
Jangan lupa dibaca ya readers semua.. di like di komen, di rate 5, di favorit kan dan di vote ya yang banyak. terimakasih 🙏😍
Happy reading..
Begitu sampai dirumah, aku langsung duduk di kursi depan teras, sedang kan mang Dadan dan Bi Inah membawa barang barang belanjaan nya ke dapur. begitu selesai di dapur bi Inah langsung ke teras depan menemui ku dengan membawa minuman untuk ku.
Bi Inah :
"Non ini di minum dulu"
"Biar lebih tenang non nya"
Tita :
"Iya bi makasih banyak ya"
Bi Inah :
"Sama sama non"
"Oh iya non, apa masih sakit kepala non bekas di Jambak tadi teh?"
Masih dengan logat Sunda nya ya Bi Inah kadang terdengar lucu..
Tita :
"Tadi nya sih sakit, tapi sekarang sudah enggak sakit lagi kok bi"
Bi Inah :
"Apa mau bibi kompres air hangat non kepala nya?"
Tita :
"Tidak usah Bi, lagi pula hanya hal kecil bi"
Bi Inah :
"Tapi bibi teh, takut nanti tuan bakalan marah sama bibi kalau tahu kejadian tadi"
Tita :
"Mas Erik tidak akan marah bi"
"Lagi pula mas Erik tidak tahu kejadian tadi"
"Sebaik nya kita lupakan saja Bi, bilang sama mang Dadan juga untuk tidak mengatakan apapun sama mas Erik kalau pulang nanti bi"
"Sudah ya Bu tidak usah di pikirkan lagi"
Bi Inah :
"Ya sudah non, bibi teh nurut saja lah sama non"
"Kalau begitu diminum dulu air nya non bibi mau ke dapur lanjutin beres beres belanjaan tadi non"
Tita :
"Iya bi terimakasih"
Aku masih tetap duduk di teras dengan gelas di tangan ku, sambil memikirkan kejadian tadi yang tidak bisa ku percaya aku bisa bertemu dengan wanita itu, dan lagi lagi dia bisa menyakiti ku dengan mudah.
Tapi bagaimana memberitahu kan pada mas Erik? apa sebaik nya aku diam saja tidak usah memberitahukan nya pada mas Erik?
aku masih bingung..
Kemudian Bi Inah masuk kedalam rumah dengan membawa nampan tadi, dan berniat melanjutkan membereskan barang belanjaan tadi. tak lupa mang Dadan pun ikut membantu Bi Inah sambil membicarakan kejadian tadi.
Mang Dadan :
"Ayo Bu cepet diberesin belanjaan nya"
"Sok atuh di tata ditempat nya masing masing"
"Hayu bapak bantuin"
Bi Inah :
"Iya pak sebentar atuh"
"Ini juga mau di beresin pak"
"Oh iya pak tadi kata non Tita teh, kita sebaik nya diam saja tidak usah memberitahukan pada tuan"
"Non tita teh menyuruh kita diam dan melupakan nya"
"Ibu teh kasihan sama si non, masih muda cantik, baik banget"
"Tapi teh kasihan hidup nya selalu ketemu sama orang orang jahat pak"
Mang Dadan :
"Pelan pelan atuh Bu bicara nya"
"Bapak teh gak begitu ngerti jadi nya"
Bi Inah :
"Gimana sih si bapak teh"
"Masa ibu teh harus mengulang lagi dari awal, atuh sudah lupa lagi pak"
__ADS_1
Mang Dadan :
"Iya maka nya ibu teh bicara nya pelan saja Bu"
"Biar bapak teh ngerti"
Bi Inah :
"Ya sudah sok ibu ulangi lagi nih"
"Dengerin baik baik sama si bapak ya"
Mang Dadan :
"Ya atuh cepetan ngomong"
Bi Inah :
"Non Tita menyuruh kita untuk diam jangan ada yang bilang sama si tuan"
"Non Tita gak mau tuan jadi kepikiran"
"Maka nya kita harus diam dan lupakan saja kejadian tadi"
Mang Dadan :
"Aduh seharusnya teh tuan tahu supaya bisa hati hati dan waspada"
"Kalau nanti besok besok begitu lagi bagaimana Bu?"
Bi Inah :
"Iya pak, ibu juga bingung"
"Tapi kalau kita bicara diam diam sama tuan nanti teh non Tita nya marah sama kita pak"
"Ibu teh jadi takut dan serba salah"
Mang Dadan :
"Sama bapak juga"
"Ya sudah sekarang mah ikutin dulu saja mau nya non Tita Bu"
"Mudah mudahan teh tuan segera tahu kejadian tadi di pasar Bu"
Bi Inah :
"Iya pak semoga saja tuan teh cepet tahu tapi bukan dari kita yang kasih tahu nya ya pak"
Mang Dadan :
"Iya Bu, ya sudah ayo cepat beresin nya, bapak teh masih banyak kerjaan Bu"
Bi Inah :
"Iya pak ini juga udah cepat cepat pak"
"Bapak mau dibuatin kopi atau teh pak?"
Mang Dadan :
"Kopi saja Bu"
"Biar gak ngantuk"
Bi Inah :
"Ya sudah ibu buat kan dulu kopi nya"
Bi Inah dengan cekatan nya membuat kan kopi untuk suami nya mang Dadan tidak memakan waktu lama, tidak seperti diri ku yang belum terbiasa, sewaktu membuat kan teh lemon saja sudah lama sekali rasa nya.
Aku beranjak dari duduk ku dan hendak menuju kamar ku untuk membersih kan diri sebelum beristirahat. saat sampai di tangga aku melihat kamar Sofi yang tertutup tapi Sofi berada di dalam. aku ingin mengeruk pintu kamar nya sekedar menyapa tapi bingung bila nanti Sofi mengajak ku mengobrol aku merasa canggung, karena Sofi menganggap ku lebih tua meskipun usia kami sama, selisih sedikit lebih tua Sofi berapa bulan.
Jadi aku urung kan niat ku dan tetap melangkah masuk ke dalam kamar ku. ku taruh tas kecil dan ponsel ku di atas nakas. lalu berjalan kearah kamar mandi tidak ingin berlama lama, segera ku sudahi dan berganti pakaian. mencoba membaringkan tubuh ku di atas tempat tidur berharap bisa tertidur dan melupakan kejadian tadi, seolah itu hanya mimpi bukan kenyataan bagi ku.
Ku coba pejamkan mata ku, dengan berdoa agar semua itu hanya lah mimpi dan esok tidak akan terjadi lagi. namun tiba tiba ponsel ku berdering, ku ambil ponsel diatas nakas lalu ku lihat itu telpon dari suami ku yang tampan mas Erik.
Kira kira ada hal apa mas Erik menelpon ku.. perasaan ku tak menentu, aku merasakan bau bau ke khawatiran yang siap dipertanyakan mas Erik.
Tita :
"Iya mas"
"Kenapa?"
Erik :
"Kamu sedang tidur ya"
Tita :
"Tidak mas, aku hanya rebahan sebentar saja karena baru pulang dari pasar mas"
Erik :
"Bagaimana pasar di mata mu?"
Tita :
"Seru mas, aku seneng bisa jalan jalan ke pasar tradisional, kapan kapan aku mah ikut bi Inah lagi ke pasar"
__ADS_1
Erik :
"Tidak perlu, biar bi Inah saja yang melakukan nya sendiri"
Tita :
"Kenapa begitu mas?"
"Tadi kan mas Erik sudah mengijinkan ku untuk ikut ke pasar"
Erik :
"Lain kali tidak usah, sudah dirumah saja"
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi terhadap dirimu, seperti kejadian tadi"
"Kalau memang mau pergi biar aku yang temani"
Aku merasa heran bagaimana mas Erik bisa mengetahui semua nya? kecurigaan ku benar mas Erik khawatir pada ku, sehingga kembali melarang ku kemana mana tanpa dengan diri nya.
Tita :
"Loh kok mas Erik bisa tahu mas?"
"Mas Erik tahu dari mana?"
Erik :
"Tidak penting, aku tahu dari mana"
"Yang terpenting sekarang adalah keselamatan mu"
"Tolong jangan memaksakan kehendak mu lagi sayang"
"Jangan buat aku khawatir"
Tita :
"Iya mas terimakasih"
"Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi"
"Dan akan patuh sama kamu mas"
Erik :
"Bagus"
"Aku melakukan semua itu, demi keselamatan diri mu bukan untuk ku"
"Karena aku sayang kamu, dan tidak mau kehilangan mu"
Tita :
"Iya mas aku paham"
"Maafkan aku mas"
Erik :
"Ya sudah, tidak apa apa jangan di ulangi lagi"
Tita :
"Iya mas"
Erik :
"Sudah makan siang?
Tita :
"Belum mas?"
"Baru selesai mandi"
Erik :
"Ya sudah jangan lupa makan dan beristirahat lah"
"Aku Masih banyak pekerjaan belum selesai"
Tita :
"Iya mas nanti aku makan"
"Mas Erik juga jangan lupa makan siang ya"
Erik :
"Iya nanti Sandra pesan kan makanan biar aku makan di dalam ruangan ku saja"
Aku dan mas Erik saling menutup telpon dan kembali ku taruh diatas nakas, masih memikirkan bagaimana mas Erik bisa tahu?
Apakah para bodyguard diluar sana ada yang mengikuti ku diam diam saat ke pasar tadi?
Ya sudah lah, toh mas Erik sekarang sudah terlanjur tahu dan tidak begitu marah, wajar sih mas marah dan melarang ku karena dia khawatir akan keselamatan ku.
Bersambung...
Hai readers semua ketemu lagi nih sama author karya receh dan males nih.. 🤭
__ADS_1
Mohon dukungan nya ya, dan tetap setia sama karya author nih.
Jangan lupa di baca, di like 👍, di komen, di rate 5, di favorit kan dan di vote yang banyak ya. terimakasih 🙏😍