
Bu Aminah terkejut ketika seseorang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Apalagi orang itu langsung membekap mulut nya ketika iya ingin bertanya.
" Ini aku Asma, Bu. " Bisik Asma
Asma menarik tangannya sedangkan Bu Aminah memilih duduk bersandar di ranjang miliknya.
" Ibu sudah melihat isi surat itu kan, hm... Ibu pasti bahagia sekarang kan, bahagia setelah melihat penderitaan ku. Semua ini gara-gara Ibu, Ibu yang sudah menarik aku terlibat dalam pernikahan yang seperti neraka ini. Dan sekarang Ibu bahagia setelah mengetahui bagaimana penderitaan ku setelah ini, Putra Ibu yang sempurna itu akan menceraikan aku setelah mengetahui semuanya lalu menikah dengan wanita lain yang lebih sempurna. "
Bu Aminah yang terdiam mendengar semua kata yang keluar dari mulut Asma, beliau merasa bersalah apalagi Asma terlihat mengusap pipinya beberapa kali.
" Tidak Asma, itu tidak benar. Setiap Ibu menginginkan kebahagiaan, yang terbaik untuk anak-anak nya. Kamu juga anak Ibu, Ibu tidak akan mungkin tega melihat anak Ibu menderita. " Ucap Bu Aminah.
Asma tersenyum sinis dan tertawa kecil, Ia menertawakan ucapan Bu Aminah karena menurutnya apa yang di katakan wanita itu adalah drama. Bu Aminah hanya berpura-pura peduli padanya saja.
" Sudahlah Bu, tidak perlu bersandiwara. Katakan saja terus terang, aku tidak suka orang yang pura-pura baik di luar tapi hatinya busuk. "
Setelah mengucapkan kata-kata yang tidak mengenakkan hati, Asma keluar dari kamar Bu Aminah. Di dalam kamarnya Ia tidak bisa tidur, pikiran nya tidak tenang karena surat yang Ia dapatkan dari rumah sakit.
Suasana di pagi hari seperti biasa, hingga sarapan usai Asma belum menampakkan batang hidungnya, akhirnya Angga memutuskan berangkat bekerja.
" Bu, Angga berangkat kerja dulu ya, Assalamu'alaikum. "
" Angga, tidak bisakah kamu temui istri mu dulu. "
Angga melirik jam yang berada di pergelangan tangannya, hari ini ada pertemuan penting.
" Maaf Bu tapi sekarang Angga harus berangkat, besok adalah resepsi pernikahan Kanaya, Angga harus menyelesaikan pekerjaan Angga hari ini. Angga janji akan bicara dengan Asma sepulang kerja nanti. "
Bu Aminah akhirnya hanya bisa mengangguk dan mengijinkan Putranya untuk pergi bekerja. Di tempat lain, Danang akhirnya memberanikan diri menemui Andin. Ia mengetuk pintu pelan.
" Biar saya saja Bi yang bukain pintu, Bibi lanjut kerja saja, sekalian saya mau berangkat kerja. Pamit ya Bi. "
" Ya sudah Nak, hati-hati di jalan ya. "
Andin melangkah cepat ke arah pintu.
" Iya tunggu sebentar. " Andin langsung membuka pintu.
__ADS_1
" Maaf, cari siapa. " Tanya Andin.
Andin terkejut ketika seseorang berbalik dan ternyata itu orang yang Ia kenal.
" Hai, bagaimana kabar mu. " Tanya Danang.
" Baik. " Jawab Andin seadanya.
Danang merasa gugup, Ia bingung harus berkata apa.
" Ada apa Mas, kalau Mas kemari ingin mengajak aku kembali, maaf aku tidak bisa. "
Danang merasakan perasaan yang berbeda, seperti sedang menghadapi segerombolan mafia.
" Ah tunggu Dini...... "
Andin menghentikan langkahnya, baru akan berbicara sebuah mobil nampak berhenti di depan rumah. Arman turun dari mobil dan sedikit heran melihat keberadaan Danang di rumahnya.
" Aku hanya ingin mengajak mu berangkat kerja sama-sama. "
Andin yang melihat kedatangan Arman langsung menemui Arman.
Arman yang merasa kasihan pada sahabatnya mencoba membujuk Andin agar mau mengiyakan ajakan Danang.
" Pergilah bersamanya Dini, aku tau kamu masih kecewa tapi bagaimana pun juga kalian masih berstatus suami istri sekarang. Akan tidak baik kalau seorang Istri selalu bersikap kasar pada suaminya. "
Mendengar ucapan Arman, akhirnya Andin pun setuju. Arman berangkat lebih dulu meninggalkan Danang dan Andin, Danang membukakan pintu depan namun Andin menolak. Ia tidak ingin duduk di samping Pria yang sudah begitu banyak menorehkan luka di hatinya.
" Aku tidak akan melakukan apapun yang akan menyakitimu Dini, hanya duduk saja. "
Akhirnya Andin pun duduk di kursi depan, sepanjang jalan Ia hanya melihat ke arah luar tanpa berbicara sepatah kata pun. Danang pun diam, Ia tidak ingin membuat Andin semakin membencinya. Yang bisa Ia lakukan adalah curi- curi pandang.
Setelah tiba di tempat kerja, Danang bergegas membukakan pintu untuk Andin. Tanpa mengucapkan terima kasih Andin meninggalkan Danang di parkiran.
" Dini, pulang kerja aku jemput ya. "
" Tidak perlu Mas, aku bisa pulang sendiri. Kalau Mas terus mengganggu ku aku akan berhenti bekerja disini dan mungkin akan pergi jauh, dimana Mas tidak akan pernah menemukan aku lagi. "
__ADS_1
Danang memilih diam setelah mendengar ucapan Andin, Ia tidak mau kalau sampai kehilangan jejak istrinya. Dengan sedikit kecewa Danang kembali ke mobilnya.
" Aku tau apa yang aku lakukan selama ini adalah salah Dini dan aku ingin memperbaikinya. Aku tidak tau kenapa setiap kali mendengar ucapan mu rasanya dadaku sakit, seolah di tusuk ribuan jarum. Andini sampai kapan pun kamu tetap akan menjadi satu- satunya wanita ku, aku mencintaimu. Kali ini aku akan memperjuangkan mu, tidak peduli meskipun aku harus merebut mu dari cinta Pria lain. " Gumam Danang.
Danang menghela nafas panjang sebelum mengendarai mobilnya menuju tempat kerjanya.
***
Sore hari Angga kembali ke rumah, sesuai janjinya Ia menemui Asma. Perlahan Ia mengetuk pintu, Asma yang sejak pagi hanya mengurung diri dengan malas membuka pintu.
" Ada apa Mas. " Tanya Asma.
Angga melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya.
" Bersiaplah, kita makan di luar malam ini. " Ucap Angga.
Asma mengerutkan keningnya mendengar ajakan Angga, Ia menanyakan kembali untuk memastikan apa yang Ia dengar itu benar.
" Aku tunggu. "
Asma menatap tak percaya, meskipun begitu Ia tetap bersiap- siap. Asma memilih pakaian terbaiknya, pakaian yang biasanya di sukai Angga ketika hubungan mereka masih romantis.
Setelah adzan magrib, Asma keluar dengan berpakaian yang menampilkan lekuk tubuhnya. Asma menggandeng tangan Angga, Angga sebenarnya ingin menepis namun dengan pertimbangan akhirnya Ia diam saja.
" Kita mau kemana Mas. " Tanya Asma namun Angga tidak menjawab apapun.
Malam itu mereka makan di sebuah restoran mewah, Angga memperlakukan Asma dengan baik. Asma menikmati makan malamnya dengan perasaan bahagia, Ia berpikir suaminya telah berubah pikiran dan merasa bersalah karena selama ini sudah tidak peduli padanya.
Setelah selesai menikmati makan malam mereka, Angga lagi- lagi mengajak Asma kesebuah tempat yang Asma bahkan belum pernah ke tempat itu.
Angga ternyata mengajak Asma kesebuah rumah dengan halaman yang sangat luas, Asma turun dan memindai tempat itu dengan wajah bingung.
" Mari kita bercerai. " Ucap Angga.
Asma terkejut mendengar ucapan Angga yang tiba-tiba.
" Apa. ?? "
__ADS_1
" Mari kita bercerai. "
Angga mengulang kata yang sama, tentu saja Asma sangat terkejut. Ia tidak menyangka kalau Angga akan mengatakan hal itu, padahal sebelum nya Ia begitu memperlakukan nya dengan sangat baik.