangeran Jun sudah menunggu sejak lama didepan gerbang.


"Kapan kamu pulang?" tanya Pangeran Jun


"Kenapa? tanya Putri Lie balik dengan wajah bingung karena tidak biasanya suaminya ini menanyakan kepulangannya.


"Kanu tahu! aku sudah menunggu didepan gerbang sejak lama, mungkin sekitar setengah jam lebih tapi kamu tidak juga muncul, yang ada pengawal malah memberi kabar kalau kamu sudah ada didapur" ucap Pangeran Jun sedikit kesal.


Putri Lie tersenyum melihat kekesalan suaminya yang tidak dapat melihatnya ketika pulang hingga menunggu lama. Langkah Pangeran Jun terhenti karena Putri Lie yang menghadang didepannya.


Meski bingung dengan apa yang dinginkan istrinya tapi Pangeran Jun membiarkan dan akan melihat apa yang diinginkan oleh istrinya ini.


Tanpa diduga Putri Lie maju merapatkan tubuhnya pada sang suami lalu mengecup mesra pipi dan mengalungkan tangannya pada leher Pangeran Jun.


Tentu saja hal itu membuat Pangeran Jun kaget namun senang, tetapi ia tidak akan menunjukkannya karena ingin mendapatkan kecupan lagi dari sang istri.


"Nanti akan aku ceritakan semuanya padamu, tapi kamu harus menceritakan lebih dulu tentang cerita yang pernah kamu beritahu padaku" ucap Putri Lie membuat sebelah alis Pangeran Jun naik keatas tanda tidak mengerti.


Helaan napas Putri Lie terdengar karena suaminya sudah melupakannya.


"Kamu pernah cerita tentang bagaimana dulu kamu ketika remaja yang pernah berpetualang hingga bertemu dengan trio macan itu, sampai mereka ikut dengan kamu kesini" ucap Putri Lie mengingatkan.


Pangeran Jun mulai mengerti apa maksud istrinya yang ternyata masih penasaran tentang ceritanya waktu itu yang belum tuntas karena mereka akan melihat proses eksekusi.


Benar-banar menggemaskan sekali Permaisurinya ini jika penasaran dengan sesuatu.


"Baiklah kita akan bertukar cerita nanti, tapi ingat harus jujur dan tidak boleh ada yang disembunyikan lagi" kata Pangeran Jun.


"Ok, kamu juga harus jujur karena aku merasa kamu akan menyembunyikan sesuatu dariku" ucap Putri Lie sedikit menyipitkan matanya pertanda curiga.


Tawa Pangeran Jun terdengar oleh Putri Lie yang masih menempel berhadapan pada tubuh suaminya. Pangeran Jun mencubit hidung istrinya pelan saking gemasnya.


"Tenanglah sweetyy, tidak ada yang akan aku sembunyikan darimu kecuali wanita yang dulu pernah bersamaku" Pangeran Jun melepas rangkulan Putri Lie dan berlalu pergi.


Putri Lie memasang wajah shocknya lalu berganti menjadi garang mendengar apa yang baru saja didengarnya.


"Yah Jun Xiao, jika kau berani tidak menceritakannya maka jangan harap milikmu masih utuh besok" ucap Putri Lie sedikit berteriak dengan kesal.


Pangeran Jun semakin tertawa lebar.

__ADS_1


"Kamu yakin akan memotongnya sweetyy! nanti kalau tidak ada lagi kamu rindu dengannya" godanya.


"Aku akan cari yang lain kalau begitu" goda Putri Lie balik dengan tangan yang ia lipat didadanya lalu pergi meninggalkan suaminya yang berwajah dingin itu.


Pangeran Jun tahu jika istrinya membalas godaannya jadi dia berencana melakukan sesuatu untuk semakin membuat istri cantiknya itu kesal.


Dengan wajah dinginnya, Pangeran Jun membiarkan Putri Lie lewat dan pergi menuju ruang makan. Sedangkan dirinya sendiri pergi kesuatu tempat menyiapkan sesuatu.


Langkah Putri Lie awalnya pelan berharap suaminya akan memanggilnya atau melarangnya mencari pria lain, tapi semua itu hanya harapannya saja karena pria dingin dan datar itu malah pergi berbalik arah dari langkahnya.


Dengan kesalnya Putri Lie pergi melanjutkan langkahnya dengan cepat keruang makan. Tiba disana ia melihat pelayan masih menata makanan yang baru mereka bawa masuk.


Putri Lie manatap semua makanan itu dan akan langsung memakannya, tapi karena suaminya belum datang jadi ia mengurungkan niatnya untuk makan lebih dulu dan memilih menunggu.


Setengah jam kemudian barulah Pangeran Jun datang dengan masih dengan wajah dingin dan datarnya yang biasa ia tunjukkan pada orang lain kini ditunjukkannya pula pada Putri Lie.


Tidak mau kalah Putri Lie juga memasang wajah datarnya. Setelah Pangeran Jun duduk barulah Putri Lie mengambil makanan untuk suaminya.


Tapi baru saja ia akan mengambil lauknya, Pangeran Jun sudah lebih dulu mengambil piring dan makanan untuknya sendiri lalu makan dalam diam tanpa melihat sedikitpun pada Putri Lie.


Sedangkan Putri Lie yang diabaikan semakin kesal oada suaminya, ia berniat akan kembali kepaviliun Bulan malam ini dan tidak akan kembali ketempat suaminya.


Makan malam berlangsung sunyi karena suami istri itu saling diam tidak seperti biasanya yang terlihat mesra dan saling menggoda.


Namun tidak ada yang berani bersuara dari mereka dan lebih memilih bungkam seraya menundukkan kepala.


Selesai makan keduanya pergi masing-masing dengan arah yang berbeda. Putri Lie langsung pergi menuju paviliunnya untuk beristirahat dan menumpahkan semua kekesalannya dengan berlatih.


Tiba-tiba Mei datang menghentikan langkahnya.


"Permaisuri tunggu!" teriak Mei sembari berlari.


Putri Lie membalik tubuhnya dan melihat Mei yang datang mendekat padanya.


"Ada apa Mei?" tanyanya.


Mei mengatur napasnya lebih dulu sebelum berbicara.


"Kenapa Permaisuri meninggalkanku sendiri? apa Permaisuri sudah tidak membutuhkan aku lagi?" kata Mei memasang wajah sedih.


"Ah maaf Mei, aku tidak bermaksud meninggalkanmu" sangkal Putri Lie tidak tega melihat Mei sedih

__ADS_1


"Lalu kenapa Permaisuri berjalan sangat cepat dan meninggalkan ruang makan tanpa menungguku? jika Permaisuri sudah tidak membutuhkan aku lagi, lebih baik aku kembali kedesa saja" ucap Mei dengan air mata yang nampak mengalir.


Hal itu justru semakin membuat Putri Lie merasa bersalah pada Mei. Kenapa ia bisa melupakan Mei hanya karena sedang kesal pada suaminya pikir Putri Lie.


"Jangan kembali kedesa Mei, apa kamu sudah tidak mau bekerja denganku lagi?" tanya Putri Lie


"Tentu saja aku masih mau, tapi Permaisuri yang sudah membuangku" tangis Mei semakin menjadi hingga Putri Lie kebingungan sendiri.


"Tenanglah Mei, akukan tidak pernah membuangmu, apa aku pernah mengatakan jika kamu tidak aku butuhkan lagi? tidakkan?" kata Putri Lie meyakinkan.


"Aku masih membutuhkanmu Mei, setidaknya hingga kamu menikah nanti, jika kamu ingin pergi maka aku tidak akan menghalangimu ikut suamimu" lanjutnya.


Mei semakin menangis dengan kuatnya mendengar ucapan dari nyonyanya itu yang berarti sudah mengijinkannya untuk menikah.


Putri Lie yang tidak tahu harus apa akhirnya hanya bisa memeluk Mei untuk menenangkannya. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Mei yang masih menangis.


"Sudah diamlah Mei! apa kamu tidak akan malu jika Jei melihatmu menangis begini?" bukannya berhenti, air mata Mei justru semakin banyak menetes hingga membasahi lengan baju yang ia gunakan menutupi wajahnya.


"Apa aku salah bicara? maafkan aku Mei! maaf" kata Putri Lie dengan kebingungannya.


Setelah beberapa saat barulah Mei diam dari tangisnya meski matanya masih terlihat sedikit memerah karena baru selesai menangis, juga terlihat sedikit membengkak.


"Aku juga minta maaf Permaisuri karena belum bisa melayani anda dengan baik hingga harus melakukan segalanya seorang diri" ucap Mei mendapat gelengan dari Putri Lie.


"Tidak Mei! kamu sudah melakukan yang terbaik untuk melayaniku, dan sebagai tuanmu aku merasa puas dengan kinerjamu" ucap Putri Lie.


Mei menunduk sembari menghapus air matanya yang masih tersisa di pipinya.


"Sudah jangan menangis lagi, ayo kita kepaviliun aku sangat lelah" kata Putri Lie lalu mereka berjalan pergi.


"Permaisuri, bukankah ini jalan kepaviliun Bulan?" tanya Mei


"Iya, malam ini kita akan tidur disana" jawab Putri L8e seadanya saja.


Mei diam tanpa banyak tanya lagi sembari mengikuti langkah kaki Putri Lie didepannya.


Setibanya dipaviliun Bulan...


Putri Lie dibuat tercengang melihat keadaan paviliunnya saat ini, sungguh tidak pernah ia duga akan terjadi pada tempat tinggalnya yang baru ia tinggal beberapa jam saja.


Keadaan sudah sangat berbeda dengan yang ia tinggalkan tadi dan itu membuat air matanya jatuh menetes, apa lagi saat melihat siapa pelaku yang sudah membuat semuanya jadi seperti ini.

__ADS_1


Semakin mengalirlah air matanya karena tidak menyangka jika suaminya akan melakukan itu padanya.


__ADS_2