
Disaat Angga semakin tersiksa dengan rasa sakit yang bahkan sudah hampir membuatnya frustasi itu, di kota T Umi juga di buat kalang kabut. Niatnya hanya ingin memeriksakan kondisi Kanaya, namun ternyata setelah di lakukan pemeriksaan posisi jalan lahir sudah pembukaan tujuh. Umi langsung menelpon Bi Nur dan pmeminta asisten Putrinya itu agar membawakan semua perlengkapan yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
" Bu, sebaiknya Ibu Naya disini saja. Ini memang sudah waktunya Ibu untuk bersalin. "
Kanaya terkejut mendengar ucapan Dokter, pasalnya Ia tidak merasakan sakit seperti yang orang-orang katakan selama ini.
" Tapi saya ini tidak merasakan sakit yang gimana- gimana Dok, masa iya sudah waktunya saya melahirkan. "
Dokter tersenyum dan kemudian menjelaskan pada Naya mengenai persalinan yang membuat wanita hamil itu bingung.
" Reaksi persalinan pada setiap Ibu hamil itu berbeda-beda Bu, ada yang sakit ada juga yang nggak terlalu. Begitu juga ada yang lama dan ada juga yang cepat, tidak semua Ibu bersalin itu rasa sakitnya sama. "
Naya manggut-manggut mendengar semua penjelasan Dokter Citra, sementara Umi nampak sibuk dengan ponselnya. Bi Nur yang di telpon Umi pun tergesa-gesa mengambil tas yang sudah berisi perlengkapan baby twins, namun ketika berada di luar rumah Ia mendadak bingung.
" Lah, aku harus naik apa. Kan tidak mungkin kalau aku bawa mobil atau motor sendiri apalagi jalan kaki, kapan sampainya coba. Ah sudah panggil taksi saja. "
Sudah dua taksi yang di hentikan Bibi namun tidak ada satupun yang singgah.
" Hei tunggu..... dasar supir dudul. Nggak mau duit kali, di panggil bukannya singgah malah tambah laju. " Omel Bi Nur yang mulai tidak sabaran.
Dari jauh sebuah mobil nampak menepi, tidak lama kemudian turunlah seorang Pria tampan.
" Bibi, mau kemana Bi. Kok bawa tas gede begitu, apa mau pulang kampung. "
Bibi menunjuk sang Pria sembari mengingat- ngingat siapa Pria itu.
" Bibi, aku Sean temannya Kevin. Kapan hari itu kan aku pernah datang kemari. "
Mendengar itu tanpa meminta ijin terlebih dulu, Bi Nur langsung menarik tasnya kesisi mobil Sean.
" Buka pintunya Mas Sean, buruan antar Bibi. "
Sean yang melihat Bibi panik langsung membukakan pintu, Ia pun segera masuk kesamping kemudi.
" Oke Bi santai saja, sekarang kita mau kemana Bi. " Tanya Sean yang tidak tau harus kemana.
" Rumah sakit, kita ke rumah sakit Mutiara Bunda sekarang juga. " Jawab Bi Nur.
" Rumah sakit Bi, tapi siapa yang sakit. " Sean yang sedikit terkejut langsung bertanya.
" Bukan sakit Mas Sean, tapi itu Nak Naya yang mau melahirkan. "
Mendengar Naya akan melahirkan, Sean segera menginjak gas untuk menambah kecepatan.
Di rumah sakit Naya mulai merasa mules yang sering, rasanya Ia ingin ke toilet namun di larang oleh Umi.
" Jangan Nak, bagaimana kalau kamu lahiran di toilet. Ah jangan bikin Umi takut. "
Umi yang sudah parno sejak tadi tentu semakin bertambah- tambah, bagaimana tidak. Putrinya di katakan akan segera melahirkan padahal Ia tidak merasakan sakit yang berlebihan, saat ini tidak menutup kemungkinan kalau Naya juga akan melahirkan di toilet.
__ADS_1
" Dok, buruan. Anak saya mau lahiran. " Panggil Umi pada Dokter yang sedang berada di ruang sebelah.
Dokter yang mendengar itu langsung masuk keruangan Naya untuk memeriksa keadaan Ibu hamil itu.
Dokter memakai sarung tangan khusus dan memandu Naya untuk mengedan agar bayinya segera keluar.
" Ibu, ikuti aba-aba dari saya ya Bu. "
Naya mengangguk meskipun Ia bingung, tapi memang perutnya agar sedikit mules dan Ia rasanya ingin buang air.
" Nanti dulu Bu, saya mau ke toilet dulu, ini sudah kebelet mau buang air. "
Di Jakarta
Dimas di buat pusing dengan kehebohan Angga. Ia menjerit-jerit kesakitan bahkan peluh sudah membanjiri sekujur tubuhnya, wajahnya juga ikut memerah akibat menahan sakit.
" Awww sakit, ahhhhhhhhhh. " Jerit panjang Angga sambil ngos- ngosan.
Bersamaan dengan teriakan panjang Angga di Jakarta, di kota T bayi pertama Naya yang berjenis kelamin laki-laki berhasil keluar dengan selamat.
" Oeeeee..... Oeeeeee. "
Suara tangis terdengar sangat keras dari dalam ruang bersalin, Dokter langsung mendekatkan bayi merah itu pada Naya agar kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan kulit Ibunya.
Naya menangis tak percaya bahwa Ia benar-benar bisa melihat buah hatinya yang keluar dari rahimnya sendiri.
" Ahhhhhhhhh.........! " Teriak kedua Pria itu bersamaan.
Setelah lega Angga akhirnya melepaskan genggaman serta gigitannya pada lengan Dimas sahabatnya.
" Apa kamu sudah gila Angga, bisa- bisanya aku kamu gigit. Ish jangan sampai aku terkontaminasi dengan otakmu yang mulai eror itu. "
Dimas memarahi sahabatnya yang bertingkah aneh seharian ini, sembari membersihkan bekas gigitan Angga di lengannya.
Angga langsung duduk kembali setelah merasa kondisinya mulai membaik.
" Aah sama sahabat sendiri saja perhitungan. Tapi Dim, aku jujur tadi itu sakit banget, tapi kok sekarang langsung mendingan. Sakitnya langsung hilang begitu saja. "
Dimas tersenyum sinis pada sahabatnya itu.
" Ini semua mungkin akibat dari perbuatan mu sendiri, mungkin saja kalau mereka ingin menghukum mu agar kamu bisa ikut merasakan bagaimana penderitaan mereka selama ini. " Jawab Dimas.
Angha menghampiri Dimas, Ia menarik kursi dan duduk di depan sahabatnya itu.
" Apa maksumu Dim, mereka. Mereka siapa yang kamu maksud. "
Dimas masih tersenyum sinis pada Angga, rupanya sampai saat ini Dia belum mengetahui kalau Istri pertamanya sedang hamil dan bahkan sekarang sedang bertarung melahirkan bayinya seorang diri.
" Mereka, orang yang kamu abaikan selama ini. Mungkin saat ini Ia sedang berjuang seorang diri. "
__ADS_1
Dimas meninggalkan Angga yang nampaknya kondisinya sudah lebih membaik.
" Dim, tunggu.... tunggu aku, siapa yang kamu maksud sedang berjuang seorang diri. "
Dimas menutup ruangannya dan mencoba tidak menghiraukan panggilan Angga.
" Angga, kamu kenapa ada disini Nak, bukannya tadi kamu lagi sakit. "
Angga menoleh dan ternyata itu adalah Ibunya, Angga menggeleng pelan. Jujur Ia sudah merasa nyaman sekarang, tidak ada lagi rasa kurang nyaman seperti sebelumnya.
" Ibu, apa Ibu tau nggak. Tadi itu Dimas bilang kalau rasa sakitku tadi adalah hukuman buat aku, karena mengabaikan mereka. Apa maksudnya ya, Angga sungguh bingung. "
Mereka memutuskan pulang karena kondisi Angga memang sudah lebih baik dari sebelumnya.
" Entahlah Nak, Ibu juga kurang faham. Tapi sebelumnya Dimas juga sudah lebih dulu mengatakan itu semua pada Ibu. "
Kedua Ibu dan anak itu sama- sama bingung mencoba mengartikan apa yang di ucapkan Dimas pada mereka.
Di kota T
Naya sedang berbahagia karena akhirnya bisa melihat kedua buah hatinya yang sangat Ia dambakan selama ini sudah berada di depan matanya, namun tiba-tiba wajahnya berubah murung. Umi yang melihat itu langsung bertanya apa yang terjadi.
" Ada apa Nak, apa ada yang membuatmu merasa tidak nyaman. "
Naya menggeleng, Ia baik- baik saja saat ini. Hanya saja ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
" Nggak apa- apa Umi, Naya baik- baik saja. Hanya saja Naya merasa sedih, siapa yang akan mengazankan baby twins. Ayahnya saja tidak ada disini dan Mas Kevin juga tidak ada. "
" Ada aku keong, biar aku saja. Jangan sedih, aku juga bisa menggantikan mereka kok. "
Umi dan Naya menoleh ke asal suara, nampak Sean yang melangkah menghampiri mereka.
" Umi, kalau di ijinkan biar saya saja yang mengumandangkan adzan buat baby twins. "
Umi nampak bingung, Ia menatap Naya. Naya yang masih shock dengan kehadiran Sean nampak hanya diam saja.
" Apa itu boleh Umi. " Tanya Naya pada akhirnya.
Umi diam, beliau juga kurang mengetahui mengenai hal itu. Semua itu di karenakan selama ini Ia tidak pernah menemui hal semacam itu, biasanya orang tua bayi yang mengumandangkan adzan untuk bayi- bayi mereka.
" Boleh saja keong anggap saja aku bagian dari keluarga ini, iyakan Umi. "
Umi akhirnya mengangguk, mungkin tidak ada salahnya. Beliau kemudian memberikan ijin pada sahabat dari Putranya itu.
Sean melangkah menuju box bayi, Ia terpesona melihat wajah kedua bayi yang masih merah itu
" Hai, welcome baby twins. " Gumam Sean.
Sean mengumandangkan Adzan di dekat telinga bayi itu bergantian, hatinya berdebar hebat melihat wajah dua bayi menggemaskan itu.
__ADS_1