
Setelah mandi Angga menatap pantulan dirinya di cermin, Ia memeriksa ponselnya mungkin ada hal yang penting yang di kirimkan oleh orang kepercayaan nya, namun ternyata tidak ada.
" Ah, aku berharap mereka segera menemukan jawaban seperti yang aku inginkan. " Gumam Angga.
Ia melangkah keluar karena sudah waktunya untuk sarapan, Bu Aminah yang melihat kedatangan Putranya langsung memintanya untuk duduk dan menyajikan sarapan untuk Putranya itu.
" Bu, mana Asma, apa dia belum bangun. " Tanya Angga.
Bu Aminah menggeleng pelan karena memang sejak beliau bangun dan sibuk menyiapkan sarapan, baru Angga yang datang menemuinya.
" Ya sudah Bu, Ibu siapkan juga sarapan untuk nya, biar aku panggil sebentar. "
Angga melangkah ke kamar Asma, Ia mengetuk pintu dan memanggil nama Asma pelan. Asma yang mendengar suara suaminya memanggil namanya mengerutkan keningnya.
" Apa itu Mas Angga. " Gumamnya.
" Ah iya Mas, tunggu sebentar. " Sahutnya setelah memastikan kalau yang mengetuk pintu adalah suaminya.
Asma membuka pintu secara perlahan, masih dengan wajah bingung Ia menatap suaminya yang sudah berdiri di depan pintu.
" Cepat cuci muka lalu keluar untuk sarapan, jangan lama- lama karena sarapannya sudah siap. " Ucap Angga dengan senyum menghiasi wajahnya.
Asma bertambah heran, ada apa dengan suaminya. Tidak biasanya Ia berlaku baik padanya, sampai repot-repot mengingatkan nya untuk sarapan, yang lebih membingungkan adalah raut wajah Angga.
" Nak, apa hari ini kamu masih bekerja juga. Bukannya hari ini adalah resepsi pernikahan Kanaya. " Tanya Bu Aminah.
Angga mengangguk dan tersenyum
" Iya Bu, pagi ini ada kerjaan yang harus aku selesaikan. InsyaAllah aku kesana pas acara, bukankah acaranya jam empat sore. Kalau Ibu ingin kesana pagi ini Angga bisa antarkan Ibu kesana sebelum berangkat kerja. "
Bu Aminah menatap wajah Angga, ada ribuan penyesalan menyinggapi hatinya.
" Nak, apa kamu sudah bisa menerima semuanya dan merelakan Dia bersama orang lain. " Tanya Bu Aminah pelan.
Lagi- lagi Angga tersenyum mendengar pertanyaan Ibunya.
" Bu, siap atau tidak Angga harus menerima semuanya. Dia juga berhak bahagia, sudah cukup semua luka yang Angga torehkan padanya selama ini. Lagipula Angga tau kalau Sean itu orang yang baik, dia pasti bisa membuat Kanaya dan juga anak- anak bahagia bersamanya. "
Kini giliran Bu Aminah yang tersenyum, Ia menghela nafas lega. Di saat mereka sama-sama merasa bahagia dengan perasaan nya masing-masing, Asma datang menghampiri keduanya.
__ADS_1
" Ayo cepat duduk dan sarapan. "
Asma mengangguk dan tersenyum sembari menarik kursi untuk nya duduk. Mereka sarapan dalam diam, hanya bunyi dentuman sendok dan piring yang bersahutan ketika bertemu.
" Asma, apa hari ini kamu ingin pergi ke acara resepsinya Kanaya. " Tanya Angga.
Asma menatap wajah Angga dan Bu Aminah secara bergantian.
" Iya Asma, hari ini adalah acara resepsi pernikahan Kanaya. Alhamdulillah akhirnya Ia bisa menemukan kebahagiaan nya sendiri, kita harus bersyukur dan hadir memberinya dukungan dan do'a. Jangan pernah lagi menyimpan dendam padanya apalagi membuat kekacauan di hari bahagianya nanti. "
Angga setuju mendengar ucapan Ibunya, karena beberapa hari belakangan ini Ia juga mulai menyadari apa yang Ia lakukan selama ini memang sudah salah.
" Iya Bu. Mas, apa aku boleh pergi bersama mu. " Tanya Asma.
" Maaf Asma, aku pagi ini ada sedikit pekerjaan di kantor. Habis dari kantor aku langsung kesana, kalau aku kemari lagi akan memakan waktu lama. " Jawab Angga.
Bu Aminah yang sedang merapikan sisa- sisa bekas sarapan mereka langsung bersuara.
" Kamu perginya bareng Ibu saja nanti di antar sama satpam. "
Angga mengangguk membenarkan ucapan Ibunya, nampak kekecewaan di wajah Asma. Ia berpikir Angga sudah berubah dan memperlakukan nya dengan sedikit hangat. Bukan hanya itu, Ia juga mempunyai niat khusus seandainya suaminya itu ingin pergi bersamanya kali ini.
Meskipun sedikit kecewa namun Asma tidak bisa berbuat apa-apa. Angga berpamitan pada Ibunya sebelum berangkat, setibanya di kantor Angga masih menunggu kabar baik dari orang suruhannya namun belum juga ada kabar.
***
Menjelang malam Angga baru menghadiri acara pernikahan, Ia datang membawa bingkisan kado untuk kedua mempelai. Ternyata Ia datang sedikit terlambat dan tidak sempat menyaksikan ijab qobul keduanya, Ia ikutan antri bersama tamu undangan yang lain.
Senyum terpancar di wajah Angga ketika melihat sejak tadi mantan Istrinya tersenyum bersama Pria pilihannya.
" Kanaya, ah ini untuk kalian. Selamat atas resepsi hari ini, semoga setelah ini kamu menemukan kebahagiaan mu Naya dan sekali lagi maafkan Mas. "
Kanaya menatap wajah suaminya yang ternyata juga tersenyum ke arahnya.
" Ah tidak apa-apa Mas, semua nya sudah berlalu. Mari kita sana- sama lupakan semua cerita lama itu, makasih sudah hadir dan memberikan dukungan dan do'a untuk kami berdua, semoga Mas juga menemukan kebahagiaan Mas sendiri. "
Angga menjawab dengan kata Aamiin di dalam hati, meskipun saat ini jujur Ia masih di hinggapi ribuan tanda tanya mengenai istrinya.
" Ah iya Bro, sebenarnya aku tidak patut meragukan mu. Tapi aku harus tetap mengucapkan nya, terima kasih ya. Jaga mereka dan aku titip anak- anak padamu, aku yakin mereka akan sangat bahagia bersama mu. "
__ADS_1
Sean langsung menjabat tangan dan memeluk tubuh Angga.
" Terima kasih Pak Erlangga, makasih karena sudah memberi kepercayaan padaku untuk menjaga mereka yang sangat berharga untuk mu, aku berjanji akan menggantikan mu menjaga mereka karena mereka bertiga adalah berlian yang sangat tidak ternilai harganya untuk ku. "
Kanaya menitikkan air matanya melihat kedua Pria yang mempunyai arti dalam hidupnya sesuai porsinya masing-masing itu saling akur dan berpelukan.
" Sudah jangan pada mewek, selamat berbahagia. "
Angga berpamitan sebelum turun dan bergantian dengan tamu yang lain, dari jauh Ia melihat sosok kedua buah hatinya dengan pakaian yang senada. Perlahan Angga menghampiri keduanya, Ia tidak berani terlalu dekat takut kedua buah hatinya akan histeris ketika melihatnya. Karena lebih banyak ragunya akhirnya Angga memutuskan untuk tidak lagi menghampiri keduanya.
" Ayah.......!! "
Angga terkejut mendengar dua suara kecil memanggil Ayah, Ia berpikir mungkin orang lain. Namun tiba-tiba panggilan yang sama berulang Ia dengar.
" Ayah.......!! "
Angga memberanikan diri berbalik, ternyata itu adalah suara kedua buah hatinya. Angga benar-benar terharu, susah payah Ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
" Abi, Dhiba..... kalian.... "
Si kembar menatap Oma nya dan juga kedua perawat mereka masing-masing. Oma Rahayu mengangguk pelan.
" Ayah.......!! "
Bocah kembar itu menghambur kedalam pelukan Angga yang sudah jongkok di depan kedua buah hatinya. Ia begitu merasakan kebahagiaan yang tiada tara, setelah sekian lama akhirnya Ia bisa memeluk kedua buah hatinya, bukan hanya itu ternyata Ia mendapatkan status jelas sebagai seorang Ayah.
" Makasih Nak...... ! "
Angga mengusap air matanya yang sempat jatuh sebelum kedua buah hatinya itu melihatnya, mereka akhirnya di bawa oleh pengasuhnya masing-masing.
" Umi, maafkan Angga......! "
Angga ingin bersujud di kaki Umi Rahayu namun dengan cepat Umi melarang nya.
" Sudah cukup, tidak perlu minta maaf Nak. Makasih karena sudah mengijinkan Anak Umi bahagia bersama Pria pilihannya, Umi do'a kan semoga kamu juga menemukan kebahagiaan mu sendiri. " Ucap Umi Rahayu dengan tulus.
Angga mengangguk, hari ini Ia merasa seperti orang yang berbeda. Ia benar-benar bahagia, ternyata mengikhlaskan sesuatu yang bukan menjadi milik kita lagi itu jauh lebih indah.
***
__ADS_1