Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 121 Junior Otw


__ADS_3

Di tempat lain.


Susi sedang merapikan beberapa pakaian dan barang- barang penting miliknya yang harus Ia bawa.


         " Susi, apa sudah selesai semuanya. " Tanya sang Nenek.


" Sudah Nek. " Jawab Susi sambil menarik resleting tas miliknya.


" Bagaimana dengan Nenek dan juga Mutia, apa sudah selesai. "


Nenek Kasih mengangguk karena memang mereka berdua sudah menunggu Susi sejak tadi, Susi menarik kopernya dan tasnya keluar, kebetulan di luar sudah ada jemputan yang menunggu mereka.


Kasih memandang rumah nya sebelum berangkat begitu juga dengan Nenek kasih, mereka menitipkan rumah itu pada tetangga mereka.


Hari ini Susi memutuskan membawa keluarga kecilnya ke Jakarta karena Ia mendapatkan pekerjaan yang lumayan menjanjikan, Ia tidak bisa meninggalkan Nenek nya yang baru beberapa hari menjalani operasi dan hanya tinggal bersama adik perempuan nya.


         " Nek, Nenek bisa tidur saja kalau ngantuk. Kalau sudah sampai di Jakarta Susi akan bangunkan, kamu juga Tia. "


Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, Susi hanya berharap semoga kehidupannya di masa akan datang menjadi lebih baik daripada sebelum nya.


Menempuh tiga jam perjalanan akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di tempat tujuan. Susi membangunkan adik dan juga Neneknya dengan perlahan, setelah bangun mereka keluar bersama.


       " Pak, apa kita tidak salah alamat. Ini rumah siapa, seperti nya ini terlalu besar untuk kami bertiga dan pasti biaya perbulannya pun mahal. " Ucap Susi.


Nenek Kasih pun beranggapan sama seperti Susi, rumah itu terlalu mewah untuk mereka.


        " Tidak Bu, ini memang benar. Bu Susi dan juga yang lainnya bisa masuk dan istrahat di dalam, ini kuncinya. Besok yang punya rumah ini akan datang menemui Ibu dan membicarakan masalah pekerjaan untuk Ibu. "


Karena melihat kondisi Nenek nya Susi pun mengangguk dan menerima kunci rumah dari tangan pak Supir, tak lupa mereka mengucapkan terima kasih atas kebaikan Pria itu.

__ADS_1


***


Kanaya menepis tangan Sean ketika ponselnya berdering, Sean yang sedikit posesif terus mencoba memeluk tubuh Istrinya dan mengecup bagian tengkuknya.


        " Mas. "


" Hmm.... apa ponsel itu lebih penting daripada aku. "


Kanaya hanya bisa menghela nafas, bisa- bisanya Ia mendapatkan suami yang seperti ini. Bucinnya mengalahkan apapun, bahkan ponsel pun tak luput dari rasa cemburunya juga.


        " Sayang, Mas tentu sudah tau jawabannya. Kalau Mas itu lebih penting dari apapun, tapi untuk saat ini biarkan aku menerima panggilan ini, siapa tau panggilan ini penting. "


Akhirnya Sean pun melepaskan pelukannya namun tetap rebahan di kedua paha istrinya dengan memainkan ujung rambut istrinya itu.


" Ya, baik Pak. Terima kasih, aku akan menemuinya besok bersama Mas Sean, kalau begitu aku tutup dulu ya. "


Kanaya mengela nafas sembari menatap suaminya, Sean yang tau arti tatapan istrinya langsung bangkit dari rebahan nya.


Kanaya ingin bangkit namun Sean menariknya hingga mereka berdua jatuh di atas ranjang. Lama mereka berada dalam posisi itu sampai akhirnya Kanaya tersadar kalau kini ada sesuatu yang mengeras disana.


" Ah maaf. " Ucap Kanaya mencoba bangun. Namun karena terburu-buru Ia justru membuat kesalahan, Sean melenguh karena merasakan sesuatu yang luar biasa. Ia kembali memeluk erat Istrinya bahkan merubah posisi mereka.



" Mas, ayo dong ini sudah siang. Aku harus menyiapkan makan siang kita secepatnya. " Ucap Kanaya.


Sean menatap Kanaya dengan tatapan sayu, karena sesuatu yang Ia rasakan sudah hampir sampai ubun-ubun.


" Kenapa sayang, apa kamu tidak berpikir untuk menambah keluarga baru dengan ku. Aku yakin anak- anak pun ingin punya adik lagi. "

__ADS_1


Kanaya yang tau kemana arah pembicaraan suaminya berusaha mencari alasan namun akhirnya Ia tidak bisa berkutik karena mendengar ucapan Sean.


" Baiklah, kita tidak harus punya momongan lagi. Cukup si kembar saja, aku akan membesarkan mereka dengan sepenuh hati. "


Sean langsung berdiri bersiap ke kamar mandi, Ia harus meredamkan rasa kecewanya dan juga gejolak dalam hatinya. Namun baru beberapa langkah Kanaya sudah memeluknya dari belakang, Ia memberikan kecupan di bagian punggung suaminya itu.


" Maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud begitu, maafkan aku. "


Sean mencoba melepaskan tangan Kanaya namun Kanaya tidak ingin lepas, Ia justru memberi sentuhan di beberapa titik sensitif suaminya.


" Maaf, maafkan aku. " Kanaya kembali mengucapkan maaf.


" Sudah sayang, bukankah kamu ingin menyiapkan makan siang. Kamu duluan ke bawah, aku akan nyusul setelah membersihkan diri. "


Kanaya berdiri di depan suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu.


" Kita mandi sama-sama yuk. " Ajak Kanaya.


Sean masih berdiri mematung karena mengira kalau Istrinya hanya bercanda, bukan tanpa alasan. Istrinya itu selalu menolak untuk mandi bersama karena tidak ingin melakukan sesuatu di dalam kamar mandi.


" Sudahlah sayang, aku gerah. Kalau kamu seperti ini terus, aku tidak jamin akan bisa menahan diri lagi. "


Kanaya menatap suaminya dan kemudian menarik tangannya masuk ke kamar mandi.


" Ayo Mas, aku ingin melihat bagaimana hebatnya suami ku ini. "


Sean sampai melongo, Ia merasa tertantang dan juga merasa di remehkan oleh istrinya.


" Kamu menantang ku sayang, baiklah mari kita lihat. Jangan salahkan aku kalau sampai si kembar junior otw setelah ini hmm. "

__ADS_1


Akhirnya keduanya melewati hari yang panas di siang bolong, Sean benar-benar membuat Kanaya kelelahan hingga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sean yang tidak tega melihat kondisi istrinya langsung membopong tubuh itu di atas ranjang dan segera menuntaskan aktivitas mereka berdua.


Sean menjatuhkan dirinya di samping tubuh istrinya, Ia memberi pelukan sayang dan berterima kasih karena sudah melayaninya dengan baik.


__ADS_2