
Kanaya baru selesai melakukan pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya, Ia memutuskan kembali kerumah.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikum salam. " Jawab seseorang dari dalam rumah.
Kanaya terkejut ketika melihat siapa yang membuka pintu untuk nya.
" Leony....!! "
" Kak Naya......... Leony rindu....... !! " Pekik Leony seperti anak kecil. Ia langsung memeluk tubuh Kanaya, membuat Kanaya tersenyum melihat tingkah lucunya.
" Iya, sama. Kakak juga rindu, tapi ngomong- ngomong ini kapan pulangnya. Bukannya kamu tugas di luar kota. "
Leony mengangguk dan tersenyum, hari ini Ia benar-benar bahagia. Apalagi ketika saudaranya memberitahukan kabar baik untuk nya.
" Iya Kak. Sebenarnya Leony sedang bersantai menikmati cuti, tapi kali ini Leony senang sekali. Leony tidak menyesal pulang kemari, justru Leony akan menyesal karena ketinggalan hal bersejarah dalam hidup Leony. "
Kanaya mengerutkan keningnya mendengar sesuatu yang bersejarah namun kemudian Ia tersenyum.
" Hal bersejarah apa nih, apa Kakak boleh tau. "
Kanaya menggandeng tangan Leony agar masuk ke dalam rumah, sejak tadi mereka hanya berdiri di depan pintu saja.
" Ada deh. "
" Hm.... sudah main raha- rahasiaan ya nih. " Goda Kanaya sambil tersenyum.
Senyum Kanaya semakin mengembang ketika melihat Putra kesayangan nya memberikan setangkai bunga padanya.
" I love you Ma. " Ucap Abizar.
Kanaya menerima bunga pemberian Abi dan langsung menggendong, Ia juga mencium pipi Putranya tersebut.
" Makasih sayang, love you too. "
__ADS_1
Tidak jauh dari sana Adibah juga memberikan setangkai bunga pada Ibunya, Kanaya benar-benar terharu. Ia sampai menitikkan air mata bahagia.
" Ini buat Mama, love you Mama. "
Kanaya melakukan hal yang sama, Ia juga menerima bunga pemberian Putri kecilnya dan tak lupa mengucapkan terimakasih dan memberi kecupan sayang.
" Makasih sayang- sayangnya Mama, tapi tumben anak- anak Mama pada kompak ngasih Mama bunga. Ada acara apa ini dan kalian dapat bunga ini darimana sayang. "
Abizar dan juga Adibah saling pandang, Kanaya memperhatikan raut wajah kedua buah hatinya. Tiba-tiba Abizar dan juga Adibah menarik tangan Ibunya dan mengajaknya ke taman belakang.
" Ada apa sih Nak, kita mau kemana ?. " Tanya Kanaya.
Kanaya masih di landa kebingungan ketika ternyata kedua buah hatinya mengajaknya ke taman belakang, sampai sebuah suara deheman mengejutkan nya. Si kembar pun kompak berlarian masuk kedalam rumah.
" Kamu kemana saja sih sayang, aku sudah menunggumu disini sejak pukul satu tadi dan kamu baru kembali pukul empat. "
Kanaya yang masih bingung hanya tersenyum.
" Aku tadi ada kerjaan di luar Mas, lagipula siapa yang meminta mu menunggu disini Mas. Mas kan bisa pulang dulu dan besok kan bisa ketemu lagi. "
" Aku tidak ingin membuang- buang waktu percuma sayang, lagipula apa kamu lupa. Seperti nya tadi ada yang memintaku untuk segera datang ke rumah, semoga dia tidak lupa sih. "
Kanaya tersenyum canggung, Ia ingat apa yang sudah Ia ucapkan sebelumnya, tapi tidak mengira kalau Sean akan langsung datang kerumah hari ini juga.
" Iya aku ingat Mas, tapi bukan hari ini juga kali Mas. "
Kanaya mengalihkan wajahnya kearah lain, Ia merutuki kebodohan nya sendiri.
" No sayang..... !! Naya, kamu sudah tau bagaimana perasaan ku padamu sejak dulu, dan aku tidak ingin berlama-lama lagi. Kalau bisa hari ini kenapa tidak, sebelum nanti aku di tikung yang lainnya lebih baik aku tancap gas. Aku tidak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. " Ucap Sean.
Kanaya menunduk, jujur saat ini perasaannya kaya permen nano- nano. Apalagi Sean dengan percaya diri meminta nya untuk menjadi pendamping hidupnya, menemaninya hingga akhir hayatnya. Hal itu membuat Kanaya semakin gugup, Ia tidak tau harus menjawab apa.
Di balik pintu Rupa-rupanya ada yang sedang kepo, mereka saling dorong- dorongan agar bisa mengintip bagaimana akhir dari perjuangan Sean hari ini.
" Bagaimana Umi. " Tanya Leony.
__ADS_1
Umi Rahayu menggeleng pelan dengan raut wajah kecewa, Leony sudah tau jawabannya. Ia pun ikut kecewa.
" Mas, apa kamu tidak menyesal dengan keputusan yang kamu ambil sekarang ini. Aku tidak mau Mas menyesal nanti karena menikahi seorang jan....
" Cukup Naya, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Jaman sekarang hal itu sudah bukan sesuatu yang harus di jadikan sebagai alasan untuk sebuah kebahagiaan, lebih baik menikahi seorang janda yang sudah jelas status nya daripada menikahi yang katanya perawan tapi belum tentu juga. Sekarang yang aku inginkan adalah kamu sayang, mau kamu menjadi penyempurna dalam hidupku. Menjadi tempat aku membagi suka dan duka, menjadi tempat aku pulang ketika lelah dengan semua rutinitas ku. "
Kanaya semakin menunduk, Ia ragu untuk mengambil keputusan. Ingin menolak tapi hatinya terasa berat, ingin menerima tapi hatinya ragu. Jadilah istilah mau tapi malu.
Sean mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya, Ia masih berharap Kanaya hari ini akan menerima niat baiknya.
" Ambillah ini, kamu tidak harus memakainya sekarang. Pikirkan saja dulu, kamu bisa memakainya ketika kamu sudah yakin. "
Di dalam rumah, semua yang tadi berdesak-desakan ingin mengintip serempak terduduk lemas.
" Ya gagal deh. " Ucap mereka serempak.
Sean mencoba berbesar hati, Ia meninggalkan Kanaya seorang diri di taman. Mungkin Ia harus memberi waktu Kanaya untuk berpikir.
" Apa aku harus memakainya sendiri. "
Sean menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Kanaya, Ia bergumam mengulang apa yang di ucapkan oleh Kanaya. Senyum mengembang di bibirnya ketika Ia menyadari maksud dari ucapan Kanaya.
Sean segera menghampiri Kanaya, Ia menatap wajah cantik wanita yang sangat di cintainya itu.
" Hmmmm. "
" Ya, iya Mas. Apa begini cara Mas melamar ku, apa cincinnya harus aku pakai sendiri, tidak bisakah Mas romantis seperti orang lamaran pada umumnya. "
Sean menahan tawa, dalam hati Ia benar-benar bahagia. Ia mengambil kembali kotak cincin dari tangan Kanaya.
" Apa ini pertanda kamu menerima ku. " Tanya Sean.
Kanaya grogi namun Ia akhirnya menangguk pelan, Sean tersenyum bahagia. Ia langsung berlutut dan kembali meminta kesediaan Kanaya untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Semua orang yang di dalam rumah sontak menghambur keluar, mereka bersorak ketika cincin sudah berada di jari manis Kanaya.
__ADS_1
Kanaya terkejut melihat kehadiran semua orang yang Ia sayangi, Ia juga malu setelah mengetahui kalau sejak tadi mereka di intip.