
******
Hai hai readers semua.. selamat membaca ya semoga kalian suka dengan cerita nya.. mohon dukungan nya berupa like, vote, komen, rate 5 dan favorit kan juga ya.. terimakasih šš
*******************
Erik bergegas membereskan semua pekerjaan nya dikantor, karna sepertinya mas Erik sudah tak sabar ingin pulang untuk melihat aku istri nya..
seolah ingin melihat kebodohan ku yang tidak sengaja aku tunjukan melalui sikap ku tadi saat aku cemas apa saja yang mas Erik dan Sarah lakukan tadi siang.
Saat itu mungkin mas Erik masih dikantor, masih bersiap untuk pulang, saat itulah Sarah datang kerumah dan menemui ku sebagai istri nya mas Erik..
Mang Dadan membuka kan pintu untuk Sarah dan memberi tahu Bi Inah bahwa Sarah datang ingin menemui ku.
Lalu Bi Inah naik ke lantai atas menuju kamar ku dan mengetuk pintu.
aku langsung membuka kan pintu, aku pikir mas Erik sudah pulang, ternyata Bi Inah menyampaikan pesan bahwa ada Sarah menunggu ku di bawah.
tok..tok..tok..
Bi Inah :
"Non.. non tita.."
"Maaf non dibawah ada tamu mencari non.."
Tita :
"Iya Bi sebentar.. ( lalu aku membuka pintu kamar).."
"Siapa tamu nya bi?"
Bi inah :
"Maaf non, bibi kurang tahu non.."
"Tamu nya seorang wanita cantik non.."
Tita :
"Hmmm.. siapa ya?"
"Ya sudah bi, suruh tunggu sebentar lagi saya turun ya bi.."
Bi Inah :
"Baik non.."
"Bibi permisi kebawah dulu non.."
Tita :
"Iya Bi terimakasih.."
Lalu Bi Inah turun kebawah, sementara aku merapih kan rambut ku yang sedikit acak acakan Karna sehabis tiduran.
tak lama aku pun turun ke bawah untuk menemui tamu wanita cantik itu, penasaran siapa kah dia, apa mungkin itu Sarah?
Begitu aku sampai diruang tamu, benar saja yang ku lihat wanita itu adalah Sarah istri sirih nya mas Erik, dia terlihat sangat berapi api menahan kemarahan nya, hingga sama sekali tidak mau duduk, dia berdiri seolah bersiap untuk menerkam ku.
tapi aku heran, ada perlu apa lagi dia datang kesini? bukan kah mas Erik sudah mengatakan dengan jelas kepada nya?
Begitu Sarah melihat ku dia langsung mendekati ku dan benar saja dia langsung menampar ku, dan menjambak rambut ku, juga memaki ku habis habisan mengatakan bahwa aku perebut suami orang, bahwa aku wanita rendahan, aku menangis kesakitan juga perih nya cacian yang aku terima dari Sarah.
Namun Sarah tidak menyadari nya siapa wanita yang rendahan selama ini.. aku berpikir keras bahwa aku wanita baik baik bahkan aku tidak tahu bagaimana cara melayani suami dengan baik, belum pernah aku lakukan. .
Sarah :
"Dasar perempuan hina, perebut suami orang, wanita rendahan.."
(sambil menampar dan menjambak rambut ku)
"Memang nya tidak ada lelaki lain, sampai harus merebut suami ku Erik?"
"Kamu dengar baik baik, kamu harus kembalikan Erikkkk kepada ku.. dengan suara berteriak.."
Aku masih menangis menahan sakit atas tamparan dan jambakan nya, juga cacian nya..
hhsssshh... hiks..hiks..hiks.. hhssss
__ADS_1
Tiba tiba mang Dadan datang melerai keributan dan mendorong Sarah agar melepaskan ku. mang Dadan berhasil membuat Sarah terjatuh ke sofa dan menarik ku untuk menjauh dari Sarah..
Mang Dadan :
"Hentikan nyonya.."
"Anda tidak sopan kepada istri tuan saya.."
"Saya akan laporkan ini kepada tuan Erik.."
Sambil mendorong Sarah dan menarik ku untuk menjauhi Sarah..
Sarah :
"Eh kamu tidak usah ikut campur ya.."
"Kamu disini hanya satpam, tidak ada hubungan nya dengan masalah ku.."
Mang Dadan :
"Maaf nyonya saya disini bekerja untuk tuan Erik , berarti saya juga harus melindungi orang orang yang tinggal dengan tuan Erik juga, apalagi non Tita adalah istri nya tuan Erik.."
"Sebaik nya anda segera pergi tinggalkan rumah ini atau saya akan panggilkan polisi.."
Sarah :
"Awas saja kalian, ini belum selesai, aku akan kembali nanti.."
Sarah pun pergi dengan kemarahan dan wajah nya sedikit kesal karena di usir oleh mang Dadan.
Mang Dadan memanggil Bi Inah untuk segera membawakan segelas air minum untuk ku dan mengobati luka ku.
Lalu Bi Inah datang dengan membawa segelas air minum dan semangkuk air hangat beserta handuk untuk mengompres luka ku, tapi Bi Inah merasa terkejut dengan yang dilihat nya, Bi Inah tengah didapur dan sibuk dengan pekerjaan nya, sehingga tidak mendengarkan apa yang terjadi barusan.
Bi Inah :
"Astaga, bapak.. ari iyeu teh kunaon, non Tita teh kunaon bisa luka luka begini.."
"Haduhhh...."
(sambil garuk-garuk kepala bi Inah nya)
"Kumaha ngajelas keun na ka tuan Erik.. sok atuh bapak teh gera mikir.."
(wkwkwkwkwk ššš)
Mang Dadan :
"Sudah atuh Bu tidak usah seperti itu.. jangan ribut, cepetan sok obatin non Tita nya.."
"Tuan Erik teh gak bakalan marah sama kita.."
"Pasti marah nya teh tah ka si perempuan tadi, yang udah nampar non Tita.."
"Nanti begitu tuan Erik teh pulang , bapak teh bakalan coba kasih tahu kejadian yang sebenar nya sama tuan Erik.."
"Tuan Erik teh juga harus tahu.. supaya bisa kasih pelajaran sama si perempuan tadi tah.."
Sambil kesel sendiri mang Dadan kalau inget sama wajah nya si Sarah..
Sementara aku yang merasa kesakitan, sedikit ingin tertawa melihat perdebatan mang Dadan dan Bi Inah, apalagi dengan bahasa yang mereka gunakan, bahasa daerah asal mereka dari sunda, yang aku tidak mengerti, jadi lucu saja saat mendengar nya.. wkwkwkš š š š¤
Tita :
"Sudah Bi.. tidak usah berlebihan begitu, saya tidak kenapa-napa kok Bi.."
(sambil menahan tawa dibibir ku)
"Ini hanya luka kecil saja Bi.."
"Bagi saya yang lebih menyakitkan adalah kata kata nya tadi Bi.."
Aku pun minum air putih yang dibawakan Bi Inah ,dan Bi Inah mulai mengompres luka ku dan rambut ku rasa nya sedikit terasa panas karena jambakan nya Sarah sangat kuat sekali, seperti mau rontok saja rambut ku dibuat nya.. š„š„
Setelah Bu Inah selesai mengompres luka ku, aku pamit pada Bi Inah dan mang Dadan untuk kembali ke kamar ku.
Tita :
"Bi, mang.. aku permisi ke kamar dulu ya.."
__ADS_1
"Terimakasih atas bantuan nya.."
Dengan wajah ku yang tertunduk aku berjalan menuju tangga, menahan rasa sakit dan malu dihadapan mereka aku diperlakukan seperti itu,dan aku hanya diam saja tidak bisa membela diri ku sendiri, sungguh lemah diri ku ini.. bagai mana bisa aku menghadapi Sarah yang penuh amarah itu.. aku hanya memilih untuk mengalah.. mungkin juga ini memang salah ku Karna ku sudah merebut Erik dari hidup nya.
Aku berjalan menuju balkon kamar, ingin rasa nya aku menjerit, dan lepas dari belenggu hidup ini. tapi aku tidak bisa berbuat apa apa, aku makhluk lemah, melawan ayah dan ibu tiri ku saja aku tidak mampu, apalagi melawan Sarah?
Aku berdiri ditepi balkon menatap ke awan awan biru yang berhiaskan cahaya senja matahari, udara terasa dingin diatas balkon menyelimuti tubuh ku, menandakan bahwa hari akan berganti..
aku menangis sejadi jadinya..
hhesss...hhhsssss..hiks..hiks..hiks..
Ingin rasanya aku pergi menjalani hidup ku yang normal seperti orang lain.. tapi lagi lagi aku bisa berbuat apa.. uang pun aku tidak punya, aku bisa hidup atau tidak diluar sana?
Masih berpikir keras tentang Sarah, aku tidak menyangka jika Sarah akan datang menemui ku dan mengancam ku.
Namun mas Erik seperti nya tidak mengetahui jika Sarah datang kerumah tepat nya sebelum mas Erik pulang dari kantor.
masih dengan kesedihan ku, aku berdiri di balkon kamar.
Sementara didepan terdengar suara mobil mas Erik sudah datang. lalu Mas Erik sampai didepan rumah, dan mang Dadan segera membuka kan pintu pagar, mas Erik pun memarkir kan mobil nya digarasi rumah.
saat mas Erik hendak masuk kedalam rumah, rupa nya mang Dadan menghadang nya dan bercerita tentang kejadian tadi.
Mang Dadan :
"Maaf tuan, saya ingin mengatakan sesuatu.."
Erik :
"Iya ada apa mang.. seperti serius sekali.."
Mang Dadan :
"Begini tuan.. tadi sekitar satu jam yang lalu ada seorang perempuan cantik datang dan membuat keributan dirumah.."
"Euhh.. perempuan itu sempat memaki, dan menampar juga menjambak non Tita tuan.."
"Maafkan saya dan istri saya yang lalai menjaga non Tita tuan.."
"Tolong maaf kan saya tuan.."
berkali kali mang Dadan meminta maaf pada mas Erik atas kejadian tadi sore.
Erik :
"Lalu Tita dimana mang?"
"Bagaimana keadaan nya sekarang..?"
"Sudah mang ,nanti kita bicara kan lagi, aku harus menemui Tita dulu.."
Lalu mas Erik berlari menaiki anak tangga menuju kamar ku. membuka keras secara paksa pintu kamar.
saat itu mas Erik langsung mencari cari dimana sosok aku berada..
Sementara keadaan dibawah mulai tidak enak yang dirasakan oleh mang Dadan dan Bi Inah..
Erik :
"Tita.. kamu dimana?"
Tita :
"Aku disini mas.." (jawabku dengan suara lirih)
Lalu mas Erik segera menghampiri ku ke balkon kamar.
Aku membelakangi mas Erik, aku menatap langit yang kian redup hampir ditelan gelap nya malam, matahari senja mulai menjauh dari pandangan ku, mulai berganti gelap dan lampu lampu jalanan kota dan rumah rumah mulai bersinar menghiasi malam, tak terasa air mata ku menetes begitu deras, entah apa yang sebenar nya membuat hati ku merasa sakit dan sedih.
Seperti nya mas Erik mengetahui jika aku sedang menangis.
lantas mas Erik berusaha mendekati ku dan mencoba menenangkan ku...
Bersambung..
*******
Hai hai sobat readers semua.. mampir lagi yuk ke cerita aku, makin seru lohh š¤ ayo dong berikan dukungan kalian buat author biar lebih semangat nulis nya nih..š kalo udah selesai baca nya, jangan pelit pelit untuk kasih, like, komen, vote, rate 5 dan favorit kan ya.. aku tunggu dukungan kalian terimakasih ššš
__ADS_1