PERNIKAHANKU

PERNIKAHANKU
Kepergian nya..


__ADS_3

Happy reading...


Aku baru tahu betapa terpukul nya suami ku mas Erik begitu mengetahui Sarah meninggal meskipun dia sudah menikah dengan ku. tapi aku harus tetap mengalah menerima nya dengan ikhlas karena ini sudah menjadi keputusan ku untuk melanjut kan rumah tangga ini. kesedihan masih tampak di raut wajah nya juga diliputi rasa bersalah. tapi mas Erik kembali menjelaskan kepada ku tanpa aku minta.


Erik :


"Sayang maafkan aku, yang belum bisa melupakan Sarah mungkin bagi mu."


"Tolong maafkan juga Sarah agar dia bisa tenang disana."


"semua salah ku seandainya dulu aku tidak menolong nya mungkin semua ini tidak akan menjadi seperti ini."


"Seandainya kemarin sebelum aku menikah dengan ku, aku bisa menjelaskan semua nya baik itu kepada mu, orang tua mu, orang tua ku juga kepada Sarah yang sebenar nya mungkin semua ini tak kan terjadi."


Aku bingung harus menjawab apa, ada rasa cemburu, marah, kecewa, kesal kepada mas Erik, tapi aku juga kasihan melihat nya karena dia menyalah kan diri nya sendiri, aku juga tidak bisa sepenuh nya menyalahkan dia dan juga Sarah, mungkin semua sudah takdir yang kuasa, untuk menguji kesabaran ku dalam rumah tangga ku yang seumur jagung dan juga dengan usia ku yang masih sangat muda.


Aku berusaha untuk menjawab nya meskipun itu membuat nya kembali bersedih karena ucapanku. tapi paling tidak aku sudah mengeluarkan semua perasaanku.


Tita :


"Aku harus jawab apa mas?"


"Sudah lah tidak usah terlalu merasa bersalah seperti itu."


Masih dengan wajah datar seperlu nya aku menjawab.


"Seharusnya kamu tahu hati ku mas, sudah ku maaf kan dari dulu sebelum Sarah mu meminta maaf pada ku."


"Aku tahu kamu belum bisa melupakan Sarah untuk yang satu itu aku belum bisa memaafkan mu."


"Sebaik nya lupakan saja, aku tidak berselera untuk bicara sekarang."


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan mas."


"Aku sudah tidak mau memikirkan nya lagi."


Mas Erik tampak terlihat syok dengan semua ucapan ku. yang tanpa disadari nya aku seorang istri kecil nya bisa mengeluarkan kata kata nya menyakiti hati nya dan se acuh itu pada diri nya yang dalam kesedihan.


namun dipikir nya tidak akan menyelesaikan masalah jika dia membalas ku saat itu, apalagi mas Erik menyadari betul semua adalah kesalahan nya.


Erik :


"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku tahu kamu marah pada ku, aku memang salah, tapi aku sudah meminta maaf sayang."


"Aku juga sudah menghapus nomer nya dari ponsel ku, aku janji akan melupakan nya."


"Lagi pula Sarah sudah meninggal sayang."


"Tolong kamu jangan bersikap seperti itu pada ku, jangan acuh kan aku."


Mas Erik terus bertanya kepada ku tapi tak ada satu pun yang aku jawab, aku memilih mengacuh kan nya kembali. anggap saja itu pelajaran untuk nya sudah berkali kali menyakiti perasaan ku. meskipun aku tahu disisi lain sedang berduka atas kematian Sarah. tapi apa salah nya perasaan ku selama ini yang terlalu sering disakiti nya, harus berapa kali aku mengalah untuk tersakiti lagi. istri mana yang mau di duakan, meskipun tahu sudah berakhir tapi jika seorang istri tahu suami nya masih menyimpan sesuatu milik mantan nya pasti juga akan sakit dan terluka hati nya.


Aku meninggalkan nya yang masih duduk diujung tepi kasur. aku kembali membaringkan tubuh ku diatas kasur lalu ku tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh ku. sambil ku tetes kan air mata dibalik selimut, rasa nya sakit mendengar suami sendiri menyebut nama wanita lain, bahkan meminta kan maaf untuk nya, dan lagi sampai detik ini suami ku sendiri masih belum bisa melupakan nya, lalu apa yang dia lihat dari ku, dia anggap aku siapa selama ini? masih menggerutu dalam hati ku. sambil ku coba pejamkan mata ku agar bisa tertidur dan melupakan semua nya semoga saja ketika bangun hati ku sudah membaik dan bisa memaafkan semua ini.


Malam semakin larut, aku yang sudah tertidur. terbangun di tengah malam menjelang pagi, ku lirik dari balik selimut beruntung pencahayaan dikamar redup, jadi tidak begitu terlihat jika aku mengintip nya dibalik selimut.

__ADS_1


dia yang terduduk di sofa dengan sebotol minuman di tangan nya dan bertelanjang dada seperti seseorang yang sedang frustasi sebegitu besar nya kehadiran Sarah di hidup nya sampai membuat nya tidak bisa tidur setelah kehilangan Sarah yang menghembuskan nafas terakhir nya tadi sore. lalu bagaimana dengan diri ku, dia menganggap ku apa, dan bagaimana jika aku yang tiada, apa dia juga akan se frustasi ini?


Ku paksa kan bangun dan menegur nya.


Tita :


"Kenapa masih belum tidur?"


"Bukan kah nanti pagi adalah hati pemakaman nya?"


Erik :


"Kamu terbangun sayang, maafkan aku jika kamu merasa aku berisik karena suara botol botol ini!"


Tita :


"Tidak masalah."


Lalu aku memilih untuk ke kamar mandi karena percuma saja bicara nya dengan nya tidak akan membuat nya mendengar kan ku.


setelah itu aku kembali dari kamar mandi. dan aku permisi keluar dari kamar itu berniat untuk melanjut kan tidur ku di kamar tamu saja. mungkin dengan berpisah ranjang akan membuat kami saling menyadari kesalahan masing masing. terutama bagi mas Erik.


Mas Erik melihat ku dan bertanya padaku yang hendak membuka pintu dan turun kebawah..


Erik :


"Sayang, kamu mau kemana?"


"Masih malam."


"Tidur lah kembali, jangan menunggu ku karena aku sama sekali tidak mengantuk."


Ceklekkk..


Rasa nya ingin sekali aku marah, menangis bahkan menjerit sekeras nya karena melihat suami ku sendiri bersikap seperti itu untuk seorang mantan nya yang sudah tiada bahkan disisa hidup nya banyak menyakiti aku istri nya dan belum sempat meminta maaf pada ku. mas Erik sungguh tega egois kamu mas. terus menggerutu dalam hati ku sambil tetap berjalan tanpa menghiraukan ucapan nya.


Ku tutup kembali pintu kamar itu dan ku lihat mas Erik sedikit pun tak bergerak tubuh nya masih duduk di sofa dengan frustasi nya. tidak ada niat untuk mengejar ku memeluk ku menahan ku agar tidak meninggalkan nya.


ku tutup pintu dengan keras..


Bruggh..


Ku tinggalkan dia sendiri bersama bayang bayang Sarah. yang sampai di kematian nya masih membuat mas Erik frustasi.


Setelah sampai di depan pintu kamar tamu, ku lihat cahaya Tv masih menyala dan ku lihat Andre yang berada tak jauh dari kamar tamu yang akan ku tiduri. Andre berada di ruang tengah masih menonton tv.


Aku melanjut kan langkah ku namun terhenti karena Andre mamanggil ku.


Andre :


"Tita, kenapa kamu kesitu?"


"Memang Erik kemana?"


Tanya nya pada ku. aku menjawab sebisa yang aku berikan.


Tita :

__ADS_1


"Mas Erik sedang minum di kamar nya, seperti nya di frustasi dengan kematian Sarah."


Berniat untuk tetap masuk kedalam kamar tamu, tidak ingin melanjutkan ucapan ku saat itu namun Andre kembali menghentikan ku dia berjalan kearah ku dan mengajak ku bicara.


Andre :


"Tunggu, aku ingin bicara!"


Tita :


"Cepat katakan, aku mengangguk!"


Jawab ku, namun Andre seakan tahu apa yang aku rasakan.


Andre :


"Tidak usah berbohong!"


"Aku tahu perasaan mu seperti apa?"


"Kemari lah kita bicara sebentar!"


Kenapa juga dengan kaki ku yang malah mengikuti langkah nya menuju ruang tengah, lalu Andre memberikan ku segelas air putih yang memang dia bawa dari dapur agar ketika haus tidak repot harus mengambil nya ke dapur.


Andre :


"Minum lah dulu, tenangkan hati mu!"


"Aku tahu yang di alami kalian, aku tahu bagaimana perasaan Erik."


"Dia begitu bukan karena dia mencintai nya atau menyayangi nya, melainkan rasa iba di hati Erik sangat lah besar kepada Sarah, karena saat mereka bertemu dulu bukan lah hal yang wajar, ketika melihat Sarah di sakiti laki laki hidung belang membuat nya semakin iba, terlebih yang dia tahu Sarah sudah tidak memiliki keluarga."


"Maafkan lah dia, aku tahu kamu pasti sangat terluka dengan semua ini!"


"Aku bersahabat sudah lama dengan nya, sedari SMP dulu."


"Aku sangat mengenal nya, aku yakin setelah ini terlewati beberapa hari dia akan kembali normal seperti biasa."


"Tolong kamu jangan menyerah dan meninggal kan nya."


"Berikan dia kesempatan"


Aku yang terduduk dengan memegang gelas yang di sodor kan nya kepada ku, hanya syok terdiam dan menahan apa yang ingin aku sampai kan kepada Andre.


Setelah beberapa menit aku diam, Andre pun ikut diam masih memperhatikan ku.


lalu ku tanyakan pada nya apakah lebih baik aku meminta nya menceraikan aku..


Tita :


"Jadi aku harus bersikap bagaimana kepada nya?"


"Apa aku harus pasrah ketika di sakiti nya?"


"Apakah aku boleh meminta nya mencerai kan aku?"


Bersambung...

__ADS_1


Hai hai readers ketemu lagi.. jangan lupa baca ya , like, komen, rate 5 ,favorit kan dan juga Vote ya.


Terimakasih 🙏🙏😍


__ADS_2