
Angga yang sudah penasaran dengan perihal kehamilan Naya bergegas pulang kerumah.
" Assalamu'alaikum. "
" Waalaikum salam. " Jawab Asma.
Wajah Angga begitu sumringah karena suasana hatinya saat ini sedang baik.
" Sayang, tumben kok pulang cepat, biasanya juga sorean. Ini juga wajahnya cerah banget, roman- romannya lagi bahagia ya. Apa kamu menang tender sayang, atau dapat rezeki durian runtuh. Wah kalau itu benar sungguh bagus. "
Angga semakin bersemangat
" Pokoknya ini lebih dari itu, lebih dari durian runtuh. "
Asma yang mendengar itu ikut bahagia, wanita itu sudah membayangkan bagaimana Ia nanti bisa berbelanja sepuas hati. Membeli semua yang Ia inginkan namun terpaksa Ia tahan selama beberapa bulan belakangan ini karena kondisi keuangan suaminya.
" Ya sudah sayang, sekarang Mas makan dulu. Asma siapin sebentar oke. "
Asma senyam- senyum sembari menata makan siang untuk suaminya.
" Asyik, yes. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa berbelanja sepuasnya, hm.... aku harus beli apa ya nanti. Ah.... pokoknya yang jelas, aku mau ke salon untuk memanjakan diri, aku sampai lupa kapan terakhir aku ke salon. " Batin Asma.
Asma begitu bersemangat melayani Angga, Ia bahkan menawarkan suaminya itu kalau mau makan dari tangannya sendiri.
" Mau di suapin sayang. " Tanya Asma.
Angga menggeleng, Ia langsung menyantap hidangan yang ada di depannya. Wajahnya mengerut setelah memakan makanan hasil tangan Istrinya, ingin di keluarkan namun suasana hatinya yang bahagia membuatnya menghabiskan semua isi piringnya.
" Oh ya sayang, aku mau ke Bogor sebentar lagi. "
Angga melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Tidak apalah, Jakarta Bogor lumayan dekat, bisa di tempuh dua jam perjalanan kalau Ia ngebut.
Kalaupun macet nanti Dia akan memilih menginap disana terlebih dahulu.
" Ke Bogor sayang, tapi buat apa Mas, dalam rangka apa. " Tanya Asma.
Angga tidak menjawab pertanyaan Asma, Ia hanya menyunggingkan senyum.
" Sudahlah sayang, kamu di rumah saja, yang penting kamu bisa makan dan juga uang belanja lancar, iyakan. Nanti Mas transfer lagi. "
Mendengar uang dan transferan membuat Asma tidak melanjutkan pertanyaannya, benar saja yang Ia inginkan saat ini adalah uang.
" Aku berangkat sekarang, tolong nanti bilang sama Ibu ya. Aku tidak bisa menunggunya, nanti aku bisa terlambat. "
Asma mengangguk dan mengantar Angga sampai ke mobil.
" Hati-hati di jalan sayang, jangan lupa janjinya. "
__ADS_1
Asma mengingatkan Angga pada janjinya yang akan mentransfer sejumlah uang untuknya.
" Tentu dong sayang, aku berangkat dulu, assalamu'alaikum. "
" Waalaikum salam. "
Angga menginjak gasnya meninggalkan kediamannya, Ia begitu bahagia sampai refleks bibirnya bersiul.
Angga mengingat perdebatannya dengan Ibunya beberapa jam yang lalu ketika masih di kantor. Bu Aminah mengingatkan dirinya tentang bagaimana status hubungan mereka berdua.
" Apa salahnya, aku dan Naya kan sekarang punya anak. Kami berdua punya pengikat yang kuat, gampanglah kalau soal Naya. Aku yakin kalau dia masih sangat mencintai aku, tinggal minta maaf dan mengatakan kalau aku khilaf. Aku juga tinggal bilang kalau aku sangat mencintainya, dia pasti akan luluh dan memaafkan aku. Apalagi anak kami pasti butuh kedua orang tuanya yang lengkap. " Gumam Angga penuh percaya diri.
Angga sedikit gelisah ketika jalannya tersendat karena terjebak macet dan juga melewati lampu merah. Ia beberapa kali memukul setirnya yang tidak berdosa itu, hanya karena melampiaskan kekesalannya.
" Ish kenapa juga pada jalan lelet, buruan owwwhhh. " Teriak Angga ketika berada di lampu merah.
Angga bahkan membunyikan klakson mobilnya hingga terjadi kebisingan.
" Ish, sabar napa Pak. Ini jalan umum, bukan jalan milik nenek moyang Bapak saja. " Protes seorang pengendara motor yang berada tepat di samping mobil Angga
Angga tidak terima karena ada yang berani menjawabnya.
" Diam nggak sih lo, anak bau kencur. Nggak lihat apa, orang lagi bahagia. " Sembur Angga.
Ketika akan melajukan mobilnya tiba-tiba lampu kembali merah dan lalu lintas di depannya kembali padat. Angga terpaksa mengerem mendadak ketika sebuah truk besar melintas di depannya.
" Ah sial, ini semua gara-gara anak ingusan itu. Awas saja kalau ketemu, akan ku buat perhitungan dengannya. " Maki Angga.
Asma lagi duduk santai sambil sesekali memeriksa ponselnya, siapa tau ada notif masuk dari aplikasinya sebagai tanda kalau tranferan untuknya sudah masuk.
" Assalamu'alaikum, Angga..... Ngga, kamu dimana Nak. "
Bu Aminah langsung memanggil nama Putranya ketika tiba di rumah.
" Waalaikum salam. " Jawab Asma.
" Oh Asma, Angga dimana. Itu di luar Ibu tidak melihat mobilnya. "
Asma duduk di sofa dengan menyilangkan kaki yang satu keatas kaki yang lain.
" Apaan sih Ibu, kalau mobilnya tidak ada berati Mas Angga tidak ada di rumah, lalu kenapa harus dicari. "
Bu Aminah menatap Asma, Ia tidak menyangka menantunya itu akan bersikap kasar lagi padanya.
" Apa maksud mu Nak, apa Angga tadi sempat pulang kerumah atau tidak kembali dari tadi pagi. " Tanya BU Aminah memastikan.
Asma tertawa kecil melihat kepanikan Ibu dari suaminya itu.
__ADS_1
" Bu, kenapa Ibu sepanik itu. Mas Angga tadi memang pulang, bahkan sempat makan dirumah. Tapi setelah itu dia pergi lagi, katanya mau ke Bogor. "
Bu Aminah terkejut, Ia menghela nafas panjang dan menghempaskan bokongnya di sofa.
" Sudahlah Bu, kenapa harus panik begitu. Mas Angga tadi bahagia banget, dia baru dapat rezeki gede, dia juga tadi janji mau memberikan jajan bulanan buat aku. Santai saja Bu, nanti juga Ibu pasti kebagian uangnya. "
Bu Aminah menggeleng pelan berulang kali, Ia mendadak murung apalagi ketika melihat raut bahagia di wajah Asma. Hanya karena iming-iming transferan saja sudah membuat menantunya itu bahagia.
" Asma, apa kamu tau apa yang membuat suami mu itu berangkat ke Bogor tiba-tiba. "
Asma mengangguk
" Tau dong Bu, Mas Angga sedang bertemu dengan rekan bisnisnya. Itulah sebabnya Mas Angga berjanji akan memberi transferan lebih buat Asma. Sudahlah Bu, lebih baik Ibu makan agar Ibu bisa tenang. Perut yang lapar malah membuat Ibu bersikap aneh. "
Asma berdiri dan hendak meninggalkan Ibu mertuanya seorang diri, namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Bu Aminah.
" Angga ke Bogor bukan menemui rekan kerjanya namun untuk menemui Naya dan juga anaknya. "
Darrrrttttttย !!!
Asma terkejut, Ia langsung menoleh kearah Ibu mertuanya.
" Mbak Naya dan anaknya, apa maksud Ibu. " Suara Asma mulai tidak nyaman di dengar.
Bu Aminah mengangguk membenarkan
" Iya Asma, Angga baru tau kalau ternyata Dia punya anak bersama Kanaya. "
" Bagaimana bisa, Ibu pasti bohong. Ngapain Ibu harus menyebut nama wanita itu lagi, apa Ibu masih ingin menjadikannya sebagai menantu Ibu. Ingat Bu, mereka berdua sudah tidak punya hubungan apapun. Mas Angga juga sudah menjatuhkan talak tiga pada wanita itu, bagaimana bisa Ibu masih berharap bisa menjadikannya menanti lagi. "
Bu Aminah yang sudah panik dari awal, kini di tambah lagi Ia terkena amarah dari menantunya akhirnya tidak ingin tinggal diam saja.
" Ibu juga tau itu Asma, lagi pula Ibu juga tidak ingin menjadikannya menantu lagi. Meskipun Ibu ingin tapi itu harus sesuai dengan aturan agama yang berlaku. Tapi kamu juga harus ingat Asma, kalau dulu Angga menjatuhkan talak pada Naya ketika Dia masih mengandung anak mereka. Kamu pikir saja apa yang bisa di lakukan suami mu itu kalau nanti dia bertemu dengan darah dagingnya sendiri. "
Bu Aminah yang kesal langsung meningggalkan Asma di ruang tengah seorang diri.
Asma mulai panik, Ia berusaha menghubungi suaminya itu. Satu kali, dua kali tidak di jawab karena Angga hanya melirik nya sekilas. Ia terlalu fokus mengemudi agar cepat tiba di tempat tujuan.
Asma tidak putus asa, dia terus menghubungi suaminya itu. Angga akhirnya menerima panggilan Istrinya karena bosan mendengar suara dari ponselnya.
" Iya ada apa. "
Angga menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika mendengar suara nyaring Asma.
" Maaf Asma, Mas masih di jalan. Nanti saja Mas telpon ketika sudah tiba disana. "
Tanpa menunggu jawaban Asma, Angga langsung memutuskan panggilan telpon, Ia bahkan mematikan total ponselnya agar terhindar dari gangguan ketika Ia sedang menyetir.
__ADS_1
" Ganggu saja, dasar nggak sabaran. Belum juga sampai sudah di tagih transferan, dasar perempuan matre. " Gerutu Angga.
Sementara di Jakarta, Asma berteriak histeris. Ia benar-benar marah pada Angga karena memutuskan panggilan secara sepihak, bahkan ponselnya tidak aktif lagi ketika di hubungi olehnya.