
Dari sudut lain, Angga semakin di buat tidak nyaman ketika melihat orang yang dulu pernah hidup dengannya selama bertahun-tahun justru pergi bersama orang lain. Amarahnya kembali meledak-ledak, Ia melangkah dengan langkah lebar begitu juga dengan ekspresi nya yang membuat siapa saja melihatnya merasa ngeri.
" Pak..... !! " Panggil sang pengacara.
" Nak, Angga.....!! " Panggil Bu Aminah yang melihat Angga berlalu begitu cepat.
Meskipun namanya di panggil namun Angga tidak peduli, Ia tetap berlalu meninggalkan gedung tempat sidang di adakan. Ia masuk kedalam mobilnya dengan perasaan di selimuti amarah, Ia tidak tau marah pada siapa namun saat ini emosinya memang begitu sulit Ia kendalikan.
Angga memukul setirnya beberapa kali sambil berteriak, matanya memerah dengan gigi berbunyi karena terjadi gesekan akibat kemarahan nya.
Bu Aminah berlari menghampiri mobil Angga sambil memanggil- manggil na Putranya, namun dengan cepat mobil Angga sudah melesat pergi. Wanita berumur itu bahkan hampir saja terjengkang kalau tidak di tahan oleh Pak Agus Kuncoro, pengacara mereka.
" Sudah Bu, biarkan Pak Erlangga sendiri dulu. Mungkin beliau perlu waktu untuk menenangkan diri. " Ucap Pak Agus.
Bu Aminah mengangguk, beliau membenarkan apa yang di katakan Pak Agus namun masalahnya saat ini Angga pergi dengan amarah. Bu Aminah takut kalau Putranya itu tidak dapat mengendalikan kemarahan nya dan berakibat fatal nantinya.
" Ibu pulang bersama saya, nanti saya antarkan Ibu sampai rumah. " Tawar Agus.
Bu Aminah nurut saja, saat ini beliau memang sudah lelah. Tidak mudah menghadiri sebuah persidangan di usia tuanya, apalagi menghadapi sikap Angga yang tempramen, hingga beberapa kali hampir membuat keributan.
Satpam membukakan pintu pagar ketika melihat ada mobil yang Ia kenali.
" Terima kasih Pak Agus sudah mengantarkan saya sampai kerumah. Mau masuk dulu, istirahat sambil minum kopi. " Tawar Bu Aminah sebagai ucapan terima kasih.
Pak Agus tersenyum dan berterima kasih, tapi saat ini Ia harus pergi karena ada urusan lain.
" Terima kasih Bu, tapi saat saya harus pergi. Nanti saya kemari lagi setelah Pak Erlangga kembali, saya mohon pamit Bu, assalamu'alaikum. "
" Waalaikum salam Pak, hati-hati di jalan. "
Pak Agus mengendarai mobilnya pelan, tiba-tiba ponsel nya berdering. Beliau pun menerimanya dengan senyum menghiasi bibirnya.
__ADS_1
" Baik Pak, terima kasih. " Ucapnya sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.
Di tempat lain Angga terus memacu kecepatan mobilnya, Ia tidak punya tujuan. Saat ini yang Ia inginkan hanyalah melampiaskan semua amarah di hatinya agar merasa tenang.
Hingga terdengar bunyi klakson bersahutan, Angga mengerem mobilnya secara mendadak karena hampir saja terjadi tabrakan beruntun karena ulahnya.
Satu persatu pengemudi berteriak meluapkan kekesalannya karena aksi ugal-ugalan Angga, hampir saja nyawa mereka melayang. Sedangkan Angga sendiri terdiam melihat semua kekacauan yang Ia ciptakan, akhirnya Ia pergi karena memang tidak ada yang terluka dalam insiden ini.
Angga kembali memutari kota hingga hampir menjelang malam, akhirnya Ia memutuskan mampir ke sebuah tempat untuk melampiaskan kekecewaannya.
Angga memesan beberapa botol minuman yang Ia nikmati sendiri, sudah satu jam Ia duduk di tempat itu akhirnya sang pemilik berinisiatif menghubungi keluarganya.
" Ini Pak Erlangga, pemilik perusahaan Wardhana bos. Saya punya kontak orang terdekatnya, biar saya saja yang hubungi. " Ucap salah satu pekerja disana.
Ternyata benar, tiga puluh menit kemudian datanglah Pak Agus bersama satu orang Pria. Mereka mengajak Angga pulang setelah melunasi semua tagihan Pria itu. Awalnya Angga menolak dan Pak Agus juga teman nya harus menggunakan tenaga ekstra agar bisa membawa Angga pulang kerumahnya.
" Pak, ini kita mau bawa kemana. Kalau kita bawa kerumahnya apa tidak apa- apa sama Ibunya, kita kan tahu kalau Bu Aminah sudah tua, apa tidak masalah kalau kita bawa kesana. "
Setelah berunding akhirnya mereka memutuskan untuk tetap membawa Angga pulang kerumahnya karena alasan tertentu.
Beberapa kali satpam menekan bel hingga akhirnya pintu pun di buka dari dalam, nampak Susi yang keluar dengan pakaian tidurnya yang tipis menerawang.
" Eh Pak Agus, loh Pak Angga kenapa. Mari masuk Pak. " Susi membuka pintu lebar- lebar agar memudahkan ketiga Pria itu membawa tubuh majikannya.
Susi membuka pintu kamar majikannya sehingga Pak Agus dan yang lainnya bisa lebih mudah masuk. Pak Agus memandangi sekeliling, sejak tadi Ia tidak melihat siapapun selain Susi yang Ia tahu sebagai pembantu baru di rumah itu.
" Makasih Pak, mari saya antar keluar. " Ucap Susi.
Pak Agus dan temannya mengangguk, mereka pun keluar beriringan.
" Oh ya Susi, apa di rumah hanya kamu saja. " Tanya Pak Agus.
__ADS_1
Susi tersenyum dan kemudian menggeleng pelan.
" Nggak Pak Agus, ada Bu Aminah. Sepertinya beliau sudah tidur, sejak siang tadi beliau gelisah menunggu Pak Angga pulang. Tadi juga beliau mondar-mandir, mungkin karena lelah jadi beliau tertidur sebelum Pak Angga pulang. "
Pak Agus manggut-manggut mendengar penjelasan Susi, beliau pun menanyakan Istri dari Pak Erlangga yaitu Bu Asma namun Susi menjawab kalau majikan perempuan nya itu tidak ada di rumah saat ini. Katanya ada pe
kerjaan di luar kota jadi tidak bisa pulang.
Setelah Pak Agus dan juga teman Prianya kembali, Susi berniat untuk masuk ke kamarnya karena ini memang sudah sangat larut malam. Besok Ia harus bangun cepat karena pekerjaannya memang mengharuskannya untuk bangun cepat.
Baru juga beberapa langkah Ia mendengar sebuah benda jatuh, Susi terkejut. Ia berlari mencari dimana suara itu berasal.
" Bunyi apa tadi, seperti benda pecah. " Gumam Susi.
Ia melangkah kedapur namun tidak menemukan apapun, tiba-tiba Ia teringat pada majikannya yang baru pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
" Apa itu dari kamar Pak Angga. " Gumam Susi lagi.
Ia berlari kekamar dan terkejut melihat Angga sudah bangun dan berdiri di samping meja, Susi semakin terkejut ketika melihat gelas pecah yang berserakan di lantai.
" Bapak, awas ada beling. "
Susi berlari dan mencoba menjauhkan majikannya dari tempat itu karena takut majikannya akan terluka.
" Bapak kembali tidur lagi ya, sini biar saya bantu. "
Susi mencoba membantu Angga agar kembali ke ranjang namun Angga bersikeras tetap disana.
" Minum, aku ingin minum. Mana minuman ku, berikan padaku. " Ucap Angga.
Susi menjadi kelimpungan, bagaimanapun juga majikannya adalah seorang Pria. Tenaganya lebih kuat darinya.
__ADS_1
" Bapak ingin minum ya, sebentar Susi ambilkan gelasnya. Tapi Bapak tetap disini saja, jangan kemana-mana. "
Baru saja Susi melepas tangan Angga dan mencoba menjauh tiba-tiba saja Angga memeluknya dengan kuat, karena terkejut dan juga tubuh Angga memang berat, akhirnya Susi jatuh tepat di atas ranjang dengan posisi Angga berada di atasnya tubuh telentang nya.