Permaisuri Idaman

Permaisuri Idaman
119


__ADS_3

"Ampuni aku Yang Mulia jangan kurung aku lagi" teriak pria itu kencang tidak ingin dikurung.


"Jika apa yang kau ucapkan bisa terbukti kebenarannya maka hidupmu akan selamat dari hukuman berat tapi jika kau berbohong maka kematianpun tidak akan mampu kau hindari" ucap Pangeran Jun tajam.


"Ampuni saya Yang Mulia Pangeran, ampuni kesalahan saya" teriaknya yang terus diseret keluar.


Setelah kepergian pengawal dengan pria itu, hakim Zhang angkat bicara untuk mulai mencari langkah penanganan.


"Yang Mulia Raja, apa langkah kita selanjutnya?" tanya Hakim Zhang mencairkan situasi.


"Kirim orang-orangmu untuk menyelidiki kebenaran dari apa yang disampaikan orang tadi, aku ingin keterangan yang lebih lengkap lagi" ucap Raja Xiao.


"Maaf menyela Yang Mulia Raja, kalau boleh izinkan saya yang melakukan penyelidikan dan menyelesaikan masalah ini, bagaimanapun juga orang itu hampir membunuh kami.."


"Jadi biar aku yang menyelesaikan masalahnya" pinta Pangeran Jun yang ingi menghabisi orang yang sudah berniat jahat pada istrinya.


Raja nampak menimbang permintaan Pangeran Jun yang memang masuk akal, tapi..


"Kamu yakin Pangeran Jun? beberapa hari lagi pelantikanmu sebagai Putra Mahkota akan dilaksanakan dan masalah ini tidak akan semudah itu jika memang benar adanya, mungkin waktu dua hari tidak akan cukup untuk menyelesaikannya" ucap Raja Xiao bermaksud anaknya mempertimbangkan lagi keinginannya.


"Saya akan menyelesaikan masalah ini lebih dulu Yang Mulia Raja, sebelum ini selesai harap tunda lebih dulu acara itu Yang Mulia"


"Baiklah jika itu maumu acara akan ditunda hingga dua minggu kedepan, aku harap masalah selesai sebelum waktu itu dan untuk para pejabat pastikan kabar penyerangan ini tidak tersebar agar penyelidikan tidak terkendala, bagi sipapun yang menyebarkan berita yang sebenarnya akan tahu akibatnya"


"Hakim Zhang pergi buat pengumuman tertulis untuk umum dan katakan pengangkatan Putra Mahkota ditunda karena ada sedikit kendala yang tidak bisa diungkapkan" ucap Raja Xiao.


"Baik Yang Mulia Raja perintah anda akan segera saya laksanakan" sahut hakim Zhang.


"Maaf Yang Mulia Raja, tapi akan lebih bagus jika hal baik tidak di tunda lagi karena dikhawatirkan akan menimbulkan keributan publik meski sudah diberi pernyataan, tapi itu tetap akan menjadi perbincangan dikalangan rakyat yang kecewa" sela Perdana Mentri Haki.


"Jika ada perbincangan dikalangan rakyat karena hal ini, itu wajar saja lagi pula jarak waktunya tidak lama" ucap Raja Xiao.


"Tapi itu akan berdampak buruk bagi citra Yang Mulia Raja sendiri karena dianggap sebagai orang yang melakukan pengunduran waktunya atas nama anda"


"Kalau begitu gunakan stempel dari Pangeran Jun saja sebagai tanda kalau permintaan pengunduran kenaikan jabatan atas keinginan sendiri karena istri tercintanya sedang tidak enak badan dan ingin dimanja lebih dulu" ucap Putri Lie menanggapi ucapan Perdana Mentri Haki.

__ADS_1


"Bolehkan kalau begitu Yang Mulia Raja, hakim Zhang!" lanjutnya.


Hakim Zhang nampak berpikir sejenak lalu melihat pada Raja Xiao.


"Tentu saja boleh, sesuai perkataan Permaisuri Jun" sahut Raja Xiao.


"Akan saya buat segera Yang Mulia Raja" ucap hakim Zhang.


Perdana Mentri Haki diam tanpa berkata lagi, ia tidak percaya dengan semua fakta dideoan matanya. Wanita yang semula dia kira permaisuri raja ternyata menantu yang ternyata lagi istri dari pria yang dia lamar untuk putrinya.


Rasanya dia masih tidak percaya dengan hal ini. Bahkan Pangeran Jun nampak sangat mencintai istrinya dari cara dia memperlakukan wanita itu dalam pangkuannya.


"Pertemuan sampai disini dulu, semuanya bubar" ucap Hakim Zhang membubarkan.


Satu persatu orang keluar dari ruangan itu termasuk Perdana Mentri Haki yang lebih dulu melihat Putri Lie dengan intens seakan menilai bagaimana penampilan dan sikapnya.


Saat matanya melihat wajah Putri Lie yang menghadap Pangeran Jun, tatapannya bertemu dengan mata tajam dan dingin Pangeran Jun yang tidak suka karena istrinya dipandangi begitu oleh orang lain.


"Jika matamu tetap menatap istriku begitu maka bisa aku pastikan esok hari kau tidak akan melihat matahari lagi" ancam Pangeran Jun yang geram dengan tindakan Perdana Mentri Haki.


Dengan cepat orang yang mendapat ancaman itu pergi dari aula karena tatapan semua ornag teralih padanya yang masih didalam. Di sana juga masih ada raja dan pejabat penting lainnya yang akan keluar.


"Boleh ayah tahu alasan sesungguhnya dari permintaanmu tadi Jun?" tanya Raja Xiao.


"Alasannya sama ayah, aku ingin menghabisi sendiri orang yang sudah mengincar nyawa istriku juga anakku, apa lagi orang itu adalah wanita busuk yang tidak tahu malu itu, dendamnya sangat mengerikan dan aku harus menyelesaikannya hingga tuntas keakar-akarnya"


"Ayah tahu apa yang kau pikirkan nak, jadi saran ayah kau berhati-hatilah, jika pergi annyi biarkan Lie'er tinggal di paviliun ayah agar dia tidka kesepian karena ada ibu disana" usul Raja Xiao.


"Tidak perlu ayah, aku ingin mengunjungi ayahku lebih dulu selama suamiku pergi"


"Tetaplah disini selama aku pergi istriku" larang Pangeran Jun.


"Kita sudah lama tidak mengunjungi ayah, apa lagi ayah sendiri sangat sibuk dan besok ayah pulang jadi biar aku kesana sembari menunggumu kamu kembali menjemputku" ucap Putri Lie meyakinkan.


"Baiklah ayah setuju jika itu keinginanmu, sebaiknya besok antarkan istrimu kerumah mertuamu lebih dulu Jun, setelahnya baru pergi selidiki masalah ini" ucap Raja Xiao.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, tapi kamu yakin akan tinggal disana?" tanya Pangeran Jun meyakinkan lagi.


"Yakin" mantap Putri Lie dengan wajah bersemangat.


"Kalau begitu besok kita pergi, sekarang ayo pulang" ucap Pangeran Jun, Putri Lie mengangguk setuju.


"Ayahanda kami pamit kembali" ucap keduanya.


"Pergilah istirahat" sahut Raja Xiao.


Raja Xiao memandangi Pangeran Jun dan Putri Lie yang melangkah menjauhinya. Ia senang karena sikap putranya yang dulu sulit di atur bahkan sering mengabaikan ucapannya juga istrinya kini sudah mulai berubah.


Pangeran Jun yang dulu sering mengabaikan kedua orang tuanya kini jadi sangat menghargai keberadaan keduanya.


"Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian nak" gumamnya kemudian berlalu pergi juga.


Sedangkan Pangeran Jun dan Putri Lie masih berbincang dalam perjalanan mereka menuju .


"Dari mana kamu dapat ide untuk menghukum pria tadi seperti itu?" tanya Pangeran Jun penasaran.


"Tidka tahu" jawabnya acuh.


"Tapi aku rasa dipohon mangga depan paviliun kita itu tidak ada semutnya!"


"Memang"


"Lalu bagaimana kalau pria itu tidak mau bicara juga!"


"Itu tidak mungkin karena luka yang sudah ada ditubuhnya sudah menyakitkan jadi kalau ditambah dengan gigitan semut akan semakin membuatnya antara hidup dan mati dengan banyaknya semut, begitulah kira-kira yang dia pikirkan"


"Lalu kalau tetap dia tidka mau bicara juga bagaimana?"


"Ya harus dijalankan hukumannya


"Tadi dipohon itu tidak ada semutnya sweety"

__ADS_1


"Aku hanya menggertaknya saja agar berbicara kalaupun tidak bicara juga aku tahu apa yang harus dilakukan agar dia buka mulut" ucap Putri Lie dengan senyum devilnya.


Pangeran Jun geleng kepala dengan semua pemikiran ajaib dari istrinya ini. Semua ide yang dia kemukakan memang selalu membuatnya tercengang. Ia merasa beruntung memiliki istri yang sangat luar biasa ini.


__ADS_2