
Erlangga kembali menemui kedua buah hatinya namun seperti biasa, dia selalu mendapatkan penolakan. Bahkan kedua buah hatinya langsung lari ketakutan ketika melihat dirinya.
Suara histeris Abi dan Diba membuat seisi rumah menjadi terkejut, Naya keluar dengan tergesa-gesa.
" Nak...... !! Ada apa sayang. Bi.... Bibi.....!! " Panggil Kanaya pada pengasuh kedua buah hatinya.
Sang pengasuh lari ngos-ngosan karena mendengar suara tangis si kembar, di tambah lagi suara Kanaya.
" Iya Bu, maaf tadi saya ke toilet sebentar. "
Sang pengasuh langsung memeluk tubuh Diba sedangkan Kanaya memeluk Abi, bocah laki-laki kesayangannya.
" Cup- cup sayang, jangan nangis Nak, ada Mama disini. "
Kanaya menoleh kearah tatapan kedua buah hatinya dan terkejut melihat kehadiran Angga.
" Bi, tolong bawa anak-anak ke dalam. Sayang, sudah tidak apa-apa. Dengarkan Mama, Abi dan Diba ikut Bibi ya, main sama Oma. "
Masih dengan tangis kedua bocah tampan dan cantik itu mengikuti pengasuh mereka.
Kanaya menghela nafas kasar, dengan hati di selimuti kekesalan Naya meminta Angga untuk menjauh dari tempat itu.
" Ikut aku Mas. "
Naya melangkah keluar di ikuti oleh Angga.
" Mas, bisa tidak kamu tidak datang secara tiba-tiba dan membuat mereka menangis ketakutan seperti tadi. Aku tidak bisa mentolerir perbuatan mu Mas. "
Angga tidak terima dengan tuduhan Kanaya.
" Aku tidak pernah berpikir untuk membuat mereka takut dan menangis seperti tadi. Ini semua karena kamu Naya, kamu pasti tidak mengajarkan pada mereka atau memberitahukan siapa aku sebenarnya pada mereka, makanya mereka bereaksi seperti tadi. "
Kanaya menatap Angga intens, Ia tidak menyangka kalau Angga akan mengatakan hal itu padanya.
" Mas, aku tidak pernah mengajarkan hal yang tidak baik pada mereka. Seharusnya Mas yang harus berusaha mencari tau bagaimana caranya agar mereka tidak merasa ketakutan ketika bertemu dengan Ayahnya sendiri. Jangan selalu saja menyalahkan orang lain atas semua yang terjadi padamu. "
Terjadilah perdebatan antara Naya dan juga Erlangga, Angga yang merasa kalau anaknya tidak menyukainya karena hasutan dari Kanaya tetap bersikeras pada pendapat nya.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu, aku akan buktikan nanti. Karena kamu sepertinya tidak ada niat baik, jadi aku terpaksa melakukan ini. Kita akan bertemu di pengadilan nanti. " Ucap Angga penuh emosi.
Kanaya hanya bisa geleng-geleng kepala, Ia tidak tau harus menjelaskan seperti apa agar Pria itu mengerti.
***
Bu Aminah begitu menyukai cara kerja Susi, mungkin karena sudah terlatih atau memang karena wanita itu sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah di keseharian nya.
" Ibu, pekerjaannya biar saya saja yang kerjakan. Ibu cukup bilang sama saya apa yang saya harus masak hari ini, setelah itu Ibu bisa istrahat. "
Bu Aminah yang sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri merasa tidak nyaman kalau hanya duduk santai saja.
" Tidak apa-apa Susi, Ibu tidak nyaman berdiam diri saja. " Jawab Bu Aminah.
" Ya sudah kalau begitu Ibu bisa bantu- bantu saja, tapi yang berat- berat biar Susi saja. "
Sudah beberapa minggu ini Asma selalu pamit bekerja, dan pekerjaan nya seperti biasa, melayani Danang dengan bayaran yang cukup besar.
Karena sering mendapatkan kepuasan di luar, Asma jadi tidak begitu mempermasalahkan nafkah batin dari suaminya. Kadang Ia terpaksa melayani urusan ranjang suaminya.
Asma sudah menunggu di kamar hotel yang mereka pesan berbeda setiap waktu. Baru juga pintu terbuka, Asma sudah menggerayangi tubuh Danang. Danang sampai terkejut mendapatkan serangan dadakan dari Asma.
" Ada apa dengan mu. " Tanya Danang heran, meskipun dia sendiri menyukai tindakan Asma.
Asma menghirup nafas dalam- dalam karena hasratnya yang sudah di ubun-ubun.
" Entahlah Mas Danang, tapi aku sangat menginginkan nya sekarang. " Jawab Asma dengan tatapan penuh hasrat.
Danang tersenyum penuh arti, Ia merasa senang karena kini bukan hanya dirinya yang menginginkan nya tapi juga Asma.
" Apa tidak salah kalau kamu menginginkan nya sayang, apa suami mu itu tidak bisa membuat mu puas. " Tanya Danang dengan meremass bagian inti milik Asma, hal itu membuat Asma mendesahh.
Asma mendaratkan ciumannya di dada Danang dan memeluk tubuh Pria itu.
" Entah mengapa rasanya aku tidak puas, aku menginginkan mu. " Jawab Asma dengan suara serak.
Danang tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Ia bisa menaklukkan wanita yang Ia inginkan. Sedangkan Asma, dia menyukai gaya bercinta Danang yang agak kasar tapi justru itu yang membuatnya merasa puas.
__ADS_1
Asma perlahan mendorong tubuh Danang hingga terbaring di sofa, Ia melepas satu demi satu kancing baju Pria itu. Sambil memberikan servis Asma melepas sendiri pakaian yang melekat di tubuhnya.
" Tubuh mu sangat indah sayang. " Puji Danang dan Asma tersenyum senang.
" Ini milik mu sayang, lakukan apa yang kamu inginkan. " Suara Asma hampir tak terdengar.
Danang yang melihat aksi Asma akhirnya meminta Asma yang memimpin permainan mereka kali ini. Asma mengangguk dan dengan senang hati Ia melakukan nya.
Beberapa menit berlalu keduanya sudah mandi keringat, seakan keberadaan pendingin ruangan di kamar itu tidak berfungsi.
Asma tidak tahan dengan sentuhan Danang di bagian sensitif miliknya, Ia bangkit dan berpindah ke atas tubuh Danang. Mulut nya membentuk huruf O seiring dengan benda keras menyentuh area sensitif miliknya.
Keduanya benar-benar menikmati permainan sampai tidak terasa hari sudah menjelang siang, mereka baru menyudahi aktivitas nya ketika terdengar bunyi cacing yang demo.
Asma ngos-ngosan seperti habis berlari marathon, andai mereka bisa bebas bersama, Ia ingin menikmati sore hari dengan tidur disana, tapi sayang itu adalah hal yang tidak mungkin.
Meskipun lelah tapi dia harus pulang sebelum semua penghuni rumah mencurigainya. Lagi-lagi Asma merasa puas dengan yang Ia dapat dari melayani Danang.
Seperti biasa mereka tidak keluar bersamaan, meskipun begitu ternyata ada yang mengenali mereka.
" Naya, bukankah itu...... !!? Ia benar, dia..... Tapi untuk apa dia disini, dan itu siapa. Apa kamu mengenalnya. " Tanya Sean.
Asma menoleh dan melihat siapa yang di maksud oleh Sean, dalam hati dia juga membenarkan apa yang di lihat Pria itu, namun saat ini Ia masih punya hal lain yang lebih penting.
" Mas, bisakah sekarang kita pergi makan karena aku sudah sangat lapar. "
Sean akhirnya melajutkan perjalanannya, Ia kembali melajukan mobilnya mencari tempat yang nyaman untuk makan siang berdua.
Sean begitu yakin dengan apa yang Ia lihat sebelumnya, bibirnya menyunggingkan senyum devil.
" Ada apa Mas, apa ada masalah. " Tanya Naya
Sean menggeleng dan tersenyum
" Tidak ada masalah Naya, semua baik- baik saja. Oh ya, ngomong- ngomong kamu mau makan siangnya dimana. " Tanya Sean.
Kanaya menyerahkan semua keputusan di tangan Sean, Ia tidak pernah mempermasalahkan harus makan dimana. Yang penting makan, di pinggir jalan pun tidak masalah baginya.
__ADS_1