
Bubur buatan Putri Lie dan Tei di makan mereka bersama. Bahkan tidak segan-segan mereka memuji masakan itu yang memang sangat enak.
"Wah ini sangat enak sekali, aku baru tahu ada bubur seperti ini, rasa benar-benar luar biasa" puji tabib Yuan.
"Iya kau benar, apa lagi dagingnya yang empuk dan pas rasanya membuatku ingin terus makan saja" ucap Jei.
"Terimakasih atas pujiannya aku memang hebat dalam segala hal" kata Tei bangga.
Jei melotot pada Tei karena dia tidak merasa memuji temannya itu.
"Siapa yang memujimu? aku memuji masakan Permaisuri dan Meiku bukan kau!" kata Jei.
"Tapi Permaisuri hanya membuat buburnya, kalau si cantik Mei membuat kue bunga persik kesukaan Permaisuri sedangkan ini aku yang buat, enakkan!" kata Tei membanggakan diri.
"Kalau gitu tidak jadi enak, yang paling enak memandangi wajah Meiku" ucap Jei.
"Bilang saja kalau malu sudah kalah denganku" Tei tertawa senang.
"Diam atau tidak usah makan!" seru Pangeran Jun dingin karena sudah jengah dengan perdebatan tidak penting keduanya.
Akhirnya mereka makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara hingga selesai makan. Jika Pangeran Jun sudah mengeluarkan suara dinginnya itu berarti mereka tidak boleh ribut lagi jadi diam pilihan terbaik dari pada dimarahi.
Setelah selesai makan mereka kembali bercanda lagi sebelum kembali bertugas masing-masing.
"Mei boleh aku bertanya padamu?" tabib Yuan membuka percakapan mereka
"Itu kau sudah bertanya" kata Jei sinis
"Diamlah aku tidak bertanya padamu, kenapa sinis sekali sih padaku?" ucap tabib Yuan
"Aku biasa saja hanya sedang waspada terhadap buaya darat sepertimu" ketus Jei
__ADS_1
"Apa maksudmu? aku ini pemuda baik-baik kau tahu! tidak semua wanita bisa mendapatkan aku begitu saja" ucap tabib Yuan percaya diri.
Jei mendecih tidak percaya dengan ucapan tabib Yuan.
"Dan hanya satu wanita yang menolakmu begitu saja sebelum maju berjuang" kata Jei tertawa diikuti yang lainnya kecuali Mei yang sedang menyusun peralatan makan.
"Sudahlah jangan ribut terus kalian seperti kucing dan tikus saja tidak bisa diam kalau bertemu dan kau Jei kalau tidak mau diam aku tidak mau juga denganmu" ucap Mei datar karena sudah bosan mendengar pembahasan mereka yang selalu ribut karena dirinya.
Suasana menjadi hening tanpa ada yang bersuara, Jie dan Tei bermain puzle, Mei pergi kedapur bersama pelayan lain, Jei dan tabib Yuan diam saja tidak melakukan apapun lagi. Sementara Putri Lie dan Pangeran Jun duduk di pinggir gazebo melihat ikan yang berenang kesana kemari.
"Aku akan mengganti kepala pelayan Hasim dengan yang lain" ucap Putri Lie mengalihkan perhatian Pangeran Jun padanya.
"Kenapa? dia sudah bekerja sangat lama disini dan kerjanya bagus" ucap Pangeran Jun heran.
"Jie! minta pembukuan kediaman pada Hasim dan letakkan di ruang bacaku" Jie yang mendengar perintah dari tuan putrinya segera meluncur.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Pangeran Jun.
Putri Lie menghela napas sebelum akhirnya menjelaskan semuanya.
"Aku tidak tahu bagaimana sistem keuangan disini bahkan bagaimana semua pelayan dan pengawal bekerjapun aku tidak tahu apa lagi pembukuan keuangan tidak ada laporan sama sekali padaku" ucap Pangeran Jun membuat mata Putri Lie melotot.
"Bagaimana mungkin kamu bisa tidak tahu apa yang terjadi di rumahmu sendiri? astaga Tuhan kenapa kau beri aku suami bodoh seperti ini" ucap Putri Lie.
Wajah Pangeran Jun berubah dingin mendengar ucapan istrinya yang mengatakan dia bodoh bahkan mengadu pada tuhan.
"Tempat ini hanya persinggahan bagiku, aku lebih suka pergi berburu atau pergi bertugas dari negara kalaupun harus pulang hanya ruang baca yang aku datangi untuk menyelesaikan tugasku, selebihnya di atur para wanita kiriman harem kerajaan" kesal Pangeran Jun.
"Termasuk ketiga wanitamu itu!" kata Putri Lie yang hanya di angguki Pangeran Jun.
"Uang milikku diberi padaku langsung kalau uang kediaman ini aku tidak tahu apapun mereka yang mengurus dan mengolahnya, pelayanpun hanya Hasim yang aku tahu karena dia sudah bekerja dengan ibu dan sudah jadi kepercayaan. Itu sebabnya Hasim jadi kepala pelayan disini atas perintah ibu " ucap Pangeran Jun.
__ADS_1
Putri Lie mengangguk paham.
"Aku akan mengembalikannya pada ibu" ucap Putri Lie
"Jangan! hukum saja dia tapi periksa lebih dulu apa saja kesalahannya baru jatuhi hukuman yang sesuai, masalah dengan dia orang ibu tidak usah di pikirkan, dia sudah jadi bagian dari kediaman ini jadi harus menerima apapun sangsi yang akan di dapat jika melakukan kesalahan disini" usul Pangeran Jun.
Senyum Putri Lie mengembang indah mendengar kebijakan suaminya yang terkadang ya begitu.
"Ini baru suamiku sayang, selain tampan dan perkasa juga pintar dan bijaksana" puji Putri Lie dengan memeluk Pangeran Jun.
Siang hari....
Putri Lie sedang duduk di ruang baca Pangeran Jun untuk memeriksa pembukuan keuangan dari Hasim juga yang pernah di pegang oleh Selir Yein. Ia ingin mencocokkan data yang ada di dua buku berbeda itu mungkinkah ada perbedaan.
Tentu Putri Lie tidak seirang diri di ruangan itu, ia bersama dengan suaminya yang juga sedang mengerjakan beberapa laporan dari untuk di berikan pada istana sebelum pergi. Meski sudah di larang oleh istrinya karena maaih sakit tetapi Pangeran Jun tetap bekerja.
Ia bahkan belum memberi tahukan tentang perjalanannya yang tinggal seminggu lagi. Setelah laporannya selesai barulah Pangeran Jun akan memberitahukannya.
Ternyata dugaan Putri Lie tentang kedua buku itu benar. Ada banyak kesalahan dalam pembukuan yang di pegang oleh Hasim dan itu membuat Putri Lie sangat geram.
"Lihatlah ini Honey, banyak sekali pengeluaran kita bulan ini" ucap Putri Lie menunjukkan buku yang sedari tadi ia tekuni.
Pangeran Jun sangat terkejut melihat pengeluaran yang lebih besar dari semestinya. Walaupun Pangeran Jun tidak pernah melihat pembukuan itu tapi pengeluarannya lebih besar dari biasanya saat masih ada selir-selirnya.
"Ini tidak masuk akal, pantas saja Hasim tidak menunjukkan buku ini padaku dan tidak melapor tentang pelayan dan pengawal yang tidak makan sebelum sore, ternyata dia dalang dari semua ini" gerutu Putri Lie.
"Bahkan pendapatan para selir masih ia sertakan semua di sini, sedangkan selir yang tersisa hanya satu lalu ini pendapatanmu bukan!" tunjuk Pangeran Jun pada tulisan yang terdapat nama Putri Lie juga jumlah yang di dapatnya.
"Wah dia bahkan berani memonopoli uangku, awas saja kau nanti" ucap Putri Lie kesal.
Ia mengira jika sebagai Permaisuri tidak akan dapat uang kecuali dari suaminya seperti yang selalu di berikan Pangeran Jun padanya. Ternyata pendapatannya separuh dari pendapatan suaminya.
__ADS_1
"Kalau begitu selesaikan ini dengan baik lalu susul aku di aula, aku akan minta semua orang berkumpul diaula juga Hasim yang akan kita adili disana" kata Pangeran Jun beranjak dari duduknya.
"Aku akan membuatmu jadi daging cincang tikus mata duitan, padahal uangmu juga banyak tapi gaji pelayan dan pengawalpun kau potong setengahnya, keterlaluan" gumam Putri Lie menyelesaikan kerjaannya dan oergi keluar menyusul suaminya ke aula.