Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 56 Penyelamatan Baby Twins


__ADS_3

Sean menggebrak meja kerjanya, pemimpin dari singa putih itu benar-benar marah besar setelah mendapatkan laporan dari orang kepercayaan nya.


" Abang...... !!!! " Teriak Rara yang terkejut karena kegaduhan yang di buat kakaknya sampai ke telinganya.


Rara bahkan tidak sengaja melempar laptopnya ke lantai saking terkejutnya.


" Oh no, laptop kesayangan ku, hikss hikss. "


Gadis cantik itu mengambil laptopnya dan meng-klik tombolnya, Ia mulai panik karena laptop kesayangannya itu tidak bisa nyala.


" Abang............ !!! " Teriak Rara lagi sambil melangkah mendekati Sean.


Sean melihat mata adik kesayangannya yang nampak memerah, belum juga hidung mungilnya, sudah seperti tomat masak.


" Ada apa De. " Tanya Sean


Sean yang marah selalu bisa meredam amarahnya ketika semua sudah berurusan dengan sang Adik.


" Abang masih nanya kenapa, Abang nggak lihat ini. Laptopnya rusak karena tak sengaja jatuh. "


Sean meraih laptop itu dan mengotak- atiknya namun hasilnya sama. Tidak bisa menyala alias mati total.


" Kok bisa rusak sih De. "


" Abang masih berani nanya kok bisa rusak, ini semua karena Abang. Kenapa Abang teriak dan membuat kegaduhan tiba-tiba, aku kaget Abang. "


Rara akhirnya menangis, hal itu membuat Sean merasa bersalah.


" Maafkan Abang, Abang belikan yang baru ya, ini kan sudah jelek. "


Rara menatap Sean dengan tatapan penuh amarah.


" Beli baru, beli baru, Abang selalu saja begitu. Abang, jangan karena Abang punya banyak uang jadi Abang bisa begitu mudahnya merusak barang- barang yang lama dan menggantikannya dengan yang baru. Abang, ini bukan masalah laptopnya murah atau jelek, yang masalah itu data yang didalamnya. Apa bisa di kembalikan lagi Abang. "


Rara menghempaskan bokongnya di sofa, masih dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya walau tanpa suara.


" Maafkan Abang, bukan maksud Abang begitu. Tapi sekarang semuanya sudah terjadi, nanti Abang bantu mengembalikan semuanya. Abang janji, tapi sekarang Abang harus pergi. Ada nyawa seseorang yang harus di selamatkan sebelum bernasib seperti laptop kesayangan mu itu. "


Rara akhirnya memilih diam, Sean berlari keluar dengan wajah yang kembali dingin.


" Arron, kamu pergi ke toko elektronik. Belikan laptop keluaran terbaru. Daniel, Michael, kalian tetap berjaga disini. Jangan pernah tinggalkan Leony sendirian. William, Haris, kalian ikut dengan ku, kita akan sedikit bersenang-senang sekarang. "


Mereka yang di sebutkan namanya segera merespon dan langsung mentaati perintah sang pemimpin.


Mobil melaju dengan kecepatan penuh


" William, tambah kecepatan. Jangan sampai mereka sampai disana lebih dulu. "


William mengangguk dan kemudian menginjak gas untuk meningkatkan kecepatan.


Di tempat lain.


Asma tertawa bahagia apalagi membayangkan keberhasilan usaha dari orang- orang suruhannya.

__ADS_1


Di kota T


Bibi yang sedang berniat membuang sampah tiba-tiba di kejutkan oleh kehadiran beberapa Pria dengan pakaian hitam lengkap beserta masker penutup wajah.


" Siapa kalian. " Bi Nur mencoba berteriak namun para Pria itu langsung menghadiahinya dengan satu pukulan tepat di leher belakang.


" Diam kau wanita tua, katakan dimana majikan mu beserta anaknya itu. "


Bi Nur yang masih bisa menahan rasa sakit mulai merasa khawatir dan juga takut.


Di tempat yang sama.


" Ada apa Willi. " Tanya Sean.


" Kita terlambat Sean, ternyata mereka sudah tiba lebih dulu. "


Sean melihat beberapa Pria yang masih berada di luar dan masih menyandera asisten rumah tangga.


" Kita cari jalan tikus. "


Tanpa menunggu perintah kedua, William langsung tancap gas, melesat meninggalkan tempat mereka saat ini.


" Cepat, tunjukkan dimana kamar Bu Naya dan juga anaknya. "


Bi Nur keras dengan pendiriannya, Ia tetap berdiri mematung dan merelakan tubuhnya di pukul oleh Pria yang tidak Ia ketahui siapa.


" Apa kamu tidak sayang dengan nyawa mu. "


Bi Nur menggeleng, air matanya mulai bercucuran. Meskipun ketakutannya besar namun tidak melebihi rasa sayangnya pada Naya dan juga kedua anaknya. .


Ketiga Pria yang sejak tadi berdiri disana saling pandang dengan tatapan yang hanya di ketahui oleh mereka saja artinya.


Dua orang berlari kedalam rumah sedangkan yang satu lagi masih berada di luar.


" Ahhhkkk.....!!. " Jerit Bi Nur tertahan.


Matanya membulat begitu juga dengan mulutnya yang terbuka lebar. Darah segar mengucur deras di perut wanita itu.


" Inilah akibatnya kalau kau menghalangi pekerjaan kami, terima saja ajal mu yang sebentar lagi akan datang. " Bisik Si Pria tepat di telinga Bi Nur.


Bi Nur masih menahan rasa sakitnya, Ia mencoba mengejar para Pria tak berperasaan itu. Meskipun pada akhirnya Ia sendiri tidak kuat dan jatuh tersungkur dengan bersimbah darah.


Para Pria yang beringas, setelah sebelumnya mereka melumpuhkan satpam, lalu kemudian menikam asisten rumah tangga. Kini mereka menelusuri semua ruangan.


" Willi, bawa mereka pergi dari sini. Nyawa mu sebagai taruhannya. "


Willi mengangguk dan melesat pergi meninggalkan tempat kejadian.


" Pak, tolong berhenti. Kita meninggalkan Bi Nur disana, putar arah cepat. " Pinta Kanaya.


Ia tidak ingin pergi dan tetap memaksa Willi menghentikan mobilnya.


" Ibu, baiklah silahkan Ibu turun sekarang. Tapi ingat, mereka sudah membunuh wanita tua yang Ibu sebut tadi. Ibu coba pikirkan sekarang, Ibu mau turun dan mengorbankan anak- anak ini menjadi makan siang mereka atau Ibu duduk diam dan kita pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaan kita. "

__ADS_1


Tubuh Naya bergetar hebat, Lagi-lagi Ia mengalami hal buruk yang datang secara tiba-tiba.


" Jangan khawatir Bu, Bos Sean dan yang lainnya akan berusaha menyelamatkan anggota keluarga yang lain. Yang penting saat ini, kita harus cepat pergi sebelum mereka mengetahui keberadaan kita. "


Naya mengangguk angguk, dua telapak tangannya menutup mulutnya agar suaranya tidak keluar.


" Bibi, Naya. Ada apa sih, kok berisik amat. "


Umi yang baru bangun tidur dan mendengar keributan segera keluar, namun tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya dan membekapnya.


" Si.....


" Diam Umi, ini Sean. " Bisik Sean


Sean menunjuk beberapa orang Pria berpakaian hitam yang sedang menggeledah seisi rumah.


" Kosong Bos. "


Satu persatu mereka melaporkan bahwa tidak ada sesiapun yang mereka temukan di rumah itu.


" Sial, kemana mereka. " Tanya Bos Cobra itu.


" Sepertinya mereka melarikan diri melalui pintu belakang, soalnya ada bekas jalan mobil disana Bos. "


Sang Bos Cobra begitu marah dengan rahang yang sudah mengeras.


" Sialan, kita terkecoh. Buruan pergi dari sini, mereka pasti belum terlalu jauh. Kita harus segera menemukan mereka. "


Para Pria pun mengangguk dan berlari keluar meninggalkan rumah itu.


Sean melangkah pelan keluar ruangan, disusul oleh Bunda Rahayu.


" Raymond, bawa beberapa dari kita. Kawal si Keong sampai ke markas, sekarang Dia sedang dalam perjalanan. "


Umi menanyakan keberadaan bcucu- cucu dan juga Putrinya.


" Sean, dimana Naya dan si kembar. " Tanya Umi khawatir.


" Mereka baik baik saja, para pengawal ku sedang membawa mereka ketempat yang aman. "  Jawab Sean.


Umi menghampiri seseorang yang tak jauh dari mereka, beliau tersenyum melihat ternyata itu adalah Bi Nur.


Namun raut bahagia Umi hanya sebentar saja, Ia melihat asisten Putrinya itu tergeletak dengan bersimbah darah.


" Bi Nur. " Jerit Umi.


Beliau mencoba untuk menyadarkan Bi Nur namun tidak ada pergerakan.


" Sean, cepat tolong bantu Umi. Kita harus segera membawa Bi Nur kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. "


Sean mengangguk, Ia segera menggendong tubuh Bi Nur ke mobil.


" Pak Rudi......... ! ya Allah. Sean tolong, ini angkat Pak Rudi sekalian. "

__ADS_1


Sean kembali mengangkat tubuh satpam di rumah itu. Di dalam mobil Umi bergitu khawatir, bukan hanya kedua orang yang bekerja di rumahnya yang saat ini sedang sekarat di depan matanya. Di tambah lagi kedua cucunya yang sampai saat ini belum ada kabar.


__ADS_2