Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 97 Ancaman Asma


__ADS_3

Erlangga kembali dari aktivitas nya, seperti biasa Ia langsung menemui Susi karena mengira kalau Istrinya belum kembali kerumah.


       " Susi. " Bisik Angga.


Susi terlonjak kaget karena tiba-tiba Angga sudah berada di sampingnya dan berbisik di telinganya. Mungkin Ia terlalu fokus membereskan dapur sampai-sampai Ia tidak mendengar langkah kaki orang lain.


      " Eh Pak Angga, ada apa Pak. Maaf, ada yang bisa saya bantu. " Tanya Susi berusaha menetralkan debaran jantungnya.


Tiba-tiba terdengar suara mengejutkan mereka berdua.


      " Mas Angga, ngapain malam- malam ada di dapur. Susi...... kamu juga, ngapain malam- malam begini kamu masih disini bukannya masuk ke kamar ? "


Susi gugup, Ia takut kalau Asma akan berpikir macam- macam tentang mereka.


       " Ah saya Bu, maaf Bu. Ibu jangan salah faham dulu, Pak Angga hanya meminta saya menyiapkan makan malam. Kebetulan saya juga sedang membereskan dapur Bu, sebentar lagi saya juga akan istrahat kalau pekerjaan saya sudah selesai. "


Asma menatap Susi dan juga suaminya dengan tatapan penuh selidik, jelas- jelas Ia melihat sendiri kalau tadi suaminya begitu sangat dekat dengan pembantunya itu.


      " Ya sudah Susi, cepat sediakan makan malamnya, setelah itu kamu boleh istrahat. "


Susi mengangguk dan dengan cepat menyiapkan apa yang di minta oleh majikannya itu. Mereka makan dalam diam, tidak seperti biasa Angga makan dengan lahap, saat ini Ia hanya mengambil sedikit jatah makan malamnya untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.


       " Mas, apa Mas marah padaku. " Tanya Asma yang melihat Angga cuek padanya.


Angga duduk di sofa dan memilih menyibukkan diri dengan laptopnya.


       " Oh ayolah Mas, masa gitu saja kamu marah. Wajarlah kalau aku menegur kalian, mana ada malam- malam begini seorang majikan berduaan dengan pembantunya yang bukan muhrimnya. "


Angga menatap Asma dengan tatapan jengah.


        " Lalu kemana saja kamu selama beberapa hari ini Asma. "

__ADS_1


Asma sedikit gugup mendengar pertanyaan suaminya yang tiba-tiba membahas keberadaan nya selama beberapa hari ini, namun Ia berusaha sebisa mungkin untuk bersikap santai.


       " Bukankah aku sudah ijin pada Ibu, lagipula aku kesana untuk bekerja bukan untuk bersenang-senang. "


Angga menghela nafas panjang, Ia menutup laptopnya dan berlalu keluar kamar. Ia enggan untuk berdebat dengan istrinya, masalah yang di hadapinya saat ini membuatnya ingin melampiaskan kemarahan nya andai Ia tak mampu mengendalikan diri.


Pagi-pagi sekali Asma sudah bangun, Ia bergegas keluar kamar mencari keberadaan suaminya. Ternyata Angga tidur di sofa ruang tengah, Asma bergegas ke dapur.


      " Eh sini kamu. "


Susi terkejut ketika tiba-tiba Asma menarik tangannya dengan sangat keras.


       " Aku peringatkan padamu ya, kamu disini datang untuk bekerja jadi lakukan semua pekerjaan mu dengan baik. Apa perlu aku jelaskan lagi pekerjaan mu disini apa, jangan pernah lakukan pekerjaan yang lain selain jadi babu. Apalagi sampai berpikir menggoda suamiku, asal kamu tau ya, aku tau semua tentang kamu. Adik mu yang ada di kampung dan juga nenek mu yang sudah tua itu, nasib mereka tergantung bagaimana caranya kamu membawa diri disini. Kalau kamu macam-macam maka kamu akan rasakan sendiri akibatnya. "


Susi meringis kesakitan karena Asma meremas tangannya begitu kuat, bukan hanya itu. Ucapannya yang bernada ancaman benar-benar membuat nyali Susi menciut.


       " Asma, kamu sudah pulang Nak. Wah pagi-pagi sudah di dapur, kamu pasti mau bantuin Susi ya. Kasihan dia, semua pekerjaan rumah dia yang kerjakan sendiri. Ibu sudah merasakan bagaimana mengurus rumah ini sendiri, itu tidak mudah. Seharusnya gajih nya di tambah dari gajih yang sudah di tetapkan sebekumnya, bagaimana Nak. Kamu tidak keberatan kan. "


Asma mendengus kesal, baru juga tiba di rumah sudah gajih asisten rumah tangga yang di bahas.


Bu Aminah tersenyum mendengar jawaban Asma.


" Tentu saja Nak, kalau soal itu tidak perlu di ragukan lagi. Ibu sudah melihat kinerjanya selama hampir sebulan ini, dia sangat cekatan dan juga hasil pekerjaan nya juga bersih dan rapi. "


Asma menatap tajam kearah Susi, kalau mengikuti kata hatinya, Ia tidak akan memberikan bayaran pada Susi karena sudah berani mengganggu apa yang sudah menjadi miliknya.


" Terserah Ibu saja. " Asma melenggok meninggalkan dapur, kembali ke kamarnya.


Sudah pukul sembilan namun Angga masih betah tidur di sofa, beberapa kali Asma mencoba membangunkannya namun tidak membuahkan hasil.


" Nak, bangun. "

__ADS_1


Angga baru bangun ketika giliran Bu Aminah yang membangunkan dirinya.


" Sayang, kok kamu tidur disini Nak. Yuk bangun, ini sudah jam sembilan, apa kamu tidak bekerja. "


Angga mengerjabkan matanya pelan, tanpa berbicara Ia melangkah masuk ke kamar. Di dalam kamar Ia memilih tidur kembali, hal itu membuat Asma bingung melihatnya.


Di tempat lain


" Maaf, aku terlambat. "


" Tidak apa apa Mas, silahkan duduk. "


Sean menarik kursi dan duduk di depan Kanaya, Ia begitu penasaran dengan apa yang akan di katakan Kanaya padanya.


" Kamu sudah pesan makan. " Tanya Sean dan Kanaya menggeleng.


Sean juga menggeleng di sertai helaan nafas berulang kali, kebiasaan Kanaya selalu mengabaikan jam makannya baik itu pagi, siang ataupun malam.


" Mbak. " Panggil Sean pada pelayan restoran. Ia memesan makanan kesukaan Kanaya.


Angga begitu penasaran dan ingin bertanya perihal maksud Kanaya mengajaknya bertemu namun di urungkan nya karena makanan yang Ia pesan sudah datang. Mereka makan dalam diam sampai selesai.


" Bagaimana kabar mu Kanaya. " Sean bingung harus menanyakan apa kepada Ibu si kembar. Akhirnya Ia menanyakan kabar Kanaya, pertanyaan yang konyol karena mereka sering bertemu sebelumnya.


" Ah aku baik Mas. Maaf Mas, apa aku boleh menanyakan sesuatu pada Mas. "


Sean mengangguk dan tersenyum


" Tentu saja bisa dong, memangnya kamu mau nanya apa. "


Meskipun ragu akhirnya Kanaya memberanikan diri bertanya mengenai hal yang menurutnya sangat penting itu.

__ADS_1


" Naya, kamu memintaku bertemu hanya untuk membicarakan itu. Apa kamu masih mencintai nya, sampai-sampai kamu rela melakukan apapun untuk nya. " Batin Sean


Tidak bisa di pungkiri kalau hatinya sedikit kecewa dan juga di selimuti rasa besar.


__ADS_2