
Setibanya di kediaman Pangeran Jun, Putri Lie segera membersihkan dirinya dan meminta Mei menyimpan obat dan buku yang ua dapatkan tadi.
Selesai membersihkan diri Putri Lie menuju paviliun Pangeran Jun untuk mengajaknya makan malam bersama.
"Apa Yang Mulia ada di dalam?" tanya Putri Lie pada pengawal ketika tiba di depan gerbang paviliun sang suami.
"Yang Mulia sedang bersama dengan Selir Nan, Permaisuri, saya akan laporkan kedatangan anda" jawab pengawal itu.
Putri Lie hanya tersenyum namun sedikit masam karena ia mulai memikirkan apa yang sedang di lakukan mereka, tidak biasanya selir di ijinkan masuk dan menemuinya batin Putri Lie.
Putri Lie masuk seorang diri saja sedangkan pengawal dan pelayannya di minta menunggu di depan. Karena tidak menemukan di mana keberadaan suaminya juga Selir Nan, Putri Lie bertanya pada Jir yang kebetulan lewat.
"Jie, dimana Yang Mulia berada?" tanya Putri Lie membuat Jie gugup menjawabnya.
"Eh, Permaisuri itu Yang Mulia, sedang ada di kamarnya" jawab Jie benar-benar gugup, Putri Lie segera menuju kamar Pangeran Jun tapi di tahan oleh Jie.
"Maaf Permaisuri tapi Yang Mulia tidak ingin di ganggu" cegah Jie sarat akan ketakutan.
"Aku istrinya tidak apa kalau masuk, aku hanya ingin mengajaknya makan malam" Putri Lie tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
Setibanya di depan kamar langkah Putri Lie terhenti saat mendengar sesuatu yang sangat menyakitkan hatinya.
"Aww pelan-pelan Jun" terdengar suara Selir Nan
"Tenanglah ini hanya sebentar saja" sahut Pangeran Jun
"Sakit Jun, pelanlah sedikit nanti semakin lecet" suara Selir Nan
"Diam atau aku akan menekannya dengan kuat" kata Pangeran Jun.
Betapa hancurnya hati Putri Lie saat ini, meski Selir Nan juga istri Pangeran Jun tetapi mendengar semua itu membuatnya sangat terluka. Ia tidak menyangka jika cintanya akan bernasip menyedihkan karena terbagi dengan wanita lain.
Tanpa pikir panjang lagi Putri Lie langsung pergi begitu saja dari paviliun Matahari karena hatinya sangat hancur mendengar apa yang ia tidak ingin dengarkan. Bahkan teriakan para pelayan dan pengawal tidak ia hiraukan.
Mei dan Jei terus mengejar Putri Lie yang pergi entah kemana, meski masih di area kediaman tapi langkahnya yang sangat cepat sulit di kejar. Hingga akhirnya ia berucap dengan dingin pada orang yang mengikutinya.
"Jika kalian masih sayang nyawa maka pergilah, jangan ikuti aku walau selangkapun" langkah lebarnya kembali ia ayunkan dengan cepat entah kemana kakinya membawanya.
__ADS_1
Mendengar suara dingin dan tajam dari Putri Lie menciutkan nyali Mei dan Jei yang sudah akan bergerak mendekat. Mereka tidak berani mengejar Putri Lie lagi karena selain takut mereka juga masih ingin hidup pastinya.
Walau tidak mungkin mereka di bunuh oleh Putri namun keduanya paham jika tuan putri mereka itu butuh waktu sendiri. Jadi keduanya mengikuti dari jarak yang cukup jauh karena khawatir terjadi sesuatu.
Di sinilah Putri Lie berada, pada sebuah cabang pohon persik yang besar dan melengkung sangat nyaman untuk di tiduri atau duduki. Apa lagi dari cabang pohon itu bisa melihat langsung pada langit malam yang berbintang.
"Kenapa tubuh ini sangat lemah dan melow, mana nggak bisa di ajak kompromi lagi soal perasaan kalau gini kan sakit hati juga jadinya gimana sih nih yang punya badan. Udah gampang jatuh cinta, penurut lagi sama suami, haduh aku ingin pulang ke masaku sebelumnya, rindu papa dan mama. Apa mereka di kuburkan dengan layak? tubuh mereka tidak di sakiti saat tinggal jasadkan?" gumam Putri Lie sangat pelan hingga tidak da yang mendengarnya seorangpun.
Bahkan Jei dan Mei yang mengikutinya tidak bisa menemukannya sekalipun mereka sudah berusaha menajamkan penglihatan agar tidak lengah tapi tetap saja kehilangan jejak Putri Lie yang sangat cepat.
"Kemana Permaisuri pergi?" Mei melihat sekeliling halaman luas itu dengan nafas yang tersengal karena sempat berlari.
"Entahlah cepat sekali Permaisuri jalannya" jawab Jei heran dengan kecapatan Putri Lie.
"Ayo kita ke paviliun dan cari di sana" usul Mei memegang tangan Jei.
"Ah iya, ini menuju paviliun Bulan bukan kenapa tidak terpikir ya!" seru Jei yang sebenarnya sedikit gugup karena di pegang Mei.
Segera saja Mei menarik tangan Jei agar cepat hingga berlari kecil.
Mereka mencari Putri Lie seperti orang kehilangan anak di tempat keramaian dan sulit di temuka. Semua sisi dan ruangan paviliun mereka periksa tanpa terlewatkan.
Namun hasilnya nihil, tidak ada Putri Lie dimanapun dalam paviliun itu bahkan di kolam teratai tempat favorit sang putri juga tidak ada.
"Apa yang harus kita lakukan Jei? Permaisuri tidak ada di manapun, aku sangat khawatir terjadi sesuatu" isak Mei yang tidak menemukan tuan putrinya.
"Tenanglah kita laporkan pada Yang Mulia dulu agar semua tempat lebih mudah di telusuri" ucap Jei menenangkan Mei.
Mei mengagguk setuju, tidak ada pilihan lai selain melaporkan apa yang terjadi. Jei pergi kembali ke paviliun Matahari untuk melapor pada Pangeran Jun karena pikirannya sudah buntu saat melihat Mei menagis tadi.
Sementara di paviliun Matahari
Pangeran Jun keluar dari paviliunnya bersama Selir Nan yang di papah pelayannya untuk kembali ke tempatnya sendiri.
"Lain kali hati-hati jangan ceroboh" ucap Pangeran Jun mengingatkan.
"Aku tidak menyangka jika di paviliunmu ini banyak jebakannya, apa Permaisurimu yang membuatnya agar tidak mudah di masuki wanita lain!" seru Selir Nan.
__ADS_1
"Kau yang tidak hati-hati, kalau samapi dia tahu kau terluka di sini habislah aku" candanya.
Selir Nan menunduk dan tersenyum masam mendengar ucapan itu.
"Entah kapan kami bertemu, aku hanya bisa bersabar saja dan jangan menggodaku jika tidak ingin Permaisurimu itu mendiamkanmu" gertak Selir Nan.
"Pergilah jangan mengatakan yang tidak-tidak padanya atau kau tahu akibatnya nanti" kata Pangeran Jum dengan datarnya.
"Aku tidak takut" Selir Nan berlalu dengan tertatih karena kakinya sakit bahkan ada yang lecet si bagian mata kakinya.
Ketika akan masuk ke dalam Pangeran Jun di panggil oleh pengawal gerbang yang menghadap padanya.
"Maaf Yang Mulia Pangeran, tadi Permaisuri datang mencari anda saat masih ada Selir Nan" kata pengawal itu yang mengagetkan Pangeran Jun namun tidak lama.
"Lalu dimana dia? aku tidak melihatnya sejak tadi?" tanya Pangeran Jun yang membuat pengawal itu gantian bingung.
"Maaf Yang Mulia tidak melihat bagaimana maksudnya? sedangkan saya lihat sendiri jima Permaisuri masuk kedalam lalu bertemu dengan ketua Jie" jawabnya santai.
Segera saja Pangeran Jun pergi menncari Jie , bodohnya ia karena lupa jika istri tercintanya menginginkan ia makan bersama di paviliun Bulannya.
"Jie, apa kau melihat Permaisuri datang tadi?" tanyanya tidak sabaran.
"Iya Yang Mulia tapi beliau sudah pergi lumayan lama" jawab Jei.
"Kenapa kau tidak katakan sejak tadi?" Panheran Jun bergegas keluar untuk pergi kepaviliun istri tercintanya.
Jie ikut pergi membawa Tei yang baru saja muncul dengan wajah bingungnya.
Setibanya di luar Pangeran Jun bertemu dengan Jei yang sangat berkeringat dan terlihat panik.
"Ada apa Jei kenapa keadaanmu kacau begini?" heran Pangeran Jun.
Jei mengatur napasnya sejenak sebelum berucap dengan lantangnya.
"Permasuri hilang Yang Mulia Pangeran" ucap Jei mengagetkan semua orang yang ada di sana.
"APAA"
__ADS_1