
Semua prajurit yang mendengar ucapan kedua tuannya tentu sangat kaget. Apa lagi keduanya ingin pergi sendiri untuk melakukan rencana mereka.
"Tuan yakin akan melakukannya?" tanya Jeje memastikan.
"Apa aku terlihat bercanda?" balik tanya Juju dengan nada dingin.
Jeje menggeleng cepat saat mendapati tatapan tajam dari tuannya itu.
"Kalau begitu ijinkan saya ikut untuk memantau keadaan disana ketika tuan beraksi nanti" tawar Wuwu.
"Baiklah, ayo kita pergi, nanti kita bicarakan lagi rencana selanjutnya" ucap Juju.
Akhirnya ketiga orang itu pergi dengan menggunakan penutup wajah agar lebih mudah dalam melakukan segala rencana nantinya.
Mereka tiba disebuah bangunan yang lebih cocok disebut sebagai istana kecil sesuai dengan petunjuk dari ketua prajurit bayangan. Tempat yang sangat mewah jika harus disebut sebagai gudang karena setiap sudutnya terdapat pilar-pilar tinggi yang menyangga bangunan tinggi.
Banyak penjaga wara-wiri disekitarnya juga para wanita yang keluar masuk dengan pakaian terbuka mereka. Dindingnya berwarna emas yang berpadu dengan cahaya lampu terang menjadikan bangunan itu terlihat sangat mewah.
Juju dan Lili menangkap dua orang pengawal lalu menghabisi keduanya dengan cepat tanpa suara. Kemudian menggunakan pakaian mereka untuk menyamar, baru saja keduanya muncul dari balik persembunyian untuk berganti pakaian seorang pengawal datang mendekati keduanya.
"Kalian dari mana saja? cepat jaga gudang gantian dengan yang lainnya!" seru orang itu.
Lili dan Juju hanya mengangguk lalu berjalan kesembarang arah, tapi kembali dipanggil oleh orang yang tadi.
"Hey kalian salah arah bodoh! kesana gudangnya bagaimana sih! anggota baru ya?" serunya lagi sembari menunjuk arah belakangnya.
"Iya maaf kami anggota baru dan belum terlalu memahami tempat sekitar" jawab Juju dengan suara rendah yang disamarkannya.
"Ya sudah pergilah cepat, minta kuncinya nanti pada mereka dibelakang sana hanya ada gudang itu saja jadi jangan mencari yang lain lagi" ucapnya lagi dan berlalu begitu saja.
"Sepertinya dia mabuk" bisik Lili pada Juju
"Bahkan hampir semua orang terlihat mabuk sangat bersenang-senang dengan para wanita itu" sahut Juju.
"Bagus kalau begitu pekerjaan kita akan lebih mudah lagi" kata Lili.
Mereka berjalan kearah yang ditunjukkan oleh orang tadi dan mendapati bangunan besar yang mereka sebut gudang. Disana ada dua orang penjaga yang sedang minum-minum ditemani wanita disamping mereka.
"Hey kalian cepat gantian yang jaga!" bentak kedua orang itu
"Iya kalian boleh pergi, kami yang akan menjaga" ucap Juju
"Ini kuncinya jangan sampai lengah ya!" kata seorang darinya menyerahkan kunci.
"Kalian tidak takut kena sangsi karena sudah mabuk-mabuk dan bermain wanita!" seru Lili.
__ADS_1
"Siapa yang akan marah pada kami? bahkan Jendral pun sudah mengatakan jika setiap malam boleh bersenang-senang " sahut orang yang sudah memeluk wanita.
"Kalian juga boleh melakukannya jika nanti sudah berganti yang jaga" sambung temannya.
Kedua orang itu pergi dari sana dengan wanita-wanita mereka. Bahkan tangan keduanya pun sudah melakukan tindakan yang sangat memalukan pada kedua wanita itu.
"Menjijikkan" gumam Lili pelan tapi masih didengar oleh Juju.
"Bukankah kita juga sering melakukan hal seperti itu" ucap Juju menggoda Lili.
"Jangan menggodaku! lagi pula kita ini sudah menikah" ketus Lili.
"Wuse" panggil Lili.
Wuse muncul dibelakang mereka dan langsung diberi sesuatu oleh Lili.
"Sebarkan bubuk ini keseluruh penjuru bangunan ini dan pastikan mereka menghirupnya, jangan sampai kau menghirupnya juga" ucap Lili.
Wuse menerima bubuk itu lalu pergi menjalankan perintah tuannya.
"Apa itu?" tanya Juju
"Bius" jawab Lili singkat
"Untuk"
Junu dan Lili melihat sekitar sembari menunggu kabar dari Wuse. Tidak lama yang ditunggu datang dihadapan mereka.
"Bagaimana?" tanya Lili langsung
"Semua orang sudah tidur bahkan Jendral itu juga sudah tekapar" jawab Wuse. Aku bahkan harus berusaha mengalihkan pandanganku dari para wanita yang tidak berbusana itu gumam Wuse dalam hati.
"Kalau begitu bawa kedua pengawal yang tadi kita ambil bajunya dan bawa masuk kedalam secepatnya" ucap Lili.
Setelah Wuse pergi Juju dan Lili maju kedepan pintu dan membukanya. Di dalam terdapat banyak senjata juga makanan mentah yang masih segar-segar terkumpul disana.
"Kerajaan ini benar-benar sudah bobrok" ucap Lili
"Yah, kita harus menghancurkan tempat ini segera" sahut Juju.
Wuse datang membawa dua pengawal tadi, dengan cepat Lili mengganti bajunya kembali dan meminta Wuse memakaikannya pada yang punya kembali. Juju melakukan hal yang sama juga meski tidak tahu tujuan istrinya tapi diikuti saja.
"Ambil lampu itu Wu, lalu minyaknya sebarkan disetiap barang yang ada disana, Kamu pastikan ada jalan kita keluar nantinya" arah Lili pada kedua pria itu.
Setelah memastikan semua beres Lili mengambil lampu dan melemparkannya pada tumpahan minyak yang langsung menyambut api. Saat apinya mulai membesar ketiganya lompat keluar lalu naik keatas pohon dengan lampu lain yang ada ditangan mereka masih menyala.
__ADS_1
"Lampu ini untuk apa?" tanya Wuse heran karena masih memegang lampu
"Lemparkan pada jendela kamar Jendral itu" jawab Juju santai.
Dengan cepat mereka membuang lampu yang menyala itu kedalam bangunan yang terdapat bahan yang mudah terbakar. Hingga dalam waktu singkat saja api sudah membesar tanpa ada tanda-tanda orang yang akan memadamkannya.
"Ayo kita kembali" ucap Juju yang mendapat anggukan dari Lili dan Wuse.
Namun saat akan melompat Lili melemparkan bom yang sudah ia rakit dari bahan yang ia dapatkan didalam gua. Seketika bangunan itu meledak dengan dahsyatnya dan membakar semua yang ada disekitar bangunan itu juga.
Juju dan Wuse sangat kaget ketika mendengar suara ledakan yang baru mereka dengar dari arah belakang. Juju melihat kebelakangnya dna mendapati Lili yang masih diam diatas pohon itu tanpa bergerak.
Juju kembali lalu membawa tubuh Lili seperti membawa karung beras yang dipanggul. Mereka kembali kedalam hutan tempat persembunyian.
Prajurit yang melihat tuan mereka kembali langsung menyambut dan berkumpul kembali bahkan Yuyu masih terjaga karena merasa khawatir dengan Lili yang pergi ketempat musuh.
"Apa yang terjadi pada Lili?" tanya Yuyu khawatir
"Tidak terjadi apapun padanya" jawab Juju lalu menurunkan Lili.
"Kenapa mengangkatku seperti itu? memangnya aku karung!" protes Lili saat sudah berdiri dihadapan Juju.
"Jika tidak begitu kamu akan terkena api dari ledakan itu" jawabnya
"Tapikan aku bisa langsung diturunkan sewaktu sudah sedikit menjauh dari sana" lanjut Lili dengan protesnya.
"Diam dan istirahatlah karena besok kita akan beraksi lagi" ucap Juju lalu dengan santainya mengecup bibir Lili setelah melepaskan kumis yang menempel diatas bibir sang istri.
Lili merengut tidak suka sekaligus malu dengan apa yang dilakukan Juju karena disana banyak orang yamg melihatnya. Dengan pipi yang merona malu ia mendekati Juju yang sudah bersandar pada batu besar yang pipih hingga nyaman untuk ditempati.
Gua yang mereka tempati ini merupakan gua yang cukup tertutup dari luar karena banyak tanaman liar yang lebat dibagian depannya hingga tidak memungkinkan orang tahu jika tempat itu sebuah gua.
"Lelah ya?" tanya Lili pada suaminya
"Tidak jika bersamamu" jawab Juju lalu memeluk tubuh istrinya yang sudah duduk didekatnya.
"Aku tidur dengan Yuyu saja ya!" ucap Lili tidak tega pada Yuyu yang sendirian.
"Pergilah aku akan menjaga kalian" sahut Juju.
Lili dan Yuyu tidur ditempat yang sudah disiapkan Jeje sebelumnya karena ia tahu tuannya itu akan memintanya membuatkan tempat itu nanti jadi ia membuatnya lebih dulu sebelum disuruh agar bisa istirahat ketika tuannya datang.
Juju mendekati kedua wanita itu dengan membawa selendang panjang yang ia minta pada prajuritnya. Lalu memakaikannya pada kedua wanita yang sudah terlelap itu, Juju yang sudah lelah juga ikut merebahkan dirinya disamping sang istri yang langsung memeluknya.
Dengan senang hati Juju membalas pelukan itu untuk menghalau hawa dingin yang semakin menusuk.
__ADS_1
"Bergantianlah kalian menjaga" ucapnya sebelum akhirnya memejamkan mata.
Prajuritnya yang memang sudah tahu apa yang harus mereka lakukan pun segera melakukannya dan memasang api unggun ditengah-tengah mereka agar tempat itu tidak terlalu dingin.