
Angga semakin di selimuti kebencian, itu semua di sebabkan karena setiap kali dirinya mengunjungi kedua buah hatinya selalu mendapatkan penolakan dari kedua bocah tersebut, bukan hanya itu. Angga selalu diam- diam memata- matai kediaman Kanaya dan
itu semakin membuatnya meradang, Ia melihat kehadiran Pria yang Ia benci disana. Hampir tiap hari Ia mengunjungi kedua buah hatinya.
Pemandangan paling tak mengenakan hati Angga adalah bahwa kedua buah hatinya lagi- lagi menerima kehadiran Pria itu, bahkan langsung meminta di gendong ketika Pria itu tiba.
Alhasil Angga yang marah melampiaskan semua kemarahannya di kantor, Ia membentak para pegawainya yang ketahuan melakukan hal yang tidak sesuai dengan apa yang Ia harapkan.
Bahkan tidak jarang Ia mencari- cari alasan untuk marah, yang tidak salah pun terkena imbasnya.
" Pak Angga kok jadi aneh. "
" Aneh kenapa. "
" Ya aneh saja, masa iya sih. Aku sudah mengerjakan semua laporan dengan benar tapi di bilang salah. Ya, nggak apa apa sih kalau hanya di bilang salah, tapi nggak perlu marah- marah juga kan sampai menggebrak meja. "
" Iya benar, aku juga mengalami itu. "
Terjadilah gosip sesama karyawan ketika jam makan siang, banyak yang merasa aneh dan tidak nyaman dengan sikap Angga.
" Mungkin lagi datang bulan kali. " Timpal yang lain.
" Eh jangan asal nemplok kalau bicara, gimana ceritanya bisa datang bulan, dia kan laki. "
" Habis marah- marah mulu, kalau nggak lagi sensi apa dong. "
Gosip terus berlanjut, karena bukan hanya satu saja yang kena dampak kemarahan Angga tapi hampir semuanya.
" Sudah- sudah, yuk buruan makan. Sebentar lagi jam istrahat habis, apa kalian mau di pecat, cari kerjaan sekarang susah. " Ucap yang lain.
__ADS_1
Mereka akhirnya menikmati makan siang mereka dalam diam hingga selesai.
Di dalam ruangan
Bimo juga heran dengan sikap Angga, tidak biasanya Boos nya itu bersikap seperti itu. Ia seringkali kerepotan mengatur schedule atasannya itu, karena moodnya yang selalu berubah-ubah.
Seringkali janjinya tidak di tepati dan alhasil Bimo lah yang harus menyelesaikan semuanya, menyelesaikan masalah yang di timbulkan oleh atasannya itu.
Ternyata tidak sampai disitu saja, Angga marah- marah juga ketika kembali ke rumah. Itu semua karena suasana hatinya yang tidak baik.
" Mas kenapa sih, setiap datang selalu marah- marah. Kalau ada masalah di luar maka selesaikan di luar, jangan bawa ke rumah. Mas tuh sudah seperti monster, nggak tau salahnya apa, hobi nya maraaaaaah saja. Aku yang lihat dan dengar saja bosan. "
Kali ini bukan hanya Asma yang protes tapi Ia di dukung oleh Bu Aminah, beliau juga heran dengan sikap Angga.
" Sudah, lebih baik kamu diam. Kalau kamu tidak bisa membantu menyelesaikan masalah ku maka setidaknya jangan kamu tambahkan lagi. " Bentak Angga pada Istrinya.
Bu Aminah yang melihat sikap Angga pada Istrinya langsung menegur Putranya itu.
Asma mengangguk- angguk, Ia setuju dengan apa yang di katakan Ibu mertuanya. Ia juga bersyukur karena kali ini Ibunya berada di pihaknya.
" Bukan hanya di rumah saja Angga, tapi di kantor juga seperti itu. Ibu sudah banyak mendapatkan laporan dari para pegawai yang merasa tertekan karena sikap mu yang tempramental. Segera selesaikan masalah mu dan akhiri kegilaanmu itu sebelum semua pegawai ramai-ramai resign dari pekerjaannya. "
Bu Aminah yang biasanya sabar menghadapi setiap ulah Putranya kini benar-benar ikut kecewa, beliau tidak mampu berdiam diri lagi untuk tidak ikut berkomentar.
" Mas, sebenarnya ada masalah apa sih. Kalau Mas terus marah- marah seperti ini tidak akan ada jalan keluarganya. Coba Mas tarik nafas, kita duduk dan Mas coba ceritakan semua masalahnya apa, kita akan cari solusi terbaiknya sama- sama. "
Di ruang tengah mereka berkumpul dan akhirnya Angga menceritakan semua masalah yang mengganggu hatinya beberapa hari terakhir ini, Asma mencoba menahan diri mendengar cerita suaminya.
" Pantas saja Mas Angga marah besar, rupanya ini menyangkut dengan wanita itu dan juga anak- anaknya. Sial, aku menyesal memintanya baik- baik menceritakan masalahnya. Kalau tau begini aku biarkan saja dia ribut sendiri. " Batin Asma.
__ADS_1
Bu Aminah menasehati Putranya agar bersabar karena memang saat ini yang bisa mereka lakukan hanyalah itu saja, bersabar menunggu si kembar mengerti bahwa mereka juga keluarganya. Keluarga yang berhak bertemu dengan mereka kapanpun mereka mau.
" Angga, Ibu kan sudah bilang padamu. Masalah si kembar kamu harus sabar, jangan sampai urusan hatimu justru membuat mu tambah susah nanti. "
Asma nampak berpikir sejak tadi Ia diam saja, itu semua karena apa yang di bicarakan Angga dan Ibunya sama sekali tidak ada untungnya baginya.
Ia menyusul Angga ke kamarnya dan duduk tepat di samping suaminya.
" Kenapa tidak Mas jadikan ini sebagai senjata ampuh untuk mendapatkan semua yang Mas inginkan. "
Angga menoleh pada Asma, Ia tidak mengerti apa yang di katakan Istrinya itu.
" Apa maksud mu Asma. " Tanya Angga.
" Ya, bukankah tadi Mas bilang kalau ada seorang Pria yang sering datang ke rumah itu dan mencoba merebut perhatian si kembar. Apa Mas tidak berpikir kalau itu hanya akal- akalan Pria itu, atau mungkin dia punya maksud terselubung yang lain. "
Angga semakin penasaran dengan apa yang di katakan Asma, meskipun begitu Ia belum mengerti apa maksud dari ucapan istrinya itu.
" Maksud mu apa Asma, langsung saja tidak perlu berbelit-belit. "
Asma tersenyum sinis ketika melihat reaksi suaminya.
" Ya, apa Mas tidak bisa memikirkan apa yang di inginkan Pria itu. Sebenarnya dia tidak menyayangi kedua anak mu itu, dia mendekati keduanya agar bisa dekat dengan Ibunya. Dengan kata lain adalah Pria itu menginginkan Kanaya dan ini adalah cara halus untuk merebut hatinya dengan mengambil perhatian si kembar. "
Angga nampak berpikir, Ia mengepalkan tangannya. Kebenciannya pada Sean semakin menjadi-jadi setelah mendengar apa yang di katakan Asma.
" Selesaikan semuanya dengan mulus, kalau dia bisa bermain curang maka Mas juga bisa melakukan itu. Bukankah Mas lebih berhak daripada dia, berhentilah marah- marah pada orang lain dan pikirkan cara untuk mendapatkan apa yang Mas inginkan. "
Angga mulai tersenyum, Ia punya ide briliant untuk menyelesaikan masalahnya dan Ia yakin akan berhasil kali ini.
__ADS_1
" Kamu benar, kenapa aku tidak kepikiran hal ini sebelumnya. Sekali dayung dua pulau terlewat, ahaaaaa. Kamu memang cerdas Asma, terima kasih. "
Angga mulai sumringah, Ia akan mencari waktu yang tepat untuk menjalankan aksinya.