Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 64 Kegilaan Albert


__ADS_3

Leony meminta bantuan pada Suster untuk mengantarkan makan siang untuk Albert, Ia ingin merehatkan dirinya sebentar di ruangannya.


" Leony, kamu kah itu. "


Albert langsung bertanya ketika mendengar pintu terbuka, langkah kaki terus mengarah kearahnya.


" Ahh. " Jerit Suster Mega karena Albert tiba-tiba menggenggam tangannya dengan kuat.


Albert perlahan membuka mata, Ia terkejut melihat siapa yang baru saja Ia genggam tangannya.


" Ka, kamu....  kenapa kamu disini, ehmmm mana Dokter Leony. "


Albert segera melepas tangannya dan bersikap cool seperti biasa.


" I, iya Pak. Ini saya, maaf tadi Dokter Leony meminta saya mengantarkan makan siang Bapak. "


Albert lama terdiam, Ia masih mencoba mengontrol dirinya.


" Pergilah. "


Mega mengangguk dengan raut wajah ketakutan.


" Pasien yang sangat aneh, tadi pagi dia datang dengan berbagai luka di tubuhnya. Anehnya dia tidak ingin di rawat oleh siapapun, sekarang dia mencengkram tanganku dengan kuat seolah takut lepas, dan itu karena dia mengira aku adalah Dokter Leony. " 


Suster Mega meninggalkan Albert seorang diri di ruangannya. Albert bangun dari ranjang, meskipun tubuhnya sakit namun Ia tidak peduli.


" Awwhhh, ish apa ini. Aku tidak perlu ini. " Albert melepaskan jarum infus yang melekat di tangannya.


" Baiklah gadis nakal, rupanya kau sengaja ingin menghindar dariku, setelah semua yang sudah kau lakukan padaku. Aku Albert, tidak akan mengijinkan mu merasa tenang, kamu harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini. " Gumamnya lagi.


Albert melangkah keluar ruangan sembari membawa kotak nasi untuk makan siangnya, beberapa orang yang berpapasan dengannya terkejut dan ada juga yang merinding melihat penampilan Albert.


" Eh, maaf Pak. Anda sedang terluka, cepat kembali keruangan anda Pak. " Dokter Raka berusaha membujuk Albert agar kembali keruangannya karena darah terus mengalir di perutnya.


Mega yang baru saja datang sama terkejutnya, Ia juga meminta Albert agar kembali ke kamarnya namun Albert tidak mengindahkannya. Ia bahkan menepis dengan kuat tangan Dokter Raka dan juga Suster Mega.


" Tunjukkan padaku dimana ruangan Dokter Leony. "


Dokter Raka tidak mau memberitahukan ruangan Dokter Leony karena takut pasien akan berlaku jahat padanya.


" Mari Pak, biar saya antar. "


" Sus. "


" Maaf Pak Raka, tapi sepertinya ini lebih baik. " Mega meyakinkan Dokter Raka kalau semuanya akan baik- baik saja.


Leony masih mempelajari beberapa laporan medis para pasiennya ketika tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat keras.


" Maaf Dokter Leony, dia memaksa ingin menemui anda. Tapi Dokter tidak perlu khawatir, saya akan membawanya kembali ke kamarnya. " Ucap Dokter Raka.

__ADS_1


Leony masih shock dengan kedatangan Albert, di tambah lagi darah yang terus mengalir di bagian perut Pria itu.


" Pak Albert   !!! Astaghfirullah Pak, ayo kembali keruangan Bapak. "


Leony meminta Albert kembali ke ruangannya, bagaimana pun juga Ia tidak akan bisa mengabaikan orang yang sedang sakit.


" Aku tidak akan pergi, kenapa hm.... Apa kau kasihan padaku hanya karena aku terluka, ini belum seberapa di bandingkan rasa sakit yang aku rasa disini. " Albert memegang dadanya sendiri.


Leony bingung, Ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pasiennya.


" Hey Pak, ayo kembali keruangan Bapak. Jangan berbicara omong kosong disini. " Dokter Raka memaksa membawa Albert kembali namun Pria itu juga keras dengan pendiriannya.


" Omong kosong, ini bukan omong kosong Dokter. Dokter Leony, apa kau akan terus menyiksaku seperti ini setelah kau mencium ku hari itu. "


Leony terkejut, gadis itu sampai melongo mendengar perkataan Albert. Bukan hanya Leony tapi juga Dokter Raka dan juga Suster Mega dan beberapa orang lain yang kebetulan lewat disana.


" Hey, omong kosong apa ini. Bisa- bisanya kau mengatakan Dokter Leony mencium mu. Aku rela melepaskan titel kedokteran ku untuk menghajar mu ha.... pasien nggak jelas. "


Dokter Raka tidak dapat mengendalikan emosinya, Ia ingin menghajar Albert namun di tahan oleh Leony.


" Cukup Dok Raka, biarkan kami berdua disini. "


Tentu saja Dokter Raka keberatan, berbeda dengan Suster Mega yang memang sudah memahami sedikit mengenai kondisi saat ini.


" Tapi Dok. "


" Dokter Raka. "


Selepas kepergian Dokter Raka dan Suster Mega, Leony menarik lengan Albert menuju ranjang pasien yang berada di ruangannya.


" Leony....


" Jangan banyak bicara, kau sudah terlalu banyak bicara Pak Albert. "


Leony membaringkan Albert di ranjang, dengan sigap Ia mengambil alat-alat medisnya. Tanpa berbicara Ia menyingsingkan baju Albert, Ia memperhatikan bekas jahitannya yang kembali mengeluarkan darah.


" Leony, maafkan a....


" Diam....!!!! Ah tidak, ini harus melalui jalan operasi. "


Leony mengambil ponselnya dan ingin menghubungi seseorang namun Albert menahannya.


" Jangan Leony, tidak perlu. Cukup dengan mu saja, tangan mu sendiri sudah bisa menyembuhkan ku. "


Albert menggenggam tangan Leony, Pria itu tidak ingin masuk ke ruang operasi apalagi sampai tidak melihat wanita cantik yang sekarang ini Ia genggam tangannya.


" Tapi Pak Albert, luka anda cukup serius. "


Albert menarik tangan Leony dan menggenggamnya dengan kuat, seolah ini adalah hari terakhir Ia menggenggam tangan gadis cantik itu.

__ADS_1


" Albert, panggil namaku saja. Leony, aku hanya ingin kamu yang merawatku. Ak, aku pasti akan baik- baik saja di tanganmu. "


Albert berusaha terlihat baik- baik saja di depan Leony. Leony sedikit panik ketika melihat darah terus mengucur di perut Albert, tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang di inginkan Pria itu.


" Baiklah, bertahanlah. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mu. "


Leony mulai melakukan tugasnya, keringat mengucur di wajahnya. Meskipun hal ini sudah sering Ia lakukan, tetap saja Ia sedikit grogi.


Albert memandangi wajah Leony untuk mengurangi rasa sakit yang Ia rasa.


" Tenang Leony, aku baik- baik saja. Ini tidak sakit kok. "


Albert memegang pinggang Leony ketika rasa sakit itu benar-benar menyerangnya.


" Tenang Albert, ini hanya sementara. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan perasaan mu beberapa hari ini. " Batin Albert menyemangati dirinya sendiri.


Leony tetap fokus menyelesaikan jahitannya pada perut kiri Albert, Ia tidak lagi mempermasalahkan kemana tangan Pria itu.


Leony menghela nafas panjang setelah akhirnya bisa melewati itu semua, Ia menatap Albert dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Sudah selesai. "


Leony yang masih shock antara percaya dan tidak bahwa Ia mampu melewati semua itu tanpa menggunakan alat yang lengkap.


Leony kekamar mandi guna mencuci tangan, Ia menatap wajahnya di depan cermin.


" Terbuat dari apakah Pria itu, bahkan mampu menahan rasa sakit seperti tadi " Gumam Leony.


Albert menatap Leony yang baru keluar dari kamar toilet, ada perasaan bersalah dengan semua yang sudah Ia lakukan.


" Maafkan aku. "


Leony menoleh kearah Albert masih dengan nyawa yang belum terkumpul semua.


" Sudah tidak apa- apa, tidak perlu di bahas lagi. Kamu harus istrahat sekarang, dan ingat untuk tidak mengulang hal yang sama. Karena kalau ini masih terulang maka kamu harus menjalani operasi besar dan bukan aku yang melakukannya tapi Dokter Raka. "


Albert menggeleng berulang - ulang, melihat Pria tadi saja Ia menjadi takut membayangkan akan berada di meja operasi bersama Pria itu. Apa nyawanya akan selamat ketika berada di tangan Pria itu.


" Leony, ijinkan aku bicara. "


Leony menggeleng, Ia menatap mata Albert seolah memintanya untuk diam.


" Baiklah, aku akan istrahat. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin jauh darimu. "


Alhasil Leony duduk disamping ranjang Albert, dengan tangan yang masih di genggam Pria itu.


Leony menghela nafas berulang kali, Ia tidak mengerti kenapa ada Pria gila seperti Albert.


✳️✳️✳️

__ADS_1


Buat yang masih setia mendukung karya onel berkah, onel ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Dan untuk yang nanyain pemeran utamanya pada kemana, nanti juga muncul ya. Tapi saat ini kita bahas pemeran pendukung nya terlebih dahulu ya 🙏🙏


__ADS_2